"sebuah tempat sebagai tepi dari semuanya. sebuah tempat pulang, menemukan diriku sendiri yang kutinggalkan.."
Friday, January 25, 2008
ia akan datang
ia mengabari kalau ia akan datang lagi. aku tak tahu; apa aku harus berbicara tentang rindu yang telah kuperam, sejak ia memutuskan pergi. tapi seperti burung-burung layang yang berpindah saat musim dingin menuju daratan yang lebih hangat, suatu waktu akan kembali terbang kembali ke daratan ia berasal...aku tahu, ia suatu waktu pasti akan kembali ke tempat ia berasal; ke kehidupannya yang tentram dan nyaman. lalu hidup kembali seperti biasa. berputar.
satu hujan dan pak tua peramal

sebuah malam. terjebak hujan. aku ku menepi mencoba berteduh pada sepotong atap kios yang berdiri di dekat rerimbunan pohon. hujan terus turun. lelaki tua yang sudah duduk duluan di sampingku membuka percakapan; perkenalan biasa mulanya. ia berasal dari salah satu kabupaten di bagian selatan propinsi ini. ia datang ke makassar, dan menawari jasa membantu orang yang kesulitan dengan hubungan dan keturunan. setiap malam, ia menumpang tidur di stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tertutup.
aku membakar rokok. menawarinya, ia berterimakasih untuk rokok, yang menurutnya baik di cuaca sedingin hujan malam itu.
ia sempat menceritakan bagaimana kedua kakinya terputus dihajar granat. juga tangan kirinya yang kini kesulitan mengenakan jam tangan. "aku dulu pejuang," tegasnya. meski dengan pelan --tapi serasa juga dengan sepotong harap, ia masih sementara mengurus uang tunjangannya sebagai veteran pejuang. kini tahun ke-tujuh sudah ia mengurusnya, dan dengan sisa senyumnya; ia masih yakin akan memperolehnya dalam waktu dekat ini. namanya "maling" atau daeng maling (ia sempat menjelaskan, alau nama itu di jawa berarti pencuri --dan aku hanya mengangguk)
di luar masih hujan. tempiasnya mulai mengenaiku. aku kembali membakar rokok. menawarinya sebatang lagi, ia hanya menyimpannya dalam tas; "sebentar baru kubakar, menjelang tidur," katanya.
ia percaya kalau bisa meramal sepotong kehidupan seseorang dari hanya melihat matanya. ia percaya saya akan memiliki cukup baik kehidupan. saya hanya tersenyum. ia sempat meramal orang yang juga berteduh bersamaku, kalau hubungannya dengan 2 istrinya tak berjalan cukup baik. orang itu mengaku kalau ramalan itu tepat. lalu mereka terus berbincang. sesekali aku tersenyum mendengar mereka berbincang. sempat ia menduga jejak tangan lelaki yang sudah cukup berumur itu.
[kalau saja tampakannya seperti tukang nujum gypsi yang berwajah dingin dan bola kristal,mungkin aku tak terkejut] lalu ia menunjukku; "dari matamu, kulihat kalau kau mata keranjang. kau banyak kekasih,"... hmmm, aku hanya tertawa. bagaimana mungkin? aku lalu pergi menembus hujan yang masih cukup deras. "mata keranjang?," batinku. ah, ada-ada saja...kalau saja iya, tak perlu aku tersiksa kenangan, seperti biasa jika turun hujan. ada-ada saja pak tua itu.
Saturday, January 05, 2008
lorojonggrang

seringkali kubayangkan ia sebagai lorojonggrang. perempuan di masa dinasti syailendra yang meminta dibangunkan candi sebelum disunting sang pangeran. seribu buah candi harus selesai sebelum fajar tiba. ia sebenarnya tak ingin bersama sang pangeran, namun tak mampu menampik maksud sang pangeran, maka ia pun menyusun muslihat agar candi sang pangeran tetap tak lengkap. mitos ini melekat pada candi prambanan yang juga disebut sebagai candi lorojonggrang.
kubayangkan ia sebagai lorojonggrang, namun aku tentu saja tak bisa membayangkan diri sebagai pangeran yang bisa memerintah sepasukan jin ifrit untuk membantuku mencapai maksudku. aku hanya pejalan yang fakir, yang meniti jalanku sendiri. mungkin kelak, pada akhirnya aku memang harus berdamai dengan kesunyian takdirku..
Friday, November 30, 2007
naga
aku membayangkan dia sebagai naga. yang meski ia tak ada, orang menyebut namanya dengan suara yang bergetar gentar. atau ia godfather yang setiap begundal kroco dan orang awam menyebut namanya dengan berbisik takut. ah, terbuat dari apakah ketakutan; hingga bisa demikian kental mengapung di udara dan memenuhi rongga dada?
keramahtamahan

