Dengan mata yang masih berat, aku duduk dalam kepungan asap, di sebuah tempat minum kopi, yang terselip di lorong belakang gudang tua --sisa-sisa kejayaan pasarcidu di tahun 60-an. Namanya Warung Kopi Daeng Naba, tapi entah sejak kapan warung ini ada.
Kini, dengan meja-meja yang mulai aus dimakan usia. Juga Dinding-dinding yang hitam, diasapi asap tembakau dan asap tungku kopi, setiap pagi warung ini menerima para lelaki-lelaki pasar cidu, yang datang. Lalu gelas demi gelas kopi-- yang lazim disebut sebagai "Kopi Tipis dan Kopi Tebal" mengalir dan mulai membasahi tenggorokan para pengunjung; ditingkahi obrolan. Hidup mulai dengan kopi.
Warung ini hanya berlantai tanah yang sebagian sempat dilapisi semen kasar, berdinding kayu, dengan meja kayu dan kursi plastik yang mungkin akan menakjubkan para eksekutif yang biasa menikmati kafein di Starbuck, Excelso ataupun tempat ngopi lainnya di mall-mall.
Namun, sepertinya dari sinilah sebagian besar lelaki di Pasar Cidu menyegarkan kembali harapannya. Atau menajamkan ingatan tentang kejadian di sekelilingnya, atau mungkin melepaskan sisa api di dadanya sebelum memulai hari dengan mata yang lebih nyala.
Seiring matahari yang beranjak naik, seolah menyorot dinding kusam gudang, di belakang Warung kopi milik Daeng Naba ini, para lelaki ini kemudian pulang. Sebuah Pagi dan Kopi. Seperti merayakan sebuah waktu dengan Dosa yang nikmat
"sebuah tempat sebagai tepi dari semuanya. sebuah tempat pulang, menemukan diriku sendiri yang kutinggalkan.."
Friday, April 28, 2006
Saturday, April 22, 2006
::apa kabar diri sendiri?
apa kabar diri sendiri, sore ini?
baik, bukan?
"mad, apapun yang kau hadapi, seberapa pun beratnya, ingatlah untuk tetap bernafas, dan yakinlah besok; semuanya akan baik-baik saja.. matahari, masih akan ada esok, dan kita masih harus menjalani hidup ini dengan keras kepala yang kita punya"
baik, bukan?
"mad, apapun yang kau hadapi, seberapa pun beratnya, ingatlah untuk tetap bernafas, dan yakinlah besok; semuanya akan baik-baik saja.. matahari, masih akan ada esok, dan kita masih harus menjalani hidup ini dengan keras kepala yang kita punya"
Saturday, April 01, 2006
Karnaval Jalan Kakatua
Aku ingin bercerita tentang Jalan Kakatua, di Makassar. Meski tak banyak yang menarik dari jalan ini kecuali setiap menjelang laga sepakbola PSM Makassar di stadion yang salah satu mulut pintu masuknya ada di jalan ini, maka Jalan Kakatua akan penuh dengan supporter yang tumpahruah dengan beraneka kostum , berwarna merah menyala.
Para supporter yang sebgaian besar masih belia ini tampak demikian hidup. Ada yang menggunakan topi bertanduk dan memenuhi wajahnya dengan coretan cat. Ada yang memegang pataka dan bendera berlambang tim sepakbola Makassar sambil bersorak-sorak, dan duduk gagah di sepeda motornya yang meraung-raung. Para supporter ini hampir serupa William Wallace dan pejuang Irlandia lainnya yang memegang tombak panjang dan menunggang kuda.
Hampir tak ada yang menggunakan helm. Semuanya mungkin percaya Tuhan akan melindungi kepala mereka dari aspal jalan ini. Yang jelas, polisi lalulintas yang biasanya akan dengan rakus memeras setiap pengendara yang tak memakai helm, kali ini, nampaknya membiarkan mereka menjadi raja barang sehari.
Ratusan supporter ini kemudian berkumpul di mulut pintu masuk stadion, menunggu mereka diizinkan masuk. Atau menunggu ada kemungkinan masuk di stadion tanpa harus membeli karcis. Sebagian akan memilih membayar beberapa ribu, dan dizinkan memanjat dari tali yang telah disediakan.
Yang jelas semua tumpah ruah, dan jalan ini demikian semarak seperti karnaval yang penuh warna. Setidaknya, para anakmuda yang sebagian berasal dari lorong-lorong sempit kota ini, bisa merasa gembira.
Juga merasakan kelapangan jalan yang menerima semua yang ingin berjalan di atasnya…meski ia orang gila dan gembel sekalipun.
