<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998</id><updated>2011-11-18T03:59:58.676+08:00</updated><category term='8765'/><title type='text'>pasar cidu</title><subtitle type='html'>"sebuah tempat sebagai tepi dari semuanya. sebuah tempat pulang, menemukan diriku sendiri yang kutinggalkan.."</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>105</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-7923816575584629916</id><published>2010-04-29T21:40:00.002+08:00</published><updated>2010-04-29T21:43:21.966+08:00</updated><title type='text'>Menemukan Sepotong masa Lalu Makassar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/S9mM5-IszJI/AAAAAAAAAJY/Nw6XyMPBlyo/s1600/800px-anjungan_losari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/S9mM5-IszJI/AAAAAAAAAJY/Nw6XyMPBlyo/s320/800px-anjungan_losari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465554550350728338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Kota dan bandar makassar berada di muara sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada dibawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene, akan tetapi pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, yang bahkan menyerang dan menaklukan kerajaan-kerajaan sekitarnya. Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang untuk selanjutnya seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI ini didirikan pula Benteng Rotterdam di bagian utara, Pemerintahan Kerajaan masih dibawah kekuasaan Kerajaan Gowa, pada masa itu terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan Internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan. Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu. Dengan menaklukkan kerajaan¬kerajaan kecil disekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-tawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (dan dengan ini termasuk ke-20 kota terbesar dunia Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, kota terbesar musuh utamanya, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang) yang bersifat kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan¬-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam Dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan¬-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.&lt;br /&gt;Hubungan Makassar dengan Dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I¬MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I- MALLINGKAANG DAENG&lt;br /&gt;MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 9&lt;br /&gt;Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu me¬nyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memper-luas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda VOC berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain.&lt;br /&gt;Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673 ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan dan diberi nama barunya Fort Rotterdam, dan ‘kota baru’ yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan ‘Vlaardingen’. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya sebagai budak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang terlupakan. “Jan Kompeni” maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang ditancurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, ‘Kota Kompeni’ itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland – bentuknya pun bukan ‘bentuk kota’, tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama di beras Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta menyuplai beras kepada kapal¬kapal VOC yang menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC.&lt;br /&gt;Sebaliknya, barang dagangan Cina, Terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di Negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara untuk men¬carinya; bahkan, sejak pertengahan abad ke-18 para&lt;br /&gt;nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, di mana mereka tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar.&lt;br /&gt;Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya menyaksikan kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater menjadi kembali suatu bandar internasional.&lt;br /&gt;Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa&lt;br /&gt;pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki “kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda” (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Potandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi baik para pelaut-pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah¬daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga-setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan.&lt;br /&gt;Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indo¬nesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asingnya pada tahun 1949 dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir tahun 1950-an menjadi¬kannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar-pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca¬ revolusi. Antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada tahun 1971. Baru pada tahun 1999 kota ini dinamakan kembali Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar dan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah luas wilayah bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut 10.000 Ha, menjadi 27.577Ha&lt;br /&gt;sumber : http://makassarkota.go.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-7923816575584629916?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/7923816575584629916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=7923816575584629916&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7923816575584629916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7923816575584629916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2010/04/menemukan-sepotong-masa-lalu-makassar.html' title='Menemukan Sepotong masa Lalu Makassar'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/S9mM5-IszJI/AAAAAAAAAJY/Nw6XyMPBlyo/s72-c/800px-anjungan_losari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-2628634947441203180</id><published>2010-01-07T02:01:00.001+08:00</published><updated>2010-01-07T02:01:38.187+08:00</updated><title type='text'>Sang Legenda dan Waktu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pada DS. tempatku pernah menaruh gentar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, dulu ia seperti legenda. Lelaki itu pernah tinggal belasan tahun di Tanjung Priok, kawasan di sebelah utara ibukota, tempat banyak warga keturunan Bugis Makassar memilih tinggal dan menantang hidup. Kawasan pelabuhan yang tak jauh dari laut. Tempat yang menyediakan banyak ruang bagi anak-anak muda yang merindukan warna ibukota tapi tak ingin jauh dari harum laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, ia mula menjadi legenda ketika dalam suatu perkelahian dengan preman asal Madura dan perutnya dikisahkan robek terkena sabetan celurit. Tapi ia menuntaskan perkelahian dengan menikam lawannya dengan badik. Dan juga menurut cerita yang entah darimana bermula, Tak lama, lawannya mati. Ia masih sempat membawa luka robek dan buraian ususnya ke rumah sakit untuk dijahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, ia lari dan kembali ke Pasar Cidu. Cerita itu beredar di antara kami yang mengingatnya, bertumpuk dengan ingatan dan kekaguman pada pendekar yang terlibat carok karena dendam yang harus dituntaskan. Tentu saja itu hanya film dari kaset video yang kadang kami nonton dari haji di kampung sebelah dengan membayar lima puluh perak. Dan kalau ibu haji sedang berbaik hati, ia mengizinkan kami masuk dengan membayara seratus perak untuk tiga orang. Pemerannya Barry Prima yang selalu menjadi tokoh protagonist melawan Advent Bangun, jago karate yang memiliki rahang seperti Arnold Schwarzenegger, bintang film yang kini jadi gubernur California, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertarungan itu, ia melanjutkan hidupnya. Dengan minum tuak dan seringkali mondar-mandir di pasar sekitar rumahku. Mabuk. Kadang berkelahi. Ataupun bersama kawannya memukuli lawannya dan membuangnya ke selokan hitam di depan rumahku. Jika melihatnya melintas di depan rumah tentang kami sering duduk dan berbincang apa saja, kami memilih menghentikan pembicaraan dan membiarkannya berlalu.&lt;br /&gt;Juga dalam keadaan mabuk, ia seringkali menelpon di wartel rumah kami, --dan meskipun membayar, ia selalu mengancam akan menutup wartel kami dengan menyebut kalau ia berteman dengan banyak jenderal di Jakarta. Tentu saja kami tak takut pada jenderal yang dimaksudnya, jikapun ada. Dulu kami hanya menaruh hormat yang gentar pada pak Babinsa yang entah bernama siapa. Bapak berbadan tambun yang seringkali bermotor mengelilingi pasar saat malam tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama silam berlalu. Di tahun-tahun terakhir ini aku selalu menemukannya di warung kopi dekat rumah. Warung kopi yang menerima siapapun yang tiba. Saat itu ia terlihat lebih alim dengan janggut yang terpelihara. Ia sedang sibuk mengurus partai dan kandidat salah satu walikota Makassar. Di tangannya ada pamflet dan selebaran berwarna keunguan berisi janji-janji sang kandidat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu waktu terakhir, aku tersadar betapa waktu bisa mengalahkan apa pun. Ia tiba di warung kopi. Menyingkir dari hujan di luar. Ia tampak ringkih di sore yang basah itu. Matanya cekung. Wajahnya cemas. Jaket yang sepertinya ia pakai untuk sekedar menopang wibawa, tak cukup menyembunyikan usia yang telah memangkas kebanggaannya. Tak ada lagi janggut. Hanya titik tanda tattoo yang tersisa di antara dua matanya, seperti orang India di film-film bollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita berapa bulan terakhir menjadi kolektor tunggakan utang cicilan kendaraan. Berbekal kebangaannya, ia bersama seorang kawannya mendatangi daerah untuk menarik kembali kendaraan yang tak bisa terbayar. Pekerjaan yang seperti meminta nyawanya saat harus berhadapan dengan orang-orang yang tak rela, kendaraan kebanggaan cicilan mereka ingin diambil oleh pemberi kredit. Bahkan kadang ia harus memakai jaket loreng sekedar menunjukkan kalau ia memiliki akses pada militer negeri ini. Walaupun di satu kesempatan, ia akhirnya mengaku kalau jaket loreng itu ia beli di pasar, saat ia termakan gertakan tentara yang mencoba mencegah langkahnya menunaikan tugas. Dari tiap tugas itulah ia mendapat sekedar untuk menghidupi dirinya dan istri keduanya di kabupaten lain di utara propinsi ini. Menurutnya, intinya adalah menggertak. Siapa yang menang di gertakan pertama, maka permainan adalah miliknya, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia telah merasa tak semuda dan sejumawa dulu. Ia merasa pekerjaan itu telah meminta lebih dari yang bisa diri dan tubuhnya bisa berikan. Waktu telah mengambil banyak hal darinya kini dan ia pun memilih berhenti dan beralih pekerjaan. Betapa tipis hidup dan mati, katanya tentang pekerjaannya itu. Ia menjadi penjual obat dan suplemen kesehatan yang ia beli dari apotik milik kawannya. Saat bercerita. Matanya selalu menatap keluar. Seperti mencari sesuatu pada cuaca dan lalu lalang kendaraan di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sungkan padaku. Ia hanya memilih merokok, saat kutawari untuk membayarinya kopi. Dji sam Soe dan ia menghisapnya, meski harus beberapa kali membakarnya ulang karena rokok yang dihisapnya sambil bercerita kembali padam. Ia bercerita tentang kedekatannya dengan Hercules yang tersohor sebagai tukang pukul di ibukota. Dan saat ia bercerita tentang Tanjung Priok, aku hanya teringat betapa lelaki ini pernah menjadi legenda yang membuat kami selalu gentar.