aku ingin bercerita tentang keramahtamahan yang mugkin saja tersisa sedikit sekali di pelosok negeri ini. di satu tengah malam, di kampung tufure, ternate, maluku utara, saat mendengar sayup-sayup suara irama tabuhan gendang dan gesekan alat musik, aku dan teman-teman yang sedang menikmati angin dingin ternate di salah satu dataran tinggi, pun bergegas mencarinya. musik yang diantar angin itu disebut sebagai gala, dengan iringan 4 gendang, dan sebuah fiol (fungsinya seperti biola yang digesek), biasanya ada seruling, tapi malam itu tak ada.
saat itu pentas ditanggap di teras rumah salah seorang penduduk yang sedang menyelenggarakan kenduri untuk anak lelakinya yang akan menikah. seperti lazimnya kenduri di kota yang dikelilingi pantai ini, pentas itu akan berlangsung hingga pagi, tanpa sedikitpun musik boleh berhenti. dan seharusnya semua warga berganti-ganti turut menari sebagai tanda gembira. kami tiba di teras rumah tersebut.
warga pun memanggil kita masuk. kami duduk dan tersenyum riang melihat mereka bersemangat menggebuk gendang dan seorang lainnya menggesek fiol. ada dua orang yang sedang menari berganti-ganti. menari ini disebut "baronggeng"-- mungkin merunut pada sebutan tarian "ronggeng", entahlah. meski mereka semua memegang peran yang berbeda, satu yang sama, sebagian darah mereka sudah diguyur "cap tikus" minuman keras setempat berwarna bening. tuan rumah yang tak mengenal kami, dan sepertinya menduga kami adalah polisi yang menyambangi untuk memeriksa keamanan, mengambil kursi dan tak lama kemudian belasan gelas teh beraroma kayu manis dan pala serta potongan roti tawar dijamu kepada kami..
tak lama kemudian, kamipun turut berjoget atau baronggeng dengan riang bersama mereka..di antaranya ada nenek-nenek yang tak henti mengunyah sirih, juga pak tua yang memakai baju kemeja lengan panjang yang mungkin adalah pakaian terbaiknya, sebab ini kenduri dan semua wajib dengan kostum terbaik mereka...selebihnya adalah anak muda yang rambut depannya hampir membentuk huruf "s"--yang mungkin meniru model rambut "superman". wangi teh rempah kayu manis,asap rokok, udara dingin dan uap "cap tikus" mengambang disela tarian kami.
kami menari, meski mulanya gugup, namun tak lama semua mengalir...kegembiraan seperti memenuhi dadaku. ah keramahtamahan yang tetap membuatku terpesona, sesuatu yang telah mulai hilang dari negeri ini. rasanya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. semoga masih mengizinkan kita semua bertemu dengan keramahatamahan lainnya di negeri ini.
Saturday, November 17, 2007
pulang
kenduri pun usai

seperti kenduri, pemilihan kepala daerah atau gubernur sulawesi selatan akhirnya selesai. setelah berbulan-bulan para peserta beserta sepasukan legiun andalan dan semua sumberdaya yang mereka miliki berusaha membujuk, meyakinkan, bahkan membeli kepercayaan orang-orang sulawesi selatan agar menunjuk mereka sebagai pengurus wilayah yang terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur dan Luas wilayahnya 62.482,54 km² ini. mungkin saja itu menarik, sebab menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan), hingga Juni 2006, ada warga sebanyak 7.520.204 jiwa yang akan mematuhi mereka sebagai paduka raja..
namun setelah sekian lama, pesta pun selesai, dan hanya ada sepsang dari 3 pasang yang berusaha naik ke tahta tertinggi. dan 2 lainnya tentu saja harus maklum bahwa kenduri ini telah usai, dan sudah waktunya mereka kembali ke kehidupan mereka yang biasa. kembali menjadi warga yang baik dan taat, tentu saja.