Mungkin inilah karnaval Jalan Kakatua, yang selalu ada setiap menjelang adu sepak bola di stadion Andi Mattalatta (dulu namanya Stadion Mattoangin)
Para supporter yang sebgaian besar masih belia ini tampak demikian hidup. Ada yang menggunakan topi bertanduk dan memenuhi wajahnya dengan coretan cat. Ada yang memegang pataka dan bendera berlambang tim sepakbola Makassar sambil bersorak-sorak, dan duduk gagah di sepeda motornya yang meraung-raung. Para supporter ini hampir serupa William Wallace dan pejuang Irlandia lainnya yang memegang tombak panjang dan menunggang kuda.
Hampir tak ada yang menggunakan helm. Semuanya mungkin percaya Tuhan akan melindungi kepala mereka dari aspal jalan ini. Yang jelas, polisi lalulintas yang biasanya akan dengan rakus memeras setiap pengendara yang tak memakai helm, kali ini, nampaknya membiarkan mereka menjadi raja barang sehari.
Ratusan supporter ini kemudian berkumpul di mulut pintu masuk stadion, menunggu mereka diizinkan masuk. Atau menunggu ada kemungkinan masuk di stadion tanpa harus membeli karcis. Sebagian akan memilih membayar beberapa ribu, dan dizinkan memanjat dari tali yang telah disediakan.
Yang jelas semua tumpah ruah, dan jalan ini demikian semarak seperti karnaval yang penuh warna. Setidaknya, para anakmuda yang sebagian berasal dari lorong-lorong sempit kota ini, bisa merasa gembira.
Juga merasakan kelapangan jalan yang menerima semua yang ingin berjalan di atasnya…meski ia orang gila dan gembel sekalipun.
Mungkin inilah karnaval Jalan Kakatua, yang selalu ada setiap menjelang adu sepak bola di stadion Andi Mattalatta (dulu namanya Stadion Mattoangin)
Friday, March 17, 2006
Tak pulang ke rumah
"when all my work's over. i'll fly home"
mmm, belakangan ini aku jarang pulang ke rumah. Hari terakhir aku pulang, aku segera berbaring di lantai kayu kamar-ku (dan aku yakin, bahkan sebelum terlelap, aku akan segera menghirup habis semua debu yang berada di sekitar hidungku..). Sebelum lelap, hanya ada ibu yang bertanya, "apa kau perlu kasurmu? kasurmu sedang dipakai adikmu,"
aku hanya berkata, "tak perlu"
mungkin adik bungsuku mengira aku tak pulang, dan ia lagi enggan berbagi ranjang dengan adikku yang lain..
ah, rumah..
belakangan ini, aku jarang pulang ke rumah. aku seperti pelancong tak beralamat. mencari tempat berteduh, saat kantuk mulai memaksaku untuk berhenti. syukurlah, pekerjaanku tak mengharuskan kau memakai setelan tertentu dan mandi pagi, so dari manapun aku mulai berangkat di pagi hari; hampir tak jadi masalah --dengan atau tanpa mandi pagi; tak ada yang protes.
lalu rumah mulai mengabur dalam ingatanku.
tapi ketika semua baru saja kuselesaikan, aku tiba-tiba saja ingin pulang.
mungkin akan ada sebentuk matahari yang cerah, yang akan mengintip dari jendela kamarku..
atau mungkin tak ada bedanya? dari jendela ruang manapun toh matahari akan selalu serupa.
Selamat malam, semua yang berdiam dalam rumah..
mmm, belakangan ini aku jarang pulang ke rumah. Hari terakhir aku pulang, aku segera berbaring di lantai kayu kamar-ku (dan aku yakin, bahkan sebelum terlelap, aku akan segera menghirup habis semua debu yang berada di sekitar hidungku..). Sebelum lelap, hanya ada ibu yang bertanya, "apa kau perlu kasurmu? kasurmu sedang dipakai adikmu,"
aku hanya berkata, "tak perlu"
mungkin adik bungsuku mengira aku tak pulang, dan ia lagi enggan berbagi ranjang dengan adikku yang lain..
ah, rumah..
belakangan ini, aku jarang pulang ke rumah. aku seperti pelancong tak beralamat. mencari tempat berteduh, saat kantuk mulai memaksaku untuk berhenti. syukurlah, pekerjaanku tak mengharuskan kau memakai setelan tertentu dan mandi pagi, so dari manapun aku mulai berangkat di pagi hari; hampir tak jadi masalah --dengan atau tanpa mandi pagi; tak ada yang protes.
lalu rumah mulai mengabur dalam ingatanku.
tapi ketika semua baru saja kuselesaikan, aku tiba-tiba saja ingin pulang.
mungkin akan ada sebentuk matahari yang cerah, yang akan mengintip dari jendela kamarku..
atau mungkin tak ada bedanya? dari jendela ruang manapun toh matahari akan selalu serupa.
