Saturday, May 10, 2008

beberapa puisi


Menemukan beberapa puisi lama yang sempat terselamatkan;beberapa pernah dimuat di media, beberapa lainnya diterbitkan bersama kumpulan penyair muda di Sulawesi Selatan, pernah diberikan ke gadis yang kutaksir, selebihnya mengendap di komputerku. Ini sekedar mneyimpannya ke tempat lain..sekedar melawan dari lupa.

Kunang Kunang Padam

ada yang memadamkan lampu, ketika aku sedang mabuk dan menghitung kunang-kunang yang mengitari bola mataku.
makassar, September 2000

***

Malam ini Malam Lebaran

malam ini, malam lebaran
gemuruh takbir sudah lama berhenti. tinggal bintang, lampu merkuri, dan angin dingin yang berjaga-jaga diluar.
senyap menari di tik-tak jam weker yang terburu-buru.

malam ini malam lebaran
dulu, setiap lebaran selalu mengulang rindu pada kenangan irama beduk.
tapi kali ini, malam fitri ini begitu mencemaskan;
kemarin ada bunyi nyaring yang membunuhi orang-orang di rumah-rumah suci.
dan tadi pagi ada lagi yang pergi –seperti lebaran yang lalu- dicabik-cabik sepi

esok hari yang suci, tapi kenapa aku semakin takut melihat pagi

kenapa malam kemenangan di negeri ini
seperti malam menjelang pelaksanaan hukuman ?
dan detik-detik terasa begitu keji mengiris hati.
kekasih, aku takut tidak sempat mengunjungimu esok pagi.
kutakut kalau-kalau ada yang membunuhi kita satu-satu; dengan tersenyum.

ibu, izinkan kucium tanganmu sebelum datang pagi.
aku takut esok pagi, aku juga dipilih dijemput damai –yang sakit-

ibu, kenapa di negeri ini, malam kemenangan seperti malam menjelang penggantungan.
dan waktu yang berhenti serasa mengoyak hati.

makassar, malam lebaran 1421 H

***


Tamu dari Tivi

1\:
dalam letih dan ekstasi ia tiba diantar malam yang renta.
dari kisi-kisi jendela itu ia meniti titik-titik warna bersama liputan berita paling terakhir
tentang sebuah perang sipil di dekat sahara.

setelah ia mengecup mata kita hati-hati, dirogohinya hati kita. lalu berbisik; “besok aku akan datang lagi. kalau kau berkenan, kubawakan lagi mimpi seperti hari ini.”
sebelum pergi, sempat ia mencemooh percakapan-percakapan sunyi kita: “tuhan hanya imaji, sejarah hanya kliping koran, cinta hanya puisi usang”

lihatlah sisa jejak di beranda yang menjauh ke utara. ia menggaris bawahi janjinya bersama kerinduan absurd kita.

2\:
hari ini ia akan datang lagi, diantar koran pagi atau penyiar tivi bersama kabar
yang entah mengutip air mata dari mana.

ia akan segera datang sebelum kita sempat berpikir untuk mengelak.
tak ada lagi ruang bagi kita untuk bercinta sekalipun itu tergesa-gesa.
tak ada tempat istirah bagi mata kita yang merah perih menahan kantuk
tak ada ruang untuk kenangan, tak ada harapan untuk masa depan. tak ada ruang untuk diam.

3\:
kali ini ia datang bersama sebaris cerita tentang genocide, sesekali ia tertawa sambil mengunyah hati kita. dan kita bertepuktangan tanpa sedikitpun cemas.

2001

***



"Kita Bermimpi, Nak"

Di setiap tidur kita bermimpi tentang nabi-nabi yang diantar Koran pagi.
Bersama sedikit resah tentang pernag etnis dan sebaris janji pada headline
Tiap tidur, kita juga mimpi tentang pantai dan hangat matahari
Juga rumah mungil dengan jeruji yang rapi

Sepotong mimpi yang rutin dan tak lagi asing, tak lebih dalam satu musim dalam sebingkai coretan dinding hitam putih yang seragam.

Dan mimpi itulah yang setia kita pugar
Di sepotong cagar,
Dalam tiktok jam yang harmonis
Juga teratur seperti makan pagi di bui

“tapi mimpi itu sebuah asa, nak”
“tapi mimpi itu juga potret sebuah represi, pak”
“kita bermimpi, nak. di negeri ini, itu mukjizat”

2001

***


Ayat-Ayat Hujan

langit kelabu; ada yang mengadu pada waktu.
“jarum-jarum hujan telah memerihkan luka yang sebenarnya tak pernah kering”
makanya kita lupa pada rindu uap tanah di hujan pertama.
seperti terhapusnya wangi rumput basah; yang serupa wangi dada ibu yang acap mengundang kita menelusup setiap petir mengilat.

hujan adalah risau pada sawah di tanah-tanah rendah.
hujan adalah resah di bukit-bukit tandus.
hujan adalah jelaga pada ingatan kita tentang waktu.

langit kelabu; ada yang memanjatkan doa entah pada siapa. menagih ayat-ayat yang pernah terbaca pada satu waktu yang juga entah.
“semoga hujan seperti di kitab suci; akan menumbuhkan buah-buahan dan airnya akan jadi minum bagi ternak kita”.

tapi bukankah kita sudah lama lupa bagaimana membaca ayat dan gelagat.

makassar 2002

***



Sajak Tahun Baru

tik..tik, dan tergesa kita membaca mantra penolak takdir buruk; teet...treet ..dhuar!
tapi siapa sebenarnya yang pertama mengajari kita mengisi malam dini dengan pekik terompet yang gaduh.

