Thursday, April 12, 2007

:s
kalau saja kau tahu, betapa binar matamu yang kekanakan itu demikian kurindukan.
mata yang menajamkan bilah-bilah rindu didadaku.

adam air


kemarin sempat melintas di dekat pantai lojie, barru, sulawesi selatan, tempat serpihan pertama pesawat naas adam air ditemukan. banyak cerita di dalamnya saat turut terlibat dalam pencarian. letih, demam, tawa, dan certa yang diam-diam lindap di kenangan.
namun dimanakah 102 nyawa yang ada di dalam KI-574 itu? (bagaimanakah kini rupa mereka yang hilang itu) kata sebuah kabar, mereka ada di dasar laut perairan mejene-sulawesi barat, kedalaman 2000 meter dan tertimbun sedimen pasir. mereka dimakamkan oleh laut. dan para kerabat hanya bisa menabur bunga.

ah, betapa kita semua memang fana...

::a morning in pasarcidu

Roda-roda becak berputar, memantulkan kilau lampu yang mulai tenggelam ditelan cahaya pagi. Bergerak mengikutri kayuhan pedal sang pengayuh yang mengantar orang-orang mencari hidupnya. Seperti ia yang mengayuh roda rezekinya. Satu satu, kadang sepasang orang lalu-lalang melintasi jalan yang mulai berderak. Hidup mulai berdenyut. Langit mulai terang. Di timur matari mulai terang kemerahan, sinarnya mengintip dari atap-toko dan lorong-lorong di pasar cidu.

Uap kopi, mengapung di dalam ruang. Meja-meja mulaio diisi orang-orang yang singgah. Lelaki berjaket katun tebal, menaikkan kerah, mencoba melindungi lehernya dari gigitan angin pagi. Kelompok bapak-bapak berkopiah, seorang menyampirkan sorban di bahunya, menyeruput sisa kopi kental di gelasnya; membiarkan kafein menyesap di sela-sela sisa giginya yang telah aus digerus usia. Lainnya berbincang tentang malam, tentang bahagian hidup yang telah usai. Tentang riuh rendah hidup yang masih mengusik.

Jam berdetak pelan. Di luar lampu mulai satu per satu padam.

Seorang lelaki lainnya termenung, menghisap rook dengan gerakan tangan yang hampir mekanis, seperti gerakan yang tak disadarinya, tak diingininya. Ia hanya membiarkan asap keluar dari mulutnya. Di depannya, gelas kosong dengan warna kuning telur di dasarnya. Apalagi kalau bukan telur ayam kampung setengah matang, yang dipercaya sebagai makanan penambah gairah hidup. Telur unggas kental, yang kerap dipercaya pengganti tenaga seusai persetubuhan yang melelahkan. Kuning telur yang belum matang betul, seperti akan kembali melumasi sendi yang longgar.

Hari mulai lagi di pasar cidu. Tentu dengan warna yang tak pernah sama.
(suatu pagi, ketika tak bisa lelap hingga malam usai)

dogtag dan kenangan


“saya percaya, setiap peluru, memuat namanya sendiri..”
::ucapan seorang kawan ketika ia bercerita tentang orang-orang yang mati saat menjalankan tugas peliputan.

Kalung dog-tag. Kalung yang liontinnya bertuliskan nama, golongan darah, dan beberapa informasi penting lainnya. Kalung ini banyak digunakan tentara amerika saat Perang Dunia ke-2, sebagai penanda kalau saja pemiliknya ditemukan mati, agar identitas mereka bisa segera dilacak. Meski jasadnya tak utuh lagi, setidaknya liontin dari logam tipi situ bisa menunjuk nama, kesatuan, ataupun asal jasad itu. Biasanya setiap dog-tag, akan turut dikembalikan kepada keluarga sebagai tanda kalau pemilik kalung tersebut telah dimakamkan di tempat ia berpulang.

