Saturday, February 23, 2008

"nenek, telah setahun"



setahun yang lalu, nenek berpulang. sekedar mengingat betapa ia membenci kalau aku mulai memanjangkan rambut atau ketahuan menghisap batangan tembakau.

untuk urusan rambut, menurutnya rambut yang terbaik adalah yang pendek-cepak,potongan ala militer. mungkin ia menyaksikan bagaimana BKR (badan keamanan rakyat) atau Tentara Keamanan Rakyat atau mungkin ABRI (angkatan bersenjata republik indonesia) di masa awal indonesia baru merdeka --berjalan memasuki kampung demikian gagah. tentara-tentara negara masuk menumpasi pergerakan DI-TII atau di kampung ku disebut "gerombolang". ia mungkin berpikir, dengan cepak, cucunya akan terlihat gagah. dulu, aku sering dibawanya untuk bercukur pada tukang cukur langganan kakek yang membuka tempat cukur di atas kanal besar yang melewati pasar cidu.

soal tembakau, menurutnya akan lebih bagus kalau uang untuk membeli tembakau itu kubelikan kue atau sesuatu yang mengenyangkan lainnya. pun jika aku merokok karena telah punya uang untuk membeli tembakau, akan lebih baik kalau uang itu kuberikan padanya --meski aku tahu, ia tak lagi betul-betul memerlukan uang. ia tak tahu tentang beraneka jenis kanker yang menumpang di tar dan nikotin yang setiap hari kuhisap itu.

telah setahun, masih kuingat bagaimana di hari itu, sebelum ia berpulang, ia kubangunkan dari pembaringannya agar bisa memakan bubur instan yang telah disiapkan untuknya. beberapa waktu sebelum ia benar-benar sakit; lupa telah menyergap ingatannya lebih dulu. ia tak lagi ingat siapa aku sebenarnya. meski ia tahu aku adalah kerabatnya, namun baginya aku adalah orang yang datang dari kampung halaman kami. setiap aku menjenguknya, ia selalu memintaku agar bermalam; dengan pandangan aku sebagai orang yang jauh.

dari situ semuanya berjalan, hingga tepat setahun yang lalu, ia akhirnya berpulang. kembali pada Yang meniupkan Roh padanya.

banyak yang masih lekat tentangnya, semua masih berdiam di benakku. mungkin hingga kelak, lupa juga menyergap. mencacah ingatanku ini. sebagaimana lupa akan selalu mengintai dan mencabik-cabik ingatan-ingatan kita. kelak, kepadamu semua, aku selalu memohon maafmu, kalau saja aku mulai melupakanmu.

("nek, kini aku mulai memanjangkan rambut dan terus saja menghisap berbatang-batang rokok setiap hari")

Thursday, February 14, 2008

kelapangan hati


aku belajar tentang kelapangan hati, di suatu hari di patallassang, gowa, sulawesi selatan. namanya daeng ngewa. katanya;"sampaikan pada anakku, agar ia tak perlu bersedih. kita tak boleh menangis untuk yang seperti ini". kata yang satunya, dia dipanggil daeng nyarang, "kita memang tak pantas menangis untuk hal seperti ini". dengan matanya yang mulai kelabu melewati usia, mereka hanya memandang dari jauh juru sita pengadilan yang membongkar rumah dan menebangi pepohonan di bidang ladangnya. ia telah tinggal di petak tanah itu sejak 37 tahun lalu. rumah itu, satu-satunya tempat ia bernaung.

hujan turun deras. airnya tempias.

namun oleh kerabatnya sendiri ia digugat, dan pengadilan hingga mahkamah agung, menyatakan kalau ia tak lagi berhak atas tanah beserta segala isinya. dan oleh itu, maka sepasukan juru sita pengadilan negeri gowa, sulawesi selatan dan dijaga ketat aparat bersenjata, pun harus juga mengosongkan tanah yang tak lagi miliknya.

ia hanya duduk di bawah rumah warga, bersama beberapa orang warga lainnya, memandangi orang-orang yang tak dikenalnya sama sekali, mengangkuti bantal, piring-piring, pakaian, juga sisa lauk ikan asin pallu cella --sepertinya sisa makanan terakhirnya di rumahnya itu.

dengan dilapisi kantong plastik lecek, ia masih mengantongi dokumen tanah yang pajaknya ia bayar setiap tahunnya. juga sisa amplop balasan berstempel dari mahkamah agung bertahun 1996 (kita bisa saja menduga, di mahkamah sesibuk itu, siapa yang betul-betul peduli pada lelaki tua yang kehilangan hak, hanya oleh orang yang bahkan hampir tak pernah menjejakkan kaki di kampung itu).

ia tahu, ia merasa dizalimi, bahkan oleh kerabat dekatnya sendiri. diusir bahkan saat ia sementara menjalani sisa-sisa usianya hanya bersama satu-satunya cucunya. tapi, ia memilih berkata;"kita tak boleh menangis hanya karena itu," katanya. pun jika terusir dari rumah, tak boleh kita tangisi, lalu apa yang pantas kita tangisi, daeng ngewa? seberapa banyak kerelaan di ruang hati yang kau punya, hingga untuk setitik tangispun, tak kau beri tempat?

Tuesday, January 29, 2008

soeharto dan spongebob



pagi. pasarcidu baru mulai menggeliat. orang belum ramai lalu lalang. hanya beberapa pedagang yang baru menyiapkan dagangan mereka. sebagian terlihat hati-hati membuka bungkusan dagangan yang mereka kemasi setiap pasar usai. seperti membuka benda yang rapuh. seperti membuka harapan yang retas.

terbangun lebih cepat dan tidak bisa lagi tidur pagi seperti biasanya, maka kunyalakanlah televisi. berharap ada yang menarik yang disajikan kotak ajaib itu pagi ini. aku berharap ada cerita yang menarik pagi ini --sekedar menemaniku minum kopi hitam dan merokok. namun meski sudah hari kedua berselang, kotak ajaib itu tampaknya hanya menyediakan menu yang itu-itu juga; pemakaman suharto --orang yang pernah paling berkuasa di indonesia. semua tampak dengan hanya sedikit variasi. ada presiden susilo bambang yudhoyono yang membacakan pidato pelepasan jenazah yang sebentar lagi ditimbun tanah. ada yang bercerita tentang masa lalu yang gilang gemilang di bidang pertanian. ada yang bercerita tentag seorang pencopet yang kedapatan hendak mengais rezeki di pemakaman suharto di astana giribangun. ada yang bercerita tentang keputusan suharto yang memutuskan mantan presiden sukarno--pendahulunya dan juga pendiri bangsa ini, agar dimakamkan di blitar, jawa timur. dan bukan di istana batutulis, bogor, sebagaimana yang diwasiatkan. dan banyak lagi.. sebagian besar sepertinya sementara menegaskan kalau mereka masih setia pada bapak pembangunan ini. sebagian bahkan mengiringi dengan lagu-lagu heroik. salah satu kanal bahkan seperti mencoba memaksakan kalau "pak harto" adalah pahlawan yang harus
dipuji -agar kita tak lupa padanya dibandingkan superman ataupun batman.

aku seperti disergap jenuh. aku mengganti-ganti kanal dan kutemukan menu yang menurutku lebih menarik;spongebob and squarepants. dan aku seperti hanyut melihat film kartun dengan tokoh berwarna kuning ini (seperti warna dominan partai golkar, partai dominan di masa daripada pak harto berkuasa --namun ini tak membosankan rasanya) semuanya mengalir hingga film kartun ini selesai --musik penutup film kartun ini bahkan sempat membuatku turut bersenandung mengikuti irama yang kupikir seperti melodi petikan gitar.

aku bukan apolitis. juga sinis tentang negeri tercinta ini. bukan juga mencoba abai pada apa yang hangat di republik ini. namun gempuran berita sepagi ini rasanya membuatku sedikit muak. apalagi tentang itu-itu saja.

selamat pagi pasarcidu. selamat pagi indonesia.

Friday, January 25, 2008

ia akan datang

ia mengabari kalau ia akan datang lagi. aku tak tahu; apa aku harus berbicara tentang rindu yang telah kuperam, sejak ia memutuskan pergi. tapi seperti burung-burung layang yang berpindah saat musim dingin menuju daratan yang lebih hangat, suatu waktu akan kembali terbang kembali ke daratan ia berasal...aku tahu, ia suatu waktu pasti akan kembali ke tempat ia berasal; ke kehidupannya yang tentram dan nyaman. lalu hidup kembali seperti biasa. berputar.

satu hujan dan pak tua peramal


sebuah malam. terjebak hujan. aku ku menepi mencoba berteduh pada sepotong atap kios yang berdiri di dekat rerimbunan pohon. hujan terus turun. lelaki tua yang sudah duduk duluan di sampingku membuka percakapan; perkenalan biasa mulanya. ia berasal dari salah satu kabupaten di bagian selatan propinsi ini. ia datang ke makassar, dan menawari jasa membantu orang yang kesulitan dengan hubungan dan keturunan. setiap malam, ia menumpang tidur di stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tertutup.

aku membakar rokok. menawarinya, ia berterimakasih untuk rokok, yang menurutnya baik di cuaca sedingin hujan malam itu.

ia sempat menceritakan bagaimana kedua kakinya terputus dihajar granat. juga tangan kirinya yang kini kesulitan mengenakan jam tangan. "aku dulu pejuang," tegasnya. meski dengan pelan --tapi serasa juga dengan sepotong harap, ia masih sementara mengurus uang tunjangannya sebagai veteran pejuang. kini tahun ke-tujuh sudah ia mengurusnya, dan dengan sisa senyumnya; ia masih yakin akan memperolehnya dalam waktu dekat ini. namanya "maling" atau daeng maling (ia sempat menjelaskan, alau nama itu di jawa berarti pencuri --dan aku hanya mengangguk)

di luar masih hujan. tempiasnya mulai mengenaiku. aku kembali membakar rokok. menawarinya sebatang lagi, ia hanya menyimpannya dalam tas; "sebentar baru kubakar, menjelang tidur," katanya.

ia percaya kalau bisa meramal sepotong kehidupan seseorang dari hanya melihat matanya. ia percaya saya akan memiliki cukup baik kehidupan. saya hanya tersenyum. ia sempat meramal orang yang juga berteduh bersamaku, kalau hubungannya dengan 2 istrinya tak berjalan cukup baik. orang itu mengaku kalau ramalan itu tepat. lalu mereka terus berbincang. sesekali aku tersenyum mendengar mereka berbincang. sempat ia menduga jejak tangan lelaki yang sudah cukup berumur itu.

[kalau saja tampakannya seperti tukang nujum gypsi yang berwajah dingin dan bola kristal,mungkin aku tak terkejut] lalu ia menunjukku; "dari matamu, kulihat kalau kau mata keranjang. kau banyak kekasih,"... hmmm, aku hanya tertawa. bagaimana mungkin? aku lalu pergi menembus hujan yang masih cukup deras. "mata keranjang?," batinku. ah, ada-ada saja...kalau saja iya, tak perlu aku tersiksa kenangan, seperti biasa jika turun hujan. ada-ada saja pak tua itu.

Saturday, January 05, 2008

lorojonggrang


seringkali kubayangkan ia sebagai lorojonggrang. perempuan di masa dinasti syailendra yang meminta dibangunkan candi sebelum disunting sang pangeran. seribu buah candi harus selesai sebelum fajar tiba. ia sebenarnya tak ingin bersama sang pangeran, namun tak mampu menampik maksud sang pangeran, maka ia pun menyusun muslihat agar candi sang pangeran tetap tak lengkap. mitos ini melekat pada candi prambanan yang juga disebut sebagai candi lorojonggrang.

kubayangkan ia sebagai lorojonggrang, namun aku tentu saja tak bisa membayangkan diri sebagai pangeran yang bisa memerintah sepasukan jin ifrit untuk membantuku mencapai maksudku. aku hanya pejalan yang fakir, yang meniti jalanku sendiri. mungkin kelak, pada akhirnya aku memang harus berdamai dengan kesunyian takdirku..