kita paham, luka yang hendak kita tinggalkan di lampau tidak akan pernah benar beranjak. itu adalah bentang durasi hari yang abadi.
lalu dalam pekik terompet, kita lemparkan ketakutan pada waktu; “seperti itukah sangkakala Israfil yang akan membunuh sang kala. juga durasi hari?”.

dan, seperti kemarin; kita masih setia mengirimkan mimpi lewat kembang api.
barangkali Tuhan melihat kita girang menembaki bintang sambil berharap horoskop hidup bisa berubah kalau ada bintang yang jatuh dan kita mengucapkan permohonan.

tapi ilusi itu seperti candu. seperti igau yang gagu.

tak ada yang pergi. hanya lembaran kalender yang habis kita sobek tanpa tahu persis berapa jumlah lembarannya. lagu rutin saban hari seperti jadwal besuk matahari.

tak ada yang pasti datang, selain sisa pendar kembang api yang usai menjelang pagi.
makassar 2002

***


Arafah

Terbacakah jejak sejarah di Arafah? Dipasirpasir, dibukitbukit batu, dan diangin gurun setelah berjuta-juta pasang jelejak kaki menelisik serangkai urutan perjalanan panjang; perjalanan menuju Sang Yang Mengatur kiblat dan arah angin.

Arafah; berjuta kaki, wajah, dan hati dalam satu reuni keluarga, sejak Rasul Adam dan ibu Hawa menegaskan perpisahan dalam buku hidup anak cucunya, seperti mereka yang terbuang dari firdaus.

Pada pasir, bukit batu, angin, dan matahari terbaca nama-Mu. Di alur nadi, air mata, lidah, dan hati kutahbiskan firman-Mu. Tapi terbacakah sejarah Arafah pada semua tanah yang menyebut nama-Mu.

(Ya..Rabbi, bolehkah kami menangis?)

Makassar, 2002

***


Almanak

1/
Lembar almanak sudah habis kita sobek. Segera kita meniup terompet dengan sedih tertahan. Ada luka yang coba kita semburkan dalam pekik parau itu; pada waktu, pada lampau, pada rindu yang jauh.

Tumpukan tiga ratus enam puluh lima kertas almanak lalu kita bakar bersama kembang api; mengirim masa lalu pada langit yang jenuh.
Dan rutin seperti awal tahun kemarin, kembali memasang kalender baru dengan rasa asing yang tak kita pahami, seperti gamangnya waktu datang yang abu-abu.

Menatap almanak seperti memandang pantulan wajah kita di cermin; wajah yang terus menetes habis dalam jam pasir.

2/
Kita yakin besok, masih akan ada bunyi weker yang setia membangunkan; agar kita segera mulai merobek almanak. Setiap pagi satu.
Merobeki lembar almanak seperti menguliti wajah kita sendiri; wajah yang terus menua setiap kita bercermin di pagi hari.

Dan harihari seperti surat cinta yang kita tulis dengan penuh gelegak rasa,
yang kita lupa bahwa kita sudah pernah menulisnya; kemarin dengan huruf dan rindu yang sama.

3/
Cintaku, kelak ketika kau berulang tahun, aku ingin mengirimimu selembar almanak;
agar kau tahu akan banyak yang kita sesali dari kefanaan ini. Disini, aku takut menjadi bahagia

(kau tahu gambar wajahmu kini mulai berwarna sephia)

Makassar, 2002

***


Repertoar kertas Kosong

ada kertas kosong yang terlupa di meja rapat.
setelah berhari-hari sebelumnya ada orang yang berbicara tentang banyak orang lain.
kertas itu tidak berisi catatan apapun, hanya kertas kosong yang tertinggal di meja rapat. sepi, dipeluk kayu mengkilat.

kertas itu tidak mengisahkan apapun,
selain; memang selalu ada yang luput
ketika kita berusaha merangkum kenangan,
bahwa selalu ada yang terjerat amnesia
dari begitu banyak lembar-lembar sejarah.

atau kita memang memilih lupa untuk menyembuhkan luka?
makassar, 2000-2002

***


Reportase dari lebanon

1/:ibu
di Lebanon, setiap ibu berkerudung hitam yang ditenun dari benang nestapa dan belasungkawa yang panjang. namun telah lama mereka berhenti mengusap air mata.
"sudah lama kami berhenti berkabung. sebab yang mati, tak bisa lagi kami hitung. sudah terlalu rutin. begitu sering".
dan setiap hari, kaki-kaki ibu yang pergi terus mencipta nyanyi dan baris-baris puisi diantara nisan, senapan, dan kawat duri.

2/:maut
di lorong-lorong kota, jika pun desing peluru, batu, dan asap berhenti, maut masih menanti. barangkali masih ada yang menuggu kematian bersama rindu yang mendegup-- dengan atau tanpa peluru.
tengah malam di lebanon, seperti deadline yang tergesa di ruang redaksi. malaikat maut begitu sibuk mengantri yang akan diantar ke haribaan Tuhan yang Maha Kasih

3/:ratap
"Tembok Ratapan belum boleh dipakai. harap simpan ratapan anda sampai tahun depan, kami mengambil cuti tahunan. kau tentu tahu, tahun ini, seperti yang lalu-lalu, sangat meletihkan" tertulis rapi-- menyender di tembok keramat yang juga dijaga serdadu- sebaris surat dari malaikat maut yang pergi.