&lt;br /&gt;Tetapi waktu telah mengalahkannya. Waktu! Bukan yang lain.&lt;br /&gt;Betapa waktu bisa mengalahksan siapapun. Juga Sang Legenda..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-2628634947441203180?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/2628634947441203180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=2628634947441203180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2628634947441203180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2628634947441203180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2010/01/sang-legenda-dan-waktu.html' title='Sang Legenda dan Waktu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8569663026813273519</id><published>2009-10-05T17:17:00.002+08:00</published><updated>2009-10-05T17:39:42.808+08:00</updated><title type='text'>Tentang Cinta</title><content type='html'>Tentang Cinta, aku sungguh tak mengerti benar. Tapi suatu hari, saat sama terjebak hujan dan gelas kopi, aku mendengar cerita dar seorang kawan tentang seorang penderita kusta yang kini tinggal memencilkan diri di salah satu pulau di gugusan pulau di perairan Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1972, setelah menikah, mereka terpaksa pergi setelah terusir dari kampung halamannya sendiri.  Bersama perempuan yang telah menjadi istrinya itu, ia memutuskan berlayar dan menetap di pulau yang tak kutahu namanya, kecuali jaraknya yang dua jam perjalanan menggunakan perahu dari pantai Makassar..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berdua, bersama, mereka membangun sebuah rumah bertapakan nipah, dan berdinding sekedarnya melintasi hari demi hari hingga hari ini. Selama musim berganti sudah beragam cuaca yang merajam mereka dengan panas, angin, hujan dan ombak. Mereka tetap bertahan, dengan penyakit yang terus menggerogoti organ tubuhnya. Hari demi hari, bersama mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka, hingga melepaskan anak-anak mereka untuk berpindah dan memulai hidup yang jauh dari mereka. Kini mereka tinggal berdua diserang usia yang kian uzur. Lelaki itu kini buta sedang istrinya menjadi tuli di pulau kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk makan, mereka mencari ikan ataupun cumi yang ada di sekitar pulau tempat mereka bermukim menggunakan sampan kecil milik mereka. Dengan indera mereka yang kian terbatas, berdua mereka membawa sampan untk mencari apa yg bisa dimakan. Meski setelah sekian lama tinggal di Pulau itu dan dianggap berjasa mencegah orang untuk membunuh ikan-ikan dengan peledak, kadang ada saja kelompok dari Pemerintah yang membawakan mereka sekedar beras ataupun rokok tembakau. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah lebih 35 tahun, lelaki itu hanya pernah berkata; "Setelah Istriku dan tuhan, Hidupku kini sudah lengkap.." Kami sempat terkesima, saat kawanku itu bercerita.. Saat itu, aku tersadar, aku tak pernah mengerti benar apa itu Cinta.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Perempuan yang berani menempuh takdir bersama suaminya yang menderita Kusta itu, aku takkan pernah punya perbendaharaan kata untuk menyebutnya.. Aku hampir terisak..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8569663026813273519?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8569663026813273519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8569663026813273519&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8569663026813273519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8569663026813273519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2009/10/tentang-cinta.html' title='Tentang Cinta'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-6416422868609448826</id><published>2009-05-19T01:08:00.000+08:00</published><updated>2009-05-19T01:11:34.180+08:00</updated><title type='text'>perjalanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/ShGWuExd_lI/AAAAAAAAAIc/UxBicUQpG4g/s1600-h/senja.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 101px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/ShGWuExd_lI/AAAAAAAAAIc/UxBicUQpG4g/s320/senja.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337212751710125650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;:D.F&lt;br /&gt;aku selalu mengenang bagaimana perjalanan ini bermula&lt;br /&gt;ketika suatu hari aku menemukan telaga pada matamu &lt;br /&gt;yang menyimpan bayangan matahari dan wajahku pada permukaannya&lt;br /&gt;cermin yang menyimpan rahasiaku padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersamamu telah kusaksikan bagaimana kemarau meluruhkan &lt;br /&gt;daun-daun pada hutan yang menaungi jalan yang kita susuri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga hujan yang melingkupi kita dalam kisi tirainya&lt;br /&gt;melapisi pandangan kita dalam selimut perak&lt;br /&gt;lembut serupa kenangan yang samar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tahu, setelah sekian musim &lt;br /&gt;aku selalu menemukan sisi tempatku menepi&lt;br /&gt;istirah dari hiruk pikuk di luar sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu membayangkan, kelak menggengam tanganmu &lt;br /&gt;berjalan menuju senja. &lt;br /&gt;menyaksikan malam pelan menjelang. melingkupi kita yang pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ahmad k. syamsuddin, 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-6416422868609448826?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/6416422868609448826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=6416422868609448826&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6416422868609448826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6416422868609448826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2009/05/perjalanan.html' title='perjalanan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/ShGWuExd_lI/AAAAAAAAAIc/UxBicUQpG4g/s72-c/senja.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1483277540928591108</id><published>2009-03-03T09:06:00.003+08:00</published><updated>2009-03-03T09:53:39.716+08:00</updated><title type='text'>Lampu dan Ketelanjangan Kami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SayNMrQh6II/AAAAAAAAAIU/ofdUETrhLwM/s1600-h/poto+lampu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 78px; height: 104px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SayNMrQh6II/AAAAAAAAAIU/ofdUETrhLwM/s320/poto+lampu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308773309672974466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah petang, di pasarcidu, aku tiba-tiba dilanda rasa yang janggal. seperti rasa terkepung. seakan terjebak pada sesuatu. tersudut. perasaan telanjang dan tak berdaya. aku diam dan menyadari kalau di simpang 3 tengah pasarcidu, ada lagi sebuah benda aneh yang menggantung lekat di tiang. sebuah lampu jalan. lampu pijar neon. pijarnya putih angkuh melayang. seseorang entah siapa memasangnya beberapa hari yang lalu, tepat di tangkai sisa lampu merkuri sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah beberapa malam, anak-anak dan sebagian penghuni pasarcidu di sekitar simpang 3 tengah, ramai berkumpul di bawah lampu itu. berbincang. lebih ramai dari sebelumnya. seperti berdiang mencari hangat harapan. sebelum mereka sadar, betapa pijar lampu akan kembali menyadarkan mereka semua kenyataan yang mengitari mereka setiap hari. menyadarkan sudut-sudut yang semula disembunyikan bayangan, disembunyikan malam. lalu lampu itu kembali mengasingkan mereka. mengasingkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lampu itu kini betul-betul menelajangi bentangan tenda-tenda tempat penjual mengais rezeki di pagi hari. menelanjangi amis genangan air yang terus menggenangi jalan, seperti mata air abadi. menelanjangi meja-meja kayu berbau ikan yang ditumpuk sekenanya. menelanjangi setiap tikus yang mengendap-endap. juga menelajangi hati kami yang telah terluka sekian kali. menelanjangi pasarcidu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti lampu merkuri lainnya, lampu itu tegak mencoba mengalahkan malam.&lt;br /&gt;mengalahkan pekat yang meraja. mengungkap relung tempat gelap rahasia mendekam. ah, semoga malam kembali menang dan menyelimuti kami dalam bayangnya. agar hati yang luka ini kembali tenteram bersemayam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(katanya dibiayai oleh seseorang yang hendak mengais suara pemilih dalam pemilu mendatang. katanya agar orang-orang di pasarcidu yakin kalau mereka bisa menyandarkan harapan selama 5 tahun yang mengecewakan ke depan, makanya ia memasang lampu di sudut jalan yang gelap itu. seolah ia pembawa pelita yang akan memnadu setiap yang sesat ke jalan yang benderang.. ah, bangsat!!!) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1483277540928591108?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1483277540928591108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1483277540928591108&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1483277540928591108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1483277540928591108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2009/03/lampu-dan-ketelanjangan-kami.html' title='Lampu dan Ketelanjangan Kami'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SayNMrQh6II/AAAAAAAAAIU/ofdUETrhLwM/s72-c/poto+lampu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5727004369774983895</id><published>2009-02-21T01:18:00.003+08:00</published><updated>2010-01-07T02:15:40.809+08:00</updated><title type='text'>Pasar Cidu</title><content type='html'>tak terasa sudah berapa lama tak singgah di sini. aku singgah hanya mengenang sebuah tempat di sudut pasar cidu. tempat setiap pagi, memandang hari mulai. juga beranda tempat melihat malam menuju selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5727004369774983895?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5727004369774983895/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5727004369774983895&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5727004369774983895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5727004369774983895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2009/02/pasar-cidu.html' title='Pasar Cidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5912873480301464686</id><published>2009-01-04T13:24:00.002+08:00</published><updated>2009-01-04T13:30:05.710+08:00</updated><title type='text'>2009</title><content type='html'>Tahun Baru, aku sedikit harapan baru; "Saya berharap bisa bangun lebih pagi, dan melawan tubuhku sendiri yang enggan bergerak lebih dini..." meski harus kuakui, tidur yang paling menyenangkan adalah setelah sholat subuh. Lelap yang selalu dihiasi mimpi-mimpi ajaib dibanding tidur malam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5912873480301464686?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5912873480301464686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5912873480301464686&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5912873480301464686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5912873480301464686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2009/01/2009.html' title='2009'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-433091901289775869</id><published>2008-12-27T16:43:00.002+08:00</published><updated>2008-12-27T17:04:43.841+08:00</updated><title type='text'>satu lagi selesai</title><content type='html'>hampir tak terasa, satu lagi selesai. entah berapa yang tersisa. semoga semua tetap menyediakan beragam laksa warna. semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-433091901289775869?