Friday, July 14, 2006

sekolah dan selangkangan

tadi petang, dari siaran berita di tivi, seorang siswa smp yang baru saja akan naik kelas 3, sampai harus melacurkan diri di lokalisasi dekat rumahnya, --dan mengaku, untuk bisa bayar tunggakan sekolahnya 100 ribu rupiah. aku terhenyak; sedemkian terdesakkah Arum (namanya tentu saja disamarkan) hingga harus menukar selangkangan dengan janji-janji manis hasil pendidikan yang akan memanusiakan manusia? jika benar; mungkin ia terdesak. tapi dimana semua yang seharusnya meyakinkan anak-anak negeri ini untuk bisa menempuh sekolah tanpa harus menjual semua milik mereka, termasuk selangkangan? (aku tak bisa meneruskan mendengar berita yang demikian merisaukan itu)

demikian buramkah wajah negeri yang gembar-gembor mengalokasikan 20 persen dari anggaran belanja harus untuk pendidikan?
demikian nistakah kita semua. anak negeri harus menjual semua yang mereka miliki hanya untuk tetap bersekolah? masyaallah negeri ini. inilah potret kita. potret negeri yang demikian menyedihkan.

jika besok, kau generasi yang tumbuh setelah kami semua musnah; maafkan aku. maafkan kami semua.

Monday, July 03, 2006

Di Pasar Cidu ada pesta.

Di pasar cidu ada pesta, pestanya meriah sekali. Datang tak dijemput pulang tak diantar.

Ada salah satu warga yang menikah, dan satu-satunya ruas jalan di Pasar Cidu pun ditutup untuk disulap sebagai ruang resepsi (ruang tambahan lainnya, tempat pelaminan dipasang adalah jembatan di atas kanal besar yang menghubungkan rumah dengan jalan). Setelah upacara salam-salaman selesai, pengantin pun masuk ke dalam rumah. Dan pesta sebenarnya baru dimulai.

(sebenarnya ada bau tuak, entah dari mulut siapa)

3 buah lampu 100 watt menjadi satu-satunya lighting, yang kuyakin dipasang dengan me-ngelos-kan meteran listrik sementara, agar bisa mengakses ratusan watt tanpa terbaca meteran.

Tahu kan elektone? Sejenis organ yang bisa berbagai jenis alat musik. Itulah band pengiringnya. Entah siapa yang memulai, dan Mamanya Andi meraih mic, dan mulai menyanyikan lagu lama berbahasa bugis. Dan kami semua bersorak, bersiul, bertepuk tangan.

Dan yang menarik menurutku, beberapa anak muda yang dandanannya agak mirip Punk –dengan rambut pirang, dan tindik di beberapa bagian tubuh, malah ikut menari mengikuti irama lagu bugis. Meski kuyakin musik kesukaan mereka adalah lagu-lagu baru yang bernada keras, atau paling tidak bukan yang berbahasa daerah, tapi ternyata mereka menari dan bertepuk tangan. Meski mereka memilih dandanan yang mereka anggap modern, namun toh yang “lokal” dan “tradisional” rupanya tetap ada diam-diam di sudut ingatan mereka.

(penyanyi band-elektone, nampak sibuk memperbaiki dandanannya. Tak terusik.)

Ganti berganti, semua ambil bagian menyanyi. Lalu si Ucuf menyanyi dangdut. Disusul Daeng sido, penjual ikan yang jika berbau arak, itu berarti ikannya tidak laku, dan ia pun menghabiskan sisa ikannya bersama arak.

(di kejauhan, bapak tukang pungut retribusi pasar, yang berkumis tebal melintang, duduk di atas meja ikan yang menjadi blokade jalan. Tersenyum-senyum)

Kursi plastik beraneka model berwarna merah berjejalan dipenuhi warga. Banyak yang datang dengan sandal seadanya. Beberapa di antaranya masih memakai riasan sisa acara sebelumnya.

Dan semuanya menari, menyanyi dan bertepuk tangan –juga si pirang. Semua rasanya menyatu, tertawa, menari, dan bertepuk tangan. Pesta dengan kesederhanaan yang mungkin tak terbayangkan. Tapi kupikir dengan itulah mereka turut merayakan kebahagiaan warganya, yang mungkin akan segera dibawa oleh suaminya dan nasib yang lainnya.