Friday, November 30, 2007

naga

aku membayangkan dia sebagai naga. yang meski ia tak ada, orang menyebut namanya dengan suara yang bergetar gentar. atau ia godfather yang setiap begundal kroco dan orang awam menyebut namanya dengan berbisik takut. ah, terbuat dari apakah ketakutan; hingga bisa demikian kental mengapung di udara dan memenuhi rongga dada?

keramahtamahan


aku ingin bercerita tentang keramahtamahan yang mugkin saja tersisa sedikit sekali di pelosok negeri ini. di satu tengah malam, di kampung tufure, ternate, maluku utara, saat mendengar sayup-sayup suara irama tabuhan gendang dan gesekan alat musik, aku dan teman-teman yang sedang menikmati angin dingin ternate di salah satu dataran tinggi, pun bergegas mencarinya. musik yang diantar angin itu disebut sebagai gala, dengan iringan 4 gendang, dan sebuah fiol (fungsinya seperti biola yang digesek), biasanya ada seruling, tapi malam itu tak ada.
saat itu pentas ditanggap di teras rumah salah seorang penduduk yang sedang menyelenggarakan kenduri untuk anak lelakinya yang akan menikah. seperti lazimnya kenduri di kota yang dikelilingi pantai ini, pentas itu akan berlangsung hingga pagi, tanpa sedikitpun musik boleh berhenti. dan seharusnya semua warga berganti-ganti turut menari sebagai tanda gembira. kami tiba di teras rumah tersebut.
warga pun memanggil kita masuk. kami duduk dan tersenyum riang melihat mereka bersemangat menggebuk gendang dan seorang lainnya menggesek fiol. ada dua orang yang sedang menari berganti-ganti. menari ini disebut "baronggeng"-- mungkin merunut pada sebutan tarian "ronggeng", entahlah. meski mereka semua memegang peran yang berbeda, satu yang sama, sebagian darah mereka sudah diguyur "cap tikus" minuman keras setempat berwarna bening. tuan rumah yang tak mengenal kami, dan sepertinya menduga kami adalah polisi yang menyambangi untuk memeriksa keamanan, mengambil kursi dan tak lama kemudian belasan gelas teh beraroma kayu manis dan pala serta potongan roti tawar dijamu kepada kami..
tak lama kemudian, kamipun turut berjoget atau baronggeng dengan riang bersama mereka..di antaranya ada nenek-nenek yang tak henti mengunyah sirih, juga pak tua yang memakai baju kemeja lengan panjang yang mungkin adalah pakaian terbaiknya, sebab ini kenduri dan semua wajib dengan kostum terbaik mereka...selebihnya adalah anak muda yang rambut depannya hampir membentuk huruf "s"--yang mungkin meniru model rambut "superman". wangi teh rempah kayu manis,asap rokok, udara dingin dan uap "cap tikus" mengambang disela tarian kami.
kami menari, meski mulanya gugup, namun tak lama semua mengalir...kegembiraan seperti memenuhi dadaku. ah keramahtamahan yang tetap membuatku terpesona, sesuatu yang telah mulai hilang dari negeri ini. rasanya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. semoga masih mengizinkan kita semua bertemu dengan keramahatamahan lainnya di negeri ini.

Saturday, November 17, 2007

pulang


betapa ingin aku pulang sejenak. membiarkan semua hiruk pikuk dan kerumunan itu. melepaskan pandangku pada dunia yang riuh. menepi dari terang cahaya yang menyilaukan itu. sebentar saja, lalu aku datang lagi.
ah, kalau saja aku tahu kemana harus pulang.

kenduri pun usai


seperti kenduri, pemilihan kepala daerah atau gubernur sulawesi selatan akhirnya selesai. setelah berbulan-bulan para peserta beserta sepasukan legiun andalan dan semua sumberdaya yang mereka miliki berusaha membujuk, meyakinkan, bahkan membeli kepercayaan orang-orang sulawesi selatan agar menunjuk mereka sebagai pengurus wilayah yang terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur dan Luas wilayahnya 62.482,54 km² ini. mungkin saja itu menarik, sebab menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan), hingga Juni 2006, ada warga sebanyak 7.520.204 jiwa yang akan mematuhi mereka sebagai paduka raja..
namun setelah sekian lama, pesta pun selesai, dan hanya ada sepsang dari 3 pasang yang berusaha naik ke tahta tertinggi. dan 2 lainnya tentu saja harus maklum bahwa kenduri ini telah usai, dan sudah waktunya mereka kembali ke kehidupan mereka yang biasa. kembali menjadi warga yang baik dan taat, tentu saja.


tapi tentu saja, selalu ada yang lain. seperti di masa kanak-kanak dulu, kadang kita tak betul rela jika kalah main kelereng atau berebut layangan putus. kita mungkin saja berusaha merebut kembali kelereng kita. atau yang paling buruk, merobek layangan yang sudah tergenggam di tangan teman kecil kita..

dan hampir serupa rasanya, setiap hari, ada saja gerombolan massa dengan suara yang memekakkan datang memprotes, karena merasa dicurangi oleh wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak. mungkin saja ada yang keliru, atau curang tapi aku selalu merasa tak ada yang tak curang dalam permainan ini. dalam politik, kemenangan adalah muara semua yang telah diusahakan --dengan cara apapun. serupa dalam perang, adakah cara yang layak atau tak layak selain memenangkan pertempuran-demi-pertempuran hingga perang selesai.

selesai, dan, seperti kata kawanku, tak ada kehormatan bagi yang kalah. seperti sejarah, ingatan hanya bagi pemenang. yang kalah, suka atau tidak, akan segera dilupakan. speperti mengejar debu, kita tak pernah betul-betul tahu apa yang kita kejar akan kita genggam. betap semua demikian nisbi. politic is the art of possibilities.

aku tak tahu, akan kemana semua ini. aku hanya di sini, menunggu hingga debu yang mengepul ke udara, yang disebabkan hiruk-pikuk kenduri demokrasi ini berhenti. aku hanya berharap semua kembali mengendap dan irama hidup kembali seperti lazimnya hari-hari. hingga jenuh. hingga meledak lalu kembali berputar dalam siklus demi siklus...

Friday, October 12, 2007

Selamat Lebaran


Selamat Lebaran..
Hari terus saja berganti, tak terasa kita tiba (lagi) di Hari ini. Mungkin kemarin-kemarin ada saja salah kata, laku atau hal yang tak berkenan di hati Tuan-tuan dan Puan-puan; karenanya Hamba yang alpa ini mohon dimaafkan...

Ramadhan kali ini berlalu, semoga kelak kita masih bisa berjumpa Ramadhan lagi..

Salam
-AKS-

Wednesday, October 03, 2007

::

-dfs
entah bagaimana menjelaskan semua ini. aku juga mulai ragu apakah ini rindu atau dendam?

mall baru



Dan tempat yang banyak dinanti orang--terutama pembelanja, itupun dubuka. tegak kokoh, berdiri dengan kubah dan hiasan beratus lampu seperti istana para sultan dari negeri dongeng. benderang gemerlap, dengan pintu yang membuka lebar menanti. ruang sejuk di dalamnya menunggu setiap pejalan yang singgah.

sejak dibuka, dengan takzim beratus orang berbaris rapi --mungkin dipenuhi rasa takjub dan decak kagum, memadati tempat itu. berjam-jam hingga tempat itu tutup tak putus-putusnya orang datang dan keluar sambil membawa beragam kantoing belanjaan...namun banyak juga yang keluar berjalan kaki tanpa membawa sepotong pun belanjaan. setelah puas melihat-lihat semua selasar dan etalase yang memajang mimpi mereka, mereka mungkin kembali berjalan kaki pada kehidupan mereka yang rutin dan biasa.

mall ataupun pusat perbelanjaan serupa itu, kadang kubayangkan sebagai oase bagi para pembelanja. sebagai sumber air di tengah gurun yang dinaungi pohon pohon kurma yang teduh, tempat para musafir yang melintasi gurun singgah untuk beristirah menghilangkan dahaga dan kemudian mengambil air secukupnya untuk bekal perjalanan melintasi panasnya gurun.

bagi kota yang nyaris tak memiliki tempat publik yang cukup representatif bagi warganya, maka mall lah tempat mereka bertemu, duduk-duku sejenak, berjalan-jalan dan melihat-lihat "wajah kota" yang sudah berdandan dan tampak cemerlang. disinilah warga yang letih melintasi kota yang kerontang untuk singgah mengais keteduhan sejenak sebelum kembali ke wajah kota yang sesungguhnya. sekedar mengobati mata yang jenuh. sekedar melegakan hati yang penuh. meski mereka tahu, itu jauh dari wajah kota yang mereka temui sehari-hari, setidaknya mereka melihat apa yang selama ini ingin mereka lihat; kita memang tak selalu harus melihat kenyataan kan?

tiba-tiba aku teringat gambaran tentang kapal alien di filem. kapal besar berlampu gemerlap yang singgah di sebuah padang yang senyap. lalu setelah awaknya berhasil membujuk para mahluk bumi, ratusan warga bumi kemudian berbaris diam dan teratur untuk masuk untuk menjalani cuci otak, lalu keluar lagi dengan rupa yang aneh dan ajaib...

Tuesday, September 18, 2007

selamat puasa


meski waktunya sudah tak tepat lagi; cuma mau mengucapkan selamat berpuasa. semoga bisa mengekang laku dan ucap kita yang mungkin saja sering tak terkendali. maafkan patik juga untuk hal-hal yang tak berkenan..

tabik

Sunday, August 05, 2007

sedikit de javu

menemukan tulisan-tulisan lama yang sempat tersimpan di komputer; seperti menemukan kembali ingatan yang terasa lain. seperti deja vu; tapi menemukan diri yang --juga terasa lain di waktu lampau. terasa agak sulit mengingat bagaimana semua tulisan itu kulahirkan. terasa agak sulit menelisiknya kembali. seperti menyusun kembali serpihan wajahku sendiri. meski berhasil mengingatnya, selalu saja ada yang terasa hilang; selaluada yang terasa tak terpasang dengan benar di tempatnya. tetap serasa ada yangtak lengkap.

maafkan ingatan manusia ini. maafkan mahluk yang alpa ini..

Wednesday, June 13, 2007

::


aku masih selalu bertanya kemana semua ini akan bermuara. maafkan, aku masih selalu berharap bisa tahu tentang sepotong takdir-Mu. aku lancang. padahal tak munngkin aku tahu. yang kutahu, bahwa semua suatu waktu akan berakhir; entah dimana. rupanya aku tak bisa jadi seperti alur sungai yang tenang menuju muara. mungkin aku hanya helai daun yang hanyut pada aliran-Mu. sesekali aku terdampar, selebihnya terseret kembali.

mungkin aku hanya debu. kami hanya debu

sepotong sajak

jika kau minta aku membuatkanmu sajak. maafkan aku; rasanya tak bisa kukekalkan semua yang kuindera tentangmu. biar semua alir. ketika sesuara yang lain lebur dan hanya degup jantung yang kudengar; itulah sajak yang terdalam bagiku.

aku selalu saja malu berdoa pada-Mu, meski kutahu betapa aku ini hina. aku selalu merasa tak pantas memohon; setelah semua yang telah kulakukan...

Friday, May 18, 2007

entah kenapa, selalu kubayangkan sosok itu datang membawa gada berduri. ia lalu mendera punggungku. aku tak mengenali wajahnya; hanya putih. tak jelas; selain gada logam berwarna putih kemilau dan duri-duri yang bergerigi. juga remuk di punggungku yang terasa luka.

::lupa

entah mengapa, belakangan ini rasanya susunan waktu di kepalaku kian tak tertib. selalu saja aku merasa; kejadian yang baru terjadi kemarin, sudah lama sekali. juga sebaliknya, kejadian yang sudah sekian lampau, rasanya baru kemarin. ingatan pada susunan kalender beserta hari, juga tak lagi terlalu rapi di memori-ku.

lupa? kenapa? apakah sel-sel di kepalaku sudah mulai aus tak lagi bisa merekam dengan baik? tapi lupa, rasanya seperti susunan pertahanan terhadap apa yang tak kita ingini sebenarnya? atau mungkin tak banyak lagi kesan yang terlalu dalam, belakangan ini, selain hanya rutinitas?

tapi terbuat dari apakah "kenangan"? mengapa ia susah lekang dari ingatan meski kita tak ingin ia ada? lalu mengapa kita tak bisa memilih mengenang sesuatu atau melupakannya?

biarkan lupa membebaskan kita. semoga ia bisa membebaskan kita...

