;sofia
Sore yang setengah sendu, setelah berkali-kali hujan singgah di beranda. Lalu belasan ekor capung berwarna coklat keemasan terbang tak jauh di depan jeruji beranda, mengapung di udara seperti menyapa. Tertegun, sekelebat ingatan masa kecil tentang serangga bermata cembung itu. Kami sering berebut mengejarnya di semak dekat rumah, saat kemarau tiba. Atau kadang, mengendap seperti pencuri demi bisa menangkapnya.
Ingin kupanggil Sofia untuk menceritakan serangga cantik itu. Tapi baru tersadar kalau putriku itu sedang berlibur bersama sanak menikmati permainan elektronik di salah satu mall di selatan kota. Nak, Mungkin kini musim telah berganti dan selera telah bersalin lain, tapi kelak aku akan mengajakmu menyapa capung yang tiba sore di beranda kita..
"sebuah tempat sebagai tepi dari semuanya. sebuah tempat pulang, menemukan diriku sendiri yang kutinggalkan.."
Sunday, March 10, 2013
Capung yang tiba sore
Tuesday, December 25, 2012
pengemis yang terluka
nak, entah mengapa ingatan ini menggangguku. aku ingin bercerita padamu tentang seorang anak yang meminta-derma di perempatan jalan dekat rumah. begitu lampu merah menyala, maka ia akan gegas datang menyodorkan tangannya yang tertekuk menengadah seraya dengan wajah yang -dibuat- memelas ia meminta selembar ataupun sekeping koin recehan.
yang sedikit berbeda dengan beberapa anak yang mengemis sebelumnya; sambil berjalan, kaki kirinya diseret rapat di atas aspal untuk membuatnya terlihat pincang. meski aku merasa tak ada masalah dengan kakinya dengan melihat bentuk ataupun tak adanya luka yang membuatnya bisa pincang dan terlihat separah itu, namun anak belasan tahun itu tetap menyeret kakinya.
tak banyak yang ia minta sesungguhnya. bagiku ia malah berkorban terlalu banyak dengan menyeret kaki-di aspal, tanpa alas kaki pula, untuk sekedar selembar-dua uang kecil dalam sekali lampu merah.
namun aku tak urung memprotes aktingnya yang buruk; "ndak usah menyeret kaki, nanti malah kau tidak bisa jalan kalau kena apa- kakimu itu" kataku. dia hanya memandangiku sambil berusaha mempertahankan akting memelasnya yang sedikit lebih baik dari akting pemain sinetron di layar tivi kita. aku tak memberinya recehan karena merasa terganggu pada akting menyeret kaki-nya yang berlebihan. apa perlunya ia pura-pura pincang dan terluka demi uang kecil yang tidak sebanding menurutku.
lalu lampu hijau, dan aku pun berlalu. lalu sekelebat ingatan menegurku. kau tahu mantan preisden negara ini? hingga hayatnya usai, ia telah lolos dari berbagai persidangan dan upaya hukum untuk menjeratnya atas sejumlah kasus 'dugaan' pelanggaran hukum, 'dugaan' korupsi, dan sejumlah kasus yang pada akhirnya cuma berujung pada dugaaan. kondisi mantan orang nomor satu di negeri ini selalu didukung pernyataan tim dokter dan sekerumun orang yang membela.
banyak yang menganggap mantan orang nomor satu itu hanya berpura-pura. lalu seiring waktu, berbagai petinggi negeri, pejabat propinsi, pejabat kabupaten, hingga politisi artis, selalu mencoba jurus yang sama untuk berkelit dari jerat hukum di negeri ini yang rasanya begitu mudah ditekak-tekuk. bahkan ada mantan pejabat di propinsi kalimantan timur yang mendapat grasi dari presiden karena dia sudah tergolek tak sadar di ranjang rumah sakit. dan tak lama setelah grasinya berlaku, ia dikabarkan diberikan kesehatan hingga pulih dan gembira saat merayakan ulang tahunnya yang ke sekian.
mereka berusaha menghindari jeratan dari dugaan pencurian uang dan persekongkolan yang dirunut ke mereka. itu bukan uang yang sedikit. itu uang milik rakyat banyak. uang anak-anak yang seharusnya bisa sekolah dan tidak perlu menyeret kakinya di atas aspal panas tanpa alas kaki.
dan aku, serta sebagian besar warga negara ini pada akhirnya lebih mahfum pada aksi para pencuri uang rakyat itu daripada pengemis yang pura-pura terluka demi selembar atau sekeping recehan.
dan sesudah itu, nak. sungguh aku sangat menyesal tidak bisa merogoh barang selembar uang recehan dari saku ayahmu yang tak banyak ini..
di hari natal ini, aku mengingat sepotong kisah tentang anak yang terabaikan dalam kisah anak penjual korek api yang meninggal dalama damai natal yang membeku. semoga anak yang menyeret kaki itu tetap baik-baik saja dengan cuaca hujan yang menggigit ini.
(kepada sofia dan sarah, aku mengingat anak yang kutemui di lampu merah dekat rumah)
Tuesday, November 20, 2012
`Menulis Boge dan hal-hal yang tak selesai’
*sekedar Kado pernikahan
Menulis tentang Abdul Rahman Farisi alias Boge, menulis tentang kawan lama, menulis tentang rekan yang baik. Kawan baik, lalu apakah selesai di situ? Apakah sepotong kata klise bisa menyimpul sosok yang –secara ukuran kasat mata memang sedikit besar disbanding beberapa kawan dekat lainnya yang –di masa muda dulu, masih kurang makan. Tentu saja tidak. Namun izinkanlah saya sedikit bercerita.
Ia kawan yang baik, tentusaja. Saya tidak pernah menemukan ia marah, meski postur seperti itu bagi saya yang besar di lingkungan pasar, adalah modal yang cukup untuk menjadi jumawa dan bertindak sebagai aggressor.
Saya mula mengenalnya saat Opspek Fakultas Ekonomi di sekiraAgustus 1998. Di sore yang kering dan putusasa, saat matahari mulai gelincir ke barat, para senior menemukansosok yang bisa membuat mereka lebih gembira, dan sekaligus menyatukan segala penderitaan kami. Ya, mereka menemukan Abdul-RahmanFarisi, pemuda tambun dengan celana lebar, dan baju polo-shirt berhias garis. Lelaki kelahiran 1 Juli, di kampong halamannya di selatan Sulawesi Tenggara, ia dipanggil La Boge. Meski penggunaaan ‘La’ untuk nama di Bugis-Makassar juga lazim digunakan, namun untuk lebih singkat, dan menghindarkannya menjadi asosiasi atau diduga sebagai orang Prancis atau Spanyol (yang bisa jadi membingungkan orang di kemudian hari) Maka jadilah ia cukup dipanggil Boge.
Selain itu, bentuk cukur rambut kami sebagai mahasiswa baru --yang tertindas—diharuskan Mohawk, dengan mencukur habis kedua sisinya membuat ia menemukan nama lain. Sore itu ia juga dilantik menjadi Godzilla (mengacu tentang monster yang mengacaukan kota New York, yang sedang diputar di bioskop pertengahan tahun 1998). Siluet matahari senja memastikan ia sebagai sosok yang setengah menakutkan, setengah misterius. Tapi itu hanya di sore itu.
Dan kisah itupun terus berjalan. Makin lama makin menebal. Di awal di kampus, Boge memilih aktif di perkumpulan Mahasiswa Pencinta Mushalla (semacam Remaja Masjid) di Fakultas Ekonomi. Saya tentu saja tak tahu motif utama Boge memilih aktif di lembaga penggiat mushalla sebagai organisasi pertamanya di kampus, mungkin memang didasari karena dia memang lelaki yang beriman. Di masa awal di kampus, sosok Boge juga kukenali sebagai kawan yang berani berteriak memegang mikrofon saat kami turut serta menduduki Bandara Internasional Hasanuddin. Perbuatan yang membuat kami diganjar gas air mata dan pentungan petugas, bahkan saat kami belum menyelesaikan semester pertama. Keberanian yang umumnya tak kami punyai, sebagai anak muda yang bingung memasuki dunia yang bergerak begitu cepat. Tapi ia berani dan berbeda.