Kutemukan beberapa teman sepermainan yang telah merantau, yang pulang sekedar untuk menghormati pesta ini. Lalu kami berbincang tentang orang-orang yang kami kenal namun tak bisa datang. Dengan senyum masih terkembang asap tembakau menari-nari di antara kami.

Di pesta di pasar cidu. Semua datang tak diantar, lalu setelah lelah—mungkin ada yang mabuk dengan arak murahan, semuanya pun pulang tanpa diantar. Setelah pesta hanya bau amis dan bacin khas pasar yang tinggal.

28 Juni 2006, malam

Thursday, June 22, 2006

BANJIR

kalau saja kau ada di sini, akan kau lihat sisa jejak Maut yang mengangkut jiwa-jiwa ini. Dengan mengendarai bah, dirangkumnya satu-satu jiwa untuk kembali. Terbacakah tapaknya pada puing? pada sisa air. pada lumpur. pada jasad-jasad yang basah. betapa kehidupan adalah retak sementara.

Sunday, June 18, 2006

RUMAH*

Photobucket - Video and Image Hosting">Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" alt="" />
(pada sebuah rantau yang panjang)


Pada sebuah pagi yang dingin, seorang kawan mulai bercerita tentang seseorang yang selalu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam seminggu, kata kawanku itu, orang itu akan sangat sulit dijumpai berada pada tempat yang sama dengan minggu sebelumnya. Ia selalu berziarah, menjenguk tempat-tempat yang sarat sejarah dan penuh pesona; entah itu Yunani, Mesir, kota-kota tua di Eropa atau entah belahan mana di bumi ini. Lelaki itu kerap disebut sebagai ”Peziarah Kebudayaan”. Ia Perantau.

”Mungkin ia tak lagi memerlukan Rumah. Dimanapun ia merasakannya,” ujar kawanku menerawang pada bingkai jendela, pada cuaca luar hujan berangin. Aku berpikir telah berapa banyak kenangan yang telah ia petik? Juga berapa tempat tetirah yang ia jumpai setelah demikian banyak berziarah? Tidakkah ia suatu saat merasa letih dan memutuskan untuk istirahat pada suatu tempat, seperti orang lainnya. Bermukim menikmati kehidupan dengan berdiam, tenang. Tidak dengan perjalanan yang berganti-ganti.

”Tapi apakah mungkin ia tak punya kesetiaan. Sebuah akar untuk berpijak. Boleh jadi ia tak punya cinta; sebab ia selalu bergerak dan selalu dalam perjalanan. Berhadapan dan menyesuai pada kenyataan baru yang asing”. ”Kau harus belajar tentang cinta dan kesetiaan yang lain..” ujar temanku mengutip sepotong sajak entah milik siapa, menuntaskan sarapannya kemudian berangkat menembusi cuaca yang galau dalam lingkung angin. Cuaca yang banyak membuat orang lebih memilih mendekam pada sebuah ruang yang hangat. Berdiam agar terhindar dari dingin yang menusuk.

***

Rumah tentu tak sekedar sebentuk ruang tempat berlindung dari cuaca. Rumah boleh jadi adalah tempat menyusun kenangan dan mengindera perubahan.; meneruskan kehidupan. Namun bagi jiwa-jiwa yang telah bepergian dan bertemu dengan banyak kenyataan, Rumah tentu tak sekedar tempat istirahat bagi tubuh yang lelah.

Rumah lebih bagi jiwa, yang juga berarti sebagai sebuah perasaan diterima dalam keadaan patah sekalipun. Tempat dimana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan sesuatu. Dimana seseorang diterima dalam segala keadaannya, dan itulah Rumah yang bersedia memeluknya. Bahkan sebagai yang datang bersama remuknya, dan toh, ia tetap disambut hangat sehangatnya.

Rumah adalah sebuah puisi, sebentuk tulisan yang setiap orang meresapinya dengan kesunyiannya masing-masing. Kesejukan yang diindera sebagai keindahan sendiri-sendiri oleh yang berdiam padanya.

Kita yang hidup adalah perantau yang terus menghadapi sehimpun kenyataan yang berubah-ubah dan tak terduga. Lalu mungkin kita hanya berumah pada kenangan. Berdiam pada sesuatu yang telah jadi masa lampau, sambil bergerak pada kekinian.