Tuesday, May 08, 2007

berburu senja


"senja di pantai itu adalah yang terindah di asia!" kata temanku. " bukan!senja itu adalah yang terindah di dunia" kata temanku yang lain.

dan aku pun harus berburu senja. memburu bola merah yang menyala-nyala itu. pernah kubayangkan nyala itu sewarna tembaga yang dipakai raja zulkarnain, untuk memerangkap yajuj-majjuj di kaki langit; agar tak keluar memorandakan bumi ini atau seperti keping uang logam yang digantungkan di dinding langit yang lembayung.

aku berburu. dari salah satu tanah tinggi di timur kota, aku melihatnya di kejauhan. menggantung di atas kota yang dipenuhi gedung dan lalu-lalang kendaraan. tapi ia hanya putih, kuning cahayanya, ditutupi awan yang membiaskan sinarnya melebar. ah tak cantik.

(aku yakin cuaca bisa saja seperti wanita; tak bisa diduga, tak bisa dipercaya. ia bisa berubah cepat. atau mungkin saja senja kali ini atidak buatku)

lalu aku mengejarnya ke tepi pantai. di pelataran beton serupa dermaga ini kulihat kuning bersih menggantung di langit barat. di sekelilingnya; langit serupa sehampar kanvas yang baru saja disiram warna jingga, di bagian tepi cakrawala, langit gelap warna lembayung.

ini sempurna!! kunanti potong-sepotong tenggelam di laut yang mulai gelap. kutunggu garis jejaknya di atas ombak yang pasti sampai ke pantai. serupa jalan emas.


waktu seteguk teh, cepat ia tenggelam. tapi ia tenggelam tepat di balik pulau bongkah pulau yang segera menjelma siluet disorot senja.

ah senja yang tak sempurna!!

lalu aku memburunya keesokan harinya. dan menjelang sore; hujan turun dengan deras. kota gelap lalu basah. hingga keesokan harinya. senja juga tak terlihat.

setelah sekian lama sering berburu senja; senja yang sempurna mungkin saja seperti jodoh. hanya indah,ketika waktunya tepat. ketika orbit senja yang sempurna, bersinggungan dengan orbit hidupmu. meski kau mengejarnya, dengan hati yang dipenuhi keriangan; ia bisa saja muncul dengan rupa yang tak kau harap, ketika ia tak berpihak padamu. namun jika semuannya tepat bersinggungan dengan tepat; maka ialah keriangan yang serasa lengkap!! hatimu penuh dengan warnanya.

"mengapa senja indah, karena ia sebentar." kata SGA. hingga kalau saja bisa senja digunting dan ditaruh di selembar kartu pos; agar ia kekal dan bisa ditengok kapanpun kita ingin. senja tak kekal --kecuali di negeri senja-nya SGA.

keriangan yang fana, ah senja...

(kekasihku, kalau saja senja bisa kekal pada matamu)

Friday, May 04, 2007

::ritual bugis-tionghoa/ pencampuran dua budaya


(*)

aksi "bissu" atau pendeta bugis kuno/ yang menikam tubuhnya saat upacara yang mereka adakan mencapai klimaks/ mungkin lazim dalam tradisi bugis// namun jika yang turut melakukannya adalah komunitas tionghoa/ bersama bissu/ menunjukkan pencampuran budaya yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu

++++

menjelang acara mattemu taung atau upacara penghormatan pada leluhur ini diadakan/ liem keng boe/ atau haji ismail daeng nai atau yang lebih dikenal baba sanro/ sudah turut berdandan bersama 3 orang bissu utama dari segeri/ termasuk bissu saidi yang disebut sebagai puang matoa bissu/ atau pimpinan dari bissu segeri (orangnya yang kurus kecil)//

seiring tabuhan gendang yang berirama khas/ pelan-pelan para bissu bersama baba sanro berjalan ke depan ruangan tempat arrajang-nge (lafalnya "e" pepet) dipasang// arrajangnge ini adalah benda yang dikeramatkan/ yang dipercaya sebagai tempat ruh leluhur beristirahat// sebelumnya/ di depan arrajangnge telah disiapkan berbagai sesaji dari kue tradisional/ buah/ ayam/ hingga kepala kerbau dan sapi yang merupakan persembahan bagi leluhur//

saat upacara mulai/ puluhan kerabat baba sanro sudah datang untuk menyaksikan upacara// sebagian lainnya sudah datang setiap tahunnya sebagai bagian dari acara keluarga besar baba sanro// sedang sebagian lainnya datang untuk mengharap berkah//

setelah membakar dupa dan membaca doa dengan khusyuk/ baba sanro bersama ketiga bissu ini mulai menarikan tarian para bissu/ atau disebut "mabbissu" dengan berputar di depan sesaji lainnya yang ditudungi kain khusus//

irama gendang kian cepat dan satu persatu bissu dan baba sanro mulai menghunus keris keramat yang semula terpasang dipinggang/ kemudian menusukkannya ke tangan/ leher dan perut mereka tanpa terluka sedikitpun// prosesi menusukkan senjata tajam/ yang selalu dilakukan bissu dalam upacara mereka ini/ disebut "maggiri"// saat upacara ini berlangsung banyak keluarga yang terkejut dengan prosesi maggiri ini//

acara yang biasanya diadakan saat bulan syafar dalam penanggaalan hijriyah ini/ sudah sejak 40 tahun lalu diadakan oleh keluarga baba sanro/ yang keturunan tionghoa/ memang menghadirkan bissu/ atau komunitas pendeta bugis kuno seperti yang diceritakan dalam epos la-galigo//

upacara ini menjadi unik karena menunjukkan adanya pencampuran budaya antara tionghoa dan bugis// pencampuran budaya ini berlangsung saat leluhur baba sangro/ keturunan tionghoa yang tiba di tanah luwu/ sulawesi selatan/ dan kemudian menikah dengan keluarga ke-datuan luwu/ salah satu kerajaan besar di tanah bugis//

dalam keragaman budaya indonesia yang sangat beragam/ akulturasi budaya semacam ini terus berlangsung// saling mewarnai/ saling memperkaya/ tanpa ada benturan yang berujung pada kekerasan//

namun jika kita tak pandai menghargai keberagaman/ entah sampai kapan upacara yang menghadirkan beragam warna etnik serupa mattemu-taung ini/ tetap mewarnai perjalanan bangsa indonesia///

tanggal : 4 mei 2007
====
*ini dari berita untuk stasiun tivi, beberapa tanda baca mungkin tidak familiar. “/” menunjukkan koma “,”. tanda “//” berarti titik “.”

Tuesday, May 01, 2007

selamat hari buruh, Samurai (stringer) !!!



kubayangkan mereka sebagai "samurai" yang menjadi barisan terdepan yang menjaga para "shogun".

meski para shogun, yang menjadi wakil di daerah dari "kekaisaran media" di kantor pusat di ibukota, masih lelap di pagi hari, atau tertidur di rumah mereka yang nyaman di malam hari, para "samurai" inilah yang berjaga, kalau saja ada "liputan" (bayangkan ini sebagai kekayaan di alam) yang bisa mereka temukan untuk bisa dikirim ke kantor pusat (bayangkan sebagai kekaisaran) agar ditayangkan/dimuat..

(nama para samurai ini bahkan kadang tak disebut--hanya nama para shogun).

setiap liputan ini dibayar oleh kantor pusat (kekaisaran), sekian persen buat para samurai ini. meski mereka sebagian besar bukan "samurai terlatih", namun sebagian besar dari samurai ini, tetap berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. mereka biasanya " learning by doing", dengan mengambil pelajaran di lapangan, serta pengalaman dari orang-orang yang lebih tua..sebagian terkadang memilih berpindah dari shogun satu ke shogun lainnya. sebagian lainnya pernah keluar dan menjadi "ronin" atau samurai tanpa tuan, dan bebas menjual apapun yang dimilikinya kepada para shogun..

jika ada samurai yang terluka atau terbunuh, tentu saja shogun segera mencari ganti. agar roda terus berputar. hampir tak ada sesal, tak ada yang terlalu peduli.

+++++

tadi beberapa koresponden dan kntributor berunjukrasa menuntut perbaikan nasib bagi para "buruh" media. namun saat mereka pulang, aku hanya bisa meringis. aku tahu, tak ada yang membicarakan nasib c****, m****, r****, N**, m*****, i***, dan semua yang hanya sering disebut "stringer" ---bahkan kadang sebagai "stranger"; orang asing.

di beberapa daerah, posisi yang kebanyakan ada di stasiun televisi ini, bahkan disebut "tuyul", karena biasanya tak tercatat dalam redaksi di kantor pusat (kecuali dikenal sebagai "anggota" dari koresponden di daerah), namun mengabdi sebagai pencari berita, atau mungkin mesin uang dari koresponden dan kontributor...biasanya mereka dibayar hanya sepersekian dari rupiah yang dibayarkan ke koresponden dari tiap berita yang dimuat (ditayangkan).

aku pernah menjadi "tuyul", "stringer", atau orang asing, meski aku masih tetap merasa beruntung, namun sedikit banyak aku tahu bagaimana rasa berada di posisi itu.
hampir tak ada perjanjian. hanya ada pembayaran setiap akhir bulan. terkadang ada pemberian tertentu dari koresponden/kontributor tempat mereka mengabdi.

namun satu yang jelas, tak ada batasan hak dan kewajiban!!! tak ada yang menanggung resiko yang mereka hadapi di lapangan! tak ada jaminan ketika mereka terkena batu, pukulan atau luka, saat mereka mencari berita untuk "dijual" kepada koresponden.

--aku teringat seorang kawan yang menolak perintah kantor pusat untuk mencari stringer, karena takut kalau saja stringer tersebut ada apa-apa, terus tidak tahu siapa yang harus menannggung resiko yang terjadi padanya.

+++++
mereka para samurai, juga patut diperjuangkan; meski itu agar bisa menjadi shogun suatu waktu. selamat hari buruh tuan-tuan stringer. selamat hari buruh, para samurai!!!!

Thursday, April 12, 2007

:s
kalau saja kau tahu, betapa binar matamu yang kekanakan itu demikian kurindukan.
mata yang menajamkan bilah-bilah rindu didadaku.

adam air


kemarin sempat melintas di dekat pantai lojie, barru, sulawesi selatan, tempat serpihan pertama pesawat naas adam air ditemukan. banyak cerita di dalamnya saat turut terlibat dalam pencarian. letih, demam, tawa, dan certa yang diam-diam lindap di kenangan.
namun dimanakah 102 nyawa yang ada di dalam KI-574 itu? (bagaimanakah kini rupa mereka yang hilang itu) kata sebuah kabar, mereka ada di dasar laut perairan mejene-sulawesi barat, kedalaman 2000 meter dan tertimbun sedimen pasir. mereka dimakamkan oleh laut. dan para kerabat hanya bisa menabur bunga.

ah, betapa kita semua memang fana...

::a morning in pasarcidu

Roda-roda becak berputar, memantulkan kilau lampu yang mulai tenggelam ditelan cahaya pagi. Bergerak mengikutri kayuhan pedal sang pengayuh yang mengantar orang-orang mencari hidupnya. Seperti ia yang mengayuh roda rezekinya. Satu satu, kadang sepasang orang lalu-lalang melintasi jalan yang mulai berderak. Hidup mulai berdenyut. Langit mulai terang. Di timur matari mulai terang kemerahan, sinarnya mengintip dari atap-toko dan lorong-lorong di pasar cidu.

Uap kopi, mengapung di dalam ruang. Meja-meja mulaio diisi orang-orang yang singgah. Lelaki berjaket katun tebal, menaikkan kerah, mencoba melindungi lehernya dari gigitan angin pagi. Kelompok bapak-bapak berkopiah, seorang menyampirkan sorban di bahunya, menyeruput sisa kopi kental di gelasnya; membiarkan kafein menyesap di sela-sela sisa giginya yang telah aus digerus usia. Lainnya berbincang tentang malam, tentang bahagian hidup yang telah usai. Tentang riuh rendah hidup yang masih mengusik.