Selamat malam, semua yang berdiam dalam rumah..
Friday, December 23, 2005
:::Jelang Hari Raya
Apa yang menarik setiap menjelang hari raya?
mungkin setiap orang, akan membayangkan sesuatu yang membahagiakan, ataupun hal yang menyenangkan lainnya. Menjelang Natal ataupun jelang Lebaran.
Kanak-kanak, mungkin akan membayangkan hadiah yang ditaruh sinterklas di kaus kaki yang mereka gantungkan di dekat perapian. Dalam tidur mereka di malam natal --yang biasanya digambarkan dengan musim dingin yang penuh salju, mungkin mereka bermimpi tentang lelaki tua berjanggut putih dengan kereta yang ditarik oleh barisan rusa kutub dan akan mampir di tiap rumah membagikan hadiah.
Sedang jelang lebaran; setiap anak yang akan berlebaran besok, mungkin akan tidur tak terlalu nyenyak, membayangkan bahwa mereka besok akan berbaju baru- dan akan makan kue dan bertemu dengan kawan-kawan mereka..
tentu saja itu semua mungkin, seperti hal-hal lainnya yang nisbi sebab toh ada wajah lain di malam jelang hari raya. Bagi setiap yang papa; Natal toh tetaplah bisa jadi sebuah siksaan, sebab meski mereka menganggap kasih yesus kristus sampai pada mereka, namun mereka bisa saja mereka menjalaninya dalam lapar.
Dan bagi si fakir; lebaran tak sepenuhnya toh membahagiakan, sebab mereka toh akan lebih memilih untuk menjadi pengemis di lapangan tempat para saudara mereka yang berkecukupan usai berhari-raya.
Masing-masing adalah bagian hidup, yang entah bagaimana mengurai sebuah penjelasan yang cukup bagi setiap kita; bagi setiap hati yang merasakannya.
Tapi, malam di jelang hari raya dekat-dekat ini; setiap kota waspada pada hantu-hantu teror yang bisa saja mengantar ledakan, ketika kita yang ---mungkin, sedang bergembira.
Ah, entah siapa yang mulai mengajari anak negeri ini, meledakkan saudaranya untuk memperoleh surga seorang diri...
Maaf Tuhan, setiap jelang hari raya; aku sulit bergembira...
mungkin setiap orang, akan membayangkan sesuatu yang membahagiakan, ataupun hal yang menyenangkan lainnya. Menjelang Natal ataupun jelang Lebaran.
Kanak-kanak, mungkin akan membayangkan hadiah yang ditaruh sinterklas di kaus kaki yang mereka gantungkan di dekat perapian. Dalam tidur mereka di malam natal --yang biasanya digambarkan dengan musim dingin yang penuh salju, mungkin mereka bermimpi tentang lelaki tua berjanggut putih dengan kereta yang ditarik oleh barisan rusa kutub dan akan mampir di tiap rumah membagikan hadiah.
Sedang jelang lebaran; setiap anak yang akan berlebaran besok, mungkin akan tidur tak terlalu nyenyak, membayangkan bahwa mereka besok akan berbaju baru- dan akan makan kue dan bertemu dengan kawan-kawan mereka..
tentu saja itu semua mungkin, seperti hal-hal lainnya yang nisbi sebab toh ada wajah lain di malam jelang hari raya. Bagi setiap yang papa; Natal toh tetaplah bisa jadi sebuah siksaan, sebab meski mereka menganggap kasih yesus kristus sampai pada mereka, namun mereka bisa saja mereka menjalaninya dalam lapar.
Dan bagi si fakir; lebaran tak sepenuhnya toh membahagiakan, sebab mereka toh akan lebih memilih untuk menjadi pengemis di lapangan tempat para saudara mereka yang berkecukupan usai berhari-raya.
Masing-masing adalah bagian hidup, yang entah bagaimana mengurai sebuah penjelasan yang cukup bagi setiap kita; bagi setiap hati yang merasakannya.
Tapi, malam di jelang hari raya dekat-dekat ini; setiap kota waspada pada hantu-hantu teror yang bisa saja mengantar ledakan, ketika kita yang ---mungkin, sedang bergembira.
Ah, entah siapa yang mulai mengajari anak negeri ini, meledakkan saudaranya untuk memperoleh surga seorang diri...
Maaf Tuhan, setiap jelang hari raya; aku sulit bergembira...