4/:di Lebanon
di Lebanon, jika pun malam padam dan serdadu tak lagi terjaga, aku ingin menulis surat cinta buat semua yang masih mengenang tanah ini, tempat banyak nabi --dan orang biasa-- terbunuh. tapi kemarin, kudengar merpati pos mati tertembak di perbatasan. (doa pun, aku tak tahu, apakah akan sampai ke langit. kalau-kalau saja malaikat yang pulang tertembak di zona larangan terbang)
Makassar, Juni 2002

***


Di Satu Malam
--buat Bahri A. Iskandar dan Abdullah Sanusi--

1\
satu malam, menghitung pijar lampu jalan. ada yang tergesa menggaris udara dengan cahaya kuning. bergegas, membelah dingin malam sambil merapatkan pelukan.
malam seperti ini, kita sebenarnya tak ingin ada di kota. sebab bias kuning merkuri telah merampas terangnya sinar bintang. di kota, banyak sudah yang hilang tanpa pernah kita kenali apa. kita sering dilanda lupa. kita tak pernah ingat kapan mulai menenggak tuak, dan mabuk pada kali pertama.

satu malam, menyesap asap nikotin. ada yang diam-diam mengemasi botol anggurnya, takut kalau saja malam merampas mabuknya. katanya, selalu saja ada tentara dari tangsi sebelah yang menodongnya dengan senapang sambil mengecup gugup perempuan jalang dengan dada yang terus berdegup.

2\
kadang kita ingin jadi gelap. jadi latar. jadi yang tak dihitung, sebab, barangkali kemahaluasan langit tak akan mungkin selesai diindera. berkali-kali, meteor selalu luluh menempuh malam.
(dan aku telah luluh menempuh jalan menujumu. menjadi debu. menjadi sekadar serbuk dalam jalan itu)
"ada perempuan yang suka berbicara tentang surga", kataku.
mungkin ia tak baca koran pagi ini. surga sudah dijual dan tak ada tempat buat orang seperti kita. kita hanya peziarah yang tahu surga dari ingatan nenek moyang kita. mereka meramal surga dengan setumpuk kartu, sepertinya tak bisa keliru.

3\
ada ambulans membawa orang yang ditikam takdir. memekik, menjenguki kecemasan kita. dan begitu ia masuk ke rumah sakit negeri, orang itu katanya mati; ia pegawai negeri, tak bisa bayar anestesi. jadi dibiarkan saja ia meraung nyeri.
(di depan rumah sakit ada spanduk seminar tentang usaha pembebasan dari nyeri; free pain for all)
"kami tak bisa menghalangi malaikat maut. sebenarnya kami ingin menundanya, tapi kehidupan, barangkali memang harus dibeli; kau tentu tahu" ujar perawat, prihatin.
kita sudah tak boleh prihatin, kataku. apalagi di rumah sakit negeri.

4\
malam mulai diam, membiarkan kita mengecup luka hidup ini. dalam. anyir.
"tulislah tentang cinta!" katamu. tidak! aku jadi ingin menulis tentang mimpi buruk.
lalu berkemas pulang. menelan rindu dalam-dalam. "sungguh aku sulit melupakan pertemuan ini.
(tolong jangan pernah katakan pada perempuan itu; bahwa aku merindukannya. kau tahu aku menyukai matanya. toh, kalau itu keliru, mohonkanlah aku maafnya)

pintu dua, makassar 2002

***


bah di meulaboh
seperti kan’an yang ditelan bah.
kutuk bagi penduduk negeri setelah menampik tuhan nuh, menolak sembah.
dan mencemooh bahtera di puncak bukit yang menyiapkan sauh;

ini meulaboh.
kota kecil di tepi pantai yang terendam penuh.
oleh bah yang tiba tergesa pagi-pagi lalu kembali setelah jenuh,
melandai pada kaki bukit terjauh.

aku tak tahu apakah negeri di sisi barat ini, juga menampik nuh
tapi sungguh, tak ada lelaki yang bersibuk di bukit, siap berlabuh
dan menawari kami bahtera dan iman nuh.

hanya izinkan kami istirah pada kakimu.
lelap pada lumpurmu. pada jejakmu.

(mungkin memang moyang kami putra nuh yang ingkar, lalu kami terus memanggul tulahnya)

2005

***


sebuah sarapan

: fragmen satu babak di meulaboh

ibu:
sepotong kue dan perbincangan yang tak pernah cemas.
meski di gunung, paman-kemenakanmu terus berseteru dengan tentara untuk tanah yang lebih baru. hanya haru-biru menjelang tidur, katamu.
“ibu, ini kota yang diberkati. dengan syair memuji tuhan dan tari seudati,” katamu.
nak, kopimu bahkan belum tandas.
setiap pagi --selalu hanya sisa ampas, kukira engkau selalu gegas.


anak:
kota ini bahkan belum gegas. selalu ramah, ibu.
senyum-bersendawa dengan bau pantai dan harum ganggang.
lihat dekat muara, nelayan tiba dengan senyum terkembang.
ibu ingin membuat ikan-pindang?
jalan belum bising. pagi masih terbilang. jam belum sembilan.

(ombak datang mengetuk pintu. dengan bau pantai dan harum ganggang)

pagi, sebelum jam dinding beku.
di pesisir yang baru terjaga.
2005

***


Rumah

cerita itu bermula dari serangkum peluk hangat setiap kita pulang. juga sekembang senyum dari keluarga yang menunggu rindu.
tapi ranah itu lebih dari segugus serat yang menjaga sepotong metamorfosa. lebih dari sekedar sesusun kenangan.
rumah tak hanya berisi nafas, keringat, dan air mata.

dari yang terusir; yang hilang bukan hanya setumpuk album foto. atau seikat buku harian. makanya airmata tidak akan pernah cukup jernih mencuci luka. juga tak akan bisa mengajari lupa. barangkali hanya matahari pagi yang berkenan bersaksi untuk pagi yang lebih damai.