Selebihnya kami seperti mencoba mencari bentuk lain di wadah yang berbeda. Mulai di lembaga Senat Mahasiswa hingga Boge melanlang buana ke tempat yang jauh. Saya lebih banyak di kampus, namun dalam jarak kami tetap berkawan hingga jauh di kemudian hari.
Sepanjang rentang itu, saya banyak lebih mengenal Boge melalui berbagai tulisan yang dibuat khusus untuk atau tentangnya. Baik oleh kawan Joko Hendarto, hingga komentar yang dalam-bijak-bestari dari Abdullah Sanusi. Ia telah di ibukota, dan berakhir pekan dengan badminton dan serunya politik di Senayan. Sesekali kami bertemu di meja kopi. Ia tak berubah menurutku; ramah, murah senyum dan terlihat bahagia. Kadang tentang jazz dan tea-time (kadang ia pernah membayangkan sebagai bangsawan Inggris yang menikmati rutinitas menikmati teh –meski pada dasarnya ia adalah salah satu bangsawan Muna, satu di antara sedikit yang terpilih)
Dan kinilah dia, mengabarkan akan meminang seseorang yang akan mengawaninya meniti jembatan kehidupan yang tak lagi bersendiri. Dunia yang akan lebih kaya dan berwarna dari hidupnya yang berisi politik, badminton dan sedikit kopi. Malam yang sedianya akan menjadi rahasia hingga Boge menyampaikannya sendiri, batal menjadi Rahasia (denganhuruf R). Rencana yang saya yakin disusun rapi, bocor kepada kawan-kawan yang tetap memantau Boge dari jauh. Dan kami pun bisa berbahagia lebih awal dari seharusnya. Saya yakin ada yang menghela nafas panjang dengan rasa syukur yang buncah sembari membatin –atau mungkin berseru; “Finally..” that’s oke. Itu tentu bukan karena apa-apa, selain rasa syukur yang telah demikian lama menanti kabar bahagia.
Pada pertemuan setelah ia melamar perempuan yang dipilihnya, kami sempat bertemu; dan cahaya wajahnya sangat berbeda. Kulihat ia bagai remaja yang merona-saat menerima telepon dan menjauh dariku yang sengaja ia datangi untukbertemu. Ah, mungkin itulah pengaruh Cinta..
Akhir kalam, tak ingin saya berdoa yang rumit kepada pasangan yang diberkati itu; seperti selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng, sakinah bla..bla.. bla.. saya takut pasangan ini jadi khawatir jika terlalu banyak harapan dalam doa yang dititipkan pada mereka. Saya hanya bisa menyampaikan pesan yang tak banyak; SelamatBersenang-Senang..
Ya! Hanya itu agar senang senantiasa..dan rasa senang itulah yang menurut saya akan menyelesaikan banyak hal termasuk krisis, konflik atau ketidak-sefahaman akan mudah selesai jika didasari keinginan mencapai kesenangan.. –untukhal yang lebihreligius, siapalah saya ini yang berani menitip khutbah pada kalian?
Seorang senior yang telah lama menikah pernah berkata kepada saya; "maaf tidak bisa memberi nasehat, perkawinan kami pun belum selesai.".. selama semua berjalan, hanya mereka yang menjalaninya yang memahami bagaimana menyelesaikan semua aral yang melintang, yang bisa jadi menghalangi rasa senang mereka.
SelamatMenikah, Kawan. Sekali lagi selamat bersenang-senang!
Menulis tentang Abdul Rahman Farisi alias Boge, menulis tentang kawan lama, menulis tentang rekan yang baik. Kawan baik, lalu apakah selesai di situ? Apakah sepotong kata klise bisa menyimpul sosok yang –secara ukuran kasat mata memang sedikit besar disbanding beberapa kawan dekat lainnya yang –di masa muda dulu, masih kurang makan. Tentu saja tidak. Namun izinkanlah saya sedikit bercerita.
Ia kawan yang baik, tentusaja. Saya tidak pernah menemukan ia marah, meski postur seperti itu bagi saya yang besar di lingkungan pasar, adalah modal yang cukup untuk menjadi jumawa dan bertindak sebagai aggressor.
Saya mula mengenalnya saat Opspek Fakultas Ekonomi di sekiraAgustus 1998. Di sore yang kering dan putusasa, saat matahari mulai gelincir ke barat, para senior menemukansosok yang bisa membuat mereka lebih gembira, dan sekaligus menyatukan segala penderitaan kami. Ya, mereka menemukan Abdul-RahmanFarisi, pemuda tambun dengan celana lebar, dan baju polo-shirt berhias garis. Lelaki kelahiran 1 Juli, di kampong halamannya di selatan Sulawesi Tenggara, ia dipanggil La Boge. Meski penggunaaan ‘La’ untuk nama di Bugis-Makassar juga lazim digunakan, namun untuk lebih singkat, dan menghindarkannya menjadi asosiasi atau diduga sebagai orang Prancis atau Spanyol (yang bisa jadi membingungkan orang di kemudian hari) Maka jadilah ia cukup dipanggil Boge.
Selain itu, bentuk cukur rambut kami sebagai mahasiswa baru --yang tertindas—diharuskan Mohawk, dengan mencukur habis kedua sisinya membuat ia menemukan nama lain. Sore itu ia juga dilantik menjadi Godzilla (mengacu tentang monster yang mengacaukan kota New York, yang sedang diputar di bioskop pertengahan tahun 1998). Siluet matahari senja memastikan ia sebagai sosok yang setengah menakutkan, setengah misterius. Tapi itu hanya di sore itu.
Dan kisah itupun terus berjalan. Makin lama makin menebal. Di awal di kampus, Boge memilih aktif di perkumpulan Mahasiswa Pencinta Mushalla (semacam Remaja Masjid) di Fakultas Ekonomi. Saya tentu saja tak tahu motif utama Boge memilih aktif di lembaga penggiat mushalla sebagai organisasi pertamanya di kampus, mungkin memang didasari karena dia memang lelaki yang beriman. Di masa awal di kampus, sosok Boge juga kukenali sebagai kawan yang berani berteriak memegang mikrofon saat kami turut serta menduduki Bandara Internasional Hasanuddin. Perbuatan yang membuat kami diganjar gas air mata dan pentungan petugas, bahkan saat kami belum menyelesaikan semester pertama. Keberanian yang umumnya tak kami punyai, sebagai anak muda yang bingung memasuki dunia yang bergerak begitu cepat. Tapi ia berani dan berbeda.
Selebihnya kami seperti mencoba mencari bentuk lain di wadah yang berbeda. Mulai di lembaga Senat Mahasiswa hingga Boge melanlang buana ke tempat yang jauh. Saya lebih banyak di kampus, namun dalam jarak kami tetap berkawan hingga jauh di kemudian hari.