Monday, October 24, 2005
::insomnia memintaku tak tidur lagi malam itu.

nah, cobalah tidur agak larut. lalu dengarlah lagu penutup siaran, dari sebuah stasiun tv dan amati gambar-gambar yang ditayangkannya.
lagu mengalun merdu tentang indonesia (iya, indonesia!!! yang kita cintai atau tidak, tapi karena kita terlahir di sini; maka ini negeri kita)
amati "indonesia" lewat lagu dan gambar-gambar yang menetramkan itu.
di antar lagu yang syahdu mendayu, dan mengalirlah gambar; mulai dari hamparan hutan, gunung, sawah permai, pantai indah dan masyarakat yang tenang memetik hasil alamnya.
benar-benar serupa surga; tempat menyenangkan "untuk akhir menutup mata..."
benar-benar kampung halaman yang dikenalkan sekolah dasar padaku..gemah ripah loh jinawi, tempat --bahkan tongkat pun akan tumbuh.
ah, cerita memang terkadang berlebih-lebihan.
apakah "ini" juga indonesia?

utang-kita ke negeri lain, membuat pemerintah republik indonesia tak lagi merdeka menentukan kebijakan; menentukan tujuan. dan jadilah rakyat indonesia (yang memetik hasil bumi dengan riang, dalam gambar di stasiun tv itu) menanggung berbagai kebijakan ekonomi yang menyengsarakan..
salah satunya, harga minyak naik, dan lihatlah bagaimana pemerintah republik indonesia menanganinya lewat bantuan kompensasi kenaikan bbm--juga di tasiun tv yang sama;
berapa banyak yang harus berebut, hingga ada 2 orang tua yang mati karena antri (mungkin ini hanya terjadi di negara komunis beberapa waktu lalu). berapa banyak yang mengamuk dan menjadi anarkis, menjadi wajah-wajah beringas yang mungkin tak kita kenali lagi. berapa banyak warga yang berebut menjadi miskin, menghilangkan kehormatan untuk mendapat 100 ribu rupiah per bulan. itu indonesia
juga nelayan dan petani yang lebih banyak kita kenali dari setiap demonstrasi yang mereka gelar. meminta peraturan pemerintah nomor 36 tentang hak pemerintah indonesia untuk 'merampas' tanah untuk publik(?). nelayan yang tak lagi melaut, karena hanya akan menderita kerugian dari hasil melaut mereka yang tak bisa menutup ongkos sekali melaut.
lainnya, wabah ganti-berganti membunuh anak-anak indonesia, karena pemerintah tak lagi bisa menangani dengan baik, agar anak-anak indonesia bisa tetpa hidup dengan sanitasi dan kesehatan yang baik.
beribu kayu batang dari hutan indonesia yang dicuri, dan segelintir orang menjadi kaya dari tiap tanah longsor dan banjir yang melanda penduduk di sekitar hutan..
banyak hal yang tak muncul dalam siaran penutup di dinihari itu.
(aku tahu, kepalaku berdenyut pelan, hatiku tak tenang, tapi kita tak bisa memilih untuk terlahir atau tidak di sebuah negeri, memang...)
ah, insomnia ini memicu kejut tak hanya di kepalaku, tapi juga di hatiku.
selamat malam, bagaimanapun aku tetap orang indonesia. kita masih bisa tetap hidup di satu negeri tanpa harus mencintainya kan?
selamat malam, sekali lagi.
nah, cobalah tidur agak larut. lalu dengarlah lagu penutup siaran, dari sebuah stasiun tv dan amati gambar-gambar yang ditayangkannya.
lagu mengalun merdu tentang indonesia (iya, indonesia!!! yang kita cintai atau tidak, tapi karena kita terlahir di sini; maka ini negeri kita)
amati "indonesia" lewat lagu dan gambar-gambar yang menetramkan itu.
di antar lagu yang syahdu mendayu, dan mengalirlah gambar; mulai dari hamparan hutan, gunung, sawah permai, pantai indah dan masyarakat yang tenang memetik hasil alamnya.
benar-benar serupa surga; tempat menyenangkan "untuk akhir menutup mata..."
benar-benar kampung halaman yang dikenalkan sekolah dasar padaku..gemah ripah loh jinawi, tempat --bahkan tongkat pun akan tumbuh.
ah, cerita memang terkadang berlebih-lebihan.
apakah "ini" juga indonesia?
utang-kita ke negeri lain, membuat pemerintah republik indonesia tak lagi merdeka menentukan kebijakan; menentukan tujuan. dan jadilah rakyat indonesia (yang memetik hasil bumi dengan riang, dalam gambar di stasiun tv itu) menanggung berbagai kebijakan ekonomi yang menyengsarakan..