Jam berdetak pelan. Di luar lampu mulai satu per satu padam.

Seorang lelaki lainnya termenung, menghisap rook dengan gerakan tangan yang hampir mekanis, seperti gerakan yang tak disadarinya, tak diingininya. Ia hanya membiarkan asap keluar dari mulutnya. Di depannya, gelas kosong dengan warna kuning telur di dasarnya. Apalagi kalau bukan telur ayam kampung setengah matang, yang dipercaya sebagai makanan penambah gairah hidup. Telur unggas kental, yang kerap dipercaya pengganti tenaga seusai persetubuhan yang melelahkan. Kuning telur yang belum matang betul, seperti akan kembali melumasi sendi yang longgar.

Hari mulai lagi di pasar cidu. Tentu dengan warna yang tak pernah sama.
(suatu pagi, ketika tak bisa lelap hingga malam usai)

dogtag dan kenangan


“saya percaya, setiap peluru, memuat namanya sendiri..”
::ucapan seorang kawan ketika ia bercerita tentang orang-orang yang mati saat menjalankan tugas peliputan.

Kalung dog-tag. Kalung yang liontinnya bertuliskan nama, golongan darah, dan beberapa informasi penting lainnya. Kalung ini banyak digunakan tentara amerika saat Perang Dunia ke-2, sebagai penanda kalau saja pemiliknya ditemukan mati, agar identitas mereka bisa segera dilacak. Meski jasadnya tak utuh lagi, setidaknya liontin dari logam tipi situ bisa menunjuk nama, kesatuan, ataupun asal jasad itu. Biasanya setiap dog-tag, akan turut dikembalikan kepada keluarga sebagai tanda kalau pemilik kalung tersebut telah dimakamkan di tempat ia berpulang.

Saat memutuskan memakai ini, aku tersadar kadang benda ini demikian menakutkan. Betapa tidak, Kalung ini memang diharapkan bisa menjelaskan siapa diriku –beserta golongan darah yang kubutuhkan kalau aku terluka parah, dan tak mampu lagi menjelaskan “diriku sendiri”.

Meski di setiap “scene” dari hidup ini, nasib buruk bisa saja selalu menyertai, namun toh jikapun itu terjadi, aku hanya bisa berharap kalau benda ini utuh dan bisa sedikit membantu menjelaskan diri (atau jasadku). Jika aku mati dan hilang di sebuah tempat, kuharap kalung berusaha menjelaskan kepada yang menemukanku, kalau aku memiliki tempat yang kuingin; aku dipulangkan ke sana.

Dan mungkin semua yang mengenakan benda sejenis ini, semisal gelang baja, ataupun penanda lainnya, mungkin memiliki harapan yang serupa. Agar jasad ini bisa dikembalikan kepada keluarga, untuk dimakamkan dengan layak. Sebagai tempat berziarah. Tempat orang sesekali dating, dan sedikit mengurai kenangan. Meskipun itu hanyalah harapan dari aku, ataupun mereka yang masih hidup, sebab yang mati, tak lagi berhak berkehendak.

Saturday, February 17, 2007

telaga matamu

::senja
selalu kubayangkan matamu serupa telaga
tempat aku pulang dan bercermin,
mencari kembali wajah ini, setelah didera letih

telaga yang memerangkap kuning matari
menjadikannya senja yang abadi.
riak emas seperti tari hari
yang mengajakku tenggelam pada dasarnya.

adakah kau adalah senyapnya rimbun hutan
tempat aku berlindung dari hiruk-pikuk
dari dunia yang terus berderak pekak.

kaulah tempat aku diam, seperti malam
dimana aku lelap tenteram.

Friday, January 19, 2007

letih

belasan hari berada di hiruk pikuk pencarian adam air, rasanya kini hari-hari telah jadi rutin. bangun pagi dengan harapan bangkai logam itu segera ditemukan;dimanapun ia berada beserta 102 jenazah yang telah berbentuk apa. meski telah ditemukan ratusan serpihan pesawat, namun tubuh-tubuh itu dimanakah? jika saja masih terikat di kursi di tubuh pesawat yang masih utuh di sebuah tempat yang entah; sampai kapankah mereka menunggu..

(selalu aku tak bisa membayangkan detik-detik ketika pesawat yang akan mengantar mereka, tiba-tiba bergerak, bergolak, lalu poranda di udara. juga wajah-wajah yang pernah demikian menggoda, serupa apakah kini? para pengantin yang mungkin masih menyimpan impian malam-malam penuh gairah di hidup mereka. para pendeta yang tak membayangkan jalan ke surga terasa demikian menyiksa. ibu. ayah.

ini hari ke sekian, dan aku rasanya berada di pusaran yang terus bergerak. terasa letih, tapi pusaran terus bergerak. aku tak tahu akan kemana.
sudah lama sekali aku tak bertemu ibu. aku letih sekali tuhan..

Saturday, January 06, 2007

hujan

aku selalu ingin mengirimimu hujan setiap malam
agar kau lelap mendengar titiknya menari di atap
seperti lulabi dari masa kanakmu

aku selalu ingin mengirimimu hujan
agar kau tentram dalam peluknya
seperti bocah yang pulas setelah lelah bermain seharian..

selamat tidur
2006

tahun kalabendu

memasuki usia yang kian tua; tahun ini rasanya aku kian mengerti mengapa hidup sering disebut demikian renta. kata sang sepuh, tahun ini mungkin saja episode kalabendu, dimana semua bala bertemu dan hidup --rasanya seperti menjelma rupa sebagai sesuatu yang sarkastik.

semoga harapan tetap hidup di hati kita, meski didera segala coba...

selamat tahun baru

Thursday, December 14, 2006

::seorang nenek di kampung di bukit

ini hari ketiga lebaran.
aku telah berpupur. dengan kebaya hadiah cucu-ku, lebaran lalu.
dengan letih dan rematik yang terasa kian sering ini.
aku duduk di beranda. memandang jalan.

mungkin tak ada yang datang di lebaran ini
hanya angin kemarau yang memainkan genta bambu di sudut beranda.
berkelontang, mengetuk-ngetuk ingatan.

biasanya dari jauh, setelah deru bus menjauh. di lembah kulihat ada saja yang jalan menjinjing bawaan.
kanak yang berlelarian dengan baju baru cerah sambil tertawa-tawa.
sesekali debu terbang dihalau kaki mereka.
tapi kali ini tak ada yang berkunjung.

mungkin memang tak ada yang datang lebaran ini.
hanya guguran pelepah bambu kering yang jatuh,
ranggas menari baling-baling.
ah angin yang terasa kian asing.
tapi tak kutahu apa yang sebenarnya hilang.

---catatan dari lebaran di kampung, camba 2006

Saturday, November 25, 2006

welcome statue

selamat datang para peziarah. jenguklah terang kota ini.
bawalah semua mimpi yang kalian punya. mari menari.

selalu kulihat kalian tiba dengan sayap-sayap yang sukacita. sambil bersenandung, terbang mengitar pada kuning lelampu. berharap menukar resah yang kalian bawa dengan sebatang-dua batang harapan.

saat kulihat sebagian jatuh dengan sayap remuk. juga yang mati dalam kuyup hujan.
lalu sebagian terbang menyusuri gulita, ketika lampu kembali padam.

maafkan aku tak bisa lagi bersedih. aku hanya beku, dengan tangan membuka dan senyum yang kekal.

datanglah-datang para peziarah, betapa aku merindukanmu selalu.
selamat datang.

jakarta, 2006

Harapan

“Terkadang harapan kita, bisa jadi hanya kekosongan. Tapi kita terus memburunya tanpa sadar…”

Penggalan kata di atas sebenarnya ingin kukatakan kepada seseorang, tapi kuurungkan hanya karena kutahu mungkin saja saya termasuk di antaranya; mengejar sesuatu yang kukira nyata. Seperti mengejar fatamorgana.

Ia pamanku, seorang yang kutemui hanya setiap aku berada di kota ini. Seseorang yang diusianya yang ke-56 masih membujang. Entah sudah berapa lama ia disini, tapi tiap kali bertemu, ia hanya berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya tak kupahami benar.

Kali kemarin terakhir aku bertemu, ia hanya bercerita; kalau ia sementara mengurus uang belasan peti dolar brazil dari zaman orde-lama, yang katanya akan dibeli seseorang yang entah. Barang ini, konon dalah hadiah buat Bung Karno (BK), di masa jayanya dulu, dan masih dikejar orang-orang tanpa penjelasan rinci mengapa mata uang lama tersebut masih dikejar.

(Aku hanya teringat Dana Revolusi simpanan BK yang banyak meninabobokan orang-orang yang ingin cepat kaya. Juga teringat orang-orang yang bermimpi akan nasib baik dan cepat kaya yang disediakan kehidupan ini, namun dihempas kenyataan.)

Sebelumnya, setia kali bersua, ia hanya bercerita tentang rencana ataupun proyek yang seperti sedang digelutinya. Tentang mimpi-mimpi bahwa nasib yang akan berubah cepat jika saja waktu berpihak dan ia tak perlu lagi berpindah dari satu tempat kawan ke tempat kawannya yang lain.

Setiap kali aku berbicara tentang pulang, Ia mengelak, seraya menyebut sekian rencana yang akan dilakukannya. Aku selalu bisa menebaknya, selalu berkenaan dengan benda-benda masa lalu, atau kehidupan yang gilang gemilang kalau saja nasib baik itu terjadi. Ia akan selalu menutupnya dengan, “ doakan saja, supaya ini cepat terlaksana..”. aku dengan putus asa, mungkin merapal “amin..”, meski seperti merapal kutukan akan keputus-asaanku sendiri karena tak mampu membujuknya.

Ia, kata pamanku itu, meski kudengar suara itu terdengar letih, ingin kembali ke kampung halaman kami dan menegakkan nama besar Kakek, yang adalah ayahnya –yang dulu adalah salah satu Tuan, dari 3 Tuan dimasanya. Nama besar yang menurutku berarti Kekayaan, Nama yang disebut handai taulan dengan takjub, dan mungkin dengan decak kagum. Dan ia mugnkin baru akan menikah dengan pesta yang meriah dan disesaki semua kerabat.

Jika kusebutkan tentang kehidupan yang tetap sederhana, tanpa harus dikepung mimpi yang muluk, ia hanya bilang kampung tempatku dan sebagian besar kerabat menetap, tidak menyediakan mimpi yang bisa dengan cepat menyata. Ia bilang; “hanya di kota ini, semua itu mungkin…”
Kalau saja ia tahu berapa ratus ribu harapan yang luluh lantak di kota ini.

Kadang kupikir ia hanya mengejar labirin ilusi yang menyelubungi dirinya dan membuatnya tetap berputar-putar, tanpa pernah kemana-mana. Tapi mungkin saja aku atau siapapun bias saja menjadi ia kan?

Mampang, Jakarta

Wednesday, November 22, 2006

Bush dan Negeriku

Dua kali memasuki Kota Bogor, saat kedatangan Bush; seperti melihat kenyataan kalau negeri ini memang memilukan.

Menjelang kedatangan presiden yang senang perang itu, ratusan tentara berseragan loreng menyebar mengelilingi kebun raya. Siaga mengokang senjata. Juga ratusan orang berseragam lainnya parker di sekitar persimpangan jalan yang sebelumnya sudah diblokir dengan kawat duri.

Warga Kota Hujan, yang biasanya tenang, dipaksa untuk berhenti melangsungkan kehidupan kota yang biasanya semarak dengan asinan, talas, dan hari yang semarak. Selama 2 hari kehidupan warga berhenti, meski biaya penyambutan yang dirogoh Pemerintah RI 6 miliar, namun kerugian ditaksir hampir mencapai 100 miliar rupiah, ditambah biaya yang tak terhitung lainnya.

Meski hampir diseluruh negeri, presiden yang dengan pandir mengaku mengemban titah tuhannya ini untuk meneruskan perang, disambut aksi protes, toh ia datang melenggang, dan ia disambut seperti messiah yang membawa peta jalan terang.

Dan dengan hati yang perih, mungkin inilah negeriku.