***


Tamalanrea

Katamu; Disini seperti negeri ajaib, dan kita alice yang riang bersenandung mencari kejutan di tiap kemungkinan yang kita temui.
Kita peter pan yang terus bermain, kanak-kanak yang terus tertawa,
tanpa takut harus menjadi dewasa dan tak bahagia.
disinilah, tempat dimana waktu hanya berarti hari yang terus berjalan
tapi tak ada yang beranjak tua.

Ini tamalanrea. Tempat mimpi seperti abadi.

Makassar 2008

Monday, March 31, 2008

senja, burung layang, dan pulang


dari jendela maharaja, mampang, 30032008
hari sudah hampir selesai. langit kemerahan sudah mulai kelabu. dari jendela, kulihat sehimpun burung layang terbangberputar-putar mengitari liang sarang mereka, mencari jejak tempat mereka mula. mencari tempat mereka ingin mendekam melewati malam. berputar lalu satu-satu bersembunyi. gedung-gedung di kejauhan mulai menjelma siluet. sebagian dihiasi lampu satu-satu. di bawah, jajaran rumah yang sesak seperti padang kunang-kunang. (kendaraan di bawah, melintas. tergesa.)

aku teringat pasarcidu. di atas rumahku, sore yang serupa, burung layang yang terbang dengan pola yang hampir sama. mengitari jejak mereka tadi pagi, untuk kembali. burung layang, yang pulang setiap senja itu, selalu menjelaskan padaku tentang pulang. kembali, pada tepi. titik kembali dari siklus yang terus berputar. semacam jeda.

cuma senja rasanya disana masih menyimpan langit ungu kemerahan. setiap tempat, memang punya langitnya masing-masing. lansekap yang serasa hampir lengkap menjelaskan padaku tentang pulang.

::

senja jatuh. kuning menyepuh pepohonan beton kota yang menjulang. burung layang terbang berputar melintasi udara kelabu. setelah sekian himpun jarak, inilah batasnya jauh. baginya inilah tepi. kembali pada serentang sarang yang merengkuh-lindungi.

juga setelah semua titik yang sempat kurangkai, padamu aku ingin kembali. tapi tanganmu yang mengulur, itukah rentangan yang akan meredam semua luka dan bilur ini?

300308

Friday, March 28, 2008

suatu malam

::seusai menyusuri sudut-sudut kota


suatu malam, setelah sekian malam lainnya menyusuri jalan ibukota; terkadang terbit juga rasa takjub melihat kota yang sementara terlelap. lampu jalan yang masih benderang, kuning seperti kekunang yang berbaris takzim menunggu datangnya pagi, sebelum mereka padam, lalu hilang dalam terik siang. juga gedung-gedung beton yang tegak seperti raksasa yang termangu menunggu. dan jalan yang lengang-lapang. aspal yang basah setelah dibasuh hujan. pohon-pohon yang menunduk.

terakhir aku bertanya, inikah kota yang sama? yang terlihat demikian menyesakkan saat siang meraja? kemana semua pergi? (di beberapa titik jalan tertentu, hanya ada perempuan yang menunggu mereka yang hendak melepas sepinya dengan pergumulan-pergumulan yang sebentar. juga mereka yang melintas menempuh jarak).

tapi malam di kota ini --sebagaimana semua lansekap yang diterangi merkuri, tetap tak tersedia sebutir pun bintang. di langit, kita tak bisa mengindera legam malam yang seperti telaga yang demikian dalam. juga tak bisa menunggu meteor yang luluh melintasi rentangan langit malam, mencipta gegaris "bintang jatuh", dan sesekali membuat permohonan. sesuatu yang--kita tahu tak masuk akal, tapi rasanya melegakan.

itulah mengapa aku, pada akhirnya aku tak bisa betul-betul menyukai kota.

Wednesday, February 27, 2008

lagi, kurusetra universitas hasanuddin


mahasiswa universitas hasanuddin tawuran lagi. kira-kira selama sejam. beberapa mahasiswa kena timpuk. tempatnya di area terbuka antara fakultas ilmu alam dan ilmu sosial. ratusan generasi penerus bangsa ini, saling menukar lemparan batu. sebagian mengacungkan tangan; menghina. kawasan yang kuanggap identik dengan kurusetra dalam lakon mahabharata. kurusetra mementaskan lakon pandawa-kurawa. serumpun keluarga yang berbunuhan hingga rusak-musnah hanya karena soal sepele. ah, kalau saja kita sadar, betapa kebanggaan seperti itu betap semu, betapa nisbi... ah, kalau saja

Saturday, February 23, 2008

"nenek, telah setahun"



setahun yang lalu, nenek berpulang. sekedar mengingat betapa ia membenci kalau aku mulai memanjangkan rambut atau ketahuan menghisap batangan tembakau.