Tiap kita sebagai manusia modern, seperti ”jiwa-jiwa tak berumah”...;”Homeless Mind”, Peter L. Berger pernah berkata, mungkin dengan lirih dan muram. Tentang manusia modern yang sementara bergerak mengindera masa depan, namun di saat bersamaan separuh kakinya masih berpijak pada masa lalu. Tentang mengakar pada tradisi milik nenek moyang,tapi juga dengan kesetiaan yang lain; ”modernitas” –perburuan kehidupan masa depan yang bergerak cepat tak terduga.

Seperti kepercayaan pada petuah dan benda-benda keramat gaib lainnya dan saat bersamaan juga mengikut pada rutinitas tergesa-gesa pada setiap pagi di jalan kota besar. Orang yang gegas mencari ”sesuatu”. Mencari yang hilang atau mencari yang belum ditemukan. Seolah mencari sesuatu pada entah

(Rumah atau sebentuk yang dianggap rumah)

*Dimuat pada rubrik CERMIN, penerbitan kampus identitas
Universitas Hasanuddin, No. 591/ Awal April 2004

Tuesday, June 13, 2006

Piala Dunia dan Nasionalisme di Sebuah Lorong




32 Negara berebut kulit bundar ini dalam Piala Dunia 2006. Ada cerita, di Jalan Titang Makassar. Warga lorong ini, sejak Piala Dunia 1998 lalu, (--meski rumah mereka terlihat sederhana dan tidak makmur) mengibarkan puluhan bendera berukuran besar dari Negara-negara peserta piala dunia sesuai dengan kesukaan mereka.

Di lorong sepanjang 4 ratus meter ini, ada Brasil, Jerman, Argentina, Inggris dan Arab Saudi, di depan rumah orang Bugis, Makassar, ataupun Toraja. Seperti kegembiraan yang tak mengenal batas. (--walaupun –entah siapa yang memulai, di lorong ini ada laranagan mengibarkan bendera Amerika Serikat ϑ ).

Dan saat tim kebanggaan mereka kalah, maka dengan lapang hati mereka, harus menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kenapa tak dicopot saja sekalian, namun menurut mereka; “ meskipun kalah, kawasan kita bersama harus tetap semarak dengan warna bendera yang kalah dan menang. Semuanya tetap mewarnai lorong ini”. Semuanya bergembira dengan kelapangan hati yang sederhana.

Ketika ada yang menyayangkan kenapa, tak ada warga yang mengibarkan bendera Indonesia, merah putih, sebagian warga –meski terlihat bimbang, cuma berucap; “ini musim Piala Dunia, bukan soal kemerdekaan…”

Di antero lain jagat ini tentu saja berlangsung cerita-cerita kecil kenduri tentang akbar olahraga yang bahkan mengalahkan Olimpiade yang memajang beragam cabang olahraga dan peserta dari berbagai Negara di dunia..

Piala dunia mungkin memang tentang musim yang tak tergantung pada cuaca. Tentang kegembiraan yang serentak. Mungkin ini tentang global village-nya Marshall Mc Luhan. Tapi yang jelas, tidak tentang nasionalisme…

Bencana dan Hati Kita

Photobucket - Video and Image Hosting

Belum lama, Jogja dan jawa tengah diguncang Gempa Tektonik dan membunuh lebih dari 5000 jiwa. –berarti memusnahkan populasi yang sejenis saya atau kau sebanyak kira-kira kalau dikumpul seluas beberapa lapangan sepakbola.

Banyak cerita. Ada yang menolak bantuan Negara asing, sambil berbicara di media kalau mereka bukan bangsa yang pemalas. Namun di saat bersamaan dan media yang sama; bercerita tentang negeri yang tertatih menegosiasi ulang utang luar negerinya.

Juga ada cerita miring tentang dana bantuan dari berbagai uluran tangan. Serta kisah-kisah sedih dan ajaib yang melatari kisah rubuhnya ribuan rumah dan terusirnya ibuan jiwa lainnya.

Aku teringat Aceh. Juga ingatan yang hampir sama sarkartiknya. –kecuali bahwa 26
Desember 2004 adalah hari ulangan tahun-ku yang ke-24, kini Tsunami akan mulai dilupakan. Kecuali kadang-kadang muncul cerita tentang musibah yang melanda sekitar 200 ribu jiwa ini.