Saturday, October 21, 2006

maaf

kepada semua yang pernah singgah bertamu, maafkan saya yang mungkin pernah menyinggung ataupun membuat rasa tak nyaman pada anda sekalian. mohon biarkan saya menjabat hati anda semua melalui surat ini. maafkan saya, agar hati ini terasa lebih lapang menjalani hidup yang sebentar ini. semoga semua kembali suci, terlahir kembali serupa bayi.

salam
-ahmad k. syamsuddin

Thursday, August 31, 2006

Senja di Losari

---dear tejji kara
Aku rindu senja.
Ketika kau tertegun dan tak ingin ada suara yang menyela bergulirnya bundaran merah cair itu di kaki langit. Kau ingin kita diam, hanya melihat ia hingga hilang menyisakan lembayung.

Lalu Senja pada manik matamu. Seperti bara.tembaga di dasar danau. Kubayangkan yajuj-majuj yang ditawan raja zulkarnain, di kaki langit terjauh, tempat kaldera menyala merah bara yang baka. Dimana ia serupa aku; terpenjara. Dan kekal ia pada matamu.

Aku rindu senja.

sajak kenangan

Kau pergi dan mungkin aku akan segera menutup pintu. Mengunci semua jendela dan lubang angin agar tak kuindera lagi suara cuaca dari luar tempat kita pernah bermain dengan salju, matahari dan guguran daun.

Kau akan pulang pada rahim tempat kau bermula, katamu. Tempat semua dongeng tentang lampu-lampu yang tak pernah padam, tempat matahari tak pernah benam ditelan musim. Kau ingin kembali pada hari ketika waktu belum terputar dan membawamu pada kenyataan.

“Ah waktu kalau saja semua baka, dan kita tak perlu menjadi tua. Kita bisa jadi peter pan, yang melintasi angin dan awan tanpa perlu takut terluka”
“Tapi kita bukan peter pan, dan waktu tak mengizinkan kita kekal” Maka kau harus berangkat, mengemasi semua yang sempat tertinggal.

Usai kau berkemas, mengapa tak kau kemasi semua kenangan ini, agar tak mengusik di tiap sunyi malam. Meski telah kukunci semua jendela, lubang angin dan pintu. Mengapa kau biarkan kenangan ini tertinggal; kini menjelma semak yang tumbuh cepat di ingatanku. Dan ia tak juga ranggas meski telah berkali kemarau tiba.
2006

::orkestra pasar cidu

Pagi. Hari masih terang tanah. Cahaya matahari jauh di timur masih melukis barisan pegunungan bulusaraung. Aku di beranda, menggenggam segelas kopi yang masih panas. Melihat satu persatu mereka tiba. Semuanya berkiblat ke satu hadap. Semuanya menghadap ke jalan. Lalu mulai menyusun harapan mereka untuk hari itu. Suara masih seperti bisik yang mulai agak keras.

Seorang ibu muda mulai mengangkati balok-balok kayu untuk dijadikan tatakan di meja jualannya. Sebelumnya, Ia meletakkan balok perlengkapannya itu di balik meja. Ia menjual kelapa butiran, jadi harus meletakkan balok-tatakan, agar kelapa bundar miliknya tak menggelinding jatuh ke jalan. Satu per satu disusunnya, seperti membingkai tepi meja. Lalu bersama bedak yang baru saja ia pupur di wajahnya, ia pun tersenyum; dan
Sesekali bersenandung; mungkin membayangkan persetubuhannya semalam.

Datang Lelaki bertubuh besar gempal, berkumis lebat menyandarkan kendaraannya. Diturunkannya bakul berisi sayuran gandengannya –bakul ini 2 buah, dipasang bersisian, dalam bahasa Makassar, disebut, Kamboti. Ia datang dari Takalar, sekitar 70 kilometer dari tempat ini. Pelan ia mulai memasang tenda, dinaikinya bangku yang kuragu bisa menopang tubuh raksasanya. Tapi ia naik. Berjinjit dan satu-satu mengikat tali tenda miliknya. Dari punggungnya, tersingkap sebilah pisau besar-berkilat yang biasa ia gunakan menggurus sayur-sayurnya. Ia sempat tersenyum melihatku di atas beranda.

Aku teringat cerita orang-orang, ketika lelaki bertubuh besar ini, pernah tak muncul selama sepekan. Rumahnya, kata orang-orang, baru saja dimasuki kawanan perampok, dan Ia sendirian mengusir kawanan itu, setelah membunuh seorang di antaranya. Dan warga kampungnya ramai-ramai mengaku telah menghakimi perampok yang tewas itu, agar lelaki bertubuh besar ini tak diciduk polisi. Kubayangkan lelaki itu mematahkan batang leher perampok itu, seorang diri. Atau menebas kawanan ini seperti Miyamoto Musashi menebaskan samurainya. Apakah ia tersenyum saat membunuh perampok itu.

Hari mulai terang. Matahari sudah naik. Sinarnya menerpa wajahku. Kuhirup kopiku, masih hangat. Di timur, langit kian terang.

Di persipangan, kulihat penjual ayam menunggui dagangannya; ayam mati yang dihinggapi satu-dua ekor lalat. Wajahnya agak pias Beku tanpa senyum. Hanya duduk melihat orang lalu lalang. Mungkin ia telah tiba pagi-pagi sekali dan membunuhi ayam-ayam putih itu, sebelumnya melemparnya ke dalam air panas. Ia jagal yang berani merenggut kehidupan, tapi ia seperti lelaki kesepian yang duduk menunggui jenazah kerabatnya yang telanjang tanpa kafan yang entah kapan dimakamkan. Meski tak ada temaram lilin, namun wajahnya cukup menegaskan suasana duka.

Di seberang. Penjual rempah bertubuh pendek, mulai menyusun semua dagangannya dengan cepat. Satu persatu dan tergesa. Merica. Ketumbar. Bawang. Pala. Kunyit. Rasanya ia seperti perempuan tukang masak bertubuh tambun di rumah seorang Portugis, yang baru saja merampas rempah-rempah di Maluku atau mungkin dari Malaka.

Dari selatan, terseok-seok becak mengangkut potongan tulang-tulang kerbau, yang masih berwarna merah darah. Paling di atas, tengkorak kepala dengan mata yang masih dalam liangnya. Membelalak. Berkali-kali ia mencoba menghalau penjual yang menghalangi jalannya. Ia dari rumah jagal dan sepertinya merasa pulang sebagai pahlawan. Atau ia membayangkan isi tubuhnya sendiri. Jika saja ia yang teronggok di becak yang tungganginya.

Lalu penjual ikan datang. Ia baru saja dari tepi lautan. Mengambil isi perut kapal yang baru saja pulang berlayar bermalam-malam, bersenggama dengan laut, malam dan cuaca. Dan ikan-ikan itu pun terlahir. Ia segera menjual ikan-ikan yang serupa manekin beku. Telentang dengan mata tanpa kelopak.

Penjual kue memajang kue-kuenya. Gorengan-gorengan yang bernapas seperti potongan-potongan tangan atau kaki, membuat kaca lemari berembun minyak.

Suara mulai bising, berisi banyak percakapan. Satu persatu mulai memainkan alat musiknya dan jadilah orkestra Pasar Cidu. Matahari mulai meninggi.

Friday, July 14, 2006

sekolah dan selangkangan

tadi petang, dari siaran berita di tivi, seorang siswa smp yang baru saja akan naik kelas 3, sampai harus melacurkan diri di lokalisasi dekat rumahnya, --dan mengaku, untuk bisa bayar tunggakan sekolahnya 100 ribu rupiah. aku terhenyak; sedemkian terdesakkah Arum (namanya tentu saja disamarkan) hingga harus menukar selangkangan dengan janji-janji manis hasil pendidikan yang akan memanusiakan manusia? jika benar; mungkin ia terdesak. tapi dimana semua yang seharusnya meyakinkan anak-anak negeri ini untuk bisa menempuh sekolah tanpa harus menjual semua milik mereka, termasuk selangkangan? (aku tak bisa meneruskan mendengar berita yang demikian merisaukan itu)

demikian buramkah wajah negeri yang gembar-gembor mengalokasikan 20 persen dari anggaran belanja harus untuk pendidikan?
demikian nistakah kita semua. anak negeri harus menjual semua yang mereka miliki hanya untuk tetap bersekolah? masyaallah negeri ini. inilah potret kita. potret negeri yang demikian menyedihkan.

jika besok, kau generasi yang tumbuh setelah kami semua musnah; maafkan aku. maafkan kami semua.

Monday, July 03, 2006

Di Pasar Cidu ada pesta.

Di pasar cidu ada pesta, pestanya meriah sekali. Datang tak dijemput pulang tak diantar.

Ada salah satu warga yang menikah, dan satu-satunya ruas jalan di Pasar Cidu pun ditutup untuk disulap sebagai ruang resepsi (ruang tambahan lainnya, tempat pelaminan dipasang adalah jembatan di atas kanal besar yang menghubungkan rumah dengan jalan). Setelah upacara salam-salaman selesai, pengantin pun masuk ke dalam rumah. Dan pesta sebenarnya baru dimulai.

(sebenarnya ada bau tuak, entah dari mulut siapa)

3 buah lampu 100 watt menjadi satu-satunya lighting, yang kuyakin dipasang dengan me-ngelos-kan meteran listrik sementara, agar bisa mengakses ratusan watt tanpa terbaca meteran.

Tahu kan elektone? Sejenis organ yang bisa berbagai jenis alat musik. Itulah band pengiringnya. Entah siapa yang memulai, dan Mamanya Andi meraih mic, dan mulai menyanyikan lagu lama berbahasa bugis. Dan kami semua bersorak, bersiul, bertepuk tangan.

Dan yang menarik menurutku, beberapa anak muda yang dandanannya agak mirip Punk –dengan rambut pirang, dan tindik di beberapa bagian tubuh, malah ikut menari mengikuti irama lagu bugis. Meski kuyakin musik kesukaan mereka adalah lagu-lagu baru yang bernada keras, atau paling tidak bukan yang berbahasa daerah, tapi ternyata mereka menari dan bertepuk tangan. Meski mereka memilih dandanan yang mereka anggap modern, namun toh yang “lokal” dan “tradisional” rupanya tetap ada diam-diam di sudut ingatan mereka.

(penyanyi band-elektone, nampak sibuk memperbaiki dandanannya. Tak terusik.)

Ganti berganti, semua ambil bagian menyanyi. Lalu si Ucuf menyanyi dangdut. Disusul Daeng sido, penjual ikan yang jika berbau arak, itu berarti ikannya tidak laku, dan ia pun menghabiskan sisa ikannya bersama arak.

(di kejauhan, bapak tukang pungut retribusi pasar, yang berkumis tebal melintang, duduk di atas meja ikan yang menjadi blokade jalan. Tersenyum-senyum)

Kursi plastik beraneka model berwarna merah berjejalan dipenuhi warga. Banyak yang datang dengan sandal seadanya. Beberapa di antaranya masih memakai riasan sisa acara sebelumnya.

Dan semuanya menari, menyanyi dan bertepuk tangan –juga si pirang. Semua rasanya menyatu, tertawa, menari, dan bertepuk tangan. Pesta dengan kesederhanaan yang mungkin tak terbayangkan. Tapi kupikir dengan itulah mereka turut merayakan kebahagiaan warganya, yang mungkin akan segera dibawa oleh suaminya dan nasib yang lainnya.

Kutemukan beberapa teman sepermainan yang telah merantau, yang pulang sekedar untuk menghormati pesta ini. Lalu kami berbincang tentang orang-orang yang kami kenal namun tak bisa datang. Dengan senyum masih terkembang asap tembakau menari-nari di antara kami.

Di pesta di pasar cidu. Semua datang tak diantar, lalu setelah lelah—mungkin ada yang mabuk dengan arak murahan, semuanya pun pulang tanpa diantar. Setelah pesta hanya bau amis dan bacin khas pasar yang tinggal.

28 Juni 2006, malam

Thursday, June 22, 2006

BANJIR

kalau saja kau ada di sini, akan kau lihat sisa jejak Maut yang mengangkut jiwa-jiwa ini. Dengan mengendarai bah, dirangkumnya satu-satu jiwa untuk kembali. Terbacakah tapaknya pada puing? pada sisa air. pada lumpur. pada jasad-jasad yang basah. betapa kehidupan adalah retak sementara.