untuk urusan rambut, menurutnya rambut yang terbaik adalah yang pendek-cepak,potongan ala militer. mungkin ia menyaksikan bagaimana BKR (badan keamanan rakyat) atau Tentara Keamanan Rakyat atau mungkin ABRI (angkatan bersenjata republik indonesia) di masa awal indonesia baru merdeka --berjalan memasuki kampung demikian gagah. tentara-tentara negara masuk menumpasi pergerakan DI-TII atau di kampung ku disebut "gerombolang". ia mungkin berpikir, dengan cepak, cucunya akan terlihat gagah. dulu, aku sering dibawanya untuk bercukur pada tukang cukur langganan kakek yang membuka tempat cukur di atas kanal besar yang melewati pasar cidu.

soal tembakau, menurutnya akan lebih bagus kalau uang untuk membeli tembakau itu kubelikan kue atau sesuatu yang mengenyangkan lainnya. pun jika aku merokok karena telah punya uang untuk membeli tembakau, akan lebih baik kalau uang itu kuberikan padanya --meski aku tahu, ia tak lagi betul-betul memerlukan uang. ia tak tahu tentang beraneka jenis kanker yang menumpang di tar dan nikotin yang setiap hari kuhisap itu.

telah setahun, masih kuingat bagaimana di hari itu, sebelum ia berpulang, ia kubangunkan dari pembaringannya agar bisa memakan bubur instan yang telah disiapkan untuknya. beberapa waktu sebelum ia benar-benar sakit; lupa telah menyergap ingatannya lebih dulu. ia tak lagi ingat siapa aku sebenarnya. meski ia tahu aku adalah kerabatnya, namun baginya aku adalah orang yang datang dari kampung halaman kami. setiap aku menjenguknya, ia selalu memintaku agar bermalam; dengan pandangan aku sebagai orang yang jauh.

dari situ semuanya berjalan, hingga tepat setahun yang lalu, ia akhirnya berpulang. kembali pada Yang meniupkan Roh padanya.

banyak yang masih lekat tentangnya, semua masih berdiam di benakku. mungkin hingga kelak, lupa juga menyergap. mencacah ingatanku ini. sebagaimana lupa akan selalu mengintai dan mencabik-cabik ingatan-ingatan kita. kelak, kepadamu semua, aku selalu memohon maafmu, kalau saja aku mulai melupakanmu.

("nek, kini aku mulai memanjangkan rambut dan terus saja menghisap berbatang-batang rokok setiap hari")

Thursday, February 14, 2008

kelapangan hati


aku belajar tentang kelapangan hati, di suatu hari di patallassang, gowa, sulawesi selatan. namanya daeng ngewa. katanya;"sampaikan pada anakku, agar ia tak perlu bersedih. kita tak boleh menangis untuk yang seperti ini". kata yang satunya, dia dipanggil daeng nyarang, "kita memang tak pantas menangis untuk hal seperti ini". dengan matanya yang mulai kelabu melewati usia, mereka hanya memandang dari jauh juru sita pengadilan yang membongkar rumah dan menebangi pepohonan di bidang ladangnya. ia telah tinggal di petak tanah itu sejak 37 tahun lalu. rumah itu, satu-satunya tempat ia bernaung.

hujan turun deras. airnya tempias.

namun oleh kerabatnya sendiri ia digugat, dan pengadilan hingga mahkamah agung, menyatakan kalau ia tak lagi berhak atas tanah beserta segala isinya. dan oleh itu, maka sepasukan juru sita pengadilan negeri gowa, sulawesi selatan dan dijaga ketat aparat bersenjata, pun harus juga mengosongkan tanah yang tak lagi miliknya.

ia hanya duduk di bawah rumah warga, bersama beberapa orang warga lainnya, memandangi orang-orang yang tak dikenalnya sama sekali, mengangkuti bantal, piring-piring, pakaian, juga sisa lauk ikan asin pallu cella --sepertinya sisa makanan terakhirnya di rumahnya itu.

dengan dilapisi kantong plastik lecek, ia masih mengantongi dokumen tanah yang pajaknya ia bayar setiap tahunnya. juga sisa amplop balasan berstempel dari mahkamah agung bertahun 1996 (kita bisa saja menduga, di mahkamah sesibuk itu, siapa yang betul-betul peduli pada lelaki tua yang kehilangan hak, hanya oleh orang yang bahkan hampir tak pernah menjejakkan kaki di kampung itu).

ia tahu, ia merasa dizalimi, bahkan oleh kerabat dekatnya sendiri. diusir bahkan saat ia sementara menjalani sisa-sisa usianya hanya bersama satu-satunya cucunya. tapi, ia memilih berkata;"kita tak boleh menangis hanya karena itu," katanya. pun jika terusir dari rumah, tak boleh kita tangisi, lalu apa yang pantas kita tangisi, daeng ngewa? seberapa banyak kerelaan di ruang hati yang kau punya, hingga untuk setitik tangispun, tak kau beri tempat?

Tuesday, January 29, 2008

soeharto dan spongebob



pagi. pasarcidu baru mulai menggeliat. orang belum ramai lalu lalang. hanya beberapa pedagang yang baru menyiapkan dagangan mereka. sebagian terlihat hati-hati membuka bungkusan dagangan yang mereka kemasi setiap pasar usai. seperti membuka benda yang rapuh. seperti membuka harapan yang retas.