Saat memutuskan memakai ini, aku tersadar kadang benda ini demikian menakutkan. Betapa tidak, Kalung ini memang diharapkan bisa menjelaskan siapa diriku –beserta golongan darah yang kubutuhkan kalau aku terluka parah, dan tak mampu lagi menjelaskan “diriku sendiri”.

Meski di setiap “scene” dari hidup ini, nasib buruk bisa saja selalu menyertai, namun toh jikapun itu terjadi, aku hanya bisa berharap kalau benda ini utuh dan bisa sedikit membantu menjelaskan diri (atau jasadku). Jika aku mati dan hilang di sebuah tempat, kuharap kalung berusaha menjelaskan kepada yang menemukanku, kalau aku memiliki tempat yang kuingin; aku dipulangkan ke sana.

Dan mungkin semua yang mengenakan benda sejenis ini, semisal gelang baja, ataupun penanda lainnya, mungkin memiliki harapan yang serupa. Agar jasad ini bisa dikembalikan kepada keluarga, untuk dimakamkan dengan layak. Sebagai tempat berziarah. Tempat orang sesekali dating, dan sedikit mengurai kenangan. Meskipun itu hanyalah harapan dari aku, ataupun mereka yang masih hidup, sebab yang mati, tak lagi berhak berkehendak.

Saturday, February 17, 2007

telaga matamu

::senja
selalu kubayangkan matamu serupa telaga
tempat aku pulang dan bercermin,
mencari kembali wajah ini, setelah didera letih

telaga yang memerangkap kuning matari
menjadikannya senja yang abadi.
riak emas seperti tari hari
yang mengajakku tenggelam pada dasarnya.

adakah kau adalah senyapnya rimbun hutan
tempat aku berlindung dari hiruk-pikuk
dari dunia yang terus berderak pekak.

kaulah tempat aku diam, seperti malam
dimana aku lelap tenteram.

Friday, January 19, 2007

letih

belasan hari berada di hiruk pikuk pencarian adam air, rasanya kini hari-hari telah jadi rutin. bangun pagi dengan harapan bangkai logam itu segera ditemukan;dimanapun ia berada beserta 102 jenazah yang telah berbentuk apa. meski telah ditemukan ratusan serpihan pesawat, namun tubuh-tubuh itu dimanakah? jika saja masih terikat di kursi di tubuh pesawat yang masih utuh di sebuah tempat yang entah; sampai kapankah mereka menunggu..

(selalu aku tak bisa membayangkan detik-detik ketika pesawat yang akan mengantar mereka, tiba-tiba bergerak, bergolak, lalu poranda di udara. juga wajah-wajah yang pernah demikian menggoda, serupa apakah kini? para pengantin yang mungkin masih menyimpan impian malam-malam penuh gairah di hidup mereka. para pendeta yang tak membayangkan jalan ke surga terasa demikian menyiksa. ibu. ayah.

ini hari ke sekian, dan aku rasanya berada di pusaran yang terus bergerak. terasa letih, tapi pusaran terus bergerak. aku tak tahu akan kemana.
sudah lama sekali aku tak bertemu ibu. aku letih sekali tuhan..

Saturday, January 06, 2007

hujan

aku selalu ingin mengirimimu hujan setiap malam
agar kau lelap mendengar titiknya menari di atap
seperti lulabi dari masa kanakmu

aku selalu ingin mengirimimu hujan
agar kau tentram dalam peluknya
seperti bocah yang pulas setelah lelah bermain seharian..

selamat tidur
2006

tahun kalabendu

memasuki usia yang kian tua; tahun ini rasanya aku kian mengerti mengapa hidup sering disebut demikian renta. kata sang sepuh, tahun ini mungkin saja episode kalabendu, dimana semua bala bertemu dan hidup --rasanya seperti menjelma rupa sebagai sesuatu yang sarkastik.

semoga harapan tetap hidup di hati kita, meski didera segala coba...

