Friday, May 18, 2007

entah kenapa, selalu kubayangkan sosok itu datang membawa gada berduri. ia lalu mendera punggungku. aku tak mengenali wajahnya; hanya putih. tak jelas; selain gada logam berwarna putih kemilau dan duri-duri yang bergerigi. juga remuk di punggungku yang terasa luka.

::lupa

entah mengapa, belakangan ini rasanya susunan waktu di kepalaku kian tak tertib. selalu saja aku merasa; kejadian yang baru terjadi kemarin, sudah lama sekali. juga sebaliknya, kejadian yang sudah sekian lampau, rasanya baru kemarin. ingatan pada susunan kalender beserta hari, juga tak lagi terlalu rapi di memori-ku.

lupa? kenapa? apakah sel-sel di kepalaku sudah mulai aus tak lagi bisa merekam dengan baik? tapi lupa, rasanya seperti susunan pertahanan terhadap apa yang tak kita ingini sebenarnya? atau mungkin tak banyak lagi kesan yang terlalu dalam, belakangan ini, selain hanya rutinitas?

tapi terbuat dari apakah "kenangan"? mengapa ia susah lekang dari ingatan meski kita tak ingin ia ada? lalu mengapa kita tak bisa memilih mengenang sesuatu atau melupakannya?

biarkan lupa membebaskan kita. semoga ia bisa membebaskan kita...

Tuesday, May 08, 2007

berburu senja


"senja di pantai itu adalah yang terindah di asia!" kata temanku. " bukan!senja itu adalah yang terindah di dunia" kata temanku yang lain.

dan aku pun harus berburu senja. memburu bola merah yang menyala-nyala itu. pernah kubayangkan nyala itu sewarna tembaga yang dipakai raja zulkarnain, untuk memerangkap yajuj-majjuj di kaki langit; agar tak keluar memorandakan bumi ini atau seperti keping uang logam yang digantungkan di dinding langit yang lembayung.

aku berburu. dari salah satu tanah tinggi di timur kota, aku melihatnya di kejauhan. menggantung di atas kota yang dipenuhi gedung dan lalu-lalang kendaraan. tapi ia hanya putih, kuning cahayanya, ditutupi awan yang membiaskan sinarnya melebar. ah tak cantik.

(aku yakin cuaca bisa saja seperti wanita; tak bisa diduga, tak bisa dipercaya. ia bisa berubah cepat. atau mungkin saja senja kali ini atidak buatku)

lalu aku mengejarnya ke tepi pantai. di pelataran beton serupa dermaga ini kulihat kuning bersih menggantung di langit barat. di sekelilingnya; langit serupa sehampar kanvas yang baru saja disiram warna jingga, di bagian tepi cakrawala, langit gelap warna lembayung.

ini sempurna!! kunanti potong-sepotong tenggelam di laut yang mulai gelap. kutunggu garis jejaknya di atas ombak yang pasti sampai ke pantai. serupa jalan emas.


waktu seteguk teh, cepat ia tenggelam. tapi ia tenggelam tepat di balik pulau bongkah pulau yang segera menjelma siluet disorot senja.

ah senja yang tak sempurna!!

lalu aku memburunya keesokan harinya. dan menjelang sore; hujan turun dengan deras. kota gelap lalu basah. hingga keesokan harinya. senja juga tak terlihat.

setelah sekian lama sering berburu senja; senja yang sempurna mungkin saja seperti jodoh. hanya indah,ketika waktunya tepat. ketika orbit senja yang sempurna, bersinggungan dengan orbit hidupmu. meski kau mengejarnya, dengan hati yang dipenuhi keriangan; ia bisa saja muncul dengan rupa yang tak kau harap, ketika ia tak berpihak padamu. namun jika semuannya tepat bersinggungan dengan tepat; maka ialah keriangan yang serasa lengkap!! hatimu penuh dengan warnanya.

"mengapa senja indah, karena ia sebentar." kata SGA. hingga kalau saja bisa senja digunting dan ditaruh di selembar kartu pos; agar ia kekal dan bisa ditengok kapanpun kita ingin. senja tak kekal --kecuali di negeri senja-nya SGA.

keriangan yang fana, ah senja...