terbangun lebih cepat dan tidak bisa lagi tidur pagi seperti biasanya, maka kunyalakanlah televisi. berharap ada yang menarik yang disajikan kotak ajaib itu pagi ini. aku berharap ada cerita yang menarik pagi ini --sekedar menemaniku minum kopi hitam dan merokok. namun meski sudah hari kedua berselang, kotak ajaib itu tampaknya hanya menyediakan menu yang itu-itu juga; pemakaman suharto --orang yang pernah paling berkuasa di indonesia. semua tampak dengan hanya sedikit variasi. ada presiden susilo bambang yudhoyono yang membacakan pidato pelepasan jenazah yang sebentar lagi ditimbun tanah. ada yang bercerita tentang masa lalu yang gilang gemilang di bidang pertanian. ada yang bercerita tentag seorang pencopet yang kedapatan hendak mengais rezeki di pemakaman suharto di astana giribangun. ada yang bercerita tentang keputusan suharto yang memutuskan mantan presiden sukarno--pendahulunya dan juga pendiri bangsa ini, agar dimakamkan di blitar, jawa timur. dan bukan di istana batutulis, bogor, sebagaimana yang diwasiatkan. dan banyak lagi.. sebagian besar sepertinya sementara menegaskan kalau mereka masih setia pada bapak pembangunan ini. sebagian bahkan mengiringi dengan lagu-lagu heroik. salah satu kanal bahkan seperti mencoba memaksakan kalau "pak harto" adalah pahlawan yang harus
dipuji -agar kita tak lupa padanya dibandingkan superman ataupun batman.

aku seperti disergap jenuh. aku mengganti-ganti kanal dan kutemukan menu yang menurutku lebih menarik;spongebob and squarepants. dan aku seperti hanyut melihat film kartun dengan tokoh berwarna kuning ini (seperti warna dominan partai golkar, partai dominan di masa daripada pak harto berkuasa --namun ini tak membosankan rasanya) semuanya mengalir hingga film kartun ini selesai --musik penutup film kartun ini bahkan sempat membuatku turut bersenandung mengikuti irama yang kupikir seperti melodi petikan gitar.

aku bukan apolitis. juga sinis tentang negeri tercinta ini. bukan juga mencoba abai pada apa yang hangat di republik ini. namun gempuran berita sepagi ini rasanya membuatku sedikit muak. apalagi tentang itu-itu saja.

selamat pagi pasarcidu. selamat pagi indonesia.

Friday, January 25, 2008

ia akan datang

ia mengabari kalau ia akan datang lagi. aku tak tahu; apa aku harus berbicara tentang rindu yang telah kuperam, sejak ia memutuskan pergi. tapi seperti burung-burung layang yang berpindah saat musim dingin menuju daratan yang lebih hangat, suatu waktu akan kembali terbang kembali ke daratan ia berasal...aku tahu, ia suatu waktu pasti akan kembali ke tempat ia berasal; ke kehidupannya yang tentram dan nyaman. lalu hidup kembali seperti biasa. berputar.

satu hujan dan pak tua peramal


sebuah malam. terjebak hujan. aku ku menepi mencoba berteduh pada sepotong atap kios yang berdiri di dekat rerimbunan pohon. hujan terus turun. lelaki tua yang sudah duduk duluan di sampingku membuka percakapan; perkenalan biasa mulanya. ia berasal dari salah satu kabupaten di bagian selatan propinsi ini. ia datang ke makassar, dan menawari jasa membantu orang yang kesulitan dengan hubungan dan keturunan. setiap malam, ia menumpang tidur di stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tertutup.

aku membakar rokok. menawarinya, ia berterimakasih untuk rokok, yang menurutnya baik di cuaca sedingin hujan malam itu.

ia sempat menceritakan bagaimana kedua kakinya terputus dihajar granat. juga tangan kirinya yang kini kesulitan mengenakan jam tangan. "aku dulu pejuang," tegasnya. meski dengan pelan --tapi serasa juga dengan sepotong harap, ia masih sementara mengurus uang tunjangannya sebagai veteran pejuang. kini tahun ke-tujuh sudah ia mengurusnya, dan dengan sisa senyumnya; ia masih yakin akan memperolehnya dalam waktu dekat ini. namanya "maling" atau daeng maling (ia sempat menjelaskan, alau nama itu di jawa berarti pencuri --dan aku hanya mengangguk)

di luar masih hujan. tempiasnya mulai mengenaiku. aku kembali membakar rokok. menawarinya sebatang lagi, ia hanya menyimpannya dalam tas; "sebentar baru kubakar, menjelang tidur," katanya.

ia percaya kalau bisa meramal sepotong kehidupan seseorang dari hanya melihat matanya. ia percaya saya akan memiliki cukup baik kehidupan. saya hanya tersenyum. ia sempat meramal orang yang juga berteduh bersamaku, kalau hubungannya dengan 2 istrinya tak berjalan cukup baik. orang itu mengaku kalau ramalan itu tepat. lalu mereka terus berbincang. sesekali aku tersenyum mendengar mereka berbincang. sempat ia menduga jejak tangan lelaki yang sudah cukup berumur itu.

[kalau saja tampakannya seperti tukang nujum gypsi yang berwajah dingin dan bola kristal,mungkin aku tak terkejut] lalu ia menunjukku; "dari matamu, kulihat kalau kau mata keranjang. kau banyak kekasih,"... hmmm, aku hanya tertawa. bagaimana mungkin? aku lalu pergi menembus hujan yang masih cukup deras. "mata keranjang?," batinku. ah, ada-ada saja...kalau saja iya, tak perlu aku tersiksa kenangan, seperti biasa jika turun hujan. ada-ada saja pak tua itu.