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/433091901289775869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=433091901289775869&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/433091901289775869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/433091901289775869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/12/satu-lagi-selesai.html' title='satu lagi selesai'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-4962680646875231950</id><published>2008-12-10T19:35:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T19:43:16.133+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>di luar hujan. tapi di tempat ini, aku tak pernah tahu bagaimana cuaca di luar. di sini aku selalu membayangkan memiliki sebuah jendela besar, hanya untuk melihat satu-satu titik hujan jatuh, berkumpul menyatu lalu mengalir membentuk lajur-lajur ke bawah. hanya itu. kadang kusadar, banyak kesederhanaan yang demikian memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*bagaimana kau di luar sana?  &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-4962680646875231950?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/4962680646875231950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=4962680646875231950&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4962680646875231950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4962680646875231950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/12/di-luar-hujan.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-7336519530857110761</id><published>2008-10-29T21:18:00.001+08:00</published><updated>2008-10-31T15:39:53.979+08:00</updated><title type='text'>Pasar Gelap</title><content type='html'>Malam ini aku kembali singgah, setelah sekian lama terhisap dalam rutinitas di pusat kota. Aku selalu suka tempat ini. Bagiku atau kami, tempat ini selalu menyediakan kemungkinan lain dari sekian banyak pilihan di dunia perburuan di luar sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyediakan pilihan lain, ketika waktu tak berpihak pada kita, dan buruan telah selesai. Kami tak bisa memutar waktu mundur kembali, namun jika toh ada kemungkinan lain, maka disinilah tempatnya mengais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini, ‘sesuatu yang paling berharga’ di dunia kami ditukarkan. Meski tak diikat akad ataupun akta, hampir serupa persaudaraan rahasia lainnya; setiap yang pernah datang mengambil sesuatu, maka kelak ia akan membawa sesuatu.  Tak harus berjanji dan tak ada hukuman sebenarnya, tapi semua tampaknya tetap berjalan dengan ritme dan polanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini, setelah duduk di sofa di depan pintu masuk, aku selalu merasakan temaram cahaya dari bohlam lampu putih. Merasakan sejuk pendingin ruangan, dan dengan senyum yang kurasakan ganjil, aku selalu menyebutnya sebagai ‘Pasar Gelap’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pasar gelap, tempat dimana tak ada dosa eksklusifitas. Tidak ada persaingan kejam memburu rating dan meraih peringkat ciptaan setan Nielsen. Peringkat yang menandakan betapa ‘tempat kami’ bekerja pantas bagi para penjual untuk menawarkan jualan mereka–termasuk kemolekan tubuh dan peruntungan nasib. Sistem peringkatan yang membuat ‘tempat kami’ bisa menangguk uang dari iklan yang mereka pasang untuk membujuk mereka yang didera kebingungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai kapan tempat ini tetap ada. Mungkin selama dunia perburuan itu tetap ada, maka selalu ada tempat serupa ini. Tempat Pulang. Meski sebenarnya ini adalah pilihan terakhir kami para pemburu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-7336519530857110761?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/7336519530857110761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=7336519530857110761&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7336519530857110761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7336519530857110761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/10/pasar-gelap.html' title='Pasar Gelap'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8689081217112602733</id><published>2008-10-26T19:16:00.003+08:00</published><updated>2008-10-26T19:22:53.257+08:00</updated><title type='text'>Kenangan dan Satu Malam di Pasarcidu</title><content type='html'>Terbuat dari apakah itu Kenangan? Mengapa ia menyerbu dan menyiksaku; saat aku yakin telah membunuhnya dan menguburnya dalam-dalam. Terbuat dari apakah ia? Mengapa ia ternyata tak bisa begitu saja hilang saat telah kuputuskan semuanya sudah selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, “terus berjalan” ternyata tak cukup untuk melupakan semua yang tentram tersimpan di masa silam. Juga labirin yang memerangkap itu ternyata tak musnah meski kuyakin telah kubakar dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah kita “tetap bernafas” dan ini tak lebih dari sekedar merayakan hidup yang sebentar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dini hari, sebelumnya bermula dari secangkir kopi yang lezat*, lalu insomniaku pun kembali meraja, Aku dan Aku lainnya serasa berebut tubuhku untuk Tidur atau Jaga. Kelelahan, pola siklus harian tubuh dan redup cahaya sudah hampir membuat tubuh kurusku lelap dan hilang ke pusaran mimpi.. Namun tak butuh waktu lama Kenangan, Cemas dan semua balatentaranya membuatku kembali terjaga.  Mendera dan meliputiku dalam jalinan ingatan yang entah bermula dan berujung dimana-kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terjaga, dan meski tenggorokanku sudah protes, kupikir hanya Philip** dan asapnya yang bisa menemaniku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras kamarku akupun tersadar, kalau lansekap atap-atap rumah di sekitar Pasarcidu ternyata membentuk topografi yang cukup cantik. Rumah-rumah yang tumbuh berdempetan,juga atap-atap bangunan dari ruko-ruko orang tionghoa, tiang listrik dengan kabel listrik yang berjejalin rapat-rumit, dan cakrawala dilingkupi kapas awan dan sebaris awan panjang di langit timur..Lampu jalan seperti Kekunang yang diam, terperangkap dalam gerimis yang jatuh satu-satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang serupa bukit-bukit kecil di padang kota yang luas, melindungi mereka semua yang lelap dan tentram. Adakah di antara mereka yang mungkin saja terbangun karena didera Kenangan. Tapi tak ada yang terjaga di puncak “rumah entah disana” di kejauhan. Hanya gerimis dan lampu jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuat dari apakah Kenangan sebenarnya? Dimanakah ia sebenarnya tersimpan, dan menunggu  sebelum menyergap kita? Ah, Kenangan.. Sudah pagi. Selamat Tidur, sampai bertemu di malam entah kapan. Kau pasti sulit datang saat Ramai Hari sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*aku selalu menyukai Kafein di bagian ini sebenarnya; selalu membuat mata dan otakku menyala lebih baik. Tapi tidak kusadari kalau sekuat ini, saat berkumpul kembali dengan 3 orang kawan yang akrab di waktu kuliah dulu dan kami memutuskan minum kopi di tempat kami dulu pernah sering bertemu dan menyebutnya dengan istilah “ngantor”. Dan meski tak kubilang semuanya mudah, tapi aku selalu takjub dengan perkawanan kami berempat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**Rokok buatan Philip Morris Indonesia, Jakarta, dengan merk dagang Marlboro, Kemasan Flip Top Box, isi 20 Batang, Dengan Tulisan besar “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN  GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Ada juga Tulisan tentang kandungan Tar dan Nikotin yang tak kupahami seperti apa bentuknya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8689081217112602733?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8689081217112602733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8689081217112602733&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8689081217112602733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8689081217112602733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/10/kenangan-dan-satu-malam-di-pasarcidu.html' title='Kenangan dan Satu Malam di Pasarcidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-241287642757677532</id><published>2008-10-24T16:38:00.000+08:00</published><updated>2008-10-24T16:39:17.893+08:00</updated><title type='text'>Daeng Saodah dan Yang Wafat</title><content type='html'>Beberapa pagi yang lalu, selepas sholat subuh. Suara dari pengeras masjid mengumumkan; " Innalillahi wainna ilaihi rojiun....telah berpulang.." Satu lagi seseorang di sekitar Pasarcidu tutup usia. Meski aku selalu terhenyak mendengar suara itu.. kadang kurasakan mereka sebagai orang yang beruntung; dijemput Maut dalam dini hari yang senyap..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, aku teringat daeng  Saodah. Perempuan bertubuh kecil yang mungkin seusia almarhum nenek. Di ingatanku, entah sejak kapan ia mulai menjual kelapa dan beragam hasil lain dari kelapa sampai gula merah, di depan rumah nenek. Diingatanku yang tersisa, saat masih kecil, sebelum aku berangkat ke taman-kanak-kanak, nenekku sering mencelup tangannya ke minyak kelapa yang dijual daeng saodah lalu mengusapnya ke rambutku hingga mengkilap basah. meski kadang wanginya terasa sengak di hidungku yang kecil, aku tak bisa menolak. sering juga uang jajanku diambil dari uang logam di keranjang daeng saodah,  kalau saja nenekku tak punya uang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tiba-tiba mengingatnya saat mendengar pengumuman mencemaskan di pagi buta itu. aku teringat kebiasaan Daeng Saodah, Setiap ada orang yang meninggal, di sekitar pasarcidu, ia pasti selalu hadir untuk bertakziyah dan memberikan sumbangan sekedarnya, meskipun ia sama sekali tak mengenal orang itu. Ia hanya datang mendengar ceramah tentang kematian, ataupun mungkin berbincang sedikit dengan sesiapa yang mungkin saja dikenalnya di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanya mengapa ia hadir padahal ia tak mengenal si fulan yang meninggal, ia hanya tersenyum. tak banyak bicara. Ia tak bercerita tentang silaturahmi ataupun "jaringan" yang rumit, apalagi tentang adat ketimuran dan kohesi sosial. Menurutnya sudah seharusnya begitu jika ada yang wafat,tak lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia datang, meski itu sekedar utnuk menunjukkan betapa ada yang hendak mengenang kehidupan seseorang yang berharga. Mengenang sesuatu yang pernah berarti saat semuanya usai. Atau ia hanya datang, mungkin untuk sekedar mengingat maut. Mengingat sesuatu yang diam-diam menunggu waktu kita. Yang Diam menunggu detik dengan presisi yang rasanya tak mungkin bergeser, meski itu sepersekian sekon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat daeng saodah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-241287642757677532?