Sepanjang rentang itu, saya banyak lebih mengenal Boge melalui berbagai tulisan yang dibuat khusus untuk atau tentangnya. Baik oleh kawan Joko Hendarto, hingga komentar yang dalam-bijak-bestari dari Abdullah Sanusi. Ia telah di ibukota, dan berakhir pekan dengan badminton dan serunya politik di Senayan. Sesekali kami bertemu di meja kopi. Ia tak berubah menurutku; ramah, murah senyum dan terlihat bahagia. Kadang tentang jazz dan tea-time (kadang ia pernah membayangkan sebagai bangsawan Inggris yang menikmati rutinitas menikmati teh –meski pada dasarnya ia adalah salah satu bangsawan Muna, satu di antara sedikit yang terpilih)
Dan kinilah dia, mengabarkan akan meminang seseorang yang akan mengawaninya meniti jembatan kehidupan yang tak lagi bersendiri. Dunia yang akan lebih kaya dan berwarna dari hidupnya yang berisi politik, badminton dan sedikit kopi. Malam yang sedianya akan menjadi rahasia hingga Boge menyampaikannya sendiri, batal menjadi Rahasia (denganhuruf R). Rencana yang saya yakin disusun rapi, bocor kepada kawan-kawan yang tetap memantau Boge dari jauh. Dan kami pun bisa berbahagia lebih awal dari seharusnya. Saya yakin ada yang menghela nafas panjang dengan rasa syukur yang buncah sembari membatin –atau mungkin berseru; “Finally..” that’s oke. Itu tentu bukan karena apa-apa, selain rasa syukur yang telah demikian lama menanti kabar bahagia.
Pada pertemuan setelah ia melamar perempuan yang dipilihnya, kami sempat bertemu; dan cahaya wajahnya sangat berbeda. Kulihat ia bagai remaja yang merona-saat menerima telepon dan menjauh dariku yang sengaja ia datangi untukbertemu. Ah, mungkin itulah pengaruh Cinta..
Akhir kalam, tak ingin saya berdoa yang rumit kepada pasangan yang diberkati itu; seperti selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng, sakinah bla..bla.. bla.. saya takut pasangan ini jadi khawatir jika terlalu banyak harapan dalam doa yang dititipkan pada mereka. Saya hanya bisa menyampaikan pesan yang tak banyak; SelamatBersenang-Senang..
Ya! Hanya itu agar senang senantiasa..dan rasa senang itulah yang menurut saya akan menyelesaikan banyak hal termasuk krisis, konflik atau ketidak-sefahaman akan mudah selesai jika didasari keinginan mencapai kesenangan.. –untukhal yang lebihreligius, siapalah saya ini yang berani menitip khutbah pada kalian?
Seorang senior yang telah lama menikah pernah berkata kepada saya; "maaf tidak bisa memberi nasehat, perkawinan kami pun belum selesai.".. selama semua berjalan, hanya mereka yang menjalaninya yang memahami bagaimana menyelesaikan semua aral yang melintang, yang bisa jadi menghalangi rasa senang mereka.
SelamatMenikah, Kawan. Sekali lagi selamat bersenang-senang!
Friday, August 10, 2012
mencoba menulis lagi
“Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” ― Pramoedya AnantaToersetelah sekian lama, aku mencoba menulis kembali. rasanya seperti memunguti berbagai hal aneh di sepanjang jalan, sembari membayang-bayangkan akan menjadi apa. seperti memunguti penutup botol untuk sekedar dijadikan kerecekan setelah dibuat gepeng dan dipakukan ke sebatang sisa balok kayu. menulis seperti memunguti kata entah darimana. dari keping koran. dari laman orang. atau dari entah. tanpa tahu pasti akan kemana semua bermuara. jika begitu, betapa merisaukan menulis itu rasanya. berkali-kali mencoba menulis, lalu berhenti lagi, lalu menulis lagi, dan jenuh lagi. terasa angin-anginan dan tidak fokus. jujur kadang terasa kehilangan dorongan untuk menulis. tapi mesti bagaimana lagi ditengah deraan pekerjaan yang kadang terasa menekan ini. mungkin memang seperti itu ya? tapi tak apa, semua yang bergerak ini mungkin perlu sedikit dikenang; dan menulis mungkin membuat kita bisa seidkit abadi. :)
Thursday, April 29, 2010
Menemukan Sepotong masa Lalu Makassar

Awal Kota dan bandar makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.
Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI ini didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara, Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa, pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan. Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu. Dengan menaklukkan kerajaan¬kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu.
Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan¬-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.
Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan¬-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.
Hubungan Makassar dengan Dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I¬MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I- MALLINGKAANG DAENG
MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 9
Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.
Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu me¬nyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memper-luas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.
Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.
Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673 ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan dan diberi nama barunya Fort Rotterdam, dan ‘kota baru’ yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan ‘Vlaardingen’. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya sebagai budak.
Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang terlupakan. “Jan Kompeni” maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang ditancurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, ‘Kota Kompeni’ itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland – bentuknya pun bukan ‘bentuk kota’, tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.
Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di beras Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal¬kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.
Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk men¬carinya; bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 para
nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, di mana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.
Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional.
Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa
pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki “kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda” (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Potandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah¬daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga-setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan.
Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indo¬nesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadi¬kannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar-pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca¬ revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha
sumber : http://makassarkota.go.id
Thursday, January 07, 2010
Sang Legenda dan Waktu
pada DS. tempatku pernah menaruh gentar
Bagiku, dulu ia seperti legenda. Lelaki itu pernah tinggal belasan tahun di Tanjung Priok, kawasan di sebelah utara ibukota, tempat banyak warga keturunan Bugis Makassar memilih tinggal dan menantang hidup. Kawasan pelabuhan yang tak jauh dari laut. Tempat yang menyediakan banyak ruang bagi anak-anak muda yang merindukan warna ibukota tapi tak ingin jauh dari harum laut.
Bagiku, ia mula menjadi legenda ketika dalam suatu perkelahian dengan preman asal Madura dan perutnya dikisahkan robek terkena sabetan celurit. Tapi ia menuntaskan perkelahian dengan menikam lawannya dengan badik. Dan juga menurut cerita yang entah darimana bermula, Tak lama, lawannya mati. Ia masih sempat membawa luka robek dan buraian ususnya ke rumah sakit untuk dijahit.
Setelahnya, ia lari dan kembali ke Pasar Cidu. Cerita itu beredar di antara kami yang mengingatnya, bertumpuk dengan ingatan dan kekaguman pada pendekar yang terlibat carok karena dendam yang harus dituntaskan. Tentu saja itu hanya film dari kaset video yang kadang kami nonton dari haji di kampung sebelah dengan membayar lima puluh perak. Dan kalau ibu haji sedang berbaik hati, ia mengizinkan kami masuk dengan membayara seratus perak untuk tiga orang. Pemerannya Barry Prima yang selalu menjadi tokoh protagonist melawan Advent Bangun, jago karate yang memiliki rahang seperti Arnold Schwarzenegger, bintang film yang kini jadi gubernur California, Amerika Serikat.
Setelah pertarungan itu, ia melanjutkan hidupnya. Dengan minum tuak dan seringkali mondar-mandir di pasar sekitar rumahku. Mabuk. Kadang berkelahi. Ataupun bersama kawannya memukuli lawannya dan membuangnya ke selokan hitam di depan rumahku. Jika melihatnya melintas di depan rumah tentang kami sering duduk dan berbincang apa saja, kami memilih menghentikan pembicaraan dan membiarkannya berlalu.
Juga dalam keadaan mabuk, ia seringkali menelpon di wartel rumah kami, --dan meskipun membayar, ia selalu mengancam akan menutup wartel kami dengan menyebut kalau ia berteman dengan banyak jenderal di Jakarta. Tentu saja kami tak takut pada jenderal yang dimaksudnya, jikapun ada. Dulu kami hanya menaruh hormat yang gentar pada pak Babinsa yang entah bernama siapa. Bapak berbadan tambun yang seringkali bermotor mengelilingi pasar saat malam tiba.
Lama silam berlalu. Di tahun-tahun terakhir ini aku selalu menemukannya di warung kopi dekat rumah. Warung kopi yang menerima siapapun yang tiba. Saat itu ia terlihat lebih alim dengan janggut yang terpelihara. Ia sedang sibuk mengurus partai dan kandidat salah satu walikota Makassar. Di tangannya ada pamflet dan selebaran berwarna keunguan berisi janji-janji sang kandidat.