Photobucket - Video and Image Hosting

Tapi kini kehidupan berjalan terus. Mereka mulai menghilang dari porsi pemberitaan di media-media. Setelah semua berangsur pulih, cerita dan juga ingatan mulai dialihkan ke malapetaka terbaru di negeri ini. Saat para korban kian berkutat dengan kehidupan yang terasa demikian keji, Televisi mulai mencari musibah terbaru untuk dijual kepada kita yang menonton semuanya sambil makan siang.

(tahu tidak, apa yang dipikirkan sebagian besar kami (--koresponden dan stringer stasiun tv, serta kacung rating lainnya) “ Sialan…Koresponden Jogja kaya lagi.”: Ada juga yang bilang sambil bersalaman : Selamat berpuasa..(--maksudnya liputan mereka di daerah ini akan sulit ditayangkan, karena prioritas bencana besar tersebut; jadi itu disebut “puasa”). Aneh kan cara sebagian wartawan melihat bencana. Mungkin bad news is a worse news..for our own humanity.

Hidup memang ajaib. Dan mungkin kita harus sering menghadapi dengan hati yang sarkartis.

Friday, April 28, 2006

Sebuah pagi dan kopi di Pasar Cidu

Dengan mata yang masih berat, aku duduk dalam kepungan asap, di sebuah tempat minum kopi, yang terselip di lorong belakang gudang tua --sisa-sisa kejayaan pasarcidu di tahun 60-an. Namanya Warung Kopi Daeng Naba, tapi entah sejak kapan warung ini ada.

Kini, dengan meja-meja yang mulai aus dimakan usia. Juga Dinding-dinding yang hitam, diasapi asap tembakau dan asap tungku kopi, setiap pagi warung ini menerima para lelaki-lelaki pasar cidu, yang datang. Lalu gelas demi gelas kopi-- yang lazim disebut sebagai "Kopi Tipis dan Kopi Tebal" mengalir dan mulai membasahi tenggorokan para pengunjung; ditingkahi obrolan. Hidup mulai dengan kopi.

Warung ini hanya berlantai tanah yang sebagian sempat dilapisi semen kasar, berdinding kayu, dengan meja kayu dan kursi plastik yang mungkin akan menakjubkan para eksekutif yang biasa menikmati kafein di Starbuck, Excelso ataupun tempat ngopi lainnya di mall-mall.

Namun, sepertinya dari sinilah sebagian besar lelaki di Pasar Cidu menyegarkan kembali harapannya. Atau menajamkan ingatan tentang kejadian di sekelilingnya, atau mungkin melepaskan sisa api di dadanya sebelum memulai hari dengan mata yang lebih nyala.

Seiring matahari yang beranjak naik, seolah menyorot dinding kusam gudang, di belakang Warung kopi milik Daeng Naba ini, para lelaki ini kemudian pulang. Sebuah Pagi dan Kopi. Seperti merayakan sebuah waktu dengan Dosa yang nikmat

Saturday, April 22, 2006

::apa kabar diri sendiri?

apa kabar diri sendiri, sore ini?
baik, bukan?

"mad, apapun yang kau hadapi, seberapa pun beratnya, ingatlah untuk tetap bernafas, dan yakinlah besok; semuanya akan baik-baik saja.. matahari, masih akan ada esok, dan kita masih harus menjalani hidup ini dengan keras kepala yang kita punya"

Saturday, April 01, 2006

Karnaval Jalan Kakatua

Aku ingin bercerita tentang Jalan Kakatua, di Makassar. Meski tak banyak yang menarik dari jalan ini kecuali setiap menjelang laga sepakbola PSM Makassar di stadion yang salah satu mulut pintu masuknya ada di jalan ini, maka Jalan Kakatua akan penuh dengan supporter yang tumpahruah dengan beraneka kostum , berwarna merah menyala.

Para supporter yang sebgaian besar masih belia ini tampak demikian hidup. Ada yang menggunakan topi bertanduk dan memenuhi wajahnya dengan coretan cat. Ada yang memegang pataka dan bendera berlambang tim sepakbola Makassar sambil bersorak-sorak, dan duduk gagah di sepeda motornya yang meraung-raung. Para supporter ini hampir serupa William Wallace dan pejuang Irlandia lainnya yang memegang tombak panjang dan menunggang kuda.