(kekasihku, kalau saja senja bisa kekal pada matamu)

Friday, May 04, 2007

::ritual bugis-tionghoa/ pencampuran dua budaya


(*)

aksi "bissu" atau pendeta bugis kuno/ yang menikam tubuhnya saat upacara yang mereka adakan mencapai klimaks/ mungkin lazim dalam tradisi bugis// namun jika yang turut melakukannya adalah komunitas tionghoa/ bersama bissu/ menunjukkan pencampuran budaya yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu

++++

menjelang acara mattemu taung atau upacara penghormatan pada leluhur ini diadakan/ liem keng boe/ atau haji ismail daeng nai atau yang lebih dikenal baba sanro/ sudah turut berdandan bersama 3 orang bissu utama dari segeri/ termasuk bissu saidi yang disebut sebagai puang matoa bissu/ atau pimpinan dari bissu segeri (orangnya yang kurus kecil)//

seiring tabuhan gendang yang berirama khas/ pelan-pelan para bissu bersama baba sanro berjalan ke depan ruangan tempat arrajang-nge (lafalnya "e" pepet) dipasang// arrajangnge ini adalah benda yang dikeramatkan/ yang dipercaya sebagai tempat ruh leluhur beristirahat// sebelumnya/ di depan arrajangnge telah disiapkan berbagai sesaji dari kue tradisional/ buah/ ayam/ hingga kepala kerbau dan sapi yang merupakan persembahan bagi leluhur//

saat upacara mulai/ puluhan kerabat baba sanro sudah datang untuk menyaksikan upacara// sebagian lainnya sudah datang setiap tahunnya sebagai bagian dari acara keluarga besar baba sanro// sedang sebagian lainnya datang untuk mengharap berkah//

setelah membakar dupa dan membaca doa dengan khusyuk/ baba sanro bersama ketiga bissu ini mulai menarikan tarian para bissu/ atau disebut "mabbissu" dengan berputar di depan sesaji lainnya yang ditudungi kain khusus//

irama gendang kian cepat dan satu persatu bissu dan baba sanro mulai menghunus keris keramat yang semula terpasang dipinggang/ kemudian menusukkannya ke tangan/ leher dan perut mereka tanpa terluka sedikitpun// prosesi menusukkan senjata tajam/ yang selalu dilakukan bissu dalam upacara mereka ini/ disebut "maggiri"// saat upacara ini berlangsung banyak keluarga yang terkejut dengan prosesi maggiri ini//

acara yang biasanya diadakan saat bulan syafar dalam penanggaalan hijriyah ini/ sudah sejak 40 tahun lalu diadakan oleh keluarga baba sanro/ yang keturunan tionghoa/ memang menghadirkan bissu/ atau komunitas pendeta bugis kuno seperti yang diceritakan dalam epos la-galigo//

upacara ini menjadi unik karena menunjukkan adanya pencampuran budaya antara tionghoa dan bugis// pencampuran budaya ini berlangsung saat leluhur baba sangro/ keturunan tionghoa yang tiba di tanah luwu/ sulawesi selatan/ dan kemudian menikah dengan keluarga ke-datuan luwu/ salah satu kerajaan besar di tanah bugis//

dalam keragaman budaya indonesia yang sangat beragam/ akulturasi budaya semacam ini terus berlangsung// saling mewarnai/ saling memperkaya/ tanpa ada benturan yang berujung pada kekerasan//

namun jika kita tak pandai menghargai keberagaman/ entah sampai kapan upacara yang menghadirkan beragam warna etnik serupa mattemu-taung ini/ tetap mewarnai perjalanan bangsa indonesia///

tanggal : 4 mei 2007
====
*ini dari berita untuk stasiun tivi, beberapa tanda baca mungkin tidak familiar. “/” menunjukkan koma “,”. tanda “//” berarti titik “.”