Lalu waktu terakhir, aku tersadar betapa waktu bisa mengalahkan apa pun. Ia tiba di warung kopi. Menyingkir dari hujan di luar. Ia tampak ringkih di sore yang basah itu. Matanya cekung. Wajahnya cemas. Jaket yang sepertinya ia pakai untuk sekedar menopang wibawa, tak cukup menyembunyikan usia yang telah memangkas kebanggaannya. Tak ada lagi janggut. Hanya titik tanda tattoo yang tersisa di antara dua matanya, seperti orang India di film-film bollywood.
Ia bercerita berapa bulan terakhir menjadi kolektor tunggakan utang cicilan kendaraan. Berbekal kebangaannya, ia bersama seorang kawannya mendatangi daerah untuk menarik kembali kendaraan yang tak bisa terbayar. Pekerjaan yang seperti meminta nyawanya saat harus berhadapan dengan orang-orang yang tak rela, kendaraan kebanggaan cicilan mereka ingin diambil oleh pemberi kredit. Bahkan kadang ia harus memakai jaket loreng sekedar menunjukkan kalau ia memiliki akses pada militer negeri ini. Walaupun di satu kesempatan, ia akhirnya mengaku kalau jaket loreng itu ia beli di pasar, saat ia termakan gertakan tentara yang mencoba mencegah langkahnya menunaikan tugas. Dari tiap tugas itulah ia mendapat sekedar untuk menghidupi dirinya dan istri keduanya di kabupaten lain di utara propinsi ini. Menurutnya, intinya adalah menggertak. Siapa yang menang di gertakan pertama, maka permainan adalah miliknya, katanya.
Tapi ia telah merasa tak semuda dan sejumawa dulu. Ia merasa pekerjaan itu telah meminta lebih dari yang bisa diri dan tubuhnya bisa berikan. Waktu telah mengambil banyak hal darinya kini dan ia pun memilih berhenti dan beralih pekerjaan. Betapa tipis hidup dan mati, katanya tentang pekerjaannya itu. Ia menjadi penjual obat dan suplemen kesehatan yang ia beli dari apotik milik kawannya. Saat bercerita. Matanya selalu menatap keluar. Seperti mencari sesuatu pada cuaca dan lalu lalang kendaraan di jalanan.
Meskipun sungkan padaku. Ia hanya memilih merokok, saat kutawari untuk membayarinya kopi. Dji sam Soe dan ia menghisapnya, meski harus beberapa kali membakarnya ulang karena rokok yang dihisapnya sambil bercerita kembali padam. Ia bercerita tentang kedekatannya dengan Hercules yang tersohor sebagai tukang pukul di ibukota. Dan saat ia bercerita tentang Tanjung Priok, aku hanya teringat betapa lelaki ini pernah menjadi legenda yang membuat kami selalu gentar.
Tetapi waktu telah mengalahkannya. Waktu! Bukan yang lain.
Betapa waktu bisa mengalahksan siapapun. Juga Sang Legenda..
Bagiku, dulu ia seperti legenda. Lelaki itu pernah tinggal belasan tahun di Tanjung Priok, kawasan di sebelah utara ibukota, tempat banyak warga keturunan Bugis Makassar memilih tinggal dan menantang hidup. Kawasan pelabuhan yang tak jauh dari laut. Tempat yang menyediakan banyak ruang bagi anak-anak muda yang merindukan warna ibukota tapi tak ingin jauh dari harum laut.
Bagiku, ia mula menjadi legenda ketika dalam suatu perkelahian dengan preman asal Madura dan perutnya dikisahkan robek terkena sabetan celurit. Tapi ia menuntaskan perkelahian dengan menikam lawannya dengan badik. Dan juga menurut cerita yang entah darimana bermula, Tak lama, lawannya mati. Ia masih sempat membawa luka robek dan buraian ususnya ke rumah sakit untuk dijahit.
Setelahnya, ia lari dan kembali ke Pasar Cidu. Cerita itu beredar di antara kami yang mengingatnya, bertumpuk dengan ingatan dan kekaguman pada pendekar yang terlibat carok karena dendam yang harus dituntaskan. Tentu saja itu hanya film dari kaset video yang kadang kami nonton dari haji di kampung sebelah dengan membayar lima puluh perak. Dan kalau ibu haji sedang berbaik hati, ia mengizinkan kami masuk dengan membayara seratus perak untuk tiga orang. Pemerannya Barry Prima yang selalu menjadi tokoh protagonist melawan Advent Bangun, jago karate yang memiliki rahang seperti Arnold Schwarzenegger, bintang film yang kini jadi gubernur California, Amerika Serikat.
Setelah pertarungan itu, ia melanjutkan hidupnya. Dengan minum tuak dan seringkali mondar-mandir di pasar sekitar rumahku. Mabuk. Kadang berkelahi. Ataupun bersama kawannya memukuli lawannya dan membuangnya ke selokan hitam di depan rumahku. Jika melihatnya melintas di depan rumah tentang kami sering duduk dan berbincang apa saja, kami memilih menghentikan pembicaraan dan membiarkannya berlalu.
Juga dalam keadaan mabuk, ia seringkali menelpon di wartel rumah kami, --dan meskipun membayar, ia selalu mengancam akan menutup wartel kami dengan menyebut kalau ia berteman dengan banyak jenderal di Jakarta. Tentu saja kami tak takut pada jenderal yang dimaksudnya, jikapun ada. Dulu kami hanya menaruh hormat yang gentar pada pak Babinsa yang entah bernama siapa. Bapak berbadan tambun yang seringkali bermotor mengelilingi pasar saat malam tiba.
Lama silam berlalu. Di tahun-tahun terakhir ini aku selalu menemukannya di warung kopi dekat rumah. Warung kopi yang menerima siapapun yang tiba. Saat itu ia terlihat lebih alim dengan janggut yang terpelihara. Ia sedang sibuk mengurus partai dan kandidat salah satu walikota Makassar. Di tangannya ada pamflet dan selebaran berwarna keunguan berisi janji-janji sang kandidat.
Lalu waktu terakhir, aku tersadar betapa waktu bisa mengalahkan apa pun. Ia tiba di warung kopi. Menyingkir dari hujan di luar. Ia tampak ringkih di sore yang basah itu. Matanya cekung. Wajahnya cemas. Jaket yang sepertinya ia pakai untuk sekedar menopang wibawa, tak cukup menyembunyikan usia yang telah memangkas kebanggaannya. Tak ada lagi janggut. Hanya titik tanda tattoo yang tersisa di antara dua matanya, seperti orang India di film-film bollywood.
Ia bercerita berapa bulan terakhir menjadi kolektor tunggakan utang cicilan kendaraan. Berbekal kebangaannya, ia bersama seorang kawannya mendatangi daerah untuk menarik kembali kendaraan yang tak bisa terbayar. Pekerjaan yang seperti meminta nyawanya saat harus berhadapan dengan orang-orang yang tak rela, kendaraan kebanggaan cicilan mereka ingin diambil oleh pemberi kredit. Bahkan kadang ia harus memakai jaket loreng sekedar menunjukkan kalau ia memiliki akses pada militer negeri ini. Walaupun di satu kesempatan, ia akhirnya mengaku kalau jaket loreng itu ia beli di pasar, saat ia termakan gertakan tentara yang mencoba mencegah langkahnya menunaikan tugas. Dari tiap tugas itulah ia mendapat sekedar untuk menghidupi dirinya dan istri keduanya di kabupaten lain di utara propinsi ini. Menurutnya, intinya adalah menggertak. Siapa yang menang di gertakan pertama, maka permainan adalah miliknya, katanya.