Sunday, June 18, 2006

RUMAH*

Photobucket - Video and Image Hosting">Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" alt="" />
(pada sebuah rantau yang panjang)


Pada sebuah pagi yang dingin, seorang kawan mulai bercerita tentang seseorang yang selalu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam seminggu, kata kawanku itu, orang itu akan sangat sulit dijumpai berada pada tempat yang sama dengan minggu sebelumnya. Ia selalu berziarah, menjenguk tempat-tempat yang sarat sejarah dan penuh pesona; entah itu Yunani, Mesir, kota-kota tua di Eropa atau entah belahan mana di bumi ini. Lelaki itu kerap disebut sebagai ”Peziarah Kebudayaan”. Ia Perantau.

”Mungkin ia tak lagi memerlukan Rumah. Dimanapun ia merasakannya,” ujar kawanku menerawang pada bingkai jendela, pada cuaca luar hujan berangin. Aku berpikir telah berapa banyak kenangan yang telah ia petik? Juga berapa tempat tetirah yang ia jumpai setelah demikian banyak berziarah? Tidakkah ia suatu saat merasa letih dan memutuskan untuk istirahat pada suatu tempat, seperti orang lainnya. Bermukim menikmati kehidupan dengan berdiam, tenang. Tidak dengan perjalanan yang berganti-ganti.

”Tapi apakah mungkin ia tak punya kesetiaan. Sebuah akar untuk berpijak. Boleh jadi ia tak punya cinta; sebab ia selalu bergerak dan selalu dalam perjalanan. Berhadapan dan menyesuai pada kenyataan baru yang asing”. ”Kau harus belajar tentang cinta dan kesetiaan yang lain..” ujar temanku mengutip sepotong sajak entah milik siapa, menuntaskan sarapannya kemudian berangkat menembusi cuaca yang galau dalam lingkung angin. Cuaca yang banyak membuat orang lebih memilih mendekam pada sebuah ruang yang hangat. Berdiam agar terhindar dari dingin yang menusuk.

***

Rumah tentu tak sekedar sebentuk ruang tempat berlindung dari cuaca. Rumah boleh jadi adalah tempat menyusun kenangan dan mengindera perubahan.; meneruskan kehidupan. Namun bagi jiwa-jiwa yang telah bepergian dan bertemu dengan banyak kenyataan, Rumah tentu tak sekedar tempat istirahat bagi tubuh yang lelah.

Rumah lebih bagi jiwa, yang juga berarti sebagai sebuah perasaan diterima dalam keadaan patah sekalipun. Tempat dimana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan sesuatu. Dimana seseorang diterima dalam segala keadaannya, dan itulah Rumah yang bersedia memeluknya. Bahkan sebagai yang datang bersama remuknya, dan toh, ia tetap disambut hangat sehangatnya.

Rumah adalah sebuah puisi, sebentuk tulisan yang setiap orang meresapinya dengan kesunyiannya masing-masing. Kesejukan yang diindera sebagai keindahan sendiri-sendiri oleh yang berdiam padanya.

Kita yang hidup adalah perantau yang terus menghadapi sehimpun kenyataan yang berubah-ubah dan tak terduga. Lalu mungkin kita hanya berumah pada kenangan. Berdiam pada sesuatu yang telah jadi masa lampau, sambil bergerak pada kekinian.

Tiap kita sebagai manusia modern, seperti ”jiwa-jiwa tak berumah”...;”Homeless Mind”, Peter L. Berger pernah berkata, mungkin dengan lirih dan muram. Tentang manusia modern yang sementara bergerak mengindera masa depan, namun di saat bersamaan separuh kakinya masih berpijak pada masa lalu. Tentang mengakar pada tradisi milik nenek moyang,tapi juga dengan kesetiaan yang lain; ”modernitas” –perburuan kehidupan masa depan yang bergerak cepat tak terduga.

Seperti kepercayaan pada petuah dan benda-benda keramat gaib lainnya dan saat bersamaan juga mengikut pada rutinitas tergesa-gesa pada setiap pagi di jalan kota besar. Orang yang gegas mencari ”sesuatu”. Mencari yang hilang atau mencari yang belum ditemukan. Seolah mencari sesuatu pada entah

(Rumah atau sebentuk yang dianggap rumah)

*Dimuat pada rubrik CERMIN, penerbitan kampus identitas
Universitas Hasanuddin, No. 591/ Awal April 2004

Tuesday, June 13, 2006

Piala Dunia dan Nasionalisme di Sebuah Lorong




32 Negara berebut kulit bundar ini dalam Piala Dunia 2006. Ada cerita, di Jalan Titang Makassar. Warga lorong ini, sejak Piala Dunia 1998 lalu, (--meski rumah mereka terlihat sederhana dan tidak makmur) mengibarkan puluhan bendera berukuran besar dari Negara-negara peserta piala dunia sesuai dengan kesukaan mereka.

Di lorong sepanjang 4 ratus meter ini, ada Brasil, Jerman, Argentina, Inggris dan Arab Saudi, di depan rumah orang Bugis, Makassar, ataupun Toraja. Seperti kegembiraan yang tak mengenal batas. (--walaupun –entah siapa yang memulai, di lorong ini ada laranagan mengibarkan bendera Amerika Serikat Ï‘ ).

Dan saat tim kebanggaan mereka kalah, maka dengan lapang hati mereka, harus menurunkan bendera menjadi setengah tiang. Kenapa tak dicopot saja sekalian, namun menurut mereka; “ meskipun kalah, kawasan kita bersama harus tetap semarak dengan warna bendera yang kalah dan menang. Semuanya tetap mewarnai lorong ini”. Semuanya bergembira dengan kelapangan hati yang sederhana.

Ketika ada yang menyayangkan kenapa, tak ada warga yang mengibarkan bendera Indonesia, merah putih, sebagian warga –meski terlihat bimbang, cuma berucap; “ini musim Piala Dunia, bukan soal kemerdekaan…”

Di antero lain jagat ini tentu saja berlangsung cerita-cerita kecil kenduri tentang akbar olahraga yang bahkan mengalahkan Olimpiade yang memajang beragam cabang olahraga dan peserta dari berbagai Negara di dunia..

Piala dunia mungkin memang tentang musim yang tak tergantung pada cuaca. Tentang kegembiraan yang serentak. Mungkin ini tentang global village-nya Marshall Mc Luhan. Tapi yang jelas, tidak tentang nasionalisme…

Bencana dan Hati Kita

Photobucket - Video and Image Hosting

Belum lama, Jogja dan jawa tengah diguncang Gempa Tektonik dan membunuh lebih dari 5000 jiwa. –berarti memusnahkan populasi yang sejenis saya atau kau sebanyak kira-kira kalau dikumpul seluas beberapa lapangan sepakbola.

Banyak cerita. Ada yang menolak bantuan Negara asing, sambil berbicara di media kalau mereka bukan bangsa yang pemalas. Namun di saat bersamaan dan media yang sama; bercerita tentang negeri yang tertatih menegosiasi ulang utang luar negerinya.

Juga ada cerita miring tentang dana bantuan dari berbagai uluran tangan. Serta kisah-kisah sedih dan ajaib yang melatari kisah rubuhnya ribuan rumah dan terusirnya ibuan jiwa lainnya.

Aku teringat Aceh. Juga ingatan yang hampir sama sarkartiknya. –kecuali bahwa 26
Desember 2004 adalah hari ulangan tahun-ku yang ke-24, kini Tsunami akan mulai dilupakan. Kecuali kadang-kadang muncul cerita tentang musibah yang melanda sekitar 200 ribu jiwa ini.

Photobucket - Video and Image Hosting

Tapi kini kehidupan berjalan terus. Mereka mulai menghilang dari porsi pemberitaan di media-media. Setelah semua berangsur pulih, cerita dan juga ingatan mulai dialihkan ke malapetaka terbaru di negeri ini. Saat para korban kian berkutat dengan kehidupan yang terasa demikian keji, Televisi mulai mencari musibah terbaru untuk dijual kepada kita yang menonton semuanya sambil makan siang.

(tahu tidak, apa yang dipikirkan sebagian besar kami (--koresponden dan stringer stasiun tv, serta kacung rating lainnya) “ Sialan…Koresponden Jogja kaya lagi.”: Ada juga yang bilang sambil bersalaman : Selamat berpuasa..(--maksudnya liputan mereka di daerah ini akan sulit ditayangkan, karena prioritas bencana besar tersebut; jadi itu disebut “puasa”). Aneh kan cara sebagian wartawan melihat bencana. Mungkin bad news is a worse news..for our own humanity.

Hidup memang ajaib. Dan mungkin kita harus sering menghadapi dengan hati yang sarkartis.

Friday, April 28, 2006

Sebuah pagi dan kopi di Pasar Cidu

Dengan mata yang masih berat, aku duduk dalam kepungan asap, di sebuah tempat minum kopi, yang terselip di lorong belakang gudang tua --sisa-sisa kejayaan pasarcidu di tahun 60-an. Namanya Warung Kopi Daeng Naba, tapi entah sejak kapan warung ini ada.

Kini, dengan meja-meja yang mulai aus dimakan usia. Juga Dinding-dinding yang hitam, diasapi asap tembakau dan asap tungku kopi, setiap pagi warung ini menerima para lelaki-lelaki pasar cidu, yang datang. Lalu gelas demi gelas kopi-- yang lazim disebut sebagai "Kopi Tipis dan Kopi Tebal" mengalir dan mulai membasahi tenggorokan para pengunjung; ditingkahi obrolan. Hidup mulai dengan kopi.

Warung ini hanya berlantai tanah yang sebagian sempat dilapisi semen kasar, berdinding kayu, dengan meja kayu dan kursi plastik yang mungkin akan menakjubkan para eksekutif yang biasa menikmati kafein di Starbuck, Excelso ataupun tempat ngopi lainnya di mall-mall.

Namun, sepertinya dari sinilah sebagian besar lelaki di Pasar Cidu menyegarkan kembali harapannya. Atau menajamkan ingatan tentang kejadian di sekelilingnya, atau mungkin melepaskan sisa api di dadanya sebelum memulai hari dengan mata yang lebih nyala.

Seiring matahari yang beranjak naik, seolah menyorot dinding kusam gudang, di belakang Warung kopi milik Daeng Naba ini, para lelaki ini kemudian pulang. Sebuah Pagi dan Kopi. Seperti merayakan sebuah waktu dengan Dosa yang nikmat

Saturday, April 22, 2006

::apa kabar diri sendiri?

apa kabar diri sendiri, sore ini?
baik, bukan?

"mad, apapun yang kau hadapi, seberapa pun beratnya, ingatlah untuk tetap bernafas, dan yakinlah besok; semuanya akan baik-baik saja.. matahari, masih akan ada esok, dan kita masih harus menjalani hidup ini dengan keras kepala yang kita punya"

Saturday, April 01, 2006

Karnaval Jalan Kakatua

Aku ingin bercerita tentang Jalan Kakatua, di Makassar. Meski tak banyak yang menarik dari jalan ini kecuali setiap menjelang laga sepakbola PSM Makassar di stadion yang salah satu mulut pintu masuknya ada di jalan ini, maka Jalan Kakatua akan penuh dengan supporter yang tumpahruah dengan beraneka kostum , berwarna merah menyala.

Para supporter yang sebgaian besar masih belia ini tampak demikian hidup. Ada yang menggunakan topi bertanduk dan memenuhi wajahnya dengan coretan cat. Ada yang memegang pataka dan bendera berlambang tim sepakbola Makassar sambil bersorak-sorak, dan duduk gagah di sepeda motornya yang meraung-raung. Para supporter ini hampir serupa William Wallace dan pejuang Irlandia lainnya yang memegang tombak panjang dan menunggang kuda.

Hampir tak ada yang menggunakan helm. Semuanya mungkin percaya Tuhan akan melindungi kepala mereka dari aspal jalan ini. Yang jelas, polisi lalulintas yang biasanya akan dengan rakus memeras setiap pengendara yang tak memakai helm, kali ini, nampaknya membiarkan mereka menjadi raja barang sehari.