selamat tahun baru

Thursday, December 14, 2006

::seorang nenek di kampung di bukit

ini hari ketiga lebaran.
aku telah berpupur. dengan kebaya hadiah cucu-ku, lebaran lalu.
dengan letih dan rematik yang terasa kian sering ini.
aku duduk di beranda. memandang jalan.

mungkin tak ada yang datang di lebaran ini
hanya angin kemarau yang memainkan genta bambu di sudut beranda.
berkelontang, mengetuk-ngetuk ingatan.

biasanya dari jauh, setelah deru bus menjauh. di lembah kulihat ada saja yang jalan menjinjing bawaan.
kanak yang berlelarian dengan baju baru cerah sambil tertawa-tawa.
sesekali debu terbang dihalau kaki mereka.
tapi kali ini tak ada yang berkunjung.

mungkin memang tak ada yang datang lebaran ini.
hanya guguran pelepah bambu kering yang jatuh,
ranggas menari baling-baling.
ah angin yang terasa kian asing.
tapi tak kutahu apa yang sebenarnya hilang.

---catatan dari lebaran di kampung, camba 2006

Saturday, November 25, 2006

welcome statue

selamat datang para peziarah. jenguklah terang kota ini.
bawalah semua mimpi yang kalian punya. mari menari.

selalu kulihat kalian tiba dengan sayap-sayap yang sukacita. sambil bersenandung, terbang mengitar pada kuning lelampu. berharap menukar resah yang kalian bawa dengan sebatang-dua batang harapan.

saat kulihat sebagian jatuh dengan sayap remuk. juga yang mati dalam kuyup hujan.
lalu sebagian terbang menyusuri gulita, ketika lampu kembali padam.

maafkan aku tak bisa lagi bersedih. aku hanya beku, dengan tangan membuka dan senyum yang kekal.

datanglah-datang para peziarah, betapa aku merindukanmu selalu.
selamat datang.

jakarta, 2006

Harapan

“Terkadang harapan kita, bisa jadi hanya kekosongan. Tapi kita terus memburunya tanpa sadar…”

Penggalan kata di atas sebenarnya ingin kukatakan kepada seseorang, tapi kuurungkan hanya karena kutahu mungkin saja saya termasuk di antaranya; mengejar sesuatu yang kukira nyata. Seperti mengejar fatamorgana.

Ia pamanku, seorang yang kutemui hanya setiap aku berada di kota ini. Seseorang yang diusianya yang ke-56 masih membujang. Entah sudah berapa lama ia disini, tapi tiap kali bertemu, ia hanya berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya tak kupahami benar.

Kali kemarin terakhir aku bertemu, ia hanya bercerita; kalau ia sementara mengurus uang belasan peti dolar brazil dari zaman orde-lama, yang katanya akan dibeli seseorang yang entah. Barang ini, konon dalah hadiah buat Bung Karno (BK), di masa jayanya dulu, dan masih dikejar orang-orang tanpa penjelasan rinci mengapa mata uang lama tersebut masih dikejar.

(Aku hanya teringat Dana Revolusi simpanan BK yang banyak meninabobokan orang-orang yang ingin cepat kaya. Juga teringat orang-orang yang bermimpi akan nasib baik dan cepat kaya yang disediakan kehidupan ini, namun dihempas kenyataan.)

Sebelumnya, setia kali bersua, ia hanya bercerita tentang rencana ataupun proyek yang seperti sedang digelutinya. Tentang mimpi-mimpi bahwa nasib yang akan berubah cepat jika saja waktu berpihak dan ia tak perlu lagi berpindah dari satu tempat kawan ke tempat kawannya yang lain.

Setiap kali aku berbicara tentang pulang, Ia mengelak, seraya menyebut sekian rencana yang akan dilakukannya. Aku selalu bisa menebaknya, selalu berkenaan dengan benda-benda masa lalu, atau kehidupan yang gilang gemilang kalau saja nasib baik itu terjadi. Ia akan selalu menutupnya dengan, “ doakan saja, supaya ini cepat terlaksana..”. aku dengan putus asa, mungkin merapal “amin..”, meski seperti merapal kutukan akan keputus-asaanku sendiri karena tak mampu membujuknya.