tapi tentu saja, selalu ada yang lain. seperti di masa kanak-kanak dulu, kadang kita tak betul rela jika kalah main kelereng atau berebut layangan putus. kita mungkin saja berusaha merebut kembali kelereng kita. atau yang paling buruk, merobek layangan yang sudah tergenggam di tangan teman kecil kita..
dan hampir serupa rasanya, setiap hari, ada saja gerombolan massa dengan suara yang memekakkan datang memprotes, karena merasa dicurangi oleh wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak. mungkin saja ada yang keliru, atau curang tapi aku selalu merasa tak ada yang tak curang dalam permainan ini. dalam politik, kemenangan adalah muara semua yang telah diusahakan --dengan cara apapun. serupa dalam perang, adakah cara yang layak atau tak layak selain memenangkan pertempuran-demi-pertempuran hingga perang selesai.
selesai, dan, seperti kata kawanku, tak ada kehormatan bagi yang kalah. seperti sejarah, ingatan hanya bagi pemenang. yang kalah, suka atau tidak, akan segera dilupakan. speperti mengejar debu, kita tak pernah betul-betul tahu apa yang kita kejar akan kita genggam. betap semua demikian nisbi. politic is the art of possibilities.
aku tak tahu, akan kemana semua ini. aku hanya di sini, menunggu hingga debu yang mengepul ke udara, yang disebabkan hiruk-pikuk kenduri demokrasi ini berhenti. aku hanya berharap semua kembali mengendap dan irama hidup kembali seperti lazimnya hari-hari. hingga jenuh. hingga meledak lalu kembali berputar dalam siklus demi siklus...
Friday, October 12, 2007
Selamat Lebaran

Selamat Lebaran..
Hari terus saja berganti, tak terasa kita tiba (lagi) di Hari ini. Mungkin kemarin-kemarin ada saja salah kata, laku atau hal yang tak berkenan di hati Tuan-tuan dan Puan-puan; karenanya Hamba yang alpa ini mohon dimaafkan...
Ramadhan kali ini berlalu, semoga kelak kita masih bisa berjumpa Ramadhan lagi..
Salam
-AKS-
Wednesday, October 03, 2007
mall baru

Dan tempat yang banyak dinanti orang--terutama pembelanja, itupun dubuka. tegak kokoh, berdiri dengan kubah dan hiasan beratus lampu seperti istana para sultan dari negeri dongeng. benderang gemerlap, dengan pintu yang membuka lebar menanti. ruang sejuk di dalamnya menunggu setiap pejalan yang singgah.
sejak dibuka, dengan takzim beratus orang berbaris rapi --mungkin dipenuhi rasa takjub dan decak kagum, memadati tempat itu. berjam-jam hingga tempat itu tutup tak putus-putusnya orang datang dan keluar sambil membawa beragam kantoing belanjaan...namun banyak juga yang keluar berjalan kaki tanpa membawa sepotong pun belanjaan. setelah puas melihat-lihat semua selasar dan etalase yang memajang mimpi mereka, mereka mungkin kembali berjalan kaki pada kehidupan mereka yang rutin dan biasa.

mall ataupun pusat perbelanjaan serupa itu, kadang kubayangkan sebagai oase bagi para pembelanja. sebagai sumber air di tengah gurun yang dinaungi pohon pohon kurma yang teduh, tempat para musafir yang melintasi gurun singgah untuk beristirah menghilangkan dahaga dan kemudian mengambil air secukupnya untuk bekal perjalanan melintasi panasnya gurun.
bagi kota yang nyaris tak memiliki tempat publik yang cukup representatif bagi warganya, maka mall lah tempat mereka bertemu, duduk-duku sejenak, berjalan-jalan dan melihat-lihat "wajah kota" yang sudah berdandan dan tampak cemerlang. disinilah warga yang letih melintasi kota yang kerontang untuk singgah mengais keteduhan sejenak sebelum kembali ke wajah kota yang sesungguhnya. sekedar mengobati mata yang jenuh. sekedar melegakan hati yang penuh. meski mereka tahu, itu jauh dari wajah kota yang mereka temui sehari-hari, setidaknya mereka melihat apa yang selama ini ingin mereka lihat; kita memang tak selalu harus melihat kenyataan kan?
tiba-tiba aku teringat gambaran tentang kapal alien di filem. kapal besar berlampu gemerlap yang singgah di sebuah padang yang senyap. lalu setelah awaknya berhasil membujuk para mahluk bumi, ratusan warga bumi kemudian berbaris diam dan teratur untuk masuk untuk menjalani cuci otak, lalu keluar lagi dengan rupa yang aneh dan ajaib...
Tuesday, September 18, 2007
selamat puasa
Sunday, August 05, 2007
sedikit de javu
menemukan tulisan-tulisan lama yang sempat tersimpan di komputer; seperti menemukan kembali ingatan yang terasa lain. seperti deja vu; tapi menemukan diri yang --juga terasa lain di waktu lampau. terasa agak sulit mengingat bagaimana semua tulisan itu kulahirkan. terasa agak sulit menelisiknya kembali. seperti menyusun kembali serpihan wajahku sendiri. meski berhasil mengingatnya, selalu saja ada yang terasa hilang; selaluada yang terasa tak terpasang dengan benar di tempatnya. tetap serasa ada yangtak lengkap.
maafkan ingatan manusia ini. maafkan mahluk yang alpa ini..
maafkan ingatan manusia ini. maafkan mahluk yang alpa ini..
Wednesday, June 13, 2007
::