Hampir tak ada yang menggunakan helm. Semuanya mungkin percaya Tuhan akan melindungi kepala mereka dari aspal jalan ini. Yang jelas, polisi lalulintas yang biasanya akan dengan rakus memeras setiap pengendara yang tak memakai helm, kali ini, nampaknya membiarkan mereka menjadi raja barang sehari.

Ratusan supporter ini kemudian berkumpul di mulut pintu masuk stadion, menunggu mereka diizinkan masuk. Atau menunggu ada kemungkinan masuk di stadion tanpa harus membeli karcis. Sebagian akan memilih membayar beberapa ribu, dan dizinkan memanjat dari tali yang telah disediakan.

Yang jelas semua tumpah ruah, dan jalan ini demikian semarak seperti karnaval yang penuh warna. Setidaknya, para anakmuda yang sebagian berasal dari lorong-lorong sempit kota ini, bisa merasa gembira.

Juga merasakan kelapangan jalan yang menerima semua yang ingin berjalan di atasnya…meski ia orang gila dan gembel sekalipun.

Mungkin inilah karnaval Jalan Kakatua, yang selalu ada setiap menjelang adu sepak bola di stadion Andi Mattalatta (dulu namanya Stadion Mattoangin)

Friday, March 17, 2006

Tak pulang ke rumah

"when all my work's over. i'll fly home"

mmm, belakangan ini aku jarang pulang ke rumah. Hari terakhir aku pulang, aku segera berbaring di lantai kayu kamar-ku (dan aku yakin, bahkan sebelum terlelap, aku akan segera menghirup habis semua debu yang berada di sekitar hidungku..). Sebelum lelap, hanya ada ibu yang bertanya, "apa kau perlu kasurmu? kasurmu sedang dipakai adikmu,"
aku hanya berkata, "tak perlu"

mungkin adik bungsuku mengira aku tak pulang, dan ia lagi enggan berbagi ranjang dengan adikku yang lain..

ah, rumah..

belakangan ini, aku jarang pulang ke rumah. aku seperti pelancong tak beralamat. mencari tempat berteduh, saat kantuk mulai memaksaku untuk berhenti. syukurlah, pekerjaanku tak mengharuskan kau memakai setelan tertentu dan mandi pagi, so dari manapun aku mulai berangkat di pagi hari; hampir tak jadi masalah --dengan atau tanpa mandi pagi; tak ada yang protes.

lalu rumah mulai mengabur dalam ingatanku.

tapi ketika semua baru saja kuselesaikan, aku tiba-tiba saja ingin pulang.
mungkin akan ada sebentuk matahari yang cerah, yang akan mengintip dari jendela kamarku..

atau mungkin tak ada bedanya? dari jendela ruang manapun toh matahari akan selalu serupa.

Selamat malam, semua yang berdiam dalam rumah..

Friday, December 23, 2005

:::Jelang Hari Raya

Apa yang menarik setiap menjelang hari raya?

mungkin setiap orang, akan membayangkan sesuatu yang membahagiakan, ataupun hal yang menyenangkan lainnya. Menjelang Natal ataupun jelang Lebaran.

Kanak-kanak, mungkin akan membayangkan hadiah yang ditaruh sinterklas di kaus kaki yang mereka gantungkan di dekat perapian. Dalam tidur mereka di malam natal --yang biasanya digambarkan dengan musim dingin yang penuh salju, mungkin mereka bermimpi tentang lelaki tua berjanggut putih dengan kereta yang ditarik oleh barisan rusa kutub dan akan mampir di tiap rumah membagikan hadiah.

Sedang jelang lebaran; setiap anak yang akan berlebaran besok, mungkin akan tidur tak terlalu nyenyak, membayangkan bahwa mereka besok akan berbaju baru- dan akan makan kue dan bertemu dengan kawan-kawan mereka..

tentu saja itu semua mungkin, seperti hal-hal lainnya yang nisbi sebab toh ada wajah lain di malam jelang hari raya. Bagi setiap yang papa; Natal toh tetaplah bisa jadi sebuah siksaan, sebab meski mereka menganggap kasih yesus kristus sampai pada mereka, namun mereka bisa saja mereka menjalaninya dalam lapar.

Dan bagi si fakir; lebaran tak sepenuhnya toh membahagiakan, sebab mereka toh akan lebih memilih untuk menjadi pengemis di lapangan tempat para saudara mereka yang berkecukupan usai berhari-raya.