Ratusan supporter ini kemudian berkumpul di mulut pintu masuk stadion, menunggu mereka diizinkan masuk. Atau menunggu ada kemungkinan masuk di stadion tanpa harus membeli karcis. Sebagian akan memilih membayar beberapa ribu, dan dizinkan memanjat dari tali yang telah disediakan.

Yang jelas semua tumpah ruah, dan jalan ini demikian semarak seperti karnaval yang penuh warna. Setidaknya, para anakmuda yang sebagian berasal dari lorong-lorong sempit kota ini, bisa merasa gembira.

Juga merasakan kelapangan jalan yang menerima semua yang ingin berjalan di atasnya…meski ia orang gila dan gembel sekalipun.

Mungkin inilah karnaval Jalan Kakatua, yang selalu ada setiap menjelang adu sepak bola di stadion Andi Mattalatta (dulu namanya Stadion Mattoangin)

Friday, March 17, 2006

Tak pulang ke rumah

"when all my work's over. i'll fly home"

mmm, belakangan ini aku jarang pulang ke rumah. Hari terakhir aku pulang, aku segera berbaring di lantai kayu kamar-ku (dan aku yakin, bahkan sebelum terlelap, aku akan segera menghirup habis semua debu yang berada di sekitar hidungku..). Sebelum lelap, hanya ada ibu yang bertanya, "apa kau perlu kasurmu? kasurmu sedang dipakai adikmu,"
aku hanya berkata, "tak perlu"

mungkin adik bungsuku mengira aku tak pulang, dan ia lagi enggan berbagi ranjang dengan adikku yang lain..

ah, rumah..

belakangan ini, aku jarang pulang ke rumah. aku seperti pelancong tak beralamat. mencari tempat berteduh, saat kantuk mulai memaksaku untuk berhenti. syukurlah, pekerjaanku tak mengharuskan kau memakai setelan tertentu dan mandi pagi, so dari manapun aku mulai berangkat di pagi hari; hampir tak jadi masalah --dengan atau tanpa mandi pagi; tak ada yang protes.

lalu rumah mulai mengabur dalam ingatanku.

tapi ketika semua baru saja kuselesaikan, aku tiba-tiba saja ingin pulang.
mungkin akan ada sebentuk matahari yang cerah, yang akan mengintip dari jendela kamarku..

atau mungkin tak ada bedanya? dari jendela ruang manapun toh matahari akan selalu serupa.

Selamat malam, semua yang berdiam dalam rumah..

Friday, December 23, 2005

:::Jelang Hari Raya

Apa yang menarik setiap menjelang hari raya?

mungkin setiap orang, akan membayangkan sesuatu yang membahagiakan, ataupun hal yang menyenangkan lainnya. Menjelang Natal ataupun jelang Lebaran.

Kanak-kanak, mungkin akan membayangkan hadiah yang ditaruh sinterklas di kaus kaki yang mereka gantungkan di dekat perapian. Dalam tidur mereka di malam natal --yang biasanya digambarkan dengan musim dingin yang penuh salju, mungkin mereka bermimpi tentang lelaki tua berjanggut putih dengan kereta yang ditarik oleh barisan rusa kutub dan akan mampir di tiap rumah membagikan hadiah.

Sedang jelang lebaran; setiap anak yang akan berlebaran besok, mungkin akan tidur tak terlalu nyenyak, membayangkan bahwa mereka besok akan berbaju baru- dan akan makan kue dan bertemu dengan kawan-kawan mereka..

tentu saja itu semua mungkin, seperti hal-hal lainnya yang nisbi sebab toh ada wajah lain di malam jelang hari raya. Bagi setiap yang papa; Natal toh tetaplah bisa jadi sebuah siksaan, sebab meski mereka menganggap kasih yesus kristus sampai pada mereka, namun mereka bisa saja mereka menjalaninya dalam lapar.

Dan bagi si fakir; lebaran tak sepenuhnya toh membahagiakan, sebab mereka toh akan lebih memilih untuk menjadi pengemis di lapangan tempat para saudara mereka yang berkecukupan usai berhari-raya.

Masing-masing adalah bagian hidup, yang entah bagaimana mengurai sebuah penjelasan yang cukup bagi setiap kita; bagi setiap hati yang merasakannya.

Tapi, malam di jelang hari raya dekat-dekat ini; setiap kota waspada pada hantu-hantu teror yang bisa saja mengantar ledakan, ketika kita yang ---mungkin, sedang bergembira.

Ah, entah siapa yang mulai mengajari anak negeri ini, meledakkan saudaranya untuk memperoleh surga seorang diri...

Maaf Tuhan, setiap jelang hari raya; aku sulit bergembira...

Monday, October 24, 2005

::insomnia memintaku tak tidur lagi malam itu.

Image hosted by Photobucket.com
nah, cobalah tidur agak larut. lalu dengarlah lagu penutup siaran, dari sebuah stasiun tv dan amati gambar-gambar yang ditayangkannya.
lagu mengalun merdu tentang indonesia (iya, indonesia!!! yang kita cintai atau tidak, tapi karena kita terlahir di sini; maka ini negeri kita)

amati "indonesia" lewat lagu dan gambar-gambar yang menetramkan itu.
di antar lagu yang syahdu mendayu, dan mengalirlah gambar; mulai dari hamparan hutan, gunung, sawah permai, pantai indah dan masyarakat yang tenang memetik hasil alamnya.

benar-benar serupa surga; tempat menyenangkan "untuk akhir menutup mata..."

benar-benar kampung halaman yang dikenalkan sekolah dasar padaku..gemah ripah loh jinawi, tempat --bahkan tongkat pun akan tumbuh.

ah, cerita memang terkadang berlebih-lebihan.

apakah "ini" juga indonesia?
Image hosted by Photobucket.com
utang-kita ke negeri lain, membuat pemerintah republik indonesia tak lagi merdeka menentukan kebijakan; menentukan tujuan. dan jadilah rakyat indonesia (yang memetik hasil bumi dengan riang, dalam gambar di stasiun tv itu) menanggung berbagai kebijakan ekonomi yang menyengsarakan..

salah satunya, harga minyak naik, dan lihatlah bagaimana pemerintah republik indonesia menanganinya lewat bantuan kompensasi kenaikan bbm--juga di tasiun tv yang sama;

berapa banyak yang harus berebut, hingga ada 2 orang tua yang mati karena antri (mungkin ini hanya terjadi di negara komunis beberapa waktu lalu). berapa banyak yang mengamuk dan menjadi anarkis, menjadi wajah-wajah beringas yang mungkin tak kita kenali lagi. berapa banyak warga yang berebut menjadi miskin, menghilangkan kehormatan untuk mendapat 100 ribu rupiah per bulan. itu indonesia

juga nelayan dan petani yang lebih banyak kita kenali dari setiap demonstrasi yang mereka gelar. meminta peraturan pemerintah nomor 36 tentang hak pemerintah indonesia untuk 'merampas' tanah untuk publik(?). nelayan yang tak lagi melaut, karena hanya akan menderita kerugian dari hasil melaut mereka yang tak bisa menutup ongkos sekali melaut.

lainnya, wabah ganti-berganti membunuh anak-anak indonesia, karena pemerintah tak lagi bisa menangani dengan baik, agar anak-anak indonesia bisa tetpa hidup dengan sanitasi dan kesehatan yang baik.

beribu kayu batang dari hutan indonesia yang dicuri, dan segelintir orang menjadi kaya dari tiap tanah longsor dan banjir yang melanda penduduk di sekitar hutan..

banyak hal yang tak muncul dalam siaran penutup di dinihari itu.
(aku tahu, kepalaku berdenyut pelan, hatiku tak tenang, tapi kita tak bisa memilih untuk terlahir atau tidak di sebuah negeri, memang...)

ah, insomnia ini memicu kejut tak hanya di kepalaku, tapi juga di hatiku.
selamat malam, bagaimanapun aku tetap orang indonesia. kita masih bisa tetap hidup di satu negeri tanpa harus mencintainya kan?

selamat malam, sekali lagi.

satu kehilangan

::untuk satu kehilangan
-kematian seseorang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik -joseph stalin

pagi yang dingin, dan kepala yang berdenyut, berbincang pelan tentang kematian yang tak berbilang, di sebuah hari kematian kawan tercinta; "berapa pun yang mati, setiap itu adalah nyawa, maka kita berhak bersedih". namun, saat melihat ribuan jenazah teronggok, juga bau bangkai yang menyeruak, terkadang mulanya hanya sebagai sebuah statistik --seperti kata joseph stalin. setelahnya, barulah kita tersadar, setiap yang mati, kita berhak bersedih; sebab itu adalah nyawa.

seseorang meninggalkan kita, terbebas dari dunia yang fana ini; apa yang hilang? sebab semua toh yang hidup akan berangkat menuju-Nya... yang hilang mungkin, adalah tempatnya di hati kita. ruang yang dipenuhi kenangan atasnya. seseorang, dengan segala warnanya. sebagai yang 'tragis', bukan "statistik", sebab setiap orang adalah kerabat --paling tidak dari seseorang yang lainnya. sebab tak ada yang lahir dari sebatang bambu, ataupun keping batu, dan dibesarkan oleh hewan ajaib, selain dalam dongeng-dongeng yang naif.

selamat tidur. selamat jalan, kawan. kau kami kenang

Friday, October 14, 2005

tentang perjalanan dan pulang

::dengan berterima kasih kepada ochan

"When all my work's over. i'll fly home," sebuah kutipan dari entah siapa, yang ia juga ragu telah mengtipnya darimana.

"Aku hanya ingin pulang lebih cepat sore ini, agar masih sempat minum teh dengan senja di depan jendela," kutipan tentang betapa telah lama tak menikmati teduh senja di rumah sendiri, saat lebih sering sibuk berada dalam perjalanan di waktu yang orange itu..

"Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang --kutipan dari seorang kawan, di halamanrawa.blogspot.com" .

Ah, "pulang", menakar perjalanan, menakar arti yang bergerak. menakar tepi. Betapa "ia" serasa menjadi serupa mantra, yang mengingatkanku dalam perjalanan ini..

aku selalu bertanya; "kemana kelak hati akan pulang, dan menakar semua perjalanan yang telah kutempuh?".

adakah itu kau?

Tuesday, September 13, 2005

::?

Image hosted by Photobucket.com

api. sebentar lalu semua usai menjadi puing

Image hosted by Photobucket.com

lalu hendak kau sebbut apa mata-mata yang menatapmu diam seperti ini?

menjadi kebal. menjadi bebal

Setelah beberapa lama berada di pekerjaan ini; serasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.
Berada di tengah bentrokan yang bergerak riuh dan mengancam.
Berada di depan orang yang menangis setelah rumahnya dibongkar para petugas bersepatu lars.
Menyaksi ibu yang meratap kehilangan anaknya setelah gubuknya dilalap api.
Mencium bau mayat. Menghirup bau tubuh yang baru saja terbakar..
Melihat wajah yang remuk dan amis darah yang berhamburan.
Mendengar riuh sirene yang berkejaran.

Berada di tempat yang terus bergerak; mengapa aku serasa kehilangan peka. Menjadi kebal. Menjadi bebal.

“Kita tak bisa terlibat; kita harus bekerja tanpa emosi..,” kata seorang kawan.

Tapi siapa yang menahan airmata dan rasa yang tiba-tiba saja menyesak melihat langsung semuanya, demikian dekat.

Saturday, September 10, 2005

berhala

Image hosted by Photobucket.com
sebut saja di pedalaman amazon tempat suku-suku kanibal, diam-diam akan memanah para antropolog kawan indiana jones, dan menyantapnya. atau suku primitive dalam dongeng the lost world.

mereka selalu punya patung atau berhala lainnya yang disembah, yang bahkan diasupi darah gadis perawan tercantik sebagai sesajen. kemudian takzim berdoa berharap segala keselamatan, kehormatan, dan kebanggaan datang dari dewa-dewi kepada mereka.

itu ritual khas suku primitif yang hanya kita temui dari film steven spielberg atau film eksotik hollywood lainnya.

namun tak perlu jauh, tiap tahun ada puluhan baligo bergambar seram, dan ratusan umbul-umbul serupa panji perang kublhai khan atau alexander the great memenuhi setiap sudut tempat kita memandang.

juga sosok patung tengkorak tinggi besar berselubung kain hitam berdiri di tepi persimpangan jalan. matanya merah menyala, memegang sabit, dan bangkai tikus.

lalu setiap malam, sepasukan manusia dengan wajah tak ramah, memegang tongkat bergiliran menjaga patung terkutuk itu siang dan malam. sebagian bahkan rela tidur dalam kepungan nyamuk dan dingin malam hanya untuk menjaga kalau saja ada pasukan ninja musuh yang datang merobohkan patung terkutuk itu...

mungkin juga, telah ada yang berdoa dan berharap kehormatan dan kebanggaan dari kaki patung terkutuk itu.