Tapi ia telah merasa tak semuda dan sejumawa dulu. Ia merasa pekerjaan itu telah meminta lebih dari yang bisa diri dan tubuhnya bisa berikan. Waktu telah mengambil banyak hal darinya kini dan ia pun memilih berhenti dan beralih pekerjaan. Betapa tipis hidup dan mati, katanya tentang pekerjaannya itu. Ia menjadi penjual obat dan suplemen kesehatan yang ia beli dari apotik milik kawannya. Saat bercerita. Matanya selalu menatap keluar. Seperti mencari sesuatu pada cuaca dan lalu lalang kendaraan di jalanan.
Meskipun sungkan padaku. Ia hanya memilih merokok, saat kutawari untuk membayarinya kopi. Dji sam Soe dan ia menghisapnya, meski harus beberapa kali membakarnya ulang karena rokok yang dihisapnya sambil bercerita kembali padam. Ia bercerita tentang kedekatannya dengan Hercules yang tersohor sebagai tukang pukul di ibukota. Dan saat ia bercerita tentang Tanjung Priok, aku hanya teringat betapa lelaki ini pernah menjadi legenda yang membuat kami selalu gentar.
Tetapi waktu telah mengalahkannya. Waktu! Bukan yang lain.
Betapa waktu bisa mengalahksan siapapun. Juga Sang Legenda..
Monday, October 05, 2009
Tentang Cinta
Tentang Cinta, aku sungguh tak mengerti benar. Tapi suatu hari, saat sama terjebak hujan dan gelas kopi, aku mendengar cerita dar seorang kawan tentang seorang penderita kusta yang kini tinggal memencilkan diri di salah satu pulau di gugusan pulau di perairan Makassar.
Sejak tahun 1972, setelah menikah, mereka terpaksa pergi setelah terusir dari kampung halamannya sendiri. Bersama perempuan yang telah menjadi istrinya itu, ia memutuskan berlayar dan menetap di pulau yang tak kutahu namanya, kecuali jaraknya yang dua jam perjalanan menggunakan perahu dari pantai Makassar..
Hanya berdua, bersama, mereka membangun sebuah rumah bertapakan nipah, dan berdinding sekedarnya melintasi hari demi hari hingga hari ini. Selama musim berganti sudah beragam cuaca yang merajam mereka dengan panas, angin, hujan dan ombak. Mereka tetap bertahan, dengan penyakit yang terus menggerogoti organ tubuhnya. Hari demi hari, bersama mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka, hingga melepaskan anak-anak mereka untuk berpindah dan memulai hidup yang jauh dari mereka. Kini mereka tinggal berdua diserang usia yang kian uzur. Lelaki itu kini buta sedang istrinya menjadi tuli di pulau kecil itu.
Untuk makan, mereka mencari ikan ataupun cumi yang ada di sekitar pulau tempat mereka bermukim menggunakan sampan kecil milik mereka. Dengan indera mereka yang kian terbatas, berdua mereka membawa sampan untk mencari apa yg bisa dimakan. Meski setelah sekian lama tinggal di Pulau itu dan dianggap berjasa mencegah orang untuk membunuh ikan-ikan dengan peledak, kadang ada saja kelompok dari Pemerintah yang membawakan mereka sekedar beras ataupun rokok tembakau.
Setelah lebih 35 tahun, lelaki itu hanya pernah berkata; "Setelah Istriku dan tuhan, Hidupku kini sudah lengkap.." Kami sempat terkesima, saat kawanku itu bercerita.. Saat itu, aku tersadar, aku tak pernah mengerti benar apa itu Cinta..
Tentang Perempuan yang berani menempuh takdir bersama suaminya yang menderita Kusta itu, aku takkan pernah punya perbendaharaan kata untuk menyebutnya.. Aku hampir terisak..
Sejak tahun 1972, setelah menikah, mereka terpaksa pergi setelah terusir dari kampung halamannya sendiri. Bersama perempuan yang telah menjadi istrinya itu, ia memutuskan berlayar dan menetap di pulau yang tak kutahu namanya, kecuali jaraknya yang dua jam perjalanan menggunakan perahu dari pantai Makassar..
Hanya berdua, bersama, mereka membangun sebuah rumah bertapakan nipah, dan berdinding sekedarnya melintasi hari demi hari hingga hari ini. Selama musim berganti sudah beragam cuaca yang merajam mereka dengan panas, angin, hujan dan ombak. Mereka tetap bertahan, dengan penyakit yang terus menggerogoti organ tubuhnya. Hari demi hari, bersama mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka, hingga melepaskan anak-anak mereka untuk berpindah dan memulai hidup yang jauh dari mereka. Kini mereka tinggal berdua diserang usia yang kian uzur. Lelaki itu kini buta sedang istrinya menjadi tuli di pulau kecil itu.
Untuk makan, mereka mencari ikan ataupun cumi yang ada di sekitar pulau tempat mereka bermukim menggunakan sampan kecil milik mereka. Dengan indera mereka yang kian terbatas, berdua mereka membawa sampan untk mencari apa yg bisa dimakan. Meski setelah sekian lama tinggal di Pulau itu dan dianggap berjasa mencegah orang untuk membunuh ikan-ikan dengan peledak, kadang ada saja kelompok dari Pemerintah yang membawakan mereka sekedar beras ataupun rokok tembakau.
Setelah lebih 35 tahun, lelaki itu hanya pernah berkata; "Setelah Istriku dan tuhan, Hidupku kini sudah lengkap.." Kami sempat terkesima, saat kawanku itu bercerita.. Saat itu, aku tersadar, aku tak pernah mengerti benar apa itu Cinta..
Tentang Perempuan yang berani menempuh takdir bersama suaminya yang menderita Kusta itu, aku takkan pernah punya perbendaharaan kata untuk menyebutnya.. Aku hampir terisak..
Tuesday, May 19, 2009
perjalanan

:D.F
aku selalu mengenang bagaimana perjalanan ini bermula
ketika suatu hari aku menemukan telaga pada matamu
yang menyimpan bayangan matahari dan wajahku pada permukaannya
cermin yang menyimpan rahasiaku padamu
bersamamu telah kusaksikan bagaimana kemarau meluruhkan
daun-daun pada hutan yang menaungi jalan yang kita susuri
juga hujan yang melingkupi kita dalam kisi tirainya
melapisi pandangan kita dalam selimut perak
lembut serupa kenangan yang samar
aku tahu, setelah sekian musim
aku selalu menemukan sisi tempatku menepi
istirah dari hiruk pikuk di luar sana
aku selalu membayangkan, kelak menggengam tanganmu
berjalan menuju senja.
menyaksikan malam pelan menjelang. melingkupi kita yang pulang
(ahmad k. syamsuddin, 2009)
Tuesday, March 03, 2009
Lampu dan Ketelanjangan Kami

Sebuah petang, di pasarcidu, aku tiba-tiba dilanda rasa yang janggal. seperti rasa terkepung. seakan terjebak pada sesuatu. tersudut. perasaan telanjang dan tak berdaya. aku diam dan menyadari kalau di simpang 3 tengah pasarcidu, ada lagi sebuah benda aneh yang menggantung lekat di tiang. sebuah lampu jalan. lampu pijar neon. pijarnya putih angkuh melayang. seseorang entah siapa memasangnya beberapa hari yang lalu, tepat di tangkai sisa lampu merkuri sebelumnya.
Dan sudah beberapa malam, anak-anak dan sebagian penghuni pasarcidu di sekitar simpang 3 tengah, ramai berkumpul di bawah lampu itu. berbincang. lebih ramai dari sebelumnya. seperti berdiang mencari hangat harapan. sebelum mereka sadar, betapa pijar lampu akan kembali menyadarkan mereka semua kenyataan yang mengitari mereka setiap hari. menyadarkan sudut-sudut yang semula disembunyikan bayangan, disembunyikan malam. lalu lampu itu kembali mengasingkan mereka. mengasingkan kami.
