Saturday, May 10, 2008

beberapa puisi


Menemukan beberapa puisi lama yang sempat terselamatkan;beberapa pernah dimuat di media, beberapa lainnya diterbitkan bersama kumpulan penyair muda di Sulawesi Selatan, pernah diberikan ke gadis yang kutaksir, selebihnya mengendap di komputerku. Ini sekedar mneyimpannya ke tempat lain..sekedar melawan dari lupa.

Kunang Kunang Padam

ada yang memadamkan lampu, ketika aku sedang mabuk dan menghitung kunang-kunang yang mengitari bola mataku.
makassar, September 2000

***

Malam ini Malam Lebaran

malam ini, malam lebaran
gemuruh takbir sudah lama berhenti. tinggal bintang, lampu merkuri, dan angin dingin yang berjaga-jaga diluar.
senyap menari di tik-tak jam weker yang terburu-buru.

malam ini malam lebaran
dulu, setiap lebaran selalu mengulang rindu pada kenangan irama beduk.
tapi kali ini, malam fitri ini begitu mencemaskan;
kemarin ada bunyi nyaring yang membunuhi orang-orang di rumah-rumah suci.
dan tadi pagi ada lagi yang pergi –seperti lebaran yang lalu- dicabik-cabik sepi

esok hari yang suci, tapi kenapa aku semakin takut melihat pagi

kenapa malam kemenangan di negeri ini
seperti malam menjelang pelaksanaan hukuman ?
dan detik-detik terasa begitu keji mengiris hati.
kekasih, aku takut tidak sempat mengunjungimu esok pagi.
kutakut kalau-kalau ada yang membunuhi kita satu-satu; dengan tersenyum.

ibu, izinkan kucium tanganmu sebelum datang pagi.
aku takut esok pagi, aku juga dipilih dijemput damai –yang sakit-

ibu, kenapa di negeri ini, malam kemenangan seperti malam menjelang penggantungan.
dan waktu yang berhenti serasa mengoyak hati.

makassar, malam lebaran 1421 H

***


Tamu dari Tivi

1\:
dalam letih dan ekstasi ia tiba diantar malam yang renta.
dari kisi-kisi jendela itu ia meniti titik-titik warna bersama liputan berita paling terakhir
tentang sebuah perang sipil di dekat sahara.

setelah ia mengecup mata kita hati-hati, dirogohinya hati kita. lalu berbisik; “besok aku akan datang lagi. kalau kau berkenan, kubawakan lagi mimpi seperti hari ini.”
sebelum pergi, sempat ia mencemooh percakapan-percakapan sunyi kita: “tuhan hanya imaji, sejarah hanya kliping koran, cinta hanya puisi usang”

lihatlah sisa jejak di beranda yang menjauh ke utara. ia menggaris bawahi janjinya bersama kerinduan absurd kita.

2\:
hari ini ia akan datang lagi, diantar koran pagi atau penyiar tivi bersama kabar
yang entah mengutip air mata dari mana.

ia akan segera datang sebelum kita sempat berpikir untuk mengelak.
tak ada lagi ruang bagi kita untuk bercinta sekalipun itu tergesa-gesa.
tak ada tempat istirah bagi mata kita yang merah perih menahan kantuk
tak ada ruang untuk kenangan, tak ada harapan untuk masa depan. tak ada ruang untuk diam.

3\:
kali ini ia datang bersama sebaris cerita tentang genocide, sesekali ia tertawa sambil mengunyah hati kita. dan kita bertepuktangan tanpa sedikitpun cemas.

2001

***



"Kita Bermimpi, Nak"

Di setiap tidur kita bermimpi tentang nabi-nabi yang diantar Koran pagi.
Bersama sedikit resah tentang pernag etnis dan sebaris janji pada headline
Tiap tidur, kita juga mimpi tentang pantai dan hangat matahari
Juga rumah mungil dengan jeruji yang rapi

Sepotong mimpi yang rutin dan tak lagi asing, tak lebih dalam satu musim dalam sebingkai coretan dinding hitam putih yang seragam.