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/241287642757677532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=241287642757677532&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/241287642757677532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/241287642757677532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/10/daeng-saodah-dan-yang-wafat.html' title='Daeng Saodah dan Yang Wafat'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-375162493076521304</id><published>2008-10-01T08:25:00.002+08:00</published><updated>2008-10-01T08:27:51.263+08:00</updated><title type='text'>Lebaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SOLD70SJHsI/AAAAAAAAAF4/wG7lytsTg7w/s1600-h/salaman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SOLD70SJHsI/AAAAAAAAAF4/wG7lytsTg7w/s320/salaman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5251975547881856706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku selalu merasa memiliki aku yang lain yang kadang tak kuingini. Kadang kukenali ia sebagai si pahit lidah (sekedar mengingat nama pendekar -kalau tidak salah, dari melayu, yang mampu menjadikan musuhnya menjadi batu). sering aku memakai tanduk dan menjadi jahat. kadang aku menjadi "bom gotri" yang meledak dan menyembur kemana-mana. sering aku menjadi aku,--yang dalam keadaan sadar, sungguh tak kuingini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa kuingin di puasa kali ini, aku bisa membunuhnya; tapi sepertinya mereka masih setia pada aku. mungkin memang iblis tak pernah mati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku yang hina ini, kepada semua yang pernah terluka atas semua lakuku yang tak berkenan, semoga tuan sudi memaafkannya. Selamat Lebaran, semoga kita semua diberi kelapangan hati&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-375162493076521304?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/375162493076521304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=375162493076521304&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/375162493076521304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/375162493076521304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/10/lebaran.html' title='Lebaran'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SOLD70SJHsI/AAAAAAAAAF4/wG7lytsTg7w/s72-c/salaman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-483458744599615129</id><published>2008-09-14T16:46:00.002+08:00</published><updated>2008-09-14T16:59:34.115+08:00</updated><title type='text'>Purnama</title><content type='html'>Semalam Purnama Sempurna. Bundar seperti keping kerang berwarna kuning keperakan. Tergantung di langit, bersinar lembut. Aku terkenang-kenang dongeng tentang bulan dan anak yang terbang ke bulan. Juga Kabayan yang bertemu Nini Anteh. Juga purnama yang dipenuhi Puisi. Membayangkan ada sebuah dunia di luar sana, dunia yang juga memandang kembali ke mataku saat kumemandangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-483458744599615129?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/483458744599615129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=483458744599615129&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/483458744599615129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/483458744599615129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/09/purnama.html' title='Purnama'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5874252990151409068</id><published>2008-08-25T17:54:00.002+08:00</published><updated>2008-08-25T18:01:07.554+08:00</updated><title type='text'>selepas perkawinan seorang kawan di benteng rotterdam</title><content type='html'>::bz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musik mengalun. mengalir dalam angin yang menyisir dinding-dinding batu yang tegak mengelilingi kita. di bawah sorot lampu kekuningan yang menyepuh setiap wajah serupa emas agar tampak bahagia, aku serasa membaca gurat cemas di dalam matamu, kawanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa yang hendak kau katakan? apa yang kau takutkan? kau khawatir pada usia kita yang terus menetes habis seperti dalam jam pasir? jika hidup rasanya tak berpihak pada pejalan-pejalan seperti kita, apakah kita harus menyalahkan hidup yang fana ini? bukankah kita hanya berebut mengecap yang nisbi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kawanku, aku tak menyangkal kalau aku kadang bertanya; di dada siapakah bagian rusukku yang lain tertanam, tetapi janganlah terlalu cemas. perempuan itu masih dipingit Tuhan untukmu, dan mungkin juga untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kawanku, setelah malam yang berangin ini, percayalah pada pemilik semesta ini. juga Ia yang memiliki setiap rahasia kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ps: v, maafkan, mengapa kau berada di sana; dan anakan rambut di dahimu membutku tertegun..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5874252990151409068?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5874252990151409068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5874252990151409068&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5874252990151409068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5874252990151409068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/08/selepas-perkawinan-seorang-kawan-di.html' title='selepas perkawinan seorang kawan di benteng rotterdam'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5498976360431639719</id><published>2008-08-15T16:13:00.003+08:00</published><updated>2008-08-15T16:26:23.398+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SKU9a4J_0BI/AAAAAAAAAFw/E8AUCZopJXk/s1600-h/purnama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SKU9a4J_0BI/AAAAAAAAAFw/E8AUCZopJXk/s320/purnama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234657673848279058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tabik... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menemukan sajak lama, di timbunan inbox. 14 juli 2006, tapi rasanya sebangun dengan semua yang kualami belakangan ini. maafkan bukan merayakan sakit ini; sekedar membetahkan diri dengan semuanya. --atau mungkin juga aku takut ini hilang entah kemana, padahal berkali-kali saya mencoba menulis sajak kembali, tapi tetap saja betapa sulit mendapatkan lagi kutukan sajak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dingin terasa tajam, menelusup dalam tulang.&lt;br /&gt;langit putih bersih. bintang kerlip, serupa kedip lilin di kejauhan.&lt;br /&gt;bulan kuning bundar sempurna. angin terasa riuh bertiup tetapi malam terasa&lt;br /&gt;kuncup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu kukenang bundar matamu yang sering berkerjap kekanakan. lurus. &lt;br /&gt;diam dengan senyum yang tertahan mengembang seperti menunggu semesta pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serasa debar. ketika tahu, kau bisa saja lenyap; ketika musim beranjak dan&lt;br /&gt;mungkin saja waktu merentang jarak.&lt;br /&gt;akan kugapaikan tangan kemana, jika saja kau gaib dalam angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin memang selalu ada saat;  ketika dalam ombak, kita lelah bersikukuh, dan&lt;br /&gt;memutuskan hanyut dalam arus laut.&lt;br /&gt;dan kita tak bisa menampik waktu yang tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serasa hujan dalam hatiku. jarum-jarum dingin terasa kian runcing.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5498976360431639719?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5498976360431639719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5498976360431639719&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5498976360431639719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5498976360431639719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/08/tabik.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SKU9a4J_0BI/AAAAAAAAAFw/E8AUCZopJXk/s72-c/purnama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1429844149484818056</id><published>2008-08-14T16:03:00.004+08:00</published><updated>2008-08-14T16:07:16.625+08:00</updated><title type='text'>::</title><content type='html'>melihatmu menjalani hidup dengan lebih berwarna; membuatku berpikir, jalan ini sepertinya lebih baik buatmu. meski berkali kau coba menampik; kalau selalu ada jalan buat kita berdua; rasanya tak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan jika ini berat dan perih buatku, apalagi yang bisa kulakukan? aku merasa tak punya pilihan lain... saya hanya berharap "lupa" bisa membantuku sedikit mengurangi sakit..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1429844149484818056?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1429844149484818056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1429844149484818056&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1429844149484818056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1429844149484818056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/08/blog-post.html' title='::'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-6189628976771667819</id><published>2008-08-14T15:39:00.004+08:00</published><updated>2008-08-14T15:43:04.125+08:00</updated><title type='text'>kucing garong</title><content type='html'>pagi tadi ditubruk sedih. melintas di depan balaikota makassar, melihat ratusan siswa, sebagian besar berseragam pramuka lengkap dengan tongkat kayu panjang. mereka sedang berjingkrak-jingkrak mengikuti irama dangdut bergaya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;housemusic&lt;/span&gt; "kucing garong"... ah, kalau saja guru dan pembina mereka faham kalau lagu itu sebenarnya bicara tentang perilaku yang mesum... &lt;br /&gt;ah, betapa menyedihkan melihat pendidik dan pemerintah yang tidak mengerti pembentukan karakter anak didik mereka... aku merasa sedih, maafkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-6189628976771667819?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/6189628976771667819/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=6189628976771667819&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6189628976771667819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6189628976771667819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/08/kucing-garong.html' title='kucing garong'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-4757825171269000241</id><published>2008-07-09T18:05:00.002+08:00</published><updated>2008-07-09T18:07:33.182+08:00</updated><title type='text'>Gie</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hidup adalah soal Keberanian, &lt;br /&gt;menghadapi yang tanda tanya. &lt;br /&gt;Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimalah dan Hadapilah"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soe Hok Gie&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Juli 1966&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-4757825171269000241?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/4757825171269000241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=4757825171269000241&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4757825171269000241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4757825171269000241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/07/gie.html' title='Gie'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1252896484128905364</id><published>2008-07-09T17:52:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:54.209+08:00</updated><title type='text'>Negeri Bahagia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SHSMmb-qfII/AAAAAAAAAFQ/ZloNfL9UjtA/s1600-h/bahagia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SHSMmb-qfII/AAAAAAAAAFQ/ZloNfL9UjtA/s320/bahagia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220952460002753666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari Kompas.Com: Rabu, 2 Juli 2008 | 03:00 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Washington, Selasa - Denmark, dengan demokrasi, kesetaraan sosial, dan atmosfer damai, merupakan negara yang paling bahagia di dunia, menurut para peneliti hari Senin (30/6).&lt;br /&gt;Zimbabwe, yang terkoyak oleh perselisihan politik dan sosial, merupakan negara yang paling kurang bahagia, sedangkan negara terkaya di dunia, Amerika Serikat, menduduki urutan ke-16.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, dunia semakin bahagia, menurut World Values Survey—survei yang didanai oleh Pemerintah AS dan dilakukan secara reguler oleh jaringan ilmuwan sosial global.