Ia, kata pamanku itu, meski kudengar suara itu terdengar letih, ingin kembali ke kampung halaman kami dan menegakkan nama besar Kakek, yang adalah ayahnya –yang dulu adalah salah satu Tuan, dari 3 Tuan dimasanya. Nama besar yang menurutku berarti Kekayaan, Nama yang disebut handai taulan dengan takjub, dan mungkin dengan decak kagum. Dan ia mugnkin baru akan menikah dengan pesta yang meriah dan disesaki semua kerabat.

Jika kusebutkan tentang kehidupan yang tetap sederhana, tanpa harus dikepung mimpi yang muluk, ia hanya bilang kampung tempatku dan sebagian besar kerabat menetap, tidak menyediakan mimpi yang bisa dengan cepat menyata. Ia bilang; “hanya di kota ini, semua itu mungkin…”
Kalau saja ia tahu berapa ratus ribu harapan yang luluh lantak di kota ini.

Kadang kupikir ia hanya mengejar labirin ilusi yang menyelubungi dirinya dan membuatnya tetap berputar-putar, tanpa pernah kemana-mana. Tapi mungkin saja aku atau siapapun bias saja menjadi ia kan?

Mampang, Jakarta

Wednesday, November 22, 2006

Bush dan Negeriku

Dua kali memasuki Kota Bogor, saat kedatangan Bush; seperti melihat kenyataan kalau negeri ini memang memilukan.

Menjelang kedatangan presiden yang senang perang itu, ratusan tentara berseragan loreng menyebar mengelilingi kebun raya. Siaga mengokang senjata. Juga ratusan orang berseragam lainnya parker di sekitar persimpangan jalan yang sebelumnya sudah diblokir dengan kawat duri.

Warga Kota Hujan, yang biasanya tenang, dipaksa untuk berhenti melangsungkan kehidupan kota yang biasanya semarak dengan asinan, talas, dan hari yang semarak. Selama 2 hari kehidupan warga berhenti, meski biaya penyambutan yang dirogoh Pemerintah RI 6 miliar, namun kerugian ditaksir hampir mencapai 100 miliar rupiah, ditambah biaya yang tak terhitung lainnya.

Meski hampir diseluruh negeri, presiden yang dengan pandir mengaku mengemban titah tuhannya ini untuk meneruskan perang, disambut aksi protes, toh ia datang melenggang, dan ia disambut seperti messiah yang membawa peta jalan terang.

Dan dengan hati yang perih, mungkin inilah negeriku.

Saturday, October 21, 2006

maaf

kepada semua yang pernah singgah bertamu, maafkan saya yang mungkin pernah menyinggung ataupun membuat rasa tak nyaman pada anda sekalian. mohon biarkan saya menjabat hati anda semua melalui surat ini. maafkan saya, agar hati ini terasa lebih lapang menjalani hidup yang sebentar ini. semoga semua kembali suci, terlahir kembali serupa bayi.

salam
-ahmad k. syamsuddin

Thursday, August 31, 2006

Senja di Losari

---dear tejji kara
Aku rindu senja.
Ketika kau tertegun dan tak ingin ada suara yang menyela bergulirnya bundaran merah cair itu di kaki langit. Kau ingin kita diam, hanya melihat ia hingga hilang menyisakan lembayung.

Lalu Senja pada manik matamu. Seperti bara.tembaga di dasar danau. Kubayangkan yajuj-majuj yang ditawan raja zulkarnain, di kaki langit terjauh, tempat kaldera menyala merah bara yang baka. Dimana ia serupa aku; terpenjara. Dan kekal ia pada matamu.

Aku rindu senja.

sajak kenangan

Kau pergi dan mungkin aku akan segera menutup pintu. Mengunci semua jendela dan lubang angin agar tak kuindera lagi suara cuaca dari luar tempat kita pernah bermain dengan salju, matahari dan guguran daun.