Saturday, January 05, 2008

lorojonggrang


seringkali kubayangkan ia sebagai lorojonggrang. perempuan di masa dinasti syailendra yang meminta dibangunkan candi sebelum disunting sang pangeran. seribu buah candi harus selesai sebelum fajar tiba. ia sebenarnya tak ingin bersama sang pangeran, namun tak mampu menampik maksud sang pangeran, maka ia pun menyusun muslihat agar candi sang pangeran tetap tak lengkap. mitos ini melekat pada candi prambanan yang juga disebut sebagai candi lorojonggrang.

kubayangkan ia sebagai lorojonggrang, namun aku tentu saja tak bisa membayangkan diri sebagai pangeran yang bisa memerintah sepasukan jin ifrit untuk membantuku mencapai maksudku. aku hanya pejalan yang fakir, yang meniti jalanku sendiri. mungkin kelak, pada akhirnya aku memang harus berdamai dengan kesunyian takdirku..

Friday, November 30, 2007

naga

aku membayangkan dia sebagai naga. yang meski ia tak ada, orang menyebut namanya dengan suara yang bergetar gentar. atau ia godfather yang setiap begundal kroco dan orang awam menyebut namanya dengan berbisik takut. ah, terbuat dari apakah ketakutan; hingga bisa demikian kental mengapung di udara dan memenuhi rongga dada?

keramahtamahan


aku ingin bercerita tentang keramahtamahan yang mugkin saja tersisa sedikit sekali di pelosok negeri ini. di satu tengah malam, di kampung tufure, ternate, maluku utara, saat mendengar sayup-sayup suara irama tabuhan gendang dan gesekan alat musik, aku dan teman-teman yang sedang menikmati angin dingin ternate di salah satu dataran tinggi, pun bergegas mencarinya. musik yang diantar angin itu disebut sebagai gala, dengan iringan 4 gendang, dan sebuah fiol (fungsinya seperti biola yang digesek), biasanya ada seruling, tapi malam itu tak ada.
saat itu pentas ditanggap di teras rumah salah seorang penduduk yang sedang menyelenggarakan kenduri untuk anak lelakinya yang akan menikah. seperti lazimnya kenduri di kota yang dikelilingi pantai ini, pentas itu akan berlangsung hingga pagi, tanpa sedikitpun musik boleh berhenti. dan seharusnya semua warga berganti-ganti turut menari sebagai tanda gembira. kami tiba di teras rumah tersebut.
warga pun memanggil kita masuk. kami duduk dan tersenyum riang melihat mereka bersemangat menggebuk gendang dan seorang lainnya menggesek fiol. ada dua orang yang sedang menari berganti-ganti. menari ini disebut "baronggeng"-- mungkin merunut pada sebutan tarian "ronggeng", entahlah. meski mereka semua memegang peran yang berbeda, satu yang sama, sebagian darah mereka sudah diguyur "cap tikus" minuman keras setempat berwarna bening. tuan rumah yang tak mengenal kami, dan sepertinya menduga kami adalah polisi yang menyambangi untuk memeriksa keamanan, mengambil kursi dan tak lama kemudian belasan gelas teh beraroma kayu manis dan pala serta potongan roti tawar dijamu kepada kami..
tak lama kemudian, kamipun turut berjoget atau baronggeng dengan riang bersama mereka..di antaranya ada nenek-nenek yang tak henti mengunyah sirih, juga pak tua yang memakai baju kemeja lengan panjang yang mungkin adalah pakaian terbaiknya, sebab ini kenduri dan semua wajib dengan kostum terbaik mereka...selebihnya adalah anak muda yang rambut depannya hampir membentuk huruf "s"--yang mungkin meniru model rambut "superman". wangi teh rempah kayu manis,asap rokok, udara dingin dan uap "cap tikus" mengambang disela tarian kami.
kami menari, meski mulanya gugup, namun tak lama semua mengalir...kegembiraan seperti memenuhi dadaku. ah keramahtamahan yang tetap membuatku terpesona, sesuatu yang telah mulai hilang dari negeri ini. rasanya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. semoga masih mengizinkan kita semua bertemu dengan keramahatamahan lainnya di negeri ini.

Saturday, November 17, 2007

pulang


betapa ingin aku pulang sejenak. membiarkan semua hiruk pikuk dan kerumunan itu. melepaskan pandangku pada dunia yang riuh. menepi dari terang cahaya yang menyilaukan itu. sebentar saja, lalu aku datang lagi.
ah, kalau saja aku tahu kemana harus pulang.

kenduri pun usai


seperti kenduri, pemilihan kepala daerah atau gubernur sulawesi selatan akhirnya selesai. setelah berbulan-bulan para peserta beserta sepasukan legiun andalan dan semua sumberdaya yang mereka miliki berusaha membujuk, meyakinkan, bahkan membeli kepercayaan orang-orang sulawesi selatan agar menunjuk mereka sebagai pengurus wilayah yang terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur dan Luas wilayahnya 62.482,54 km² ini. mungkin saja itu menarik, sebab menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan), hingga Juni 2006, ada warga sebanyak 7.520.204 jiwa yang akan mematuhi mereka sebagai paduka raja..
namun setelah sekian lama, pesta pun selesai, dan hanya ada sepsang dari 3 pasang yang berusaha naik ke tahta tertinggi. dan 2 lainnya tentu saja harus maklum bahwa kenduri ini telah usai, dan sudah waktunya mereka kembali ke kehidupan mereka yang biasa. kembali menjadi warga yang baik dan taat, tentu saja.


tapi tentu saja, selalu ada yang lain. seperti di masa kanak-kanak dulu, kadang kita tak betul rela jika kalah main kelereng atau berebut layangan putus. kita mungkin saja berusaha merebut kembali kelereng kita. atau yang paling buruk, merobek layangan yang sudah tergenggam di tangan teman kecil kita..