Dan lampu itu kini betul-betul menelajangi bentangan tenda-tenda tempat penjual mengais rezeki di pagi hari. menelanjangi amis genangan air yang terus menggenangi jalan, seperti mata air abadi. menelanjangi meja-meja kayu berbau ikan yang ditumpuk sekenanya. menelanjangi setiap tikus yang mengendap-endap. juga menelajangi hati kami yang telah terluka sekian kali. menelanjangi pasarcidu.
seperti lampu merkuri lainnya, lampu itu tegak mencoba mengalahkan malam.
mengalahkan pekat yang meraja. mengungkap relung tempat gelap rahasia mendekam. ah, semoga malam kembali menang dan menyelimuti kami dalam bayangnya. agar hati yang luka ini kembali tenteram bersemayam...
(katanya dibiayai oleh seseorang yang hendak mengais suara pemilih dalam pemilu mendatang. katanya agar orang-orang di pasarcidu yakin kalau mereka bisa menyandarkan harapan selama 5 tahun yang mengecewakan ke depan, makanya ia memasang lampu di sudut jalan yang gelap itu. seolah ia pembawa pelita yang akan memnadu setiap yang sesat ke jalan yang benderang.. ah, bangsat!!!)
Saturday, February 21, 2009
Pasar Cidu
tak terasa sudah berapa lama tak singgah di sini. aku singgah hanya mengenang sebuah tempat di sudut pasar cidu. tempat setiap pagi, memandang hari mulai. juga beranda tempat melihat malam menuju selesai.
Sunday, January 04, 2009
2009
Tahun Baru, aku sedikit harapan baru; "Saya berharap bisa bangun lebih pagi, dan melawan tubuhku sendiri yang enggan bergerak lebih dini..." meski harus kuakui, tidur yang paling menyenangkan adalah setelah sholat subuh. Lelap yang selalu dihiasi mimpi-mimpi ajaib dibanding tidur malam..
Selamat Tahun Baru
Selamat Tahun Baru
Saturday, December 27, 2008
satu lagi selesai
hampir tak terasa, satu lagi selesai. entah berapa yang tersisa. semoga semua tetap menyediakan beragam laksa warna. semoga.
Wednesday, December 10, 2008
di luar hujan. tapi di tempat ini, aku tak pernah tahu bagaimana cuaca di luar. di sini aku selalu membayangkan memiliki sebuah jendela besar, hanya untuk melihat satu-satu titik hujan jatuh, berkumpul menyatu lalu mengalir membentuk lajur-lajur ke bawah. hanya itu. kadang kusadar, banyak kesederhanaan yang demikian memukau.
*bagaimana kau di luar sana?
*bagaimana kau di luar sana?
Wednesday, October 29, 2008
Pasar Gelap
Malam ini aku kembali singgah, setelah sekian lama terhisap dalam rutinitas di pusat kota. Aku selalu suka tempat ini. Bagiku atau kami, tempat ini selalu menyediakan kemungkinan lain dari sekian banyak pilihan di dunia perburuan di luar sana.
Menyediakan pilihan lain, ketika waktu tak berpihak pada kita, dan buruan telah selesai. Kami tak bisa memutar waktu mundur kembali, namun jika toh ada kemungkinan lain, maka disinilah tempatnya mengais.
Di tempat ini, ‘sesuatu yang paling berharga’ di dunia kami ditukarkan. Meski tak diikat akad ataupun akta, hampir serupa persaudaraan rahasia lainnya; setiap yang pernah datang mengambil sesuatu, maka kelak ia akan membawa sesuatu. Tak harus berjanji dan tak ada hukuman sebenarnya, tapi semua tampaknya tetap berjalan dengan ritme dan polanya sendiri.
Di tempat ini, setelah duduk di sofa di depan pintu masuk, aku selalu merasakan temaram cahaya dari bohlam lampu putih. Merasakan sejuk pendingin ruangan, dan dengan senyum yang kurasakan ganjil, aku selalu menyebutnya sebagai ‘Pasar Gelap’.
Inilah pasar gelap, tempat dimana tak ada dosa eksklusifitas. Tidak ada persaingan kejam memburu rating dan meraih peringkat ciptaan setan Nielsen. Peringkat yang menandakan betapa ‘tempat kami’ bekerja pantas bagi para penjual untuk menawarkan jualan mereka–termasuk kemolekan tubuh dan peruntungan nasib. Sistem peringkatan yang membuat ‘tempat kami’ bisa menangguk uang dari iklan yang mereka pasang untuk membujuk mereka yang didera kebingungan.
Entah sampai kapan tempat ini tetap ada. Mungkin selama dunia perburuan itu tetap ada, maka selalu ada tempat serupa ini. Tempat Pulang. Meski sebenarnya ini adalah pilihan terakhir kami para pemburu..
Menyediakan pilihan lain, ketika waktu tak berpihak pada kita, dan buruan telah selesai. Kami tak bisa memutar waktu mundur kembali, namun jika toh ada kemungkinan lain, maka disinilah tempatnya mengais.
Di tempat ini, ‘sesuatu yang paling berharga’ di dunia kami ditukarkan. Meski tak diikat akad ataupun akta, hampir serupa persaudaraan rahasia lainnya; setiap yang pernah datang mengambil sesuatu, maka kelak ia akan membawa sesuatu. Tak harus berjanji dan tak ada hukuman sebenarnya, tapi semua tampaknya tetap berjalan dengan ritme dan polanya sendiri.
Di tempat ini, setelah duduk di sofa di depan pintu masuk, aku selalu merasakan temaram cahaya dari bohlam lampu putih. Merasakan sejuk pendingin ruangan, dan dengan senyum yang kurasakan ganjil, aku selalu menyebutnya sebagai ‘Pasar Gelap’.
Inilah pasar gelap, tempat dimana tak ada dosa eksklusifitas. Tidak ada persaingan kejam memburu rating dan meraih peringkat ciptaan setan Nielsen. Peringkat yang menandakan betapa ‘tempat kami’ bekerja pantas bagi para penjual untuk menawarkan jualan mereka–termasuk kemolekan tubuh dan peruntungan nasib. Sistem peringkatan yang membuat ‘tempat kami’ bisa menangguk uang dari iklan yang mereka pasang untuk membujuk mereka yang didera kebingungan.
Entah sampai kapan tempat ini tetap ada. Mungkin selama dunia perburuan itu tetap ada, maka selalu ada tempat serupa ini. Tempat Pulang. Meski sebenarnya ini adalah pilihan terakhir kami para pemburu..
Sunday, October 26, 2008
Kenangan dan Satu Malam di Pasarcidu
Terbuat dari apakah itu Kenangan? Mengapa ia menyerbu dan menyiksaku; saat aku yakin telah membunuhnya dan menguburnya dalam-dalam. Terbuat dari apakah ia? Mengapa ia ternyata tak bisa begitu saja hilang saat telah kuputuskan semuanya sudah selesai.
Aku sadar, “terus berjalan” ternyata tak cukup untuk melupakan semua yang tentram tersimpan di masa silam. Juga labirin yang memerangkap itu ternyata tak musnah meski kuyakin telah kubakar dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah kita “tetap bernafas” dan ini tak lebih dari sekedar merayakan hidup yang sebentar.
Dini hari, sebelumnya bermula dari secangkir kopi yang lezat*, lalu insomniaku pun kembali meraja, Aku dan Aku lainnya serasa berebut tubuhku untuk Tidur atau Jaga. Kelelahan, pola siklus harian tubuh dan redup cahaya sudah hampir membuat tubuh kurusku lelap dan hilang ke pusaran mimpi.. Namun tak butuh waktu lama Kenangan, Cemas dan semua balatentaranya membuatku kembali terjaga. Mendera dan meliputiku dalam jalinan ingatan yang entah bermula dan berujung dimana-kemana.