Kau akan pulang pada rahim tempat kau bermula, katamu. Tempat semua dongeng tentang lampu-lampu yang tak pernah padam, tempat matahari tak pernah benam ditelan musim. Kau ingin kembali pada hari ketika waktu belum terputar dan membawamu pada kenyataan.

“Ah waktu kalau saja semua baka, dan kita tak perlu menjadi tua. Kita bisa jadi peter pan, yang melintasi angin dan awan tanpa perlu takut terluka”
“Tapi kita bukan peter pan, dan waktu tak mengizinkan kita kekal” Maka kau harus berangkat, mengemasi semua yang sempat tertinggal.

Usai kau berkemas, mengapa tak kau kemasi semua kenangan ini, agar tak mengusik di tiap sunyi malam. Meski telah kukunci semua jendela, lubang angin dan pintu. Mengapa kau biarkan kenangan ini tertinggal; kini menjelma semak yang tumbuh cepat di ingatanku. Dan ia tak juga ranggas meski telah berkali kemarau tiba.
2006

::orkestra pasar cidu

Pagi. Hari masih terang tanah. Cahaya matahari jauh di timur masih melukis barisan pegunungan bulusaraung. Aku di beranda, menggenggam segelas kopi yang masih panas. Melihat satu persatu mereka tiba. Semuanya berkiblat ke satu hadap. Semuanya menghadap ke jalan. Lalu mulai menyusun harapan mereka untuk hari itu. Suara masih seperti bisik yang mulai agak keras.

Seorang ibu muda mulai mengangkati balok-balok kayu untuk dijadikan tatakan di meja jualannya. Sebelumnya, Ia meletakkan balok perlengkapannya itu di balik meja. Ia menjual kelapa butiran, jadi harus meletakkan balok-tatakan, agar kelapa bundar miliknya tak menggelinding jatuh ke jalan. Satu per satu disusunnya, seperti membingkai tepi meja. Lalu bersama bedak yang baru saja ia pupur di wajahnya, ia pun tersenyum; dan
Sesekali bersenandung; mungkin membayangkan persetubuhannya semalam.

Datang Lelaki bertubuh besar gempal, berkumis lebat menyandarkan kendaraannya. Diturunkannya bakul berisi sayuran gandengannya –bakul ini 2 buah, dipasang bersisian, dalam bahasa Makassar, disebut, Kamboti. Ia datang dari Takalar, sekitar 70 kilometer dari tempat ini. Pelan ia mulai memasang tenda, dinaikinya bangku yang kuragu bisa menopang tubuh raksasanya. Tapi ia naik. Berjinjit dan satu-satu mengikat tali tenda miliknya. Dari punggungnya, tersingkap sebilah pisau besar-berkilat yang biasa ia gunakan menggurus sayur-sayurnya. Ia sempat tersenyum melihatku di atas beranda.

Aku teringat cerita orang-orang, ketika lelaki bertubuh besar ini, pernah tak muncul selama sepekan. Rumahnya, kata orang-orang, baru saja dimasuki kawanan perampok, dan Ia sendirian mengusir kawanan itu, setelah membunuh seorang di antaranya. Dan warga kampungnya ramai-ramai mengaku telah menghakimi perampok yang tewas itu, agar lelaki bertubuh besar ini tak diciduk polisi. Kubayangkan lelaki itu mematahkan batang leher perampok itu, seorang diri. Atau menebas kawanan ini seperti Miyamoto Musashi menebaskan samurainya. Apakah ia tersenyum saat membunuh perampok itu.

Hari mulai terang. Matahari sudah naik. Sinarnya menerpa wajahku. Kuhirup kopiku, masih hangat. Di timur, langit kian terang.

