Friday, August 15, 2008


tabik...

menemukan sajak lama, di timbunan inbox. 14 juli 2006, tapi rasanya sebangun dengan semua yang kualami belakangan ini. maafkan bukan merayakan sakit ini; sekedar membetahkan diri dengan semuanya. --atau mungkin juga aku takut ini hilang entah kemana, padahal berkali-kali saya mencoba menulis sajak kembali, tapi tetap saja betapa sulit mendapatkan lagi kutukan sajak...

dingin terasa tajam, menelusup dalam tulang.
langit putih bersih. bintang kerlip, serupa kedip lilin di kejauhan.
bulan kuning bundar sempurna. angin terasa riuh bertiup tetapi malam terasa
kuncup.

lalu kukenang bundar matamu yang sering berkerjap kekanakan. lurus.
diam dengan senyum yang tertahan mengembang seperti menunggu semesta pecah.

serasa debar. ketika tahu, kau bisa saja lenyap; ketika musim beranjak dan
mungkin saja waktu merentang jarak.
akan kugapaikan tangan kemana, jika saja kau gaib dalam angin.

mungkin memang selalu ada saat; ketika dalam ombak, kita lelah bersikukuh, dan
memutuskan hanyut dalam arus laut.
dan kita tak bisa menampik waktu yang tiba.

serasa hujan dalam hatiku. jarum-jarum dingin terasa kian runcing.

2 comments:

mata air said...

wah, keren banget, bro. sumpah, seandainya saya perempuan dan sajak itu buat saya, langsung ka' minta dikawini...sekarang juga!!!
btw, long time no see, bro.wish u fine-fine aja!

pojokkamar said...

jgn paradoks bujang, sy tahu, nyatanya kamu sedang memeluk harap. jd, tak perlu hadir dalam satir. keadaanmu kini tidaklah memilukan... kan?