&lt;br /&gt;Survei itu menemukan meningkatnya kebahagiaan dari tahun 1980 hingga 2007 di 45 dari 52 negara yang dianalisis.&lt;br /&gt;”Saya menduga keras bahwa ada korelasi kuat antara perdamaian dan kebahagiaan,” kata Ronald Inglehart, ahli ilmu politik pada Lembaga Riset Sosial Universitas Michigan, yang memimpin kajian itu. Menurut Inglehart, ada korelasi kuat antara kebahagiaan dan demokrasi.&lt;br /&gt;”Denmark merupakan negara yang paling bahagia di dunia,” kata Inglehart dalam pernyataan audio yang dikeluarkan National Science Foundation. ”Denmark bukan negara paling kaya di dunia, tetapi makmur,” katanya.&lt;br /&gt;Puerto Riko dan Kolombia juga berada di urutan atas, bersama dengan Irlandia Utara, Eslandia, Swiss, Irlandia, Belanda, Kanada, dan Swedia.&lt;br /&gt;Dua pertanyaan&lt;br /&gt;”Walau bukan negara paling bahagia di dunia, dari perspektif global, posisi AS cukup baik,” kata Inglehart. ”Negara itu tak hanya makmur, tapi juga berada di urutan atas dalam kesetaraan jender, toleransi etnis dan keragaman sosial, dan memiliki tingkat kebebasan politik yang tinggi.”&lt;br /&gt;Survei itu, yang pertama kali diadakan tahun 1981 dan yang kali ini melibatkan 350.000 responden, dilakukan dengan hanya dua pertanyaan sederhana: ”Mempertimbangkan semua hal bersama, apakah Anda merasa sangat bahagia, cukup bahagia, tidak terlalu bahagia, sama sekali tidak bahagia?” Dan, ”Mempertimbangkan semua hal, bagaimana Anda menilai hidup Anda secara keseluruhan sekarang ini?”&lt;br /&gt;”Determinan terpenting kebahagiaan adalah sejauh mana orang punya pilihan bebas dalam menjalani hidup mereka,” kata Inglehart. (Reuters/DI)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada juga peringkatan tentang kebahagiaan ya? Kalau itu, soal berapa banyak pilihan yang tersedia; di negeri tercinta ini, seberapa banyak pilihan yang kita punya? Negeri Bahagia, swarga dipa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita tak pernah bisa memilih tanah tempat terlahir? Tanah air, bisakah kita hidup di dalamnya, tanpa harus mencintainya?   Agar tak ada luka, agar tak ada kecewa? Tapi toh, kita fana. Dan kita hanya berebut semua yang nisbi..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1252896484128905364?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1252896484128905364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1252896484128905364&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1252896484128905364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1252896484128905364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/07/dari-kompas.html' title='Negeri Bahagia'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SHSMmb-qfII/AAAAAAAAAFQ/ZloNfL9UjtA/s72-c/bahagia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-6544999519011910732</id><published>2008-06-26T01:04:00.004+08:00</published><updated>2008-06-26T01:27:19.284+08:00</updated><title type='text'>sepi</title><content type='html'>hari berlalu, terasa begitu sepi. waktu terasa berdetik lamban. pusaran terasa memerangkap, dan merasa terjebak dalam labirin yang demikian mencemaskan. kadang aku tak ingin tahu apapun, dan hanya melangkah; menempuh setiap kemungkinan seperti berjudi dengan kenyataan esok. tapi kali ini aku memilih berhenti. bimbang menimbang. ah, bagaimana keluar dari kegamangan ini? andai saja bisa semudah itu...&lt;br /&gt;entah mengapa aku demikian berharap ada tangan yang mengulur, kemudian menemaniku menelisik setiap sudut lorong. betapapun tak membawaku keluar, cukup di sisiku; menemani melewati setiap lorong kemungkinan. ah, andai saja..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-6544999519011910732?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/6544999519011910732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=6544999519011910732&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6544999519011910732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6544999519011910732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/06/sepi.html' title='sepi'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8854840546552514380</id><published>2008-05-10T19:24:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:54.435+08:00</updated><title type='text'>Cerpen lama</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWH9Ls9VWI/AAAAAAAAAEg/fQhClLKYY9A/s1600-h/menuis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWH9Ls9VWI/AAAAAAAAAEg/fQhClLKYY9A/s320/menuis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198710830052234594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Cerpen lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merkuri&lt;br /&gt;Oleh : Ahmad K. Syamsuddin&lt;br /&gt;“Goll…!” teriak bocah dekil itu sambil mengangkat kedua tangannya. Ia BERLARI kegirangan dan memamerkan jejeran rusuk yang menonjol dari legam kulitnya. Tubuhnya mengkilap bermandi keringat, memantulkan sinar matahari yang kuning kemerahan. Di suatu sore, di sebuah jalan sempit yang setiap hari berubah fungsi menjadi pasar darurat.  Pasar yang tiap pagi dipadati beragam orang dari bermacam tempat. Entah kapan pasar itu terbentuk, mungkin sejak pasar induk tidak mampu lagi menampung luapan kaum urban yang sebentar saja sudah menyesaki kota.&lt;br /&gt;“Kenapa bisa gol?,” separuh bergumam, seorang bocah menyayangkan temannya yang menjadi gawang. dipungutinya bola plastik yang telah tercemplung di selokan. Sebentar kemudian bola itu sudah ditendangnya, dan kembali mereka bermain tanpa perlu peduli bola yang telah berkali-kali jatuh ke got. Kembali mereka bermain, juga dengan keringat yang kian berkilat-kilat.&lt;br /&gt; Tak lama suara azan dari mesjid di lorong sebelah menyela. “Lepas magrib, kita sambung. Pasti kami menang,” seorang bocah yang dipanggil Aco berteriak dan permainan itu berhenti. Sambil meraih bajunya, ia mendongak sekilas ke atas tiang listrik yang baru saja dipasangi lampu, ia bergumam pelan dan lirih, “lampu itu belum menyala”. berjalan. Sebentar kemudian yang lain mengikutinya masuk ke lorong. Lorong sempit di belakang sebuah rumah kayu berlantai dua yang agak kumuh. Dan jalanan itu kembali sepi. Hanya ada dua orang yang asyik  bermain catur yang sejak tadi tak terusik dengan gaduhnya anak-anak yang berebut bola. Seorang ibu keluar dari lorong tersebut, tampak mencari  sesuatu lalu masuk lagi. Lalu jalan itu sepi kembali.  Tidak terusik, dua orang tua tetap bermain catur. Diam. Satu jam lebih.&lt;br /&gt;“Ah, sudah petang. Sudah hampir azan.” Ucapnya sambil mengemasi buah caturnya.&lt;br /&gt;“Oke, besok lagi” kata yang satunya. Memandang senja lalu tersenyum, memakai sendal lalu mengikuti bapak tersebut, juga ke lorong belakang rumah. Lorong itu berada diseberang selokan besar dan hanya dihubungkan dengan sebuah jembatan dari kumpulan kayu-kayu bekas bongkaran bangunan.  Bau. Dan setiap malam, ada saja yang membuang hajat di selokan itu. Selokan itu sudah ada sejak awal zaman pembangunan dan bersamaan dengan terbentuknya pasar darurat itu, belasan tahun yang lalu. Sejak itu juga selokan itu menjadi tempat sampah yang sangat panjang. Tapi entah mengapa kali ini semuanya jadi begitu jelas. Jauh lebih jelas dari ribuan malam sebelumnya&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kali ini senja terasa cepat sekali turun. Dan sebentar saja pemuda-pemuda belasan tahun, yang masih menebarkan aroma sabun mandi, duduk diatas meja bekas penjual sayur dan mulailah mereka mengandai, mereka adalah tokoh utama yang dikelilingi banyak wanita dan keajaiban. Mereka berkumpul dibawah benda yang mengeluarkan cahaya putih kekuningan, yang awalnya, agak sulit menyebutkan namanya dan hanya menyebutnya dengan sekedar, sebagai; lampu.&lt;br /&gt;Lampu itu lampu merkuri 250 watt yang dipasang beberapa hari yang lalu, oleh beberapa orang yang berseragam merepotkan dan bersepatu sol karet yang tebal. Lampu itu membawa perubahan yang terkesan janggal. Seperti ada sebuah yang dipaparkan oleh hadirnya lampu itu, dan begitu telanjang.  Meja penjual ikan yang ditumpuk begitu saja setelah pasar usai tampak jelas dan kotor. Terangnya lampu itu menggarisbawahi betapa kumuhnya jalan ini. Anyir sisa air ikan yang ditumpahkan begitu saja menjadi semakin tegas. Juga sampah-sampah yang menggenang tampak lebih nyata, mengapung diatas selokan. Bangkai tikus kelihatan jelas berulat. Semuanya menyerap sinar putih kekuning-kuningan itu.  Sinar itu menegaskan pada  sekian indera, tak hanya mata, tetapi juga yang lainnya. Sinar merkuri itu membuat semuanya begitu jelas dan semakin jelas. Sinar itu seolah  memperpanjang waktu siang. Dengan sinarnya, malam serasa tidak pernah datang.  Hari  terasa semakin panjang dan waktu untuk memandangi kumuhnya jalan ini juga semakin panjang dan terasa ada yang menusuk, tidak hanya kepadaku tapi juga disegenap hati orang-orang disepanjang jalan dan disudut-sudut lorong itu.&lt;br /&gt;     * * *&lt;br /&gt;“Ada keanehan yang saya rasakan,” seorang berbisik kepada seorang yang lainnya. Di suatu malam ketika sekumpulan orang tua yang hanya bersarung asyik berbincang tentang malam dengan ditemani kopi tubruk dan goring ubi. Sebelumnya mereka asyik berbincang tentang nomor buntut, bola juga pertandingan domino yang digelar di kelurahan seminggu yang lalu sambil memndangi anak-anak mereka yang sedang bermain bola..&lt;br /&gt;“Keanehan apa?” yang lainnya menyahut.&lt;br /&gt;“Saya baru sadar betapa kumuhnya jalan ini. Dan saya jadi sadar, kalau selama puluhan tahun saya besar dan tua di jalan ini” &lt;br /&gt;“Saya juga mulai merasakannya,” sahut yang lainnya.&lt;br /&gt;“Saya asing. Iya, asing,” seorang menjawab tergagap lalu diam.&lt;br /&gt;Lalu, “Aco, Ali, ayo masuk nak,  pergi tidur sudah malam!” Teriak seorang bapak dengan suara yang berat dan lamban. Jalan itu langsung sepi, tak ada lagi yang tinggal bermain bola. Tinggal bapak-bapak tua itu, ditepi jalan dibawah lampu. &lt;br /&gt;          Semuanya serentak memandangi sinar yang menghujani mereka. Sinar putih kekuningan. Sinar merkuri. Kemudian mereka menoleh ke kumpulan orang-orang mabuk yang bernyanyi di bawah merkuri  lainnya, disudut jalan lainnya. Lalu satu persatu masuk ke lorong  gelap di belakang bangunan kayu bertingkat, sambil tertunduk. Diam. Lalu sepi&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;          Malam ini malam ketujuh jalan di depan rumahku terlihat sepi, tak   ada lagi anak-anak muda tanggung yang berbicara  tentang mimpi. Tak ada bapak tua yang main catur. Tak ada lagi bocah-bocah yang keringatnya berkilat-kilat memantulkan sinar lampu ketika sedang bermain bola. Juga tidak ada lagi pemabuk-pemabuk yang ribut bernyanyi di sudut jalan lainnya. Semuanya seperti tersadar betapa kusamnya potret tempat mereka pernah menggantungkan harapan. Betapa kumuhnya hidup mereka selama ini. Yang tinggal hanyalah sinar merkuri itu. Tampak kesepian dengan sinar putih kekuningannya, hanya ditemani sampah, anyir selokan dan kumuhnya malam.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Malam ini terasa agak lain. Sinar itu sudah tidak ada. Entah kapan lampu Merkuri itu pecah. Jalanan jadi gelap kembali, tak berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. Dan sejak itu satu persatu anak-anak muncul kembali, bermain petak umpet. Juga pemabuk-pemabuk mulai minum lagi diatas meja penjual ikan, tepat di bawah lampu merkuri yang sudah pecah bohlamnya. Irama jalan itu kembali lagi. Jalan itu memang masih tetap kusam dan kumuh tapi lampu itu juga sudah pecah, bersama menguapnya keterasingan. Mungkin, di jalan itu   tak ada lagi yang menyesali nasib.