salah satunya, harga minyak naik, dan lihatlah bagaimana pemerintah republik indonesia menanganinya lewat bantuan kompensasi kenaikan bbm--juga di tasiun tv yang sama;
berapa banyak yang harus berebut, hingga ada 2 orang tua yang mati karena antri (mungkin ini hanya terjadi di negara komunis beberapa waktu lalu). berapa banyak yang mengamuk dan menjadi anarkis, menjadi wajah-wajah beringas yang mungkin tak kita kenali lagi. berapa banyak warga yang berebut menjadi miskin, menghilangkan kehormatan untuk mendapat 100 ribu rupiah per bulan. itu indonesia
juga nelayan dan petani yang lebih banyak kita kenali dari setiap demonstrasi yang mereka gelar. meminta peraturan pemerintah nomor 36 tentang hak pemerintah indonesia untuk 'merampas' tanah untuk publik(?). nelayan yang tak lagi melaut, karena hanya akan menderita kerugian dari hasil melaut mereka yang tak bisa menutup ongkos sekali melaut.
lainnya, wabah ganti-berganti membunuh anak-anak indonesia, karena pemerintah tak lagi bisa menangani dengan baik, agar anak-anak indonesia bisa tetpa hidup dengan sanitasi dan kesehatan yang baik.
beribu kayu batang dari hutan indonesia yang dicuri, dan segelintir orang menjadi kaya dari tiap tanah longsor dan banjir yang melanda penduduk di sekitar hutan..
banyak hal yang tak muncul dalam siaran penutup di dinihari itu.
(aku tahu, kepalaku berdenyut pelan, hatiku tak tenang, tapi kita tak bisa memilih untuk terlahir atau tidak di sebuah negeri, memang...)
ah, insomnia ini memicu kejut tak hanya di kepalaku, tapi juga di hatiku.
selamat malam, bagaimanapun aku tetap orang indonesia. kita masih bisa tetap hidup di satu negeri tanpa harus mencintainya kan?
selamat malam, sekali lagi.
satu kehilangan
::untuk satu kehilangan
-kematian seseorang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik -joseph stalin
pagi yang dingin, dan kepala yang berdenyut, berbincang pelan tentang kematian yang tak berbilang, di sebuah hari kematian kawan tercinta; "berapa pun yang mati, setiap itu adalah nyawa, maka kita berhak bersedih". namun, saat melihat ribuan jenazah teronggok, juga bau bangkai yang menyeruak, terkadang mulanya hanya sebagai sebuah statistik --seperti kata joseph stalin. setelahnya, barulah kita tersadar, setiap yang mati, kita berhak bersedih; sebab itu adalah nyawa.
seseorang meninggalkan kita, terbebas dari dunia yang fana ini; apa yang hilang? sebab semua toh yang hidup akan berangkat menuju-Nya... yang hilang mungkin, adalah tempatnya di hati kita. ruang yang dipenuhi kenangan atasnya. seseorang, dengan segala warnanya. sebagai yang 'tragis', bukan "statistik", sebab setiap orang adalah kerabat --paling tidak dari seseorang yang lainnya. sebab tak ada yang lahir dari sebatang bambu, ataupun keping batu, dan dibesarkan oleh hewan ajaib, selain dalam dongeng-dongeng yang naif.
selamat tidur. selamat jalan, kawan. kau kami kenang
-kematian seseorang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik -joseph stalin
pagi yang dingin, dan kepala yang berdenyut, berbincang pelan tentang kematian yang tak berbilang, di sebuah hari kematian kawan tercinta; "berapa pun yang mati, setiap itu adalah nyawa, maka kita berhak bersedih". namun, saat melihat ribuan jenazah teronggok, juga bau bangkai yang menyeruak, terkadang mulanya hanya sebagai sebuah statistik --seperti kata joseph stalin. setelahnya, barulah kita tersadar, setiap yang mati, kita berhak bersedih; sebab itu adalah nyawa.
seseorang meninggalkan kita, terbebas dari dunia yang fana ini; apa yang hilang? sebab semua toh yang hidup akan berangkat menuju-Nya... yang hilang mungkin, adalah tempatnya di hati kita. ruang yang dipenuhi kenangan atasnya. seseorang, dengan segala warnanya. sebagai yang 'tragis', bukan "statistik", sebab setiap orang adalah kerabat --paling tidak dari seseorang yang lainnya. sebab tak ada yang lahir dari sebatang bambu, ataupun keping batu, dan dibesarkan oleh hewan ajaib, selain dalam dongeng-dongeng yang naif.
selamat tidur. selamat jalan, kawan. kau kami kenang
Friday, October 14, 2005
tentang perjalanan dan pulang
::dengan berterima kasih kepada ochan
"When all my work's over. i'll fly home," sebuah kutipan dari entah siapa, yang ia juga ragu telah mengtipnya darimana.