Tuesday, May 01, 2007

selamat hari buruh, Samurai (stringer) !!!



kubayangkan mereka sebagai "samurai" yang menjadi barisan terdepan yang menjaga para "shogun".

meski para shogun, yang menjadi wakil di daerah dari "kekaisaran media" di kantor pusat di ibukota, masih lelap di pagi hari, atau tertidur di rumah mereka yang nyaman di malam hari, para "samurai" inilah yang berjaga, kalau saja ada "liputan" (bayangkan ini sebagai kekayaan di alam) yang bisa mereka temukan untuk bisa dikirim ke kantor pusat (bayangkan sebagai kekaisaran) agar ditayangkan/dimuat..

(nama para samurai ini bahkan kadang tak disebut--hanya nama para shogun).

setiap liputan ini dibayar oleh kantor pusat (kekaisaran), sekian persen buat para samurai ini. meski mereka sebagian besar bukan "samurai terlatih", namun sebagian besar dari samurai ini, tetap berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. mereka biasanya " learning by doing", dengan mengambil pelajaran di lapangan, serta pengalaman dari orang-orang yang lebih tua..sebagian terkadang memilih berpindah dari shogun satu ke shogun lainnya. sebagian lainnya pernah keluar dan menjadi "ronin" atau samurai tanpa tuan, dan bebas menjual apapun yang dimilikinya kepada para shogun..

jika ada samurai yang terluka atau terbunuh, tentu saja shogun segera mencari ganti. agar roda terus berputar. hampir tak ada sesal, tak ada yang terlalu peduli.

+++++

tadi beberapa koresponden dan kntributor berunjukrasa menuntut perbaikan nasib bagi para "buruh" media. namun saat mereka pulang, aku hanya bisa meringis. aku tahu, tak ada yang membicarakan nasib c****, m****, r****, N**, m*****, i***, dan semua yang hanya sering disebut "stringer" ---bahkan kadang sebagai "stranger"; orang asing.

di beberapa daerah, posisi yang kebanyakan ada di stasiun televisi ini, bahkan disebut "tuyul", karena biasanya tak tercatat dalam redaksi di kantor pusat (kecuali dikenal sebagai "anggota" dari koresponden di daerah), namun mengabdi sebagai pencari berita, atau mungkin mesin uang dari koresponden dan kontributor...biasanya mereka dibayar hanya sepersekian dari rupiah yang dibayarkan ke koresponden dari tiap berita yang dimuat (ditayangkan).

aku pernah menjadi "tuyul", "stringer", atau orang asing, meski aku masih tetap merasa beruntung, namun sedikit banyak aku tahu bagaimana rasa berada di posisi itu.
hampir tak ada perjanjian. hanya ada pembayaran setiap akhir bulan. terkadang ada pemberian tertentu dari koresponden/kontributor tempat mereka mengabdi.

namun satu yang jelas, tak ada batasan hak dan kewajiban!!! tak ada yang menanggung resiko yang mereka hadapi di lapangan! tak ada jaminan ketika mereka terkena batu, pukulan atau luka, saat mereka mencari berita untuk "dijual" kepada koresponden.

--aku teringat seorang kawan yang menolak perintah kantor pusat untuk mencari stringer, karena takut kalau saja stringer tersebut ada apa-apa, terus tidak tahu siapa yang harus menannggung resiko yang terjadi padanya.

+++++
mereka para samurai, juga patut diperjuangkan; meski itu agar bisa menjadi shogun suatu waktu. selamat hari buruh tuan-tuan stringer. selamat hari buruh, para samurai!!!!

Thursday, April 12, 2007

:s
kalau saja kau tahu, betapa binar matamu yang kekanakan itu demikian kurindukan.
mata yang menajamkan bilah-bilah rindu didadaku.

adam air


kemarin sempat melintas di dekat pantai lojie, barru, sulawesi selatan, tempat serpihan pertama pesawat naas adam air ditemukan. banyak cerita di dalamnya saat turut terlibat dalam pencarian. letih, demam, tawa, dan certa yang diam-diam lindap di kenangan.
namun dimanakah 102 nyawa yang ada di dalam KI-574 itu? (bagaimanakah kini rupa mereka yang hilang itu) kata sebuah kabar, mereka ada di dasar laut perairan mejene-sulawesi barat, kedalaman 2000 meter dan tertimbun sedimen pasir. mereka dimakamkan oleh laut. dan para kerabat hanya bisa menabur bunga.

ah, betapa kita semua memang fana...