Dan mimpi itulah yang setia kita pugar
Di sepotong cagar,
Dalam tiktok jam yang harmonis
Juga teratur seperti makan pagi di bui

“tapi mimpi itu sebuah asa, nak”
“tapi mimpi itu juga potret sebuah represi, pak”
“kita bermimpi, nak. di negeri ini, itu mukjizat”

2001

***


Ayat-Ayat Hujan

langit kelabu; ada yang mengadu pada waktu.
“jarum-jarum hujan telah memerihkan luka yang sebenarnya tak pernah kering”
makanya kita lupa pada rindu uap tanah di hujan pertama.
seperti terhapusnya wangi rumput basah; yang serupa wangi dada ibu yang acap mengundang kita menelusup setiap petir mengilat.

hujan adalah risau pada sawah di tanah-tanah rendah.
hujan adalah resah di bukit-bukit tandus.
hujan adalah jelaga pada ingatan kita tentang waktu.

langit kelabu; ada yang memanjatkan doa entah pada siapa. menagih ayat-ayat yang pernah terbaca pada satu waktu yang juga entah.
“semoga hujan seperti di kitab suci; akan menumbuhkan buah-buahan dan airnya akan jadi minum bagi ternak kita”.

tapi bukankah kita sudah lama lupa bagaimana membaca ayat dan gelagat.

makassar 2002

***



Sajak Tahun Baru

tik..tik, dan tergesa kita membaca mantra penolak takdir buruk; teet...treet ..dhuar!
tapi siapa sebenarnya yang pertama mengajari kita mengisi malam dini dengan pekik terompet yang gaduh.

kita paham, luka yang hendak kita tinggalkan di lampau tidak akan pernah benar beranjak. itu adalah bentang durasi hari yang abadi.
lalu dalam pekik terompet, kita lemparkan ketakutan pada waktu; “seperti itukah sangkakala Israfil yang akan membunuh sang kala. juga durasi hari?”.

dan, seperti kemarin; kita masih setia mengirimkan mimpi lewat kembang api.
barangkali Tuhan melihat kita girang menembaki bintang sambil berharap horoskop hidup bisa berubah kalau ada bintang yang jatuh dan kita mengucapkan permohonan.

tapi ilusi itu seperti candu. seperti igau yang gagu.

tak ada yang pergi. hanya lembaran kalender yang habis kita sobek tanpa tahu persis berapa jumlah lembarannya. lagu rutin saban hari seperti jadwal besuk matahari.

tak ada yang pasti datang, selain sisa pendar kembang api yang usai menjelang pagi.
makassar 2002

***


Arafah

Terbacakah jejak sejarah di Arafah? Dipasirpasir, dibukitbukit batu, dan diangin gurun setelah berjuta-juta pasang jelejak kaki menelisik serangkai urutan perjalanan panjang; perjalanan menuju Sang Yang Mengatur kiblat dan arah angin.

Arafah; berjuta kaki, wajah, dan hati dalam satu reuni keluarga, sejak Rasul Adam dan ibu Hawa menegaskan perpisahan dalam buku hidup anak cucunya, seperti mereka yang terbuang dari firdaus.

Pada pasir, bukit batu, angin, dan matahari terbaca nama-Mu. Di alur nadi, air mata, lidah, dan hati kutahbiskan firman-Mu. Tapi terbacakah sejarah Arafah pada semua tanah yang menyebut nama-Mu.

(Ya..Rabbi, bolehkah kami menangis?)

Makassar, 2002

***


Almanak

1/
Lembar almanak sudah habis kita sobek. Segera kita meniup terompet dengan sedih tertahan. Ada luka yang coba kita semburkan dalam pekik parau itu; pada waktu, pada lampau, pada rindu yang jauh.

Tumpukan tiga ratus enam puluh lima kertas almanak lalu kita bakar bersama kembang api; mengirim masa lalu pada langit yang jenuh.
Dan rutin seperti awal tahun kemarin, kembali memasang kalender baru dengan rasa asing yang tak kita pahami, seperti gamangnya waktu datang yang abu-abu.

Menatap almanak seperti memandang pantulan wajah kita di cermin; wajah yang terus menetes habis dalam jam pasir.

2/
Kita yakin besok, masih akan ada bunyi weker yang setia membangunkan; agar kita segera mulai merobek almanak. Setiap pagi satu.
Merobeki lembar almanak seperti menguliti wajah kita sendiri; wajah yang terus menua setiap kita bercermin di pagi hari.

Dan harihari seperti surat cinta yang kita tulis dengan penuh gelegak rasa,
yang kita lupa bahwa kita sudah pernah menulisnya; kemarin dengan huruf dan rindu yang sama.