"Aku hanya ingin pulang lebih cepat sore ini, agar masih sempat minum teh dengan senja di depan jendela," kutipan tentang betapa telah lama tak menikmati teduh senja di rumah sendiri, saat lebih sering sibuk berada dalam perjalanan di waktu yang orange itu..
"Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang --kutipan dari seorang kawan, di halamanrawa.blogspot.com" .
Ah, "pulang", menakar perjalanan, menakar arti yang bergerak. menakar tepi. Betapa "ia" serasa menjadi serupa mantra, yang mengingatkanku dalam perjalanan ini..
aku selalu bertanya; "kemana kelak hati akan pulang, dan menakar semua perjalanan yang telah kutempuh?".
adakah itu kau?
"When all my work's over. i'll fly home," sebuah kutipan dari entah siapa, yang ia juga ragu telah mengtipnya darimana.
"Aku hanya ingin pulang lebih cepat sore ini, agar masih sempat minum teh dengan senja di depan jendela," kutipan tentang betapa telah lama tak menikmati teduh senja di rumah sendiri, saat lebih sering sibuk berada dalam perjalanan di waktu yang orange itu..
"Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang --kutipan dari seorang kawan, di halamanrawa.blogspot.com" .
Ah, "pulang", menakar perjalanan, menakar arti yang bergerak. menakar tepi. Betapa "ia" serasa menjadi serupa mantra, yang mengingatkanku dalam perjalanan ini..
aku selalu bertanya; "kemana kelak hati akan pulang, dan menakar semua perjalanan yang telah kutempuh?".
adakah itu kau?
Tuesday, September 13, 2005
::?
api. sebentar lalu semua usai menjadi puing
lalu hendak kau sebbut apa mata-mata yang menatapmu diam seperti ini?
menjadi kebal. menjadi bebal
Setelah beberapa lama berada di pekerjaan ini; serasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Berada di tengah bentrokan yang bergerak riuh dan mengancam.
Berada di depan orang yang menangis setelah rumahnya dibongkar para petugas bersepatu lars.
Menyaksi ibu yang meratap kehilangan anaknya setelah gubuknya dilalap api.
Mencium bau mayat. Menghirup bau tubuh yang baru saja terbakar..
Melihat wajah yang remuk dan amis darah yang berhamburan.
Mendengar riuh sirene yang berkejaran.
Berada di tempat yang terus bergerak; mengapa aku serasa kehilangan peka. Menjadi kebal. Menjadi bebal.
“Kita tak bisa terlibat; kita harus bekerja tanpa emosi..,” kata seorang kawan.
Tapi siapa yang menahan airmata dan rasa yang tiba-tiba saja menyesak melihat langsung semuanya, demikian dekat.
Berada di tengah bentrokan yang bergerak riuh dan mengancam.
Berada di depan orang yang menangis setelah rumahnya dibongkar para petugas bersepatu lars.
Menyaksi ibu yang meratap kehilangan anaknya setelah gubuknya dilalap api.
Mencium bau mayat. Menghirup bau tubuh yang baru saja terbakar..
Melihat wajah yang remuk dan amis darah yang berhamburan.
Mendengar riuh sirene yang berkejaran.
Berada di tempat yang terus bergerak; mengapa aku serasa kehilangan peka. Menjadi kebal. Menjadi bebal.
“Kita tak bisa terlibat; kita harus bekerja tanpa emosi..,” kata seorang kawan.
Tapi siapa yang menahan airmata dan rasa yang tiba-tiba saja menyesak melihat langsung semuanya, demikian dekat.
Saturday, September 10, 2005
berhala
sebut saja di pedalaman amazon tempat suku-suku kanibal, diam-diam akan memanah para antropolog kawan indiana jones, dan menyantapnya. atau suku primitive dalam dongeng the lost world.
mereka selalu punya patung atau berhala lainnya yang disembah, yang bahkan diasupi darah gadis perawan tercantik sebagai sesajen. kemudian takzim berdoa berharap segala keselamatan, kehormatan, dan kebanggaan datang dari dewa-dewi kepada mereka.
itu ritual khas suku primitif yang hanya kita temui dari film steven spielberg atau film eksotik hollywood lainnya.
namun tak perlu jauh, tiap tahun ada puluhan baligo bergambar seram, dan ratusan umbul-umbul serupa panji perang kublhai khan atau alexander the great memenuhi setiap sudut tempat kita memandang.