Masing-masing adalah bagian hidup, yang entah bagaimana mengurai sebuah penjelasan yang cukup bagi setiap kita; bagi setiap hati yang merasakannya.

Tapi, malam di jelang hari raya dekat-dekat ini; setiap kota waspada pada hantu-hantu teror yang bisa saja mengantar ledakan, ketika kita yang ---mungkin, sedang bergembira.

Ah, entah siapa yang mulai mengajari anak negeri ini, meledakkan saudaranya untuk memperoleh surga seorang diri...

Maaf Tuhan, setiap jelang hari raya; aku sulit bergembira...

Monday, October 24, 2005

::insomnia memintaku tak tidur lagi malam itu.

Image hosted by Photobucket.com
nah, cobalah tidur agak larut. lalu dengarlah lagu penutup siaran, dari sebuah stasiun tv dan amati gambar-gambar yang ditayangkannya.
lagu mengalun merdu tentang indonesia (iya, indonesia!!! yang kita cintai atau tidak, tapi karena kita terlahir di sini; maka ini negeri kita)

amati "indonesia" lewat lagu dan gambar-gambar yang menetramkan itu.
di antar lagu yang syahdu mendayu, dan mengalirlah gambar; mulai dari hamparan hutan, gunung, sawah permai, pantai indah dan masyarakat yang tenang memetik hasil alamnya.

benar-benar serupa surga; tempat menyenangkan "untuk akhir menutup mata..."

benar-benar kampung halaman yang dikenalkan sekolah dasar padaku..gemah ripah loh jinawi, tempat --bahkan tongkat pun akan tumbuh.

ah, cerita memang terkadang berlebih-lebihan.

apakah "ini" juga indonesia?
Image hosted by Photobucket.com
utang-kita ke negeri lain, membuat pemerintah republik indonesia tak lagi merdeka menentukan kebijakan; menentukan tujuan. dan jadilah rakyat indonesia (yang memetik hasil bumi dengan riang, dalam gambar di stasiun tv itu) menanggung berbagai kebijakan ekonomi yang menyengsarakan..

salah satunya, harga minyak naik, dan lihatlah bagaimana pemerintah republik indonesia menanganinya lewat bantuan kompensasi kenaikan bbm--juga di tasiun tv yang sama;

berapa banyak yang harus berebut, hingga ada 2 orang tua yang mati karena antri (mungkin ini hanya terjadi di negara komunis beberapa waktu lalu). berapa banyak yang mengamuk dan menjadi anarkis, menjadi wajah-wajah beringas yang mungkin tak kita kenali lagi. berapa banyak warga yang berebut menjadi miskin, menghilangkan kehormatan untuk mendapat 100 ribu rupiah per bulan. itu indonesia

juga nelayan dan petani yang lebih banyak kita kenali dari setiap demonstrasi yang mereka gelar. meminta peraturan pemerintah nomor 36 tentang hak pemerintah indonesia untuk 'merampas' tanah untuk publik(?). nelayan yang tak lagi melaut, karena hanya akan menderita kerugian dari hasil melaut mereka yang tak bisa menutup ongkos sekali melaut.

lainnya, wabah ganti-berganti membunuh anak-anak indonesia, karena pemerintah tak lagi bisa menangani dengan baik, agar anak-anak indonesia bisa tetpa hidup dengan sanitasi dan kesehatan yang baik.

beribu kayu batang dari hutan indonesia yang dicuri, dan segelintir orang menjadi kaya dari tiap tanah longsor dan banjir yang melanda penduduk di sekitar hutan..

banyak hal yang tak muncul dalam siaran penutup di dinihari itu.
(aku tahu, kepalaku berdenyut pelan, hatiku tak tenang, tapi kita tak bisa memilih untuk terlahir atau tidak di sebuah negeri, memang...)

ah, insomnia ini memicu kejut tak hanya di kepalaku, tapi juga di hatiku.
selamat malam, bagaimanapun aku tetap orang indonesia. kita masih bisa tetap hidup di satu negeri tanpa harus mencintainya kan?

selamat malam, sekali lagi.