Aku terjaga, dan meski tenggorokanku sudah protes, kupikir hanya Philip** dan asapnya yang bisa menemaniku.
Dari teras kamarku akupun tersadar, kalau lansekap atap-atap rumah di sekitar Pasarcidu ternyata membentuk topografi yang cukup cantik. Rumah-rumah yang tumbuh berdempetan,juga atap-atap bangunan dari ruko-ruko orang tionghoa, tiang listrik dengan kabel listrik yang berjejalin rapat-rumit, dan cakrawala dilingkupi kapas awan dan sebaris awan panjang di langit timur..Lampu jalan seperti Kekunang yang diam, terperangkap dalam gerimis yang jatuh satu-satu.
Rumah yang serupa bukit-bukit kecil di padang kota yang luas, melindungi mereka semua yang lelap dan tentram. Adakah di antara mereka yang mungkin saja terbangun karena didera Kenangan. Tapi tak ada yang terjaga di puncak “rumah entah disana” di kejauhan. Hanya gerimis dan lampu jalan.
Terbuat dari apakah Kenangan sebenarnya? Dimanakah ia sebenarnya tersimpan, dan menunggu sebelum menyergap kita? Ah, Kenangan.. Sudah pagi. Selamat Tidur, sampai bertemu di malam entah kapan. Kau pasti sulit datang saat Ramai Hari sudah datang.
*aku selalu menyukai Kafein di bagian ini sebenarnya; selalu membuat mata dan otakku menyala lebih baik. Tapi tidak kusadari kalau sekuat ini, saat berkumpul kembali dengan 3 orang kawan yang akrab di waktu kuliah dulu dan kami memutuskan minum kopi di tempat kami dulu pernah sering bertemu dan menyebutnya dengan istilah “ngantor”. Dan meski tak kubilang semuanya mudah, tapi aku selalu takjub dengan perkawanan kami berempat.
**Rokok buatan Philip Morris Indonesia, Jakarta, dengan merk dagang Marlboro, Kemasan Flip Top Box, isi 20 Batang, Dengan Tulisan besar “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Ada juga Tulisan tentang kandungan Tar dan Nikotin yang tak kupahami seperti apa bentuknya.
Aku sadar, “terus berjalan” ternyata tak cukup untuk melupakan semua yang tentram tersimpan di masa silam. Juga labirin yang memerangkap itu ternyata tak musnah meski kuyakin telah kubakar dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah kita “tetap bernafas” dan ini tak lebih dari sekedar merayakan hidup yang sebentar.
Dini hari, sebelumnya bermula dari secangkir kopi yang lezat*, lalu insomniaku pun kembali meraja, Aku dan Aku lainnya serasa berebut tubuhku untuk Tidur atau Jaga. Kelelahan, pola siklus harian tubuh dan redup cahaya sudah hampir membuat tubuh kurusku lelap dan hilang ke pusaran mimpi.. Namun tak butuh waktu lama Kenangan, Cemas dan semua balatentaranya membuatku kembali terjaga. Mendera dan meliputiku dalam jalinan ingatan yang entah bermula dan berujung dimana-kemana.
Aku terjaga, dan meski tenggorokanku sudah protes, kupikir hanya Philip** dan asapnya yang bisa menemaniku.
Dari teras kamarku akupun tersadar, kalau lansekap atap-atap rumah di sekitar Pasarcidu ternyata membentuk topografi yang cukup cantik. Rumah-rumah yang tumbuh berdempetan,juga atap-atap bangunan dari ruko-ruko orang tionghoa, tiang listrik dengan kabel listrik yang berjejalin rapat-rumit, dan cakrawala dilingkupi kapas awan dan sebaris awan panjang di langit timur..Lampu jalan seperti Kekunang yang diam, terperangkap dalam gerimis yang jatuh satu-satu.
Rumah yang serupa bukit-bukit kecil di padang kota yang luas, melindungi mereka semua yang lelap dan tentram. Adakah di antara mereka yang mungkin saja terbangun karena didera Kenangan. Tapi tak ada yang terjaga di puncak “rumah entah disana” di kejauhan. Hanya gerimis dan lampu jalan.
Terbuat dari apakah Kenangan sebenarnya? Dimanakah ia sebenarnya tersimpan, dan menunggu sebelum menyergap kita? Ah, Kenangan.. Sudah pagi. Selamat Tidur, sampai bertemu di malam entah kapan. Kau pasti sulit datang saat Ramai Hari sudah datang.
*aku selalu menyukai Kafein di bagian ini sebenarnya; selalu membuat mata dan otakku menyala lebih baik. Tapi tidak kusadari kalau sekuat ini, saat berkumpul kembali dengan 3 orang kawan yang akrab di waktu kuliah dulu dan kami memutuskan minum kopi di tempat kami dulu pernah sering bertemu dan menyebutnya dengan istilah “ngantor”. Dan meski tak kubilang semuanya mudah, tapi aku selalu takjub dengan perkawanan kami berempat.
**Rokok buatan Philip Morris Indonesia, Jakarta, dengan merk dagang Marlboro, Kemasan Flip Top Box, isi 20 Batang, Dengan Tulisan besar “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Ada juga Tulisan tentang kandungan Tar dan Nikotin yang tak kupahami seperti apa bentuknya.
Friday, October 24, 2008
Daeng Saodah dan Yang Wafat
Beberapa pagi yang lalu, selepas sholat subuh. Suara dari pengeras masjid mengumumkan; " Innalillahi wainna ilaihi rojiun....telah berpulang.." Satu lagi seseorang di sekitar Pasarcidu tutup usia. Meski aku selalu terhenyak mendengar suara itu.. kadang kurasakan mereka sebagai orang yang beruntung; dijemput Maut dalam dini hari yang senyap..
Entah mengapa, aku teringat daeng Saodah. Perempuan bertubuh kecil yang mungkin seusia almarhum nenek. Di ingatanku, entah sejak kapan ia mulai menjual kelapa dan beragam hasil lain dari kelapa sampai gula merah, di depan rumah nenek. Diingatanku yang tersisa, saat masih kecil, sebelum aku berangkat ke taman-kanak-kanak, nenekku sering mencelup tangannya ke minyak kelapa yang dijual daeng saodah lalu mengusapnya ke rambutku hingga mengkilap basah. meski kadang wanginya terasa sengak di hidungku yang kecil, aku tak bisa menolak. sering juga uang jajanku diambil dari uang logam di keranjang daeng saodah, kalau saja nenekku tak punya uang kecil.
Aku tiba-tiba mengingatnya saat mendengar pengumuman mencemaskan di pagi buta itu. aku teringat kebiasaan Daeng Saodah, Setiap ada orang yang meninggal, di sekitar pasarcidu, ia pasti selalu hadir untuk bertakziyah dan memberikan sumbangan sekedarnya, meskipun ia sama sekali tak mengenal orang itu. Ia hanya datang mendengar ceramah tentang kematian, ataupun mungkin berbincang sedikit dengan sesiapa yang mungkin saja dikenalnya di tempat itu.
Jika ditanya mengapa ia hadir padahal ia tak mengenal si fulan yang meninggal, ia hanya tersenyum. tak banyak bicara. Ia tak bercerita tentang silaturahmi ataupun "jaringan" yang rumit, apalagi tentang adat ketimuran dan kohesi sosial. Menurutnya sudah seharusnya begitu jika ada yang wafat,tak lebih.