::a morning in pasarcidu

Roda-roda becak berputar, memantulkan kilau lampu yang mulai tenggelam ditelan cahaya pagi. Bergerak mengikutri kayuhan pedal sang pengayuh yang mengantar orang-orang mencari hidupnya. Seperti ia yang mengayuh roda rezekinya. Satu satu, kadang sepasang orang lalu-lalang melintasi jalan yang mulai berderak. Hidup mulai berdenyut. Langit mulai terang. Di timur matari mulai terang kemerahan, sinarnya mengintip dari atap-toko dan lorong-lorong di pasar cidu.

Uap kopi, mengapung di dalam ruang. Meja-meja mulaio diisi orang-orang yang singgah. Lelaki berjaket katun tebal, menaikkan kerah, mencoba melindungi lehernya dari gigitan angin pagi. Kelompok bapak-bapak berkopiah, seorang menyampirkan sorban di bahunya, menyeruput sisa kopi kental di gelasnya; membiarkan kafein menyesap di sela-sela sisa giginya yang telah aus digerus usia. Lainnya berbincang tentang malam, tentang bahagian hidup yang telah usai. Tentang riuh rendah hidup yang masih mengusik.

Jam berdetak pelan. Di luar lampu mulai satu per satu padam.

Seorang lelaki lainnya termenung, menghisap rook dengan gerakan tangan yang hampir mekanis, seperti gerakan yang tak disadarinya, tak diingininya. Ia hanya membiarkan asap keluar dari mulutnya. Di depannya, gelas kosong dengan warna kuning telur di dasarnya. Apalagi kalau bukan telur ayam kampung setengah matang, yang dipercaya sebagai makanan penambah gairah hidup. Telur unggas kental, yang kerap dipercaya pengganti tenaga seusai persetubuhan yang melelahkan. Kuning telur yang belum matang betul, seperti akan kembali melumasi sendi yang longgar.

Hari mulai lagi di pasar cidu. Tentu dengan warna yang tak pernah sama.
(suatu pagi, ketika tak bisa lelap hingga malam usai)

dogtag dan kenangan


“saya percaya, setiap peluru, memuat namanya sendiri..”
::ucapan seorang kawan ketika ia bercerita tentang orang-orang yang mati saat menjalankan tugas peliputan.

Kalung dog-tag. Kalung yang liontinnya bertuliskan nama, golongan darah, dan beberapa informasi penting lainnya. Kalung ini banyak digunakan tentara amerika saat Perang Dunia ke-2, sebagai penanda kalau saja pemiliknya ditemukan mati, agar identitas mereka bisa segera dilacak. Meski jasadnya tak utuh lagi, setidaknya liontin dari logam tipi situ bisa menunjuk nama, kesatuan, ataupun asal jasad itu. Biasanya setiap dog-tag, akan turut dikembalikan kepada keluarga sebagai tanda kalau pemilik kalung tersebut telah dimakamkan di tempat ia berpulang.

Saat memutuskan memakai ini, aku tersadar kadang benda ini demikian menakutkan. Betapa tidak, Kalung ini memang diharapkan bisa menjelaskan siapa diriku –beserta golongan darah yang kubutuhkan kalau aku terluka parah, dan tak mampu lagi menjelaskan “diriku sendiri”.

Meski di setiap “scene” dari hidup ini, nasib buruk bisa saja selalu menyertai, namun toh jikapun itu terjadi, aku hanya bisa berharap kalau benda ini utuh dan bisa sedikit membantu menjelaskan diri (atau jasadku). Jika aku mati dan hilang di sebuah tempat, kuharap kalung berusaha menjelaskan kepada yang menemukanku, kalau aku memiliki tempat yang kuingin; aku dipulangkan ke sana.