&lt;br /&gt;Makassar, Oktober 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu Hari di Lebanon*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh; Ahmad K. Syamsuddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       “Jeklek! Jeklek! Jeklek!...." mode continues kameraku terus bekerja. Motor kameraku terus menarik rol film dan menangkap gambar sekelilingku. Dari ‘jendela intip’ kameraku, kulihat mereka satu persatu; tentara berpakaian lengkap, dengan senapan otomatis yang terus bergetar memuntahkan peluru. Selongsong peluru yang muntah bersamaan dengan hamburan peluru terdengar berdenting menyentuh aspal. Nyaring  dan asing. Fokus kameraku terarah ke wajahnya; kenapa ia seperti ketakutan? Matanya tampak berair, mungkin ia marah atau sedih. Ia menangis, kukira atau mungkin matanya hanya perih karena gas airmata yang dilemparkan serdadu lainnya. Seorang mengganti magasin pelurunya. Ia kelihatan sangat cemas. Dan begitu terpasang, ia kembali  menghamburkan pelurunya. Matanya menyala merah, rahangnya mengatup keras. Sepuluh orang yang berbaris siaga dengan seragam lengkap itu terus maju bersama hamburan pelurunya. Di belakangnya, di dekat kendaraan lapis baja, seorang tersenyum kecut sambil menghisap rokoknya. Ia sepertinya puas melihat pasukannya terus maju, aku sempat merekamnya ketika ia menelan ludah. Di sekitar kaki serdadu itu, teronggok ratusan selongsong peluru. Ia hanya diam mengawasi, sambil sesekali tersenyum seperti menghadapi permainan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan, di sasaran tembak mereka, sebaris pemuda belia berlarian menghindari maut yang datang bersama peluru tajam serdadu itu. Mereka menuju tempat sebagian teman mereka berlindung sebelumnya.  Bersembunyi, dan selebihnya mengintip menunggu waktu untuk melempar bom molotov. Sebagian menggenggam erat batu besar di tangannya. Satu diantaranya memegang ketapel, erat sekali. Dan sekali lagi kameraku merekamnya, fokus ke dua mata dibalik sorban yang menutupi wajahnya, ada sesuatu yang menyala di situ. &lt;br /&gt; Ketika berlari, seorang bernasib naas. Ia tertembak. jatuh dan darah segera menggenangi jalan. Aku merekamnya. Sebelum jatuh, Ia berteriak dan wajahnya kemudian diam, putih dan sangat diam; lima frame filmku mengabadikannya. Sebagian kemudian sibuk menyeret temannya, mengamankannya ke balik toko yang pintunya sudah banyak berlubang ditembus peluru. Darah tergaris memerahi jalan sepanjang tubuh itu diseret. Wajah anak-anak  muda di balik sorban itu terlihat berduka. Dari mata yang tak tertutup, kulihat mata mereka menyala dan dipenuhi air mata, aku merekamnya. Dada mereka turun naik, mungkin berusaha meredakan marah, atau menelan kesedihannya. Seorang diantaranya memeluk jasad itu, berkali-kali mengusap airmatanya dan berbicara dengan suara yang serak, selebihnya hanya diam mematung dengan mata berkilat.  &lt;br /&gt;Sebentar kemudian  angin bertiup. Kota ini rasanya sudah lama mati, tak ada suara yang lain selain desing peluru dan ledakan bom. Semuanya diam dan menunggu. Serdadu mengisi magasinnya, dan anak-anak muda itu mulai bersiap.  Keduanya hanya menunggu. Angin seperti tak bertiup, semuanya serasa beku, hanya bau mesiu dan gas air mata yang menggantung di udara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari ketiga aku masuk ke kota ini. Dan hari ini,  saat matahari belum tinggi aku  sudah kelima kalinya mengganti film, dan entah  sudah berapa wajah yang sempat kurekam. Entah sudah berapa tubuh yang terkoyak yang kumasukkan dalam filmku. Entah berapa luka.  &lt;br /&gt;Tentu jika dibandingkan ingatan manusia, tentu saja film ini tidak ada apa-apanya. Setiap hari penduduk kota ini mengisi hidup dengan ketakutan. Setiap kali berjalan, mereka selalu ragu apakah mereka mampu menyelesaikan hari ini bersama keluarganya. Tak satupun yang tahu, El maut seperti hanya tinggal mengundi siapa yang duluan dijemputnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi di belahan lain kota ini, seorang anak kecil diantar ke pemakaman. Semuanya hanya diam seperti menjalankan pemakaman yang rutin dan biasa. Ada yang menangis  tapi tak ada yang meraung dan menyesalinya. Barangkali mereka menganggap kematian bagi anak kecil yang tak berdosa di kota ini jauh labih baik, atau barangkali saja itu adalah tambahan bara bagi api perlawanan mereka. Aku hanya bisa memotretnya ketika semuanya hanya tertunduk diam berjalan. Ada yang membawa bendera, tapi hanya dikibarkannya pelan dalam angin yang juga seperti berhenti.  Beriringan, mereka ke tepi kota.  Beberapa kuburan, yang sepertinya baru saja digali beberapa hari yang lalu tampak masih menyisakan tanah merah yang berdebu.  Tak ada bunga, seperti habisnya tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini diam,  duduk berlindung ke dinding, dan  baru kurasakan denyut jantungku.  Aku dalam sebuah gedung yang telah jadi puing, dan setiap bergerak, kudengar derak puing yang kuinjak.  Sejenak kuamati lensa tele-ku yang telah menemaniku berjalan di kota ini. Lensanya mulai berdebu. Dalam waktu yang diam itu, dari jendela yang separuh kacanya pecah, kulihat semuanya masih di sana. Aku baru merasakan ketegangan ini. Detik halus arlojiku semakin menggedor debar jantungku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei apa yang kau lakukan di sini,” tanya suar dari belakangku. Aku tahu itu bukan suara serdadu yang kasar. Suara itu pelan, dan halus tapi aku tak urung tersentak. Pelan aku berbalik,  kulihat seorang anak kecil berdiri di depanku. Usianya mungkin baru sepuluh tahun, rambutnya hitam, alisnya tebal dan matanya-- aku tak tahu apa warnannya, hitam mungkin coklat tapi kulihat sangat dalam. Ia mengenakan jaket merah yang agak lusuh, juga sepatu kets biru. Di tangannya tergenggam sebungkus krayon, mungkin untuk menggambar pohonan atau matahari, mungkin juga darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus menatapku, “Apa yang kau lakukan di sini?” kembali tanyanya, suaranya seperti gaung yang jauh. Ia sekilas menatapku, lalu memandangi para serdadu yang sementara mengokang senjata. Lalu ia menatap anak-anak muda yang juga bersiap. Ia kembali menatapku, aku terhenyak. Matanya begitu bening dan dalam. Aku seperti melihat telaga yang tenang, dan di bolamatanya, sebaris senyum anak-anak. Dari matanya, aku seperti ditatap berpuluh pasang mata kanak-kanak yang jauh dan tak tersentuh.  &lt;br /&gt;“Kenapa matanya begitu jernih,” batinku. &lt;br /&gt;“Jika kau lama menetap di kota ini, matamu akan semakin jernih. Di sini mataku selalu dibasuh air mata. Aku dan lainnya selalu menangis karena hanya itu yang bisa kami lakukan. Dan kau tentu tahu; hampir tak ada yang peduli” tiba-tiba saja ia menjawab pertanyaan hatiku.  Aku hanya bisa melongo, menggenggam kameraku, menyalurkan cemasku. &lt;br /&gt;Sambil menerawang ia lalu berbicara. Ia berbicara seperti hanya untuk dirinya, pelan tapi seperti menyimpan gejolak yang mengiris.”aku hanya ingin bebas berlarian di jalan seperti dulu lagi, tanpa perlu takut ada peluru yang merobek jantungku…”&lt;br /&gt;Aku mendongak, kusangka ia marah dan kemudian akan menangis, tapi tidak, ia hanya terus bicara sambil memandang langit dari jendela yang separuh kacanya sudah pecah dirobek peluru. &lt;br /&gt;“Seperti kanak-kanak lainnya yang punya tempat bermain, di sini, puing seperti ini jadi taman bermain yang begitu menyenangkan. Jauh sebelum serdadu itu datang dengan tank dan derap sepatu larsnya.  . Tapi sejak perang ini, kami tak punya lagi tempat bermain, aku jadi tahu masa kanak-kanak di negeri ini adalah saat yang paling mengerikan. Kami tak bisa ikut membela tanah ini, tapi juga tak satupun bisa menjaga kami kalau saja para serdadu itu mengejar dan menembaki kami sambil tertawa seperti memburu kelinci di Padang Siberia”. Ia terus berbicara, aku hanya mendengarkan dan aku takut suaranya terdengar oleh serdadu yang berjejer di luar sana. &lt;br /&gt;Lalu, “menurutmu, Tuhan menyediakan taman bermain di surga buat kami anak-anak yang baik?” Ia berbalik menatapku, matanya menagih seperti ketakutan atau mungkin putus asa. &lt;br /&gt;Aku tak tahu, “ngg…” aku juga tak mengangguk. Ia seperti menungguku mengatakan sesuatu. Ia menatapku dan bening mata itu seperti menyihirku. Aku hanya diam, dan kembali hanya bisa meremas tali kameraku, aku ternganga. Ia terus menatapku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pelan ia mendongak ke matahari, wajahnya terlihat pucat disepuh sinar kuning, ia seperti tergesa. “Aku mau pergi..”&lt;br /&gt;“Kau akan ke mana? Di luar, tentara itu masih berjaga”. Aku bangkit ingin mencegahnya, tapi ia menepis tanganku. Aku hanya terdiam, tanganku tergantung putus asa melihatnya berkeras. &lt;br /&gt;“Aku ingin mencari ayah dan kakakku; aku cuma mau bilang agar jangan memelihara dendam jika kelak tanah ini merdeka.  Tak punya ingatan apa-apa di negeri ini, rasanya jalan yang terbaik….tanpa ‘lupa’ di tanah seperti ini, kanak-kanak sepertiku hanya akan jadi gila… tapi sudahlah..” suaranya terus mengalir, deras tapi seperti dari lembah yang dalam. Ia menerawang lalu, ia seperti ingin berlari keluar&lt;br /&gt;“Hey.., ”aku memegang erat tangannya, mencegahnya. &lt;br /&gt;“Aku hanya ingin berlari di jalan itu, merasakan debu.. seperti dulu..” ia menepis tanganku. Lalu berlari ke luar lewat pintu yang sebagian pintunya sudah koyak. Ia berlari, aku sontak bangkit ingin mengintipnya lewat jendela tempatku memotret sebelumnya.  Aku pasti tak kuat melihatnya menggelimpang di jalan,  dihajar peluru serdadu itu. Tapi kulihat jalan itu lengang, tak ada suara tembakan. Juga tak satupun serdadu yang tadi mengokang sejata. Anak-anak muda di samping toko, tak ada lagi. Hanya angin yang berkesiur, membawa aroma mesiu dan gas air mata.  Kulihat krayon anak itu tergeletak begitu saja, dan tak terasa aku menangis. Kulihat malam mulai turun. Lampu-lampu mulai menyala, dan kota ini tetap mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sebuah kenangan pada Rami, yang terbunuh bersama ayahnya di Netzarim, Gaza City, 30 September 2000 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAHU NUH&lt;br /&gt;(satu fragmen)&lt;br /&gt;Oleh A. K. Syamsuddin&lt;br /&gt;“Rasanya kita seperti umat Nabi Nuh yang diselamatkan dari tangan nasib, yang demikian kejam hendak mencacah kita..” bisiknya  pelan menerawang ke langit. Ditatapnya langit lekat-lekat seperti hendak menerka cuaca yang mungkin akan turun sebentar malam. Ia seperti membaca gugusan awan di langit yang belum jernih benar. Langit yang tak kunjung berwarna biru. Setelah itu, barulah ia menoleh dengan dagu yang seperti menanduk, dan ia menatap wajahku meminta jawaban. Lalu ia  kembali memandang langit, lalu  hamparan air yang semalam tiba-tiba saja datang entah dari mana, dan menggenangi kampung kami. Dan kini, kami mengapung di atasnya; mengecipak air,  menjalani nasib. &lt;br /&gt;“Iya pak. Tapi eh,  saya tidak tahu...” tergagap, aku tak bisa menjawab tudingan dagunya.   Ia hanya diam. Kali ini, ditatapnya punggung anggota SAR yang menjemput kami. Mereka mengenakan baju oranye menyala dengan sebaris garis berwarna perak yang berkilauan jika diterpa berkas cahaya, meskipun hari mendung. Sepasang dari mereka sibuk mengayuh, dua lainnya duduk di depan, seperti kapten kapal Phinisi yang berdiri anggun menentang angin. Mereka hanya diam. &lt;br /&gt;Di kejauhan, tampak bonggol-bonggol pisang mengapung. Juga jejeran puncak  rumah kami tampak menyembul dari air, seperti sirip-sirip hiu yang diam. Pucuk batang-batang pohon yang menyeruak, nampak  seperti kerangka yang ditinggalkan. Semuanya kehitaman direndam air, seperti nasib kami di tangan air.