3/
Cintaku, kelak ketika kau berulang tahun, aku ingin mengirimimu selembar almanak;
agar kau tahu akan banyak yang kita sesali dari kefanaan ini. Disini, aku takut menjadi bahagia

(kau tahu gambar wajahmu kini mulai berwarna sephia)

Makassar, 2002

***


Repertoar kertas Kosong

ada kertas kosong yang terlupa di meja rapat.
setelah berhari-hari sebelumnya ada orang yang berbicara tentang banyak orang lain.
kertas itu tidak berisi catatan apapun, hanya kertas kosong yang tertinggal di meja rapat. sepi, dipeluk kayu mengkilat.

kertas itu tidak mengisahkan apapun,
selain; memang selalu ada yang luput
ketika kita berusaha merangkum kenangan,
bahwa selalu ada yang terjerat amnesia
dari begitu banyak lembar-lembar sejarah.

atau kita memang memilih lupa untuk menyembuhkan luka?
makassar, 2000-2002

***


Reportase dari lebanon

1/:ibu
di Lebanon, setiap ibu berkerudung hitam yang ditenun dari benang nestapa dan belasungkawa yang panjang. namun telah lama mereka berhenti mengusap air mata.
"sudah lama kami berhenti berkabung. sebab yang mati, tak bisa lagi kami hitung. sudah terlalu rutin. begitu sering".
dan setiap hari, kaki-kaki ibu yang pergi terus mencipta nyanyi dan baris-baris puisi diantara nisan, senapan, dan kawat duri.

2/:maut
di lorong-lorong kota, jika pun desing peluru, batu, dan asap berhenti, maut masih menanti. barangkali masih ada yang menuggu kematian bersama rindu yang mendegup-- dengan atau tanpa peluru.
tengah malam di lebanon, seperti deadline yang tergesa di ruang redaksi. malaikat maut begitu sibuk mengantri yang akan diantar ke haribaan Tuhan yang Maha Kasih

3/:ratap
"Tembok Ratapan belum boleh dipakai. harap simpan ratapan anda sampai tahun depan, kami mengambil cuti tahunan. kau tentu tahu, tahun ini, seperti yang lalu-lalu, sangat meletihkan" tertulis rapi-- menyender di tembok keramat yang juga dijaga serdadu- sebaris surat dari malaikat maut yang pergi.

4/:di Lebanon
di Lebanon, jika pun malam padam dan serdadu tak lagi terjaga, aku ingin menulis surat cinta buat semua yang masih mengenang tanah ini, tempat banyak nabi --dan orang biasa-- terbunuh. tapi kemarin, kudengar merpati pos mati tertembak di perbatasan. (doa pun, aku tak tahu, apakah akan sampai ke langit. kalau-kalau saja malaikat yang pulang tertembak di zona larangan terbang)
Makassar, Juni 2002

***


Di Satu Malam
--buat Bahri A. Iskandar dan Abdullah Sanusi--

1\
satu malam, menghitung pijar lampu jalan. ada yang tergesa menggaris udara dengan cahaya kuning. bergegas, membelah dingin malam sambil merapatkan pelukan.
malam seperti ini, kita sebenarnya tak ingin ada di kota. sebab bias kuning merkuri telah merampas terangnya sinar bintang. di kota, banyak sudah yang hilang tanpa pernah kita kenali apa. kita sering dilanda lupa. kita tak pernah ingat kapan mulai menenggak tuak, dan mabuk pada kali pertama.

satu malam, menyesap asap nikotin. ada yang diam-diam mengemasi botol anggurnya, takut kalau saja malam merampas mabuknya. katanya, selalu saja ada tentara dari tangsi sebelah yang menodongnya dengan senapang sambil mengecup gugup perempuan jalang dengan dada yang terus berdegup.

2\
kadang kita ingin jadi gelap. jadi latar. jadi yang tak dihitung, sebab, barangkali kemahaluasan langit tak akan mungkin selesai diindera. berkali-kali, meteor selalu luluh menempuh malam.
(dan aku telah luluh menempuh jalan menujumu. menjadi debu. menjadi sekadar serbuk dalam jalan itu)
"ada perempuan yang suka berbicara tentang surga", kataku.
mungkin ia tak baca koran pagi ini. surga sudah dijual dan tak ada tempat buat orang seperti kita. kita hanya peziarah yang tahu surga dari ingatan nenek moyang kita. mereka meramal surga dengan setumpuk kartu, sepertinya tak bisa keliru.