Di persipangan, kulihat penjual ayam menunggui dagangannya; ayam mati yang dihinggapi satu-dua ekor lalat. Wajahnya agak pias Beku tanpa senyum. Hanya duduk melihat orang lalu lalang. Mungkin ia telah tiba pagi-pagi sekali dan membunuhi ayam-ayam putih itu, sebelumnya melemparnya ke dalam air panas. Ia jagal yang berani merenggut kehidupan, tapi ia seperti lelaki kesepian yang duduk menunggui jenazah kerabatnya yang telanjang tanpa kafan yang entah kapan dimakamkan. Meski tak ada temaram lilin, namun wajahnya cukup menegaskan suasana duka.

Di seberang. Penjual rempah bertubuh pendek, mulai menyusun semua dagangannya dengan cepat. Satu persatu dan tergesa. Merica. Ketumbar. Bawang. Pala. Kunyit. Rasanya ia seperti perempuan tukang masak bertubuh tambun di rumah seorang Portugis, yang baru saja merampas rempah-rempah di Maluku atau mungkin dari Malaka.

Dari selatan, terseok-seok becak mengangkut potongan tulang-tulang kerbau, yang masih berwarna merah darah. Paling di atas, tengkorak kepala dengan mata yang masih dalam liangnya. Membelalak. Berkali-kali ia mencoba menghalau penjual yang menghalangi jalannya. Ia dari rumah jagal dan sepertinya merasa pulang sebagai pahlawan. Atau ia membayangkan isi tubuhnya sendiri. Jika saja ia yang teronggok di becak yang tungganginya.

Lalu penjual ikan datang. Ia baru saja dari tepi lautan. Mengambil isi perut kapal yang baru saja pulang berlayar bermalam-malam, bersenggama dengan laut, malam dan cuaca. Dan ikan-ikan itu pun terlahir. Ia segera menjual ikan-ikan yang serupa manekin beku. Telentang dengan mata tanpa kelopak.

Penjual kue memajang kue-kuenya. Gorengan-gorengan yang bernapas seperti potongan-potongan tangan atau kaki, membuat kaca lemari berembun minyak.

Suara mulai bising, berisi banyak percakapan. Satu persatu mulai memainkan alat musiknya dan jadilah orkestra Pasar Cidu. Matahari mulai meninggi.

Friday, July 14, 2006

sekolah dan selangkangan

tadi petang, dari siaran berita di tivi, seorang siswa smp yang baru saja akan naik kelas 3, sampai harus melacurkan diri di lokalisasi dekat rumahnya, --dan mengaku, untuk bisa bayar tunggakan sekolahnya 100 ribu rupiah. aku terhenyak; sedemkian terdesakkah Arum (namanya tentu saja disamarkan) hingga harus menukar selangkangan dengan janji-janji manis hasil pendidikan yang akan memanusiakan manusia? jika benar; mungkin ia terdesak. tapi dimana semua yang seharusnya meyakinkan anak-anak negeri ini untuk bisa menempuh sekolah tanpa harus menjual semua milik mereka, termasuk selangkangan? (aku tak bisa meneruskan mendengar berita yang demikian merisaukan itu)

demikian buramkah wajah negeri yang gembar-gembor mengalokasikan 20 persen dari anggaran belanja harus untuk pendidikan?
demikian nistakah kita semua. anak negeri harus menjual semua yang mereka miliki hanya untuk tetap bersekolah? masyaallah negeri ini. inilah potret kita. potret negeri yang demikian menyedihkan.

jika besok, kau generasi yang tumbuh setelah kami semua musnah; maafkan aku. maafkan kami semua.

Monday, July 03, 2006

Di Pasar Cidu ada pesta.

Di pasar cidu ada pesta, pestanya meriah sekali. Datang tak dijemput pulang tak diantar.

Ada salah satu warga yang menikah, dan satu-satunya ruas jalan di Pasar Cidu pun ditutup untuk disulap sebagai ruang resepsi (ruang tambahan lainnya, tempat pelaminan dipasang adalah jembatan di atas kanal besar yang menghubungkan rumah dengan jalan). Setelah upacara salam-salaman selesai, pengantin pun masuk ke dalam rumah. Dan pesta sebenarnya baru dimulai.