&lt;br /&gt;Diulurkannya tangannya ke air, dan   air yang kecoklatan membelah di tangan tuanya yang dipenuhi urat-urat yang mulai mengendur. Air itu seperti menari dan menciumi tangannya dengan gembira. Ia menikmatinya. Lama ia diam, lalu ia tersenyum.&lt;br /&gt;“Betul, kita seperti umat Nuh, iya seperti umat Nuh…..”&lt;br /&gt;Semua orang yang berada di perahu itu hanya menoleh padanya, tertegun dan tidak berkata apa-apa.  Di perahu karet marinir ini, kami bertumpuk. Berdesakan dengan lutut dan siku bersentuhan. Kami merapat, sebagian memeluk lututnya, mencari hangat. Baju yang kukenakan sudah lembab dan berbau lumpur, dan celanaku yang basah seperti lengket dan menyatu dengan kulitku, seperti dengan anak kecil yang ada di depan. Sama dengan ibu tua yang memegang erat buntalan sarungnya. Sama dengan lelaki kurus yang menunggu bersama anak-anaknya di bubungan rumahnya yang terendam air, menunggu sepotong tangan menjemputnya. &lt;br /&gt;“Kalian tahu, kita seperti sekumpul umat Nabi Nuh yang diselamatkan, karena Tuhan masih berkenan kita ada....” ia berbicara lagi, dan membiarkan suaranya menggantung di udara.&lt;br /&gt;“Tidak pak, kita tidak sama dengan umat Nuh. Mereka diperintahkan pindah karena orang-orang yang ingkar akan diazab oleh Tuhan, sementara kita….”&lt;br /&gt;“Bocah, kau salah!” lelaki itu memotong. ”Kita sama dengan umat Nuh. Kita ingkar, kita tidak peduli pada sasmita alam. Dan kita telah acap diperingati, juga sekarang…walaupun kita masih disayang, dan masih berkenan diselamatkan”. Ia menegang, dan semua yang ada di perahu menoleh, semuanya menatap bapak itu dalam-dalam, ada seorang yang mengangguk-angguk, mungkin setuju. &lt;br /&gt;“Mungkin, tapi mungkin juga tidak…” jawabku menggantung, mencoba mengabaikannya. Aku menoleh ke langit, ”barangkali sebentar malam, hujan akan turun lagi…”batinku. &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Telah s emalaman penuh, dalam dingin gerimis kami berjaga di pucuk-pucuk rumah atau pohonan tinggi. Semalam, tidur kami yang nyenyak tiba-tiba saja digedor kentongan tanda datangnya air bah yang entah dari mana. Suasana kampung tiba-tiba saja ribut oleh pekik panik dan tangis bayi. ”Banjir…Banjir…..”, dan kami berebutan memanjat atap atau pohonan yang tinggi, memandangi air yang pelan-pelan meninggi, seperti mengejar kami. Gerimis yang turun lewat di atas kampung kami ternyata mengantar luapan air yang tak tahu dari mana asalnya. &lt;br /&gt;Aku tiba-tiba membayangkan tempat yang kami tinggalkan; kampung pinggiran kota yang terkucil dari bising ramai mesin kendaraan. Tempat yang masih mengizinkan mangga, durian, rambutan, dan tanaman besar lainnya untuk tumbuh.   Tempat yang masih menyediakan tempat bagi anak-anak untuk main bola atau bermain layangan setiap menjelang kemarau. Rasanya  mustahil air bisa ada sebanyak ini dalam waktu semalam. Dari mana datangnya air ini. Mengapa demikian banyak hal yang tak  mudah dipahami?&lt;br /&gt;Semalam kami masih mengisi kampung ini dengan bincang-bincang usai shalat magrib di mushallah. Ada Bahri yang menjual bakso,  juga Dul yang mendorong gerobaknya, menjajakan kue hangat.   Basrul masih membincangkan pasaran harga durian yang jatuh. Dan, sekarang  semua rasanya begitu cepat berubah. Sekarang kami semua terpaksa dijemput satu persatu dari atas rumah dan pepohonan, “Sungguh nasib tak bisa ditebak, tapi barangkali bapak itu benar. Kami  seperti umat Nabi Nuh yang ingkar, dan dikirimlah banjir sebagai peringatan karena kami mengabaikan sasmita Tuhan. Atau kami hanya sekumpul orang yang harus menikmati segalanya, tanpa perlu menampik. Sekumpulan orang yang tak dihitung dan dipertimbangkan?” aku hanya bisa membatin. Menelan sisa air hujan yang melekat di ujung bibirku, rasanya seperti lumpur.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Kupandangi bapak itu, ia masih tertegun. Bapak itu memeluk erat celengan ayam dari tanah liat, satu-satunya harta yang bisa diselamatkannya. Di sudut, agak terlindung dari suaminya, Mbak Ima menyusui anaknya. Dan Sati, anak belasan tahun yang seingatku sekolah di SMP dekat balai desa hanya duduk diam. Dua baris garis bekas air mata tampak di pipinya yang coklat, mungkin ia teringat sekolahnya. &lt;br /&gt;“Tapi umat Nuh, pergi ke tanah baru, dan tak kembali. Sementara kita  hanya pindah sebentar dan kembali lagi menunggu nasib. Kita seperti tak punya pilihan. Kita tak bisa memilih nasib”. Sekali lagi, bapak itu berbicara. Pelan, nyaris tak terdengar ditelan bunyi kecipak air.  Tatapannya jauh menaut pada horizon. Di kaki langit, pada hamparan air coklat yang menyatu dengan langit mendung. &lt;br /&gt;“Hmmm. …atau kita hanya kumpulan ternak yang ikut diambil agar tidak punah ditelan air…seperti ayam, tikus, atau mungkin anjing. Iya, ayam kan tak bisa berenang. Seperti kita yang jadi korban padahal kita tak paham keinginan orang-orang yang membangun rumah baru, tapi malah merusak jalur sungai...He.. eh..kita korban, seperti ayam…” bapak itu terus berbicara, lalu terkekeh. Suaranya tak bisa menyembunyikan ironi yang sedih. Semua yang ada di perahu mengangguk-angguk pelan, sepertinya mereka setuju. &lt;br /&gt;Di kejauhan, di depan perahu, tampak barisan warga yang berhasil dibawa lebih dulu ke tepi dataran tinggi. Mereka berdiri berdesakan di dalam tenda yang dipasang tentara. Barang-barang menumpuk di antara kaki-kaki mereka. Kasur, kompor, piring, pot bunga, dan sebingkai foto. Masih sempatkah semuanya diselamatkan ketika saat yang datang begitu mendesak, dan tergesa? Apakah mereka demikian yakin; bisa kembali dan memulai lagi semua kehidupan yang terenggut hanya dalam semalam? Sepertinya hanya keyakinan seperti itu yang membuat mereka bertahan, meski hanya sekedar untuk menjalani nasib. “Toh tak ada yang bisa memilih nasib, tapi mengapa nasib rasanya tak bisa dipahami dengan jernih?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hujan turun. Dingin kembali pelan-pelan menusuk tulang  Dan hampir serempak, kami menegadah menatap langit. Sementara perahu terus membelah air menuju dataran yang lebih tinggi; ”mungkin kami memang seperti umat Nuh. Tapi apakah kami memang hanya serupa ternak?”. Kulihat  bapak itu tersenyum kecil, pahit dan sedih.&lt;br /&gt; Pebruari 2002-2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8854840546552514380?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8854840546552514380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8854840546552514380&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8854840546552514380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8854840546552514380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/05/cerpen-lama.html' title='Cerpen lama'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWH9Ls9VWI/AAAAAAAAAEg/fQhClLKYY9A/s72-c/menuis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5719481401050502425</id><published>2008-05-10T19:02:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:54.606+08:00</updated><title type='text'>beberapa puisi</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWFPLs9VVI/AAAAAAAAAEY/wdZMlxLZlZc/s1600-h/PI_-_Book_3-a3fa2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWFPLs9VVI/AAAAAAAAAEY/wdZMlxLZlZc/s320/PI_-_Book_3-a3fa2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198707840754996562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menemukan beberapa puisi lama yang sempat terselamatkan;beberapa pernah dimuat di media, beberapa lainnya diterbitkan bersama kumpulan penyair muda di Sulawesi Selatan, pernah diberikan ke gadis yang kutaksir, selebihnya mengendap di komputerku. Ini sekedar mneyimpannya ke tempat lain..sekedar melawan dari lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kunang Kunang Padam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang memadamkan lampu, ketika aku sedang mabuk dan menghitung kunang-kunang yang mengitari bola mataku. &lt;br /&gt;makassar, September 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Malam Lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini, malam lebaran&lt;br /&gt;gemuruh takbir sudah lama berhenti. tinggal bintang, lampu merkuri, dan angin dingin yang berjaga-jaga diluar.&lt;br /&gt;senyap menari di tik-tak jam weker yang terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam ini malam lebaran&lt;br /&gt;dulu, setiap lebaran selalu mengulang rindu pada kenangan irama beduk.&lt;br /&gt;tapi kali ini, malam fitri ini begitu mencemaskan;&lt;br /&gt;kemarin ada bunyi nyaring yang membunuhi orang-orang di rumah-rumah suci.&lt;br /&gt;dan tadi pagi ada lagi yang pergi –seperti lebaran yang lalu- dicabik-cabik sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;esok hari yang suci, tapi kenapa aku semakin takut melihat pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa malam kemenangan di negeri ini &lt;br /&gt;seperti malam menjelang pelaksanaan hukuman ?&lt;br /&gt;dan detik-detik terasa begitu keji mengiris hati.&lt;br /&gt;kekasih, aku takut tidak sempat mengunjungimu esok pagi.&lt;br /&gt;kutakut kalau-kalau ada yang membunuhi kita satu-satu;  dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu, izinkan kucium tanganmu sebelum datang pagi. &lt;br /&gt;aku takut esok pagi, aku juga dipilih dijemput damai –yang sakit-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu, kenapa di negeri ini, malam kemenangan seperti malam menjelang penggantungan. &lt;br /&gt;dan waktu yang berhenti serasa mengoyak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makassar, malam lebaran 1421 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tamu dari Tivi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1\:&lt;br /&gt;dalam letih dan ekstasi ia tiba diantar malam yang renta.&lt;br /&gt;dari kisi-kisi jendela itu ia meniti titik-titik warna bersama liputan berita paling terakhir&lt;br /&gt;tentang sebuah perang sipil di dekat sahara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah  ia mengecup mata kita hati-hati, dirogohinya hati kita. lalu berbisik; “besok aku akan datang lagi. kalau kau berkenan, kubawakan lagi mimpi seperti hari ini.”&lt;br /&gt;sebelum pergi, sempat ia mencemooh percakapan-percakapan sunyi kita: “tuhan hanya imaji, sejarah hanya kliping koran, cinta hanya puisi usang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lihatlah sisa jejak di beranda yang menjauh ke utara. ia menggaris bawahi janjinya bersama  kerinduan absurd kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2\:&lt;br /&gt;hari ini ia akan datang lagi, diantar koran pagi atau penyiar tivi bersama kabar &lt;br /&gt;yang entah mengutip air mata dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia akan segera datang  sebelum kita sempat berpikir untuk mengelak.&lt;br /&gt;tak ada lagi ruang bagi kita untuk bercinta sekalipun itu tergesa-gesa.&lt;br /&gt;tak ada tempat istirah bagi mata kita yang merah perih menahan kantuk&lt;br /&gt;tak ada ruang untuk kenangan, tak ada harapan untuk masa depan. tak ada ruang untuk diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3\:&lt;br /&gt;kali ini ia datang bersama sebaris cerita tentang genocide, sesekali ia tertawa sambil mengunyah hati kita. dan kita bertepuktangan tanpa sedikitpun cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kita Bermimpi, Nak"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap tidur kita bermimpi tentang nabi-nabi yang diantar Koran pagi.