aku masih selalu bertanya kemana semua ini akan bermuara. maafkan, aku masih selalu berharap bisa tahu tentang sepotong takdir-Mu. aku lancang. padahal tak munngkin aku tahu. yang kutahu, bahwa semua suatu waktu akan berakhir; entah dimana. rupanya aku tak bisa jadi seperti alur sungai yang tenang menuju muara. mungkin aku hanya helai daun yang hanyut pada aliran-Mu. sesekali aku terdampar, selebihnya terseret kembali.
mungkin aku hanya debu. kami hanya debu
sepotong sajak
jika kau minta aku membuatkanmu sajak. maafkan aku; rasanya tak bisa kukekalkan semua yang kuindera tentangmu. biar semua alir. ketika sesuara yang lain lebur dan hanya degup jantung yang kudengar; itulah sajak yang terdalam bagiku.
Friday, May 18, 2007
::lupa
entah mengapa, belakangan ini rasanya susunan waktu di kepalaku kian tak tertib. selalu saja aku merasa; kejadian yang baru terjadi kemarin, sudah lama sekali. juga sebaliknya, kejadian yang sudah sekian lampau, rasanya baru kemarin. ingatan pada susunan kalender beserta hari, juga tak lagi terlalu rapi di memori-ku.
lupa? kenapa? apakah sel-sel di kepalaku sudah mulai aus tak lagi bisa merekam dengan baik? tapi lupa, rasanya seperti susunan pertahanan terhadap apa yang tak kita ingini sebenarnya? atau mungkin tak banyak lagi kesan yang terlalu dalam, belakangan ini, selain hanya rutinitas?
tapi terbuat dari apakah "kenangan"? mengapa ia susah lekang dari ingatan meski kita tak ingin ia ada? lalu mengapa kita tak bisa memilih mengenang sesuatu atau melupakannya?
biarkan lupa membebaskan kita. semoga ia bisa membebaskan kita...
lupa? kenapa? apakah sel-sel di kepalaku sudah mulai aus tak lagi bisa merekam dengan baik? tapi lupa, rasanya seperti susunan pertahanan terhadap apa yang tak kita ingini sebenarnya? atau mungkin tak banyak lagi kesan yang terlalu dalam, belakangan ini, selain hanya rutinitas?
tapi terbuat dari apakah "kenangan"? mengapa ia susah lekang dari ingatan meski kita tak ingin ia ada? lalu mengapa kita tak bisa memilih mengenang sesuatu atau melupakannya?
biarkan lupa membebaskan kita. semoga ia bisa membebaskan kita...
Tuesday, May 08, 2007
berburu senja

"senja di pantai itu adalah yang terindah di asia!" kata temanku. " bukan!senja itu adalah yang terindah di dunia" kata temanku yang lain.
dan aku pun harus berburu senja. memburu bola merah yang menyala-nyala itu. pernah kubayangkan nyala itu sewarna tembaga yang dipakai raja zulkarnain, untuk memerangkap yajuj-majjuj di kaki langit; agar tak keluar memorandakan bumi ini atau seperti keping uang logam yang digantungkan di dinding langit yang lembayung.
aku berburu. dari salah satu tanah tinggi di timur kota, aku melihatnya di kejauhan. menggantung di atas kota yang dipenuhi gedung dan lalu-lalang kendaraan. tapi ia hanya putih, kuning cahayanya, ditutupi awan yang membiaskan sinarnya melebar. ah tak cantik.
(aku yakin cuaca bisa saja seperti wanita; tak bisa diduga, tak bisa dipercaya. ia bisa berubah cepat. atau mungkin saja senja kali ini atidak buatku)
lalu aku mengejarnya ke tepi pantai. di pelataran beton serupa dermaga ini kulihat kuning bersih menggantung di langit barat. di sekelilingnya; langit serupa sehampar kanvas yang baru saja disiram warna jingga, di bagian tepi cakrawala, langit gelap warna lembayung.
ini sempurna!! kunanti potong-sepotong tenggelam di laut yang mulai gelap. kutunggu garis jejaknya di atas ombak yang pasti sampai ke pantai. serupa jalan emas.