Mungkin ia datang, meski itu sekedar utnuk menunjukkan betapa ada yang hendak mengenang kehidupan seseorang yang berharga. Mengenang sesuatu yang pernah berarti saat semuanya usai. Atau ia hanya datang, mungkin untuk sekedar mengingat maut. Mengingat sesuatu yang diam-diam menunggu waktu kita. Yang Diam menunggu detik dengan presisi yang rasanya tak mungkin bergeser, meski itu sepersekian sekon...
Aku teringat daeng saodah.
Entah mengapa, aku teringat daeng Saodah. Perempuan bertubuh kecil yang mungkin seusia almarhum nenek. Di ingatanku, entah sejak kapan ia mulai menjual kelapa dan beragam hasil lain dari kelapa sampai gula merah, di depan rumah nenek. Diingatanku yang tersisa, saat masih kecil, sebelum aku berangkat ke taman-kanak-kanak, nenekku sering mencelup tangannya ke minyak kelapa yang dijual daeng saodah lalu mengusapnya ke rambutku hingga mengkilap basah. meski kadang wanginya terasa sengak di hidungku yang kecil, aku tak bisa menolak. sering juga uang jajanku diambil dari uang logam di keranjang daeng saodah, kalau saja nenekku tak punya uang kecil.
Aku tiba-tiba mengingatnya saat mendengar pengumuman mencemaskan di pagi buta itu. aku teringat kebiasaan Daeng Saodah, Setiap ada orang yang meninggal, di sekitar pasarcidu, ia pasti selalu hadir untuk bertakziyah dan memberikan sumbangan sekedarnya, meskipun ia sama sekali tak mengenal orang itu. Ia hanya datang mendengar ceramah tentang kematian, ataupun mungkin berbincang sedikit dengan sesiapa yang mungkin saja dikenalnya di tempat itu.
Jika ditanya mengapa ia hadir padahal ia tak mengenal si fulan yang meninggal, ia hanya tersenyum. tak banyak bicara. Ia tak bercerita tentang silaturahmi ataupun "jaringan" yang rumit, apalagi tentang adat ketimuran dan kohesi sosial. Menurutnya sudah seharusnya begitu jika ada yang wafat,tak lebih.
Mungkin ia datang, meski itu sekedar utnuk menunjukkan betapa ada yang hendak mengenang kehidupan seseorang yang berharga. Mengenang sesuatu yang pernah berarti saat semuanya usai. Atau ia hanya datang, mungkin untuk sekedar mengingat maut. Mengingat sesuatu yang diam-diam menunggu waktu kita. Yang Diam menunggu detik dengan presisi yang rasanya tak mungkin bergeser, meski itu sepersekian sekon...
Aku teringat daeng saodah.
Wednesday, October 01, 2008
Lebaran

aku selalu merasa memiliki aku yang lain yang kadang tak kuingini. Kadang kukenali ia sebagai si pahit lidah (sekedar mengingat nama pendekar -kalau tidak salah, dari melayu, yang mampu menjadikan musuhnya menjadi batu). sering aku memakai tanduk dan menjadi jahat. kadang aku menjadi "bom gotri" yang meledak dan menyembur kemana-mana. sering aku menjadi aku,--yang dalam keadaan sadar, sungguh tak kuingini.
betapa kuingin di puasa kali ini, aku bisa membunuhnya; tapi sepertinya mereka masih setia pada aku. mungkin memang iblis tak pernah mati..
aku yang hina ini, kepada semua yang pernah terluka atas semua lakuku yang tak berkenan, semoga tuan sudi memaafkannya. Selamat Lebaran, semoga kita semua diberi kelapangan hati
Sunday, September 14, 2008
Purnama
Semalam Purnama Sempurna. Bundar seperti keping kerang berwarna kuning keperakan. Tergantung di langit, bersinar lembut. Aku terkenang-kenang dongeng tentang bulan dan anak yang terbang ke bulan. Juga Kabayan yang bertemu Nini Anteh. Juga purnama yang dipenuhi Puisi. Membayangkan ada sebuah dunia di luar sana, dunia yang juga memandang kembali ke mataku saat kumemandangnya.
Monday, August 25, 2008
selepas perkawinan seorang kawan di benteng rotterdam
::bz
musik mengalun. mengalir dalam angin yang menyisir dinding-dinding batu yang tegak mengelilingi kita. di bawah sorot lampu kekuningan yang menyepuh setiap wajah serupa emas agar tampak bahagia, aku serasa membaca gurat cemas di dalam matamu, kawanku.
apa yang hendak kau katakan? apa yang kau takutkan? kau khawatir pada usia kita yang terus menetes habis seperti dalam jam pasir? jika hidup rasanya tak berpihak pada pejalan-pejalan seperti kita, apakah kita harus menyalahkan hidup yang fana ini? bukankah kita hanya berebut mengecap yang nisbi?
kawanku, aku tak menyangkal kalau aku kadang bertanya; di dada siapakah bagian rusukku yang lain tertanam, tetapi janganlah terlalu cemas. perempuan itu masih dipingit Tuhan untukmu, dan mungkin juga untukku.
kawanku, setelah malam yang berangin ini, percayalah pada pemilik semesta ini. juga Ia yang memiliki setiap rahasia kita.
ps: v, maafkan, mengapa kau berada di sana; dan anakan rambut di dahimu membutku tertegun..
musik mengalun. mengalir dalam angin yang menyisir dinding-dinding batu yang tegak mengelilingi kita. di bawah sorot lampu kekuningan yang menyepuh setiap wajah serupa emas agar tampak bahagia, aku serasa membaca gurat cemas di dalam matamu, kawanku.
apa yang hendak kau katakan? apa yang kau takutkan? kau khawatir pada usia kita yang terus menetes habis seperti dalam jam pasir? jika hidup rasanya tak berpihak pada pejalan-pejalan seperti kita, apakah kita harus menyalahkan hidup yang fana ini? bukankah kita hanya berebut mengecap yang nisbi?
kawanku, aku tak menyangkal kalau aku kadang bertanya; di dada siapakah bagian rusukku yang lain tertanam, tetapi janganlah terlalu cemas. perempuan itu masih dipingit Tuhan untukmu, dan mungkin juga untukku.
kawanku, setelah malam yang berangin ini, percayalah pada pemilik semesta ini. juga Ia yang memiliki setiap rahasia kita.
ps: v, maafkan, mengapa kau berada di sana; dan anakan rambut di dahimu membutku tertegun..
Friday, August 15, 2008

tabik...
menemukan sajak lama, di timbunan inbox. 14 juli 2006, tapi rasanya sebangun dengan semua yang kualami belakangan ini. maafkan bukan merayakan sakit ini; sekedar membetahkan diri dengan semuanya. --atau mungkin juga aku takut ini hilang entah kemana, padahal berkali-kali saya mencoba menulis sajak kembali, tapi tetap saja betapa sulit mendapatkan lagi kutukan sajak...
dingin terasa tajam, menelusup dalam tulang.
langit putih bersih. bintang kerlip, serupa kedip lilin di kejauhan.
bulan kuning bundar sempurna. angin terasa riuh bertiup tetapi malam terasa
kuncup.
lalu kukenang bundar matamu yang sering berkerjap kekanakan. lurus.
diam dengan senyum yang tertahan mengembang seperti menunggu semesta pecah.
serasa debar. ketika tahu, kau bisa saja lenyap; ketika musim beranjak dan
mungkin saja waktu merentang jarak.
akan kugapaikan tangan kemana, jika saja kau gaib dalam angin.
mungkin memang selalu ada saat; ketika dalam ombak, kita lelah bersikukuh, dan
memutuskan hanyut dalam arus laut.
dan kita tak bisa menampik waktu yang tiba.
serasa hujan dalam hatiku. jarum-jarum dingin terasa kian runcing.
Subscribe to:
Posts (Atom)