3\
ada ambulans membawa orang yang ditikam takdir. memekik, menjenguki kecemasan kita. dan begitu ia masuk ke rumah sakit negeri, orang itu katanya mati; ia pegawai negeri, tak bisa bayar anestesi. jadi dibiarkan saja ia meraung nyeri.
(di depan rumah sakit ada spanduk seminar tentang usaha pembebasan dari nyeri; free pain for all)
"kami tak bisa menghalangi malaikat maut. sebenarnya kami ingin menundanya, tapi kehidupan, barangkali memang harus dibeli; kau tentu tahu" ujar perawat, prihatin.
kita sudah tak boleh prihatin, kataku. apalagi di rumah sakit negeri.

4\
malam mulai diam, membiarkan kita mengecup luka hidup ini. dalam. anyir.
"tulislah tentang cinta!" katamu. tidak! aku jadi ingin menulis tentang mimpi buruk.
lalu berkemas pulang. menelan rindu dalam-dalam. "sungguh aku sulit melupakan pertemuan ini.
(tolong jangan pernah katakan pada perempuan itu; bahwa aku merindukannya. kau tahu aku menyukai matanya. toh, kalau itu keliru, mohonkanlah aku maafnya)

pintu dua, makassar 2002

***


bah di meulaboh
seperti kan’an yang ditelan bah.
kutuk bagi penduduk negeri setelah menampik tuhan nuh, menolak sembah.
dan mencemooh bahtera di puncak bukit yang menyiapkan sauh;

ini meulaboh.
kota kecil di tepi pantai yang terendam penuh.
oleh bah yang tiba tergesa pagi-pagi lalu kembali setelah jenuh,
melandai pada kaki bukit terjauh.

aku tak tahu apakah negeri di sisi barat ini, juga menampik nuh
tapi sungguh, tak ada lelaki yang bersibuk di bukit, siap berlabuh
dan menawari kami bahtera dan iman nuh.

hanya izinkan kami istirah pada kakimu.
lelap pada lumpurmu. pada jejakmu.

(mungkin memang moyang kami putra nuh yang ingkar, lalu kami terus memanggul tulahnya)

2005

***


sebuah sarapan

: fragmen satu babak di meulaboh

ibu:
sepotong kue dan perbincangan yang tak pernah cemas.
meski di gunung, paman-kemenakanmu terus berseteru dengan tentara untuk tanah yang lebih baru. hanya haru-biru menjelang tidur, katamu.
“ibu, ini kota yang diberkati. dengan syair memuji tuhan dan tari seudati,” katamu.
nak, kopimu bahkan belum tandas.
setiap pagi --selalu hanya sisa ampas, kukira engkau selalu gegas.


anak:
kota ini bahkan belum gegas. selalu ramah, ibu.
senyum-bersendawa dengan bau pantai dan harum ganggang.
lihat dekat muara, nelayan tiba dengan senyum terkembang.
ibu ingin membuat ikan-pindang?
jalan belum bising. pagi masih terbilang. jam belum sembilan.

(ombak datang mengetuk pintu. dengan bau pantai dan harum ganggang)

pagi, sebelum jam dinding beku.
di pesisir yang baru terjaga.
2005

***


Rumah

cerita itu bermula dari serangkum peluk hangat setiap kita pulang. juga sekembang senyum dari keluarga yang menunggu rindu.
tapi ranah itu lebih dari segugus serat yang menjaga sepotong metamorfosa. lebih dari sekedar sesusun kenangan.
rumah tak hanya berisi nafas, keringat, dan air mata.

dari yang terusir; yang hilang bukan hanya setumpuk album foto. atau seikat buku harian. makanya airmata tidak akan pernah cukup jernih mencuci luka. juga tak akan bisa mengajari lupa. barangkali hanya matahari pagi yang berkenan bersaksi untuk pagi yang lebih damai.

***


Tamalanrea

Katamu; Disini seperti negeri ajaib, dan kita alice yang riang bersenandung mencari kejutan di tiap kemungkinan yang kita temui.
Kita peter pan yang terus bermain, kanak-kanak yang terus tertawa,
tanpa takut harus menjadi dewasa dan tak bahagia.
disinilah, tempat dimana waktu hanya berarti hari yang terus berjalan
tapi tak ada yang beranjak tua.

Ini tamalanrea. Tempat mimpi seperti abadi.

Makassar 2008

2 comments:

mata air said...

keren...keren...keren...keren...keren...keren...keren...1000x

Anonymous said...

pasarcidu.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading pasarcidu.blogspot.com every day.
fast loan
payday loans canada