satu kehilangan

::untuk satu kehilangan
-kematian seseorang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik -joseph stalin

pagi yang dingin, dan kepala yang berdenyut, berbincang pelan tentang kematian yang tak berbilang, di sebuah hari kematian kawan tercinta; "berapa pun yang mati, setiap itu adalah nyawa, maka kita berhak bersedih". namun, saat melihat ribuan jenazah teronggok, juga bau bangkai yang menyeruak, terkadang mulanya hanya sebagai sebuah statistik --seperti kata joseph stalin. setelahnya, barulah kita tersadar, setiap yang mati, kita berhak bersedih; sebab itu adalah nyawa.

seseorang meninggalkan kita, terbebas dari dunia yang fana ini; apa yang hilang? sebab semua toh yang hidup akan berangkat menuju-Nya... yang hilang mungkin, adalah tempatnya di hati kita. ruang yang dipenuhi kenangan atasnya. seseorang, dengan segala warnanya. sebagai yang 'tragis', bukan "statistik", sebab setiap orang adalah kerabat --paling tidak dari seseorang yang lainnya. sebab tak ada yang lahir dari sebatang bambu, ataupun keping batu, dan dibesarkan oleh hewan ajaib, selain dalam dongeng-dongeng yang naif.

selamat tidur. selamat jalan, kawan. kau kami kenang

Friday, October 14, 2005

tentang perjalanan dan pulang

::dengan berterima kasih kepada ochan

"When all my work's over. i'll fly home," sebuah kutipan dari entah siapa, yang ia juga ragu telah mengtipnya darimana.

"Aku hanya ingin pulang lebih cepat sore ini, agar masih sempat minum teh dengan senja di depan jendela," kutipan tentang betapa telah lama tak menikmati teduh senja di rumah sendiri, saat lebih sering sibuk berada dalam perjalanan di waktu yang orange itu..

"Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang --kutipan dari seorang kawan, di halamanrawa.blogspot.com" .

Ah, "pulang", menakar perjalanan, menakar arti yang bergerak. menakar tepi. Betapa "ia" serasa menjadi serupa mantra, yang mengingatkanku dalam perjalanan ini..

aku selalu bertanya; "kemana kelak hati akan pulang, dan menakar semua perjalanan yang telah kutempuh?".

adakah itu kau?

Tuesday, September 13, 2005

::?

Image hosted by Photobucket.com

api. sebentar lalu semua usai menjadi puing

Image hosted by Photobucket.com

lalu hendak kau sebbut apa mata-mata yang menatapmu diam seperti ini?

menjadi kebal. menjadi bebal

Setelah beberapa lama berada di pekerjaan ini; serasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Berada di tengah bentrokan yang bergerak riuh dan mengancam.
Berada di depan orang yang menangis setelah rumahnya dibongkar para petugas bersepatu lars.
Menyaksi ibu yang meratap kehilangan anaknya setelah gubuknya dilalap api.
Mencium bau mayat. Menghirup bau tubuh yang baru saja terbakar..
Melihat wajah yang remuk dan amis darah yang berhamburan.
Mendengar riuh sirene yang berkejaran.

Berada di tempat yang terus bergerak; mengapa aku serasa kehilangan peka. Menjadi kebal. Menjadi bebal.

“Kita tak bisa terlibat; kita harus bekerja tanpa emosi..,” kata seorang kawan.

Tapi siapa yang menahan airmata dan rasa yang tiba-tiba saja menyesak melihat langsung semuanya, demikian dekat.

Saturday, September 10, 2005

berhala

Image hosted by Photobucket.com
sebut saja di pedalaman amazon tempat suku-suku kanibal, diam-diam akan memanah para antropolog kawan indiana jones, dan menyantapnya. atau suku primitive dalam dongeng the lost world.

mereka selalu punya patung atau berhala lainnya yang disembah, yang bahkan diasupi darah gadis perawan tercantik sebagai sesajen. kemudian takzim berdoa berharap segala keselamatan, kehormatan, dan kebanggaan datang dari dewa-dewi kepada mereka.

itu ritual khas suku primitif yang hanya kita temui dari film steven spielberg atau film eksotik hollywood lainnya.

namun tak perlu jauh, tiap tahun ada puluhan baligo bergambar seram, dan ratusan umbul-umbul serupa panji perang kublhai khan atau alexander the great memenuhi setiap sudut tempat kita memandang.

juga sosok patung tengkorak tinggi besar berselubung kain hitam berdiri di tepi persimpangan jalan. matanya merah menyala, memegang sabit, dan bangkai tikus.

lalu setiap malam, sepasukan manusia dengan wajah tak ramah, memegang tongkat bergiliran menjaga patung terkutuk itu siang dan malam. sebagian bahkan rela tidur dalam kepungan nyamuk dan dingin malam hanya untuk menjaga kalau saja ada pasukan ninja musuh yang datang merobohkan patung terkutuk itu...

mungkin juga, telah ada yang berdoa dan berharap kehormatan dan kebanggaan dari kaki patung terkutuk itu.