Dan mungkin semua yang mengenakan benda sejenis ini, semisal gelang baja, ataupun penanda lainnya, mungkin memiliki harapan yang serupa. Agar jasad ini bisa dikembalikan kepada keluarga, untuk dimakamkan dengan layak. Sebagai tempat berziarah. Tempat orang sesekali dating, dan sedikit mengurai kenangan. Meskipun itu hanyalah harapan dari aku, ataupun mereka yang masih hidup, sebab yang mati, tak lagi berhak berkehendak.

Saturday, February 17, 2007

telaga matamu

::senja
selalu kubayangkan matamu serupa telaga
tempat aku pulang dan bercermin,
mencari kembali wajah ini, setelah didera letih

telaga yang memerangkap kuning matari
menjadikannya senja yang abadi.
riak emas seperti tari hari
yang mengajakku tenggelam pada dasarnya.

adakah kau adalah senyapnya rimbun hutan
tempat aku berlindung dari hiruk-pikuk
dari dunia yang terus berderak pekak.

kaulah tempat aku diam, seperti malam
dimana aku lelap tenteram.

Friday, January 19, 2007

letih

belasan hari berada di hiruk pikuk pencarian adam air, rasanya kini hari-hari telah jadi rutin. bangun pagi dengan harapan bangkai logam itu segera ditemukan;dimanapun ia berada beserta 102 jenazah yang telah berbentuk apa. meski telah ditemukan ratusan serpihan pesawat, namun tubuh-tubuh itu dimanakah? jika saja masih terikat di kursi di tubuh pesawat yang masih utuh di sebuah tempat yang entah; sampai kapankah mereka menunggu..

(selalu aku tak bisa membayangkan detik-detik ketika pesawat yang akan mengantar mereka, tiba-tiba bergerak, bergolak, lalu poranda di udara. juga wajah-wajah yang pernah demikian menggoda, serupa apakah kini? para pengantin yang mungkin masih menyimpan impian malam-malam penuh gairah di hidup mereka. para pendeta yang tak membayangkan jalan ke surga terasa demikian menyiksa. ibu. ayah.

ini hari ke sekian, dan aku rasanya berada di pusaran yang terus bergerak. terasa letih, tapi pusaran terus bergerak. aku tak tahu akan kemana.
sudah lama sekali aku tak bertemu ibu. aku letih sekali tuhan..

Saturday, January 06, 2007

hujan

aku selalu ingin mengirimimu hujan setiap malam
agar kau lelap mendengar titiknya menari di atap
seperti lulabi dari masa kanakmu

aku selalu ingin mengirimimu hujan
agar kau tentram dalam peluknya
seperti bocah yang pulas setelah lelah bermain seharian..

selamat tidur
2006

tahun kalabendu

memasuki usia yang kian tua; tahun ini rasanya aku kian mengerti mengapa hidup sering disebut demikian renta. kata sang sepuh, tahun ini mungkin saja episode kalabendu, dimana semua bala bertemu dan hidup --rasanya seperti menjelma rupa sebagai sesuatu yang sarkastik.

semoga harapan tetap hidup di hati kita, meski didera segala coba...

selamat tahun baru

Thursday, December 14, 2006

::seorang nenek di kampung di bukit

ini hari ketiga lebaran.
aku telah berpupur. dengan kebaya hadiah cucu-ku, lebaran lalu.
dengan letih dan rematik yang terasa kian sering ini.
aku duduk di beranda. memandang jalan.

mungkin tak ada yang datang di lebaran ini
hanya angin kemarau yang memainkan genta bambu di sudut beranda.
berkelontang, mengetuk-ngetuk ingatan.

biasanya dari jauh, setelah deru bus menjauh. di lembah kulihat ada saja yang jalan menjinjing bawaan.
kanak yang berlelarian dengan baju baru cerah sambil tertawa-tawa.
sesekali debu terbang dihalau kaki mereka.
tapi kali ini tak ada yang berkunjung.

mungkin memang tak ada yang datang lebaran ini.
hanya guguran pelepah bambu kering yang jatuh,
ranggas menari baling-baling.
ah angin yang terasa kian asing.
tapi tak kutahu apa yang sebenarnya hilang.