juga sosok patung tengkorak tinggi besar berselubung kain hitam berdiri di tepi persimpangan jalan. matanya merah menyala, memegang sabit, dan bangkai tikus.
lalu setiap malam, sepasukan manusia dengan wajah tak ramah, memegang tongkat bergiliran menjaga patung terkutuk itu siang dan malam. sebagian bahkan rela tidur dalam kepungan nyamuk dan dingin malam hanya untuk menjaga kalau saja ada pasukan ninja musuh yang datang merobohkan patung terkutuk itu...
mungkin juga, telah ada yang berdoa dan berharap kehormatan dan kebanggaan dari kaki patung terkutuk itu.
(atau apa telah ada darah perawan derdada sentosa yang telah dikorbankan pada patung itu). tapi tetap tak beda rasanya dengan jejeran patung dan berhala lainnya di goa-goa suku primitive
dan…
setelahnya, hanya hanya karena ada yang merusak salah satu berhala kebanggaan tersebut; pecahlah perang antar suku.
bersenjata panah, batu, dan kayu, ratusan warga suku bertarung mempertahankan “kehormatan”…mungkin juga berdasar wangsit dari dewa-dewa, bahwa mereka diharuskan berperang…agar tanah kediaman suci kembali dengan darah pihak musuh.
setelah perang, berhala mereka kemudian kembali dipuja.
tapi kita tak di amazon. kita ada di tamalanrea, di tempat pendidikan, tempat –konon peradaban mulai disemai.
dan kita yang menyaksikan hanya bisa bersedih diam-diam.
Sunday, August 14, 2005
senyap
Kau yang lelap dalam senyap malam; adakah kau tahu malam ini;aku masih terjaga mengindera malam dalam perih?
Kehilangan Rumah
Sekali lagi, aku harus kehilangan rumah. Tempatku pernah nyaman bernaung. Mungkin aku harus kembali melanjutkan perjalanan. Menempuh jarak menuju "Rumah";Meski hanya menduga jejak. Menuju sesuatu yang berkenan memanggilku singgah, meski kelak suatu waktu, aku harus lagi kehilangannya.
Mm, mungkin perjalanan menuju rumah, seperti perjalanan menuju Senja. Menuju sesuatu yang kian dekat, kian tak teraih. Entah.
Mm, mungkin perjalanan menuju rumah, seperti perjalanan menuju Senja. Menuju sesuatu yang kian dekat, kian tak teraih. Entah.
sedikit tentang "merdeka"
"merdeka!!!!"
Aku tak hendak berdebat tentang emosi yang meletup ketika para pejuang berteriak merdeka di tiap pertempuran...juga bukan tentang "merdeka" yang diteriakkan dan dicoretkan di gerbong-gerbong kereta selepas proklamasi dibacakan presiden Soekarno,17 agustus 1945 silam.
Atau "merdeka" yang kian rumit didefinisikan belakangan ini. Merdeka yang kemudian menyebut bebas dari intervensi lembaga asing bentukan Bretton Woods; IMF, atau neo-imprealisme lewat budaya, ekonomi atau apa pun.
Menjadi warga, menjadi bagian dari bangunan kekerabatan yang besar, tapi imajiner. Rasanya Menjadi anak bangsa, seperti hanya pada sepotong kalimat sinis; bahwa kita hanya menjadi warga Indonesia saat menjelang batas waktu pembayaran Pajak, dan saat menjelang Pemilu. entahlah.
aku ingin bercerita tentang sekilas perasaan saat menyusuri lorong menuju rumahku di pasar cidu. Sekilas perasaan "sebagai warga sebuah bangsa" saat berjalan menyusur lorong yang dipenuhi dengan bentangan ratusan bendera kecil yang diuntai dengan tali rafia, lalu diikat di tiang-tiang listrik terpasang di atas jalan, ibarat kanopi. Terlihat cantik disinari lampu merkuri. Namun tetap terasa rawan rasanya.
Meski jauh di dasar hati; serasa ada yang tertusuk, tapi bagiku inilah rasanya menjadi warga sebuah bangsa; ketika diam-diam turut tersenyum melihat bendera kecil menari-nari di bawah lampu..
Mungkin rasa "merdeka" di dini hari itu; hanya sebagai senyum simpul saat melihat bendera kecil tersebut menari-nari dalam angin dini hari yang dingin, meski sadar, esok ia akan kusam, putus lalu terlupakan.
Ah, "merdeka" andai saja kata itu tak pernah ada. Atau tak perlu ada?