(atau apa telah ada darah perawan derdada sentosa yang telah dikorbankan pada patung itu). tapi tetap tak beda rasanya dengan jejeran patung dan berhala lainnya di goa-goa suku primitive

dan…

setelahnya, hanya hanya karena ada yang merusak salah satu berhala kebanggaan tersebut; pecahlah perang antar suku.

bersenjata panah, batu, dan kayu, ratusan warga suku bertarung mempertahankan “kehormatan”…mungkin juga berdasar wangsit dari dewa-dewa, bahwa mereka diharuskan berperang…agar tanah kediaman suci kembali dengan darah pihak musuh.

setelah perang, berhala mereka kemudian kembali dipuja.

tapi kita tak di amazon. kita ada di tamalanrea, di tempat pendidikan, tempat –konon peradaban mulai disemai.

dan kita yang menyaksikan hanya bisa bersedih diam-diam.

Sunday, August 14, 2005

senyap

Kau yang lelap dalam senyap malam; adakah kau tahu malam ini;aku masih terjaga mengindera malam dalam perih?

Kehilangan Rumah

Sekali lagi, aku harus kehilangan rumah. Tempatku pernah nyaman bernaung. Mungkin aku harus kembali melanjutkan perjalanan. Menempuh jarak menuju "Rumah";Meski hanya menduga jejak. Menuju sesuatu yang berkenan memanggilku singgah, meski kelak suatu waktu, aku harus lagi kehilangannya.

Mm, mungkin perjalanan menuju rumah, seperti perjalanan menuju Senja. Menuju sesuatu yang kian dekat, kian tak teraih. Entah.

sedikit tentang "merdeka"

"merdeka!!!!"
Aku tak hendak berdebat tentang emosi yang meletup ketika para pejuang berteriak merdeka di tiap pertempuran...juga bukan tentang "merdeka" yang diteriakkan dan dicoretkan di gerbong-gerbong kereta selepas proklamasi dibacakan presiden Soekarno,17 agustus 1945 silam.

Atau "merdeka" yang kian rumit didefinisikan belakangan ini. Merdeka yang kemudian menyebut bebas dari intervensi lembaga asing bentukan Bretton Woods; IMF, atau neo-imprealisme lewat budaya, ekonomi atau apa pun.

Menjadi warga, menjadi bagian dari bangunan kekerabatan yang besar, tapi imajiner. Rasanya Menjadi anak bangsa, seperti hanya pada sepotong kalimat sinis; bahwa kita hanya menjadi warga Indonesia saat menjelang batas waktu pembayaran Pajak, dan saat menjelang Pemilu. entahlah.

aku ingin bercerita tentang sekilas perasaan saat menyusuri lorong menuju rumahku di pasar cidu. Sekilas perasaan "sebagai warga sebuah bangsa" saat berjalan menyusur lorong yang dipenuhi dengan bentangan ratusan bendera kecil yang diuntai dengan tali rafia, lalu diikat di tiang-tiang listrik terpasang di atas jalan, ibarat kanopi. Terlihat cantik disinari lampu merkuri. Namun tetap terasa rawan rasanya.

Meski jauh di dasar hati; serasa ada yang tertusuk, tapi bagiku inilah rasanya menjadi warga sebuah bangsa; ketika diam-diam turut tersenyum melihat bendera kecil menari-nari di bawah lampu..

Mungkin rasa "merdeka" di dini hari itu; hanya sebagai senyum simpul saat melihat bendera kecil tersebut menari-nari dalam angin dini hari yang dingin, meski sadar, esok ia akan kusam, putus lalu terlupakan.

Ah, "merdeka" andai saja kata itu tak pernah ada. Atau tak perlu ada?
(Maafkan aku, Bapak Bangsa. Mungkin aku murtad)