---catatan dari lebaran di kampung, camba 2006

Saturday, November 25, 2006

welcome statue

selamat datang para peziarah. jenguklah terang kota ini.
bawalah semua mimpi yang kalian punya. mari menari.

selalu kulihat kalian tiba dengan sayap-sayap yang sukacita. sambil bersenandung, terbang mengitar pada kuning lelampu. berharap menukar resah yang kalian bawa dengan sebatang-dua batang harapan.

saat kulihat sebagian jatuh dengan sayap remuk. juga yang mati dalam kuyup hujan.
lalu sebagian terbang menyusuri gulita, ketika lampu kembali padam.

maafkan aku tak bisa lagi bersedih. aku hanya beku, dengan tangan membuka dan senyum yang kekal.

datanglah-datang para peziarah, betapa aku merindukanmu selalu.
selamat datang.

jakarta, 2006

Harapan

“Terkadang harapan kita, bisa jadi hanya kekosongan. Tapi kita terus memburunya tanpa sadar…”

Penggalan kata di atas sebenarnya ingin kukatakan kepada seseorang, tapi kuurungkan hanya karena kutahu mungkin saja saya termasuk di antaranya; mengejar sesuatu yang kukira nyata. Seperti mengejar fatamorgana.

Ia pamanku, seorang yang kutemui hanya setiap aku berada di kota ini. Seseorang yang diusianya yang ke-56 masih membujang. Entah sudah berapa lama ia disini, tapi tiap kali bertemu, ia hanya berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya tak kupahami benar.

Kali kemarin terakhir aku bertemu, ia hanya bercerita; kalau ia sementara mengurus uang belasan peti dolar brazil dari zaman orde-lama, yang katanya akan dibeli seseorang yang entah. Barang ini, konon dalah hadiah buat Bung Karno (BK), di masa jayanya dulu, dan masih dikejar orang-orang tanpa penjelasan rinci mengapa mata uang lama tersebut masih dikejar.

(Aku hanya teringat Dana Revolusi simpanan BK yang banyak meninabobokan orang-orang yang ingin cepat kaya. Juga teringat orang-orang yang bermimpi akan nasib baik dan cepat kaya yang disediakan kehidupan ini, namun dihempas kenyataan.)

Sebelumnya, setia kali bersua, ia hanya bercerita tentang rencana ataupun proyek yang seperti sedang digelutinya. Tentang mimpi-mimpi bahwa nasib yang akan berubah cepat jika saja waktu berpihak dan ia tak perlu lagi berpindah dari satu tempat kawan ke tempat kawannya yang lain.

Setiap kali aku berbicara tentang pulang, Ia mengelak, seraya menyebut sekian rencana yang akan dilakukannya. Aku selalu bisa menebaknya, selalu berkenaan dengan benda-benda masa lalu, atau kehidupan yang gilang gemilang kalau saja nasib baik itu terjadi. Ia akan selalu menutupnya dengan, “ doakan saja, supaya ini cepat terlaksana..”. aku dengan putus asa, mungkin merapal “amin..”, meski seperti merapal kutukan akan keputus-asaanku sendiri karena tak mampu membujuknya.

Ia, kata pamanku itu, meski kudengar suara itu terdengar letih, ingin kembali ke kampung halaman kami dan menegakkan nama besar Kakek, yang adalah ayahnya –yang dulu adalah salah satu Tuan, dari 3 Tuan dimasanya. Nama besar yang menurutku berarti Kekayaan, Nama yang disebut handai taulan dengan takjub, dan mungkin dengan decak kagum. Dan ia mugnkin baru akan menikah dengan pesta yang meriah dan disesaki semua kerabat.

Jika kusebutkan tentang kehidupan yang tetap sederhana, tanpa harus dikepung mimpi yang muluk, ia hanya bilang kampung tempatku dan sebagian besar kerabat menetap, tidak menyediakan mimpi yang bisa dengan cepat menyata. Ia bilang; “hanya di kota ini, semua itu mungkin…”
Kalau saja ia tahu berapa ratus ribu harapan yang luluh lantak di kota ini.