(sebenarnya ada bau tuak, entah dari mulut siapa)

3 buah lampu 100 watt menjadi satu-satunya lighting, yang kuyakin dipasang dengan me-ngelos-kan meteran listrik sementara, agar bisa mengakses ratusan watt tanpa terbaca meteran.

Tahu kan elektone? Sejenis organ yang bisa berbagai jenis alat musik. Itulah band pengiringnya. Entah siapa yang memulai, dan Mamanya Andi meraih mic, dan mulai menyanyikan lagu lama berbahasa bugis. Dan kami semua bersorak, bersiul, bertepuk tangan.

Dan yang menarik menurutku, beberapa anak muda yang dandanannya agak mirip Punk –dengan rambut pirang, dan tindik di beberapa bagian tubuh, malah ikut menari mengikuti irama lagu bugis. Meski kuyakin musik kesukaan mereka adalah lagu-lagu baru yang bernada keras, atau paling tidak bukan yang berbahasa daerah, tapi ternyata mereka menari dan bertepuk tangan. Meski mereka memilih dandanan yang mereka anggap modern, namun toh yang “lokal” dan “tradisional” rupanya tetap ada diam-diam di sudut ingatan mereka.

(penyanyi band-elektone, nampak sibuk memperbaiki dandanannya. Tak terusik.)

Ganti berganti, semua ambil bagian menyanyi. Lalu si Ucuf menyanyi dangdut. Disusul Daeng sido, penjual ikan yang jika berbau arak, itu berarti ikannya tidak laku, dan ia pun menghabiskan sisa ikannya bersama arak.

(di kejauhan, bapak tukang pungut retribusi pasar, yang berkumis tebal melintang, duduk di atas meja ikan yang menjadi blokade jalan. Tersenyum-senyum)

Kursi plastik beraneka model berwarna merah berjejalan dipenuhi warga. Banyak yang datang dengan sandal seadanya. Beberapa di antaranya masih memakai riasan sisa acara sebelumnya.

Dan semuanya menari, menyanyi dan bertepuk tangan –juga si pirang. Semua rasanya menyatu, tertawa, menari, dan bertepuk tangan. Pesta dengan kesederhanaan yang mungkin tak terbayangkan. Tapi kupikir dengan itulah mereka turut merayakan kebahagiaan warganya, yang mungkin akan segera dibawa oleh suaminya dan nasib yang lainnya.

Kutemukan beberapa teman sepermainan yang telah merantau, yang pulang sekedar untuk menghormati pesta ini. Lalu kami berbincang tentang orang-orang yang kami kenal namun tak bisa datang. Dengan senyum masih terkembang asap tembakau menari-nari di antara kami.

Di pesta di pasar cidu. Semua datang tak diantar, lalu setelah lelah—mungkin ada yang mabuk dengan arak murahan, semuanya pun pulang tanpa diantar. Setelah pesta hanya bau amis dan bacin khas pasar yang tinggal.

28 Juni 2006, malam

Thursday, June 22, 2006

BANJIR

kalau saja kau ada di sini, akan kau lihat sisa jejak Maut yang mengangkut jiwa-jiwa ini. Dengan mengendarai bah, dirangkumnya satu-satu jiwa untuk kembali. Terbacakah tapaknya pada puing? pada sisa air. pada lumpur. pada jasad-jasad yang basah. betapa kehidupan adalah retak sementara.

Sunday, June 18, 2006

RUMAH*

Photobucket - Video and Image Hosting">Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" alt="" />
(pada sebuah rantau yang panjang)


Pada sebuah pagi yang dingin, seorang kawan mulai bercerita tentang seseorang yang selalu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam seminggu, kata kawanku itu, orang itu akan sangat sulit dijumpai berada pada tempat yang sama dengan minggu sebelumnya. Ia selalu berziarah, menjenguk tempat-tempat yang sarat sejarah dan penuh pesona; entah itu Yunani, Mesir, kota-kota tua di Eropa atau entah belahan mana di bumi ini. Lelaki itu kerap disebut sebagai ”Peziarah Kebudayaan”. Ia Perantau.