dan hampir serupa rasanya, setiap hari, ada saja gerombolan massa dengan suara yang memekakkan datang memprotes, karena merasa dicurangi oleh wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak. mungkin saja ada yang keliru, atau curang tapi aku selalu merasa tak ada yang tak curang dalam permainan ini. dalam politik, kemenangan adalah muara semua yang telah diusahakan --dengan cara apapun. serupa dalam perang, adakah cara yang layak atau tak layak selain memenangkan pertempuran-demi-pertempuran hingga perang selesai.

selesai, dan, seperti kata kawanku, tak ada kehormatan bagi yang kalah. seperti sejarah, ingatan hanya bagi pemenang. yang kalah, suka atau tidak, akan segera dilupakan. speperti mengejar debu, kita tak pernah betul-betul tahu apa yang kita kejar akan kita genggam. betap semua demikian nisbi. politic is the art of possibilities.

aku tak tahu, akan kemana semua ini. aku hanya di sini, menunggu hingga debu yang mengepul ke udara, yang disebabkan hiruk-pikuk kenduri demokrasi ini berhenti. aku hanya berharap semua kembali mengendap dan irama hidup kembali seperti lazimnya hari-hari. hingga jenuh. hingga meledak lalu kembali berputar dalam siklus demi siklus...

Friday, October 12, 2007

Selamat Lebaran


Selamat Lebaran..
Hari terus saja berganti, tak terasa kita tiba (lagi) di Hari ini. Mungkin kemarin-kemarin ada saja salah kata, laku atau hal yang tak berkenan di hati Tuan-tuan dan Puan-puan; karenanya Hamba yang alpa ini mohon dimaafkan...

Ramadhan kali ini berlalu, semoga kelak kita masih bisa berjumpa Ramadhan lagi..

Salam
-AKS-

Wednesday, October 03, 2007

::

-dfs
entah bagaimana menjelaskan semua ini. aku juga mulai ragu apakah ini rindu atau dendam?

mall baru



Dan tempat yang banyak dinanti orang--terutama pembelanja, itupun dubuka. tegak kokoh, berdiri dengan kubah dan hiasan beratus lampu seperti istana para sultan dari negeri dongeng. benderang gemerlap, dengan pintu yang membuka lebar menanti. ruang sejuk di dalamnya menunggu setiap pejalan yang singgah.

sejak dibuka, dengan takzim beratus orang berbaris rapi --mungkin dipenuhi rasa takjub dan decak kagum, memadati tempat itu. berjam-jam hingga tempat itu tutup tak putus-putusnya orang datang dan keluar sambil membawa beragam kantoing belanjaan...namun banyak juga yang keluar berjalan kaki tanpa membawa sepotong pun belanjaan. setelah puas melihat-lihat semua selasar dan etalase yang memajang mimpi mereka, mereka mungkin kembali berjalan kaki pada kehidupan mereka yang rutin dan biasa.

mall ataupun pusat perbelanjaan serupa itu, kadang kubayangkan sebagai oase bagi para pembelanja. sebagai sumber air di tengah gurun yang dinaungi pohon pohon kurma yang teduh, tempat para musafir yang melintasi gurun singgah untuk beristirah menghilangkan dahaga dan kemudian mengambil air secukupnya untuk bekal perjalanan melintasi panasnya gurun.

bagi kota yang nyaris tak memiliki tempat publik yang cukup representatif bagi warganya, maka mall lah tempat mereka bertemu, duduk-duku sejenak, berjalan-jalan dan melihat-lihat "wajah kota" yang sudah berdandan dan tampak cemerlang. disinilah warga yang letih melintasi kota yang kerontang untuk singgah mengais keteduhan sejenak sebelum kembali ke wajah kota yang sesungguhnya. sekedar mengobati mata yang jenuh. sekedar melegakan hati yang penuh. meski mereka tahu, itu jauh dari wajah kota yang mereka temui sehari-hari, setidaknya mereka melihat apa yang selama ini ingin mereka lihat; kita memang tak selalu harus melihat kenyataan kan?

tiba-tiba aku teringat gambaran tentang kapal alien di filem. kapal besar berlampu gemerlap yang singgah di sebuah padang yang senyap. lalu setelah awaknya berhasil membujuk para mahluk bumi, ratusan warga bumi kemudian berbaris diam dan teratur untuk masuk untuk menjalani cuci otak, lalu keluar lagi dengan rupa yang aneh dan ajaib...

Tuesday, September 18, 2007

selamat puasa


meski waktunya sudah tak tepat lagi; cuma mau mengucapkan selamat berpuasa. semoga bisa mengekang laku dan ucap kita yang mungkin saja sering tak terkendali. maafkan patik juga untuk hal-hal yang tak berkenan..

tabik

Sunday, August 05, 2007

sedikit de javu

menemukan tulisan-tulisan lama yang sempat tersimpan di komputer; seperti menemukan kembali ingatan yang terasa lain. seperti deja vu; tapi menemukan diri yang --juga terasa lain di waktu lampau. terasa agak sulit mengingat bagaimana semua tulisan itu kulahirkan. terasa agak sulit menelisiknya kembali. seperti menyusun kembali serpihan wajahku sendiri. meski berhasil mengingatnya, selalu saja ada yang terasa hilang; selaluada yang terasa tak terpasang dengan benar di tempatnya. tetap serasa ada yangtak lengkap.

maafkan ingatan manusia ini. maafkan mahluk yang alpa ini..