Kadang kupikir ia hanya mengejar labirin ilusi yang menyelubungi dirinya dan membuatnya tetap berputar-putar, tanpa pernah kemana-mana. Tapi mungkin saja aku atau siapapun bias saja menjadi ia kan?

Mampang, Jakarta

Wednesday, November 22, 2006

Bush dan Negeriku

Dua kali memasuki Kota Bogor, saat kedatangan Bush; seperti melihat kenyataan kalau negeri ini memang memilukan.

Menjelang kedatangan presiden yang senang perang itu, ratusan tentara berseragan loreng menyebar mengelilingi kebun raya. Siaga mengokang senjata. Juga ratusan orang berseragam lainnya parker di sekitar persimpangan jalan yang sebelumnya sudah diblokir dengan kawat duri.

Warga Kota Hujan, yang biasanya tenang, dipaksa untuk berhenti melangsungkan kehidupan kota yang biasanya semarak dengan asinan, talas, dan hari yang semarak. Selama 2 hari kehidupan warga berhenti, meski biaya penyambutan yang dirogoh Pemerintah RI 6 miliar, namun kerugian ditaksir hampir mencapai 100 miliar rupiah, ditambah biaya yang tak terhitung lainnya.

Meski hampir diseluruh negeri, presiden yang dengan pandir mengaku mengemban titah tuhannya ini untuk meneruskan perang, disambut aksi protes, toh ia datang melenggang, dan ia disambut seperti messiah yang membawa peta jalan terang.

Dan dengan hati yang perih, mungkin inilah negeriku.

Saturday, October 21, 2006

maaf

kepada semua yang pernah singgah bertamu, maafkan saya yang mungkin pernah menyinggung ataupun membuat rasa tak nyaman pada anda sekalian. mohon biarkan saya menjabat hati anda semua melalui surat ini. maafkan saya, agar hati ini terasa lebih lapang menjalani hidup yang sebentar ini. semoga semua kembali suci, terlahir kembali serupa bayi.

salam
-ahmad k. syamsuddin

Thursday, August 31, 2006

Senja di Losari

---dear tejji kara
Aku rindu senja.
Ketika kau tertegun dan tak ingin ada suara yang menyela bergulirnya bundaran merah cair itu di kaki langit. Kau ingin kita diam, hanya melihat ia hingga hilang menyisakan lembayung.

Lalu Senja pada manik matamu. Seperti bara.tembaga di dasar danau. Kubayangkan yajuj-majuj yang ditawan raja zulkarnain, di kaki langit terjauh, tempat kaldera menyala merah bara yang baka. Dimana ia serupa aku; terpenjara. Dan kekal ia pada matamu.

Aku rindu senja.

sajak kenangan

Kau pergi dan mungkin aku akan segera menutup pintu. Mengunci semua jendela dan lubang angin agar tak kuindera lagi suara cuaca dari luar tempat kita pernah bermain dengan salju, matahari dan guguran daun.

Kau akan pulang pada rahim tempat kau bermula, katamu. Tempat semua dongeng tentang lampu-lampu yang tak pernah padam, tempat matahari tak pernah benam ditelan musim. Kau ingin kembali pada hari ketika waktu belum terputar dan membawamu pada kenyataan.

“Ah waktu kalau saja semua baka, dan kita tak perlu menjadi tua. Kita bisa jadi peter pan, yang melintasi angin dan awan tanpa perlu takut terluka”
“Tapi kita bukan peter pan, dan waktu tak mengizinkan kita kekal” Maka kau harus berangkat, mengemasi semua yang sempat tertinggal.

Usai kau berkemas, mengapa tak kau kemasi semua kenangan ini, agar tak mengusik di tiap sunyi malam. Meski telah kukunci semua jendela, lubang angin dan pintu. Mengapa kau biarkan kenangan ini tertinggal; kini menjelma semak yang tumbuh cepat di ingatanku. Dan ia tak juga ranggas meski telah berkali kemarau tiba.
2006