”Mungkin ia tak lagi memerlukan Rumah. Dimanapun ia merasakannya,” ujar kawanku menerawang pada bingkai jendela, pada cuaca luar hujan berangin. Aku berpikir telah berapa banyak kenangan yang telah ia petik? Juga berapa tempat tetirah yang ia jumpai setelah demikian banyak berziarah? Tidakkah ia suatu saat merasa letih dan memutuskan untuk istirahat pada suatu tempat, seperti orang lainnya. Bermukim menikmati kehidupan dengan berdiam, tenang. Tidak dengan perjalanan yang berganti-ganti.

”Tapi apakah mungkin ia tak punya kesetiaan. Sebuah akar untuk berpijak. Boleh jadi ia tak punya cinta; sebab ia selalu bergerak dan selalu dalam perjalanan. Berhadapan dan menyesuai pada kenyataan baru yang asing”. ”Kau harus belajar tentang cinta dan kesetiaan yang lain..” ujar temanku mengutip sepotong sajak entah milik siapa, menuntaskan sarapannya kemudian berangkat menembusi cuaca yang galau dalam lingkung angin. Cuaca yang banyak membuat orang lebih memilih mendekam pada sebuah ruang yang hangat. Berdiam agar terhindar dari dingin yang menusuk.

***

Rumah tentu tak sekedar sebentuk ruang tempat berlindung dari cuaca. Rumah boleh jadi adalah tempat menyusun kenangan dan mengindera perubahan.; meneruskan kehidupan. Namun bagi jiwa-jiwa yang telah bepergian dan bertemu dengan banyak kenyataan, Rumah tentu tak sekedar tempat istirahat bagi tubuh yang lelah.

Rumah lebih bagi jiwa, yang juga berarti sebagai sebuah perasaan diterima dalam keadaan patah sekalipun. Tempat dimana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan sesuatu. Dimana seseorang diterima dalam segala keadaannya, dan itulah Rumah yang bersedia memeluknya. Bahkan sebagai yang datang bersama remuknya, dan toh, ia tetap disambut hangat sehangatnya.

Rumah adalah sebuah puisi, sebentuk tulisan yang setiap orang meresapinya dengan kesunyiannya masing-masing. Kesejukan yang diindera sebagai keindahan sendiri-sendiri oleh yang berdiam padanya.

Kita yang hidup adalah perantau yang terus menghadapi sehimpun kenyataan yang berubah-ubah dan tak terduga. Lalu mungkin kita hanya berumah pada kenangan. Berdiam pada sesuatu yang telah jadi masa lampau, sambil bergerak pada kekinian.

Tiap kita sebagai manusia modern, seperti ”jiwa-jiwa tak berumah”...;”Homeless Mind”, Peter L. Berger pernah berkata, mungkin dengan lirih dan muram. Tentang manusia modern yang sementara bergerak mengindera masa depan, namun di saat bersamaan separuh kakinya masih berpijak pada masa lalu. Tentang mengakar pada tradisi milik nenek moyang,tapi juga dengan kesetiaan yang lain; ”modernitas” –perburuan kehidupan masa depan yang bergerak cepat tak terduga.

Seperti kepercayaan pada petuah dan benda-benda keramat gaib lainnya dan saat bersamaan juga mengikut pada rutinitas tergesa-gesa pada setiap pagi di jalan kota besar. Orang yang gegas mencari ”sesuatu”. Mencari yang hilang atau mencari yang belum ditemukan. Seolah mencari sesuatu pada entah

(Rumah atau sebentuk yang dianggap rumah)

*Dimuat pada rubrik CERMIN, penerbitan kampus identitas
Universitas Hasanuddin, No. 591/ Awal April 2004