waktu seteguk teh, cepat ia tenggelam. tapi ia tenggelam tepat di balik pulau bongkah pulau yang segera menjelma siluet disorot senja.
ah senja yang tak sempurna!!
lalu aku memburunya keesokan harinya. dan menjelang sore; hujan turun dengan deras. kota gelap lalu basah. hingga keesokan harinya. senja juga tak terlihat.
setelah sekian lama sering berburu senja; senja yang sempurna mungkin saja seperti jodoh. hanya indah,ketika waktunya tepat. ketika orbit senja yang sempurna, bersinggungan dengan orbit hidupmu. meski kau mengejarnya, dengan hati yang dipenuhi keriangan; ia bisa saja muncul dengan rupa yang tak kau harap, ketika ia tak berpihak padamu. namun jika semuannya tepat bersinggungan dengan tepat; maka ialah keriangan yang serasa lengkap!! hatimu penuh dengan warnanya.
"mengapa senja indah, karena ia sebentar." kata SGA. hingga kalau saja bisa senja digunting dan ditaruh di selembar kartu pos; agar ia kekal dan bisa ditengok kapanpun kita ingin. senja tak kekal --kecuali di negeri senja-nya SGA.
keriangan yang fana, ah senja...
(kekasihku, kalau saja senja bisa kekal pada matamu)
Friday, May 04, 2007
::ritual bugis-tionghoa/ pencampuran dua budaya

(*)
aksi "bissu" atau pendeta bugis kuno/ yang menikam tubuhnya saat upacara yang mereka adakan mencapai klimaks/ mungkin lazim dalam tradisi bugis// namun jika yang turut melakukannya adalah komunitas tionghoa/ bersama bissu/ menunjukkan pencampuran budaya yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu
++++
menjelang acara mattemu taung atau upacara penghormatan pada leluhur ini diadakan/ liem keng boe/ atau haji ismail daeng nai atau yang lebih dikenal baba sanro/ sudah turut berdandan bersama 3 orang bissu utama dari segeri/ termasuk bissu saidi yang disebut sebagai puang matoa bissu/ atau pimpinan dari bissu segeri (orangnya yang kurus kecil)//
seiring tabuhan gendang yang berirama khas/ pelan-pelan para bissu bersama baba sanro berjalan ke depan ruangan tempat arrajang-nge (lafalnya "e" pepet) dipasang// arrajangnge ini adalah benda yang dikeramatkan/ yang dipercaya sebagai tempat ruh leluhur beristirahat// sebelumnya/ di depan arrajangnge telah disiapkan berbagai sesaji dari kue tradisional/ buah/ ayam/ hingga kepala kerbau dan sapi yang merupakan persembahan bagi leluhur//
saat upacara mulai/ puluhan kerabat baba sanro sudah datang untuk menyaksikan upacara// sebagian lainnya sudah datang setiap tahunnya sebagai bagian dari acara keluarga besar baba sanro// sedang sebagian lainnya datang untuk mengharap berkah//
setelah membakar dupa dan membaca doa dengan khusyuk/ baba sanro bersama ketiga bissu ini mulai menarikan tarian para bissu/ atau disebut "mabbissu" dengan berputar di depan sesaji lainnya yang ditudungi kain khusus//
irama gendang kian cepat dan satu persatu bissu dan baba sanro mulai menghunus keris keramat yang semula terpasang dipinggang/ kemudian menusukkannya ke tangan/ leher dan perut mereka tanpa terluka sedikitpun// prosesi menusukkan senjata tajam/ yang selalu dilakukan bissu dalam upacara mereka ini/ disebut "maggiri"// saat upacara ini berlangsung banyak keluarga yang terkejut dengan prosesi maggiri ini//
acara yang biasanya diadakan saat bulan syafar dalam penanggaalan hijriyah ini/ sudah sejak 40 tahun lalu diadakan oleh keluarga baba sanro/ yang keturunan tionghoa/ memang menghadirkan bissu/ atau komunitas pendeta bugis kuno seperti yang diceritakan dalam epos la-galigo//
upacara ini menjadi unik karena menunjukkan adanya pencampuran budaya antara tionghoa dan bugis// pencampuran budaya ini berlangsung saat leluhur baba sangro/ keturunan tionghoa yang tiba di tanah luwu/ sulawesi selatan/ dan kemudian menikah dengan keluarga ke-datuan luwu/ salah satu kerajaan besar di tanah bugis//
dalam keragaman budaya indonesia yang sangat beragam/ akulturasi budaya semacam ini terus berlangsung// saling mewarnai/ saling memperkaya/ tanpa ada benturan yang berujung pada kekerasan//
namun jika kita tak pandai menghargai keberagaman/ entah sampai kapan upacara yang menghadirkan beragam warna etnik serupa mattemu-taung ini/ tetap mewarnai perjalanan bangsa indonesia///
tanggal : 4 mei 2007
====
*ini dari berita untuk stasiun tivi, beberapa tanda baca mungkin tidak familiar. “/” menunjukkan koma “,”. tanda “//” berarti titik “.”
Tuesday, May 01, 2007
selamat hari buruh, Samurai (stringer) !!!