(Maafkan aku, Bapak Bangsa. Mungkin aku murtad)
Aku tak hendak berdebat tentang emosi yang meletup ketika para pejuang berteriak merdeka di tiap pertempuran...juga bukan tentang "merdeka" yang diteriakkan dan dicoretkan di gerbong-gerbong kereta selepas proklamasi dibacakan presiden Soekarno,17 agustus 1945 silam.
Atau "merdeka" yang kian rumit didefinisikan belakangan ini. Merdeka yang kemudian menyebut bebas dari intervensi lembaga asing bentukan Bretton Woods; IMF, atau neo-imprealisme lewat budaya, ekonomi atau apa pun.
Menjadi warga, menjadi bagian dari bangunan kekerabatan yang besar, tapi imajiner. Rasanya Menjadi anak bangsa, seperti hanya pada sepotong kalimat sinis; bahwa kita hanya menjadi warga Indonesia saat menjelang batas waktu pembayaran Pajak, dan saat menjelang Pemilu. entahlah.
aku ingin bercerita tentang sekilas perasaan saat menyusuri lorong menuju rumahku di pasar cidu. Sekilas perasaan "sebagai warga sebuah bangsa" saat berjalan menyusur lorong yang dipenuhi dengan bentangan ratusan bendera kecil yang diuntai dengan tali rafia, lalu diikat di tiang-tiang listrik terpasang di atas jalan, ibarat kanopi. Terlihat cantik disinari lampu merkuri. Namun tetap terasa rawan rasanya.
Meski jauh di dasar hati; serasa ada yang tertusuk, tapi bagiku inilah rasanya menjadi warga sebuah bangsa; ketika diam-diam turut tersenyum melihat bendera kecil menari-nari di bawah lampu..
Mungkin rasa "merdeka" di dini hari itu; hanya sebagai senyum simpul saat melihat bendera kecil tersebut menari-nari dalam angin dini hari yang dingin, meski sadar, esok ia akan kusam, putus lalu terlupakan.
Ah, "merdeka" andai saja kata itu tak pernah ada. Atau tak perlu ada?
(Maafkan aku, Bapak Bangsa. Mungkin aku murtad)
Wednesday, July 20, 2005
senja
selalu kukenang kuning senja yang mengapung di telaga matamu.
juga angin laut yang mengantar harummu
seperti telah kutemu jalan pulang saat mengecup kelopak matamu
diam. tentram bersemayam pada hatimu
juga angin laut yang mengantar harummu
seperti telah kutemu jalan pulang saat mengecup kelopak matamu
diam. tentram bersemayam pada hatimu
Sunday, July 17, 2005
nak...
"nak, berbaik-baiklah pada seseorang, dalam tiap pertemuan; sebab hidup ini demikian singkat, bisa saja kita tak akan bertemu lagi dengannya. sementara ingatan akan baqa mengelindan serupa magma yang membakar. sebab ingatan bisa saja kekal dendam dalam ingatan"
--pesan seorang kakek
--pesan seorang kakek
Monday, July 11, 2005
Saturday, July 02, 2005
kilas-kilas alir
setiap hal yang berlalu, kini kupahami hanya sebagai kilas-kilas yang melintas. serupa melihat wajah seseorang dari jendela bis yang melaju; mengingat sesaat, lalu membiarkannya berlalu; tanpa harus merasa kehilangan, memahaminya hanya sebagai pertemuan yang harus usai. mungkin di suatu waktu, saat kembali melihat wajah itu, mungkin terasa tak lebih serupa de javu;sesuatu yang kutahu, ada di ruang kenangan, tapi tak pasti dimana. sesuatu yang telah jadi demikian sublim. gaib. tapi ia ada.
ada yang berucap, "mengapa sungai demikian tenang mengalir, sebab ia tahu pasti ia akan ke muara", tapi dimanakah semua ini akan bermuara?
I miss u, home...
ini melankolia pejalan? entahlah. tapi hari ini, setelah melalui sekian banyak waktu yang melelahkan; aku demikian merindukan 'rumah'. tapi, aku masih tak tahu kemana aku harus pulang dan bersemayam hingga jiwa ini pulih.
setiap kita, selalu ingin menemu ruang; tempat pulang tanpa harus menjelaskan apa pun. tanpa harus takut menjadi apapun. tempat mengindera semua yang sempat dipunguti dari perjalan yang baru saja lewat?
rumah sebagai kenangan.
rumah sebagai rahim.
rumah udara.
di perjalanan ini, masih kurasa entah; pada tiap yang kutemui..mungkin serupa fatamorgana di kaki langit gurun.
"home, where are u?, I feel so tired.."
Subscribe to:
Posts (Atom)