(atau apa telah ada darah perawan derdada sentosa yang telah dikorbankan pada patung itu). tapi tetap tak beda rasanya dengan jejeran patung dan berhala lainnya di goa-goa suku primitive

dan…

setelahnya, hanya hanya karena ada yang merusak salah satu berhala kebanggaan tersebut; pecahlah perang antar suku.

bersenjata panah, batu, dan kayu, ratusan warga suku bertarung mempertahankan “kehormatan”…mungkin juga berdasar wangsit dari dewa-dewa, bahwa mereka diharuskan berperang…agar tanah kediaman suci kembali dengan darah pihak musuh.

setelah perang, berhala mereka kemudian kembali dipuja.

tapi kita tak di amazon. kita ada di tamalanrea, di tempat pendidikan, tempat –konon peradaban mulai disemai.

dan kita yang menyaksikan hanya bisa bersedih diam-diam.

Sunday, August 14, 2005

senyap

Kau yang lelap dalam senyap malam; adakah kau tahu malam ini;aku masih terjaga mengindera malam dalam perih?

Kehilangan Rumah

Sekali lagi, aku harus kehilangan rumah. Tempatku pernah nyaman bernaung. Mungkin aku harus kembali melanjutkan perjalanan. Menempuh jarak menuju "Rumah";Meski hanya menduga jejak. Menuju sesuatu yang berkenan memanggilku singgah, meski kelak suatu waktu, aku harus lagi kehilangannya.

Mm, mungkin perjalanan menuju rumah, seperti perjalanan menuju Senja. Menuju sesuatu yang kian dekat, kian tak teraih. Entah.

sedikit tentang "merdeka"

"merdeka!!!!"
Aku tak hendak berdebat tentang emosi yang meletup ketika para pejuang berteriak merdeka di tiap pertempuran...juga bukan tentang "merdeka" yang diteriakkan dan dicoretkan di gerbong-gerbong kereta selepas proklamasi dibacakan presiden Soekarno,17 agustus 1945 silam.

Atau "merdeka" yang kian rumit didefinisikan belakangan ini. Merdeka yang kemudian menyebut bebas dari intervensi lembaga asing bentukan Bretton Woods; IMF, atau neo-imprealisme lewat budaya, ekonomi atau apa pun.

Menjadi warga, menjadi bagian dari bangunan kekerabatan yang besar, tapi imajiner. Rasanya Menjadi anak bangsa, seperti hanya pada sepotong kalimat sinis; bahwa kita hanya menjadi warga Indonesia saat menjelang batas waktu pembayaran Pajak, dan saat menjelang Pemilu. entahlah.

aku ingin bercerita tentang sekilas perasaan saat menyusuri lorong menuju rumahku di pasar cidu. Sekilas perasaan "sebagai warga sebuah bangsa" saat berjalan menyusur lorong yang dipenuhi dengan bentangan ratusan bendera kecil yang diuntai dengan tali rafia, lalu diikat di tiang-tiang listrik terpasang di atas jalan, ibarat kanopi. Terlihat cantik disinari lampu merkuri. Namun tetap terasa rawan rasanya.

Meski jauh di dasar hati; serasa ada yang tertusuk, tapi bagiku inilah rasanya menjadi warga sebuah bangsa; ketika diam-diam turut tersenyum melihat bendera kecil menari-nari di bawah lampu..

Mungkin rasa "merdeka" di dini hari itu; hanya sebagai senyum simpul saat melihat bendera kecil tersebut menari-nari dalam angin dini hari yang dingin, meski sadar, esok ia akan kusam, putus lalu terlupakan.

Ah, "merdeka" andai saja kata itu tak pernah ada. Atau tak perlu ada?
(Maafkan aku, Bapak Bangsa. Mungkin aku murtad)

Wednesday, July 20, 2005

senja

selalu kukenang kuning senja yang mengapung di telaga matamu.
juga angin laut yang mengantar harummu

seperti telah kutemu jalan pulang saat mengecup kelopak matamu
diam. tentram bersemayam pada hatimu

Sunday, July 17, 2005

nak...

"nak, berbaik-baiklah pada seseorang, dalam tiap pertemuan; sebab hidup ini demikian singkat, bisa saja kita tak akan bertemu lagi dengannya. sementara ingatan akan baqa mengelindan serupa magma yang membakar. sebab ingatan bisa saja kekal dendam dalam ingatan"
--pesan seorang kakek

Monday, July 11, 2005

bening

Image hosted by Photobucket.com

bening...bening...bening.
dalam hening,
semoga hati ini selalu bening menjalani semua ini hingga tiba hening yang abadi

maaf

"aku minta maaf. banyak hal; tanpa kusadari telah mengiris hatimu"
(suatu waktu, jika kau tiba di persinggahan ini; setidaknya kau tahu aku pernah meminta maafmu)

Saturday, July 02, 2005

kilas-kilas alir

Image hosted by Photobucket.com
setiap hal yang berlalu, kini kupahami hanya sebagai kilas-kilas yang melintas. serupa melihat wajah seseorang dari jendela bis yang melaju; mengingat sesaat, lalu membiarkannya berlalu; tanpa harus merasa kehilangan, memahaminya hanya sebagai pertemuan yang harus usai. mungkin di suatu waktu, saat kembali melihat wajah itu, mungkin terasa tak lebih serupa de javu;sesuatu yang kutahu, ada di ruang kenangan, tapi tak pasti dimana. sesuatu yang telah jadi demikian sublim. gaib. tapi ia ada.

ada yang berucap, "mengapa sungai demikian tenang mengalir, sebab ia tahu pasti ia akan ke muara", tapi dimanakah semua ini akan bermuara?
Image hosted by Photobucket.com
I miss u, home...

ini melankolia pejalan? entahlah. tapi hari ini, setelah melalui sekian banyak waktu yang melelahkan; aku demikian merindukan 'rumah'. tapi, aku masih tak tahu kemana aku harus pulang dan bersemayam hingga jiwa ini pulih.
setiap kita, selalu ingin menemu ruang; tempat pulang tanpa harus menjelaskan apa pun. tanpa harus takut menjadi apapun. tempat mengindera semua yang sempat dipunguti dari perjalan yang baru saja lewat?
rumah sebagai kenangan.
rumah sebagai rahim.
rumah udara.

di perjalanan ini, masih kurasa entah; pada tiap yang kutemui..mungkin serupa fatamorgana di kaki langit gurun.
"home, where are u?, I feel so tired.."

Monday, June 20, 2005

kau sebut apa rasa yang menjelma beribu bilah cemas?
aku menyebutnya sebagai rindu.
tapi toh kurasa itu tak cukup.

Wednesday, June 15, 2005

Kanak-kanak dan Waktu di Pasar Cidu


Begitu Senja jatuh, dan malam temaram. Lampu jalan yang redup kekuningan, mulai menerangi jalan seperti sorot lampu yang menyorot panggung. Dan satu lagi kehidupan dimulai. Berputar dalam beratus adegan berwarna buram. Anak-anak di satu jalan di pasar cidu.

Selalu lakon; anak-anak di kala senja.
Beberapa anak mulai berkejaran. Dengan baju dekil, dan wajah yang masih meyisakan bedak yang dipupur seadanya setelah mandi sore. Mereka sedang bermain petak umpet sambil mengendap-endap, mereka saling cari-sembunyi. Setelahnya, kemudian mereka tertawa-tawa.

Ah, bocah itu, beberapa tak terasa telah menginjak sekolah dasar, sebagian bahkan sudah hampir tamat. Padahal masih kuingat, di antara mereka, masih sempat kugendong saat suaranya masih serupa mantra-mantra tak jelas. Yang lain, aku bahkan tak lagi mengingat apa ia lahir di pasar ini, atau ia anak salah seorang migran di sini yang tiba beberapa waktu lalu. Entah.

Aku teringat Aco. Anak lelaki, yang masih sekolah dasar. Ia meninggal setelah tertabrak sepeda saat bermain di jalan ini. Dadanya biru-lebam karena terbentur stir sepeda. Ia tak sadarkan diri beberapa saat lalu meninggal.

Serasa ada yang menarikku ke masa lampau. Betapa semua demikian singkat. Tak terasa. Di pasar ini, hidup lahir, beranjak, lalu usai. Kadang tak terasa. Betapa semua terkadang terasa demikian nisbi. Dan hidup bergulir dari kanak-kanak ini. Betapa getir. Betapa ringkih serupa pepasir.

Dari suatu senja

Friday, June 10, 2005

di pintu II

hari ini tak banyak rasanya yang terjadi denganku. hari hampir terasa rutin. kecuali tadi melintas di pintu II yang kini lengang; dan serasa ada yang menggores hati...hanya jalan yang diam dan sisa lantai dari 40 kios yang telah rata. lampu merkuri, dan juga luka yang kurasa belum kering benar..

aku bertemu dengan tukang parkir yang aku sering bertukar sapa tiap kali melintas di pintu II unhas. aku bercerita betapa sedih saat melihat pintu II musnah ditelan rusuh dan gusur. ia hanya bilang tak ingin ikut, sebab tak bisa berbuat apa-apa...

ia kini menjadi tukang parkir di tempat sekitar pintu II..ia kulihat masih tersenyum, betapa pun lapangan kerjanya, sempat terampas. aku tersadar, betapa banyak daya hidup yang bisa kupetik dari orang-orang sepertinya.

satu yang jelas, bahwa hidup harus kembali berlanjut...
(namun kemanakah kalian, wahai ibu, wahai bapak yang terampas, akan melanjutkan hidup?)

Sunday, June 05, 2005

malam

malam ini, kepalaku serasa berdenyut. berharap besok hari lebih baik.
aku tak tahu harus pulang kemana malam ini. mungkin mencari rumah teman yang bersedia membiarkanku terlelap malam ini di rumahnya.

"when all my work's over. i'll fly home"

Friday, June 03, 2005

di satu pagi

di suatu pagi. di pasar cidu. kehidupan mulai berdenyut. pelan, lalu kian cepat.
di timur, sinar matari bersinar lembut, singgah pada atap-atap tenda oranye milik para penjual...
sebentar kemudian sekian suara meningkahi hari yang terus berjalan. lalu semua aduk-bercampur.
ada penjual ikan. penjual sayur. penjual baju bekas. pengemis. penjual rempah. toko yang riuh dengan percakapan. sekian banyak orang dan kehidupannya bertemu di pasar ini.
inilah hari.
inilah hidup yang mulai.

suatu waktu, entah kapan; akau bertanya "bagaimana jika ini punah?"

Wednesday, June 01, 2005

Jelang penggusuran

Hari ini sekali lagi, betapa gigih orang mempertahankan rumahnya. Di Jalan Pattimura Makassar. Mereka sampai bersedia gugur untuk melawan orang-orang yang akan mengeksekusi rumah tempat mereka membangun kehidupan sejak tahun 1962 lalu. Menurut mereka, di Rumah itu, pernah Kolonel Soeharto melakukan rapat rahasia dalam upaya pembebasan Irian Barat (sekarang Papua).

Mereka memasang barikade di depan pagar, sambil berseru menantang. Salah seorang dengan galak menantang siapa pun yang akan datang, dan berjanji akan me-Rusuh-kan Makassar jika tempat itu direbut..…lelaki yang berteriak itu; trambut kuncir, perawakannya tambun, dengan baret berwarna merah dan jaket berwarna hijau-army, kaca-mata, ia menenteng megafon dan berteriak-teriak lantang..

Ah..Rumah.