kubayangkan mereka sebagai "samurai" yang menjadi barisan terdepan yang menjaga para "shogun".
meski para shogun, yang menjadi wakil di daerah dari "kekaisaran media" di kantor pusat di ibukota, masih lelap di pagi hari, atau tertidur di rumah mereka yang nyaman di malam hari, para "samurai" inilah yang berjaga, kalau saja ada "liputan" (bayangkan ini sebagai kekayaan di alam) yang bisa mereka temukan untuk bisa dikirim ke kantor pusat (bayangkan sebagai kekaisaran) agar ditayangkan/dimuat..
(nama para samurai ini bahkan kadang tak disebut--hanya nama para shogun).
setiap liputan ini dibayar oleh kantor pusat (kekaisaran), sekian persen buat para samurai ini. meski mereka sebagian besar bukan "samurai terlatih", namun sebagian besar dari samurai ini, tetap berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. mereka biasanya " learning by doing", dengan mengambil pelajaran di lapangan, serta pengalaman dari orang-orang yang lebih tua..sebagian terkadang memilih berpindah dari shogun satu ke shogun lainnya. sebagian lainnya pernah keluar dan menjadi "ronin" atau samurai tanpa tuan, dan bebas menjual apapun yang dimilikinya kepada para shogun..
jika ada samurai yang terluka atau terbunuh, tentu saja shogun segera mencari ganti. agar roda terus berputar. hampir tak ada sesal, tak ada yang terlalu peduli.
+++++
tadi beberapa koresponden dan kntributor berunjukrasa menuntut perbaikan nasib bagi para "buruh" media. namun saat mereka pulang, aku hanya bisa meringis. aku tahu, tak ada yang membicarakan nasib c****, m****, r****, N**, m*****, i***, dan semua yang hanya sering disebut "stringer" ---bahkan kadang sebagai "stranger"; orang asing.
di beberapa daerah, posisi yang kebanyakan ada di stasiun televisi ini, bahkan disebut "tuyul", karena biasanya tak tercatat dalam redaksi di kantor pusat (kecuali dikenal sebagai "anggota" dari koresponden di daerah), namun mengabdi sebagai pencari berita, atau mungkin mesin uang dari koresponden dan kontributor...biasanya mereka dibayar hanya sepersekian dari rupiah yang dibayarkan ke koresponden dari tiap berita yang dimuat (ditayangkan).
aku pernah menjadi "tuyul", "stringer", atau orang asing, meski aku masih tetap merasa beruntung, namun sedikit banyak aku tahu bagaimana rasa berada di posisi itu.
hampir tak ada perjanjian. hanya ada pembayaran setiap akhir bulan. terkadang ada pemberian tertentu dari koresponden/kontributor tempat mereka mengabdi.
namun satu yang jelas, tak ada batasan hak dan kewajiban!!! tak ada yang menanggung resiko yang mereka hadapi di lapangan! tak ada jaminan ketika mereka terkena batu, pukulan atau luka, saat mereka mencari berita untuk "dijual" kepada koresponden.
--aku teringat seorang kawan yang menolak perintah kantor pusat untuk mencari stringer, karena takut kalau saja stringer tersebut ada apa-apa, terus tidak tahu siapa yang harus menannggung resiko yang terjadi padanya.
+++++
mereka para samurai, juga patut diperjuangkan; meski itu agar bisa menjadi shogun suatu waktu. selamat hari buruh tuan-tuan stringer. selamat hari buruh, para samurai!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)