&lt;br /&gt;Bersama sedikit resah tentang pernag etnis dan sebaris janji pada headline&lt;br /&gt;Tiap tidur, kita juga mimpi tentang pantai dan hangat matahari&lt;br /&gt;Juga rumah mungil dengan jeruji yang rapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong mimpi yang rutin dan tak lagi asing, tak lebih dalam satu musim dalam sebingkai coretan dinding hitam putih yang seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mimpi itulah yang setia kita pugar&lt;br /&gt;Di sepotong cagar,&lt;br /&gt;Dalam tiktok jam yang harmonis&lt;br /&gt;Juga teratur seperti makan pagi  di bui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tapi mimpi itu sebuah asa, nak”&lt;br /&gt;“tapi mimpi itu juga potret sebuah represi, pak”&lt;br /&gt;“kita bermimpi, nak. di negeri ini, itu mukjizat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ayat-Ayat Hujan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit kelabu; ada yang mengadu pada waktu. &lt;br /&gt;“jarum-jarum hujan telah memerihkan luka yang  sebenarnya tak pernah kering”&lt;br /&gt;makanya kita lupa pada rindu uap tanah di hujan pertama.&lt;br /&gt;seperti terhapusnya wangi rumput basah;  yang serupa wangi dada ibu yang acap mengundang kita menelusup setiap petir mengilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan adalah risau pada sawah di tanah-tanah rendah.&lt;br /&gt;hujan adalah resah di bukit-bukit tandus.&lt;br /&gt;hujan adalah jelaga pada ingatan kita tentang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langit kelabu; ada yang memanjatkan doa entah pada siapa. menagih  ayat-ayat yang pernah terbaca pada satu waktu  yang juga entah.&lt;br /&gt;“semoga hujan seperti di kitab suci; akan menumbuhkan buah-buahan dan airnya akan jadi minum bagi ternak kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi bukankah kita sudah lama lupa bagaimana membaca ayat dan gelagat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makassar 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sajak Tahun Baru &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tik..tik,  dan tergesa kita membaca mantra penolak takdir buruk; teet...treet ..dhuar!&lt;br /&gt;tapi siapa sebenarnya yang pertama mengajari kita mengisi malam dini dengan pekik terompet yang gaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita paham, luka yang hendak kita tinggalkan di lampau tidak akan pernah benar beranjak. itu adalah bentang durasi hari yang abadi.&lt;br /&gt;lalu dalam pekik terompet, kita lemparkan ketakutan pada waktu; “seperti itukah sangkakala Israfil yang akan membunuh sang kala. juga durasi hari?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan, seperti kemarin; kita masih setia mengirimkan mimpi lewat kembang api. &lt;br /&gt;barangkali Tuhan melihat kita girang menembaki bintang sambil berharap horoskop hidup bisa berubah kalau ada bintang yang jatuh dan kita mengucapkan permohonan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ilusi itu seperti candu. seperti igau yang gagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang pergi. hanya lembaran kalender yang habis kita sobek tanpa tahu persis berapa jumlah lembarannya. lagu rutin saban hari seperti jadwal besuk matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang pasti datang, selain sisa pendar kembang api yang usai menjelang pagi.&lt;br /&gt;makassar 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Arafah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbacakah jejak sejarah di Arafah? Dipasirpasir, dibukitbukit batu, dan diangin gurun setelah berjuta-juta pasang jelejak kaki menelisik serangkai urutan perjalanan panjang; perjalanan menuju Sang Yang Mengatur  kiblat dan arah angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arafah; berjuta kaki, wajah, dan   hati dalam satu reuni keluarga, sejak Rasul Adam dan ibu Hawa menegaskan perpisahan dalam buku hidup anak cucunya, seperti mereka yang terbuang dari firdaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pasir, bukit batu, angin, dan matahari terbaca nama-Mu. Di alur nadi, air mata, lidah, dan hati kutahbiskan firman-Mu. Tapi terbacakah sejarah Arafah pada semua tanah yang menyebut nama-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ya..Rabbi, bolehkah kami menangis?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Almanak &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/&lt;br /&gt;Lembar almanak sudah habis kita sobek. Segera kita meniup terompet dengan sedih tertahan. Ada luka yang coba kita semburkan dalam pekik parau itu; pada waktu, pada lampau, pada rindu yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan tiga ratus enam puluh lima kertas almanak lalu kita bakar bersama kembang api; mengirim masa lalu  pada langit yang jenuh.&lt;br /&gt;Dan rutin seperti awal tahun kemarin, kembali  memasang kalender baru dengan rasa asing yang tak kita pahami, seperti gamangnya waktu datang yang abu-abu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menatap almanak seperti memandang pantulan wajah kita di cermin; wajah yang terus menetes habis dalam jam pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/&lt;br /&gt;Kita yakin besok, masih akan ada bunyi weker yang setia membangunkan; agar kita segera mulai merobek almanak. Setiap pagi satu. &lt;br /&gt;Merobeki lembar almanak seperti menguliti wajah kita sendiri; wajah yang terus menua setiap kita bercermin di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harihari seperti surat cinta yang kita tulis dengan penuh gelegak rasa,&lt;br /&gt;yang kita lupa bahwa kita sudah pernah menulisnya; kemarin dengan huruf dan rindu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/&lt;br /&gt;Cintaku, kelak ketika kau berulang tahun, aku ingin mengirimimu selembar almanak; &lt;br /&gt;agar kau tahu akan banyak yang kita sesali dari kefanaan ini. Disini, aku takut menjadi bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kau tahu gambar wajahmu kini mulai berwarna sephia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Repertoar kertas Kosong&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada kertas kosong yang terlupa di meja rapat.&lt;br /&gt;setelah berhari-hari sebelumnya ada orang yang berbicara tentang banyak orang lain. &lt;br /&gt;kertas itu tidak berisi catatan apapun, hanya kertas kosong yang tertinggal di meja rapat. sepi,  dipeluk kayu mengkilat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kertas itu tidak mengisahkan apapun, &lt;br /&gt;selain; memang selalu ada yang luput &lt;br /&gt;ketika kita berusaha  merangkum kenangan,&lt;br /&gt;bahwa selalu ada yang terjerat amnesia &lt;br /&gt;dari begitu banyak lembar-lembar sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau kita memang memilih lupa untuk menyembuhkan luka?&lt;br /&gt;makassar, 2000-2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Reportase dari lebanon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/:ibu&lt;br /&gt;di Lebanon, setiap ibu berkerudung hitam yang ditenun dari  benang nestapa dan belasungkawa yang panjang. namun telah lama mereka berhenti mengusap air mata. &lt;br /&gt;"sudah lama kami berhenti berkabung. sebab yang mati, tak bisa lagi kami hitung. sudah terlalu rutin. begitu sering".&lt;br /&gt;dan setiap hari, kaki-kaki ibu yang pergi terus mencipta nyanyi dan  baris-baris puisi diantara nisan, senapan,   dan kawat duri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/:maut &lt;br /&gt;di lorong-lorong kota, jika pun desing peluru, batu, dan asap berhenti,  maut masih menanti. barangkali masih ada yang menuggu kematian bersama rindu yang mendegup-- dengan atau tanpa peluru. &lt;br /&gt;tengah malam di lebanon, seperti deadline yang tergesa di ruang redaksi. malaikat maut begitu sibuk mengantri yang akan diantar ke haribaan Tuhan yang Maha Kasih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/:ratap&lt;br /&gt;"Tembok Ratapan belum boleh dipakai. harap simpan ratapan anda sampai tahun depan, kami mengambil cuti tahunan. kau tentu tahu, tahun ini, seperti yang lalu-lalu, sangat meletihkan" tertulis rapi-- menyender di tembok keramat yang juga dijaga serdadu- sebaris surat dari malaikat maut yang pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/:di Lebanon&lt;br /&gt;di Lebanon, jika pun malam padam dan serdadu tak lagi terjaga, aku ingin menulis surat cinta buat semua yang masih  mengenang tanah ini, tempat banyak nabi --dan orang biasa-- terbunuh. tapi kemarin, kudengar  merpati pos mati tertembak di perbatasan. (doa pun, aku tak tahu,  apakah akan sampai ke langit. kalau-kalau saja malaikat yang pulang tertembak di zona larangan terbang)&lt;br /&gt;Makassar, Juni 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Satu Malam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    --buat Bahri A. Iskandar dan Abdullah Sanusi--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1\&lt;br /&gt;satu malam, menghitung pijar lampu jalan. ada yang tergesa menggaris udara dengan cahaya kuning.  bergegas, membelah dingin malam sambil merapatkan pelukan. &lt;br /&gt;malam seperti ini, kita sebenarnya tak ingin ada di kota. sebab bias kuning merkuri telah merampas terangnya sinar bintang. di kota, banyak sudah yang hilang tanpa pernah kita kenali apa. kita sering dilanda lupa. kita tak pernah ingat kapan mulai menenggak tuak, dan mabuk pada kali pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu malam, menyesap asap nikotin. ada yang diam-diam mengemasi botol anggurnya, takut kalau saja malam merampas mabuknya. katanya, selalu saja ada tentara dari tangsi sebelah yang menodongnya dengan senapang sambil mengecup gugup perempuan jalang dengan dada yang terus berdegup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2\ &lt;br /&gt;kadang kita ingin jadi gelap. jadi latar. jadi yang tak dihitung, sebab, barangkali  kemahaluasan langit tak akan mungkin selesai diindera. berkali-kali, meteor selalu luluh menempuh malam. &lt;br /&gt;(dan aku telah luluh menempuh jalan menujumu. menjadi debu. menjadi sekadar serbuk  dalam jalan itu)&lt;br /&gt;"ada perempuan yang suka berbicara tentang surga", kataku.&lt;br /&gt;mungkin ia tak baca koran pagi ini. surga sudah dijual dan tak ada tempat buat orang seperti kita.  kita hanya peziarah yang tahu surga dari ingatan nenek moyang kita. mereka meramal surga dengan setumpuk kartu, sepertinya tak bisa keliru.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3\&lt;br /&gt;ada ambulans membawa orang yang ditikam takdir. memekik, menjenguki kecemasan kita.  dan begitu ia masuk ke rumah sakit negeri, orang itu katanya mati; ia pegawai negeri, tak bisa bayar anestesi. jadi dibiarkan saja ia meraung nyeri. &lt;br /&gt;(di depan rumah sakit ada spanduk seminar tentang usaha pembebasan dari nyeri; free pain for all) &lt;br /&gt;"kami tak bisa menghalangi malaikat maut. sebenarnya kami ingin menundanya, tapi kehidupan, barangkali memang harus dibeli; kau tentu tahu" ujar perawat, prihatin.&lt;br /&gt;kita sudah tak boleh prihatin, kataku. apalagi di rumah sakit negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4\&lt;br /&gt;malam mulai diam,  membiarkan kita mengecup luka hidup ini. dalam. anyir.&lt;br /&gt;"tulislah tentang cinta!" katamu. tidak! aku jadi ingin menulis tentang mimpi buruk.&lt;br /&gt;lalu berkemas pulang. menelan rindu dalam-dalam. "sungguh aku sulit melupakan pertemuan ini.&lt;br /&gt;(tolong jangan pernah katakan pada perempuan itu; bahwa aku merindukannya. kau tahu aku menyukai matanya. toh, kalau itu keliru, mohonkanlah aku maafnya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintu dua, makassar 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;bah di meulaboh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;seperti kan’an yang ditelan bah.&lt;br /&gt;kutuk bagi penduduk negeri setelah menampik tuhan nuh, menolak sembah.&lt;br /&gt;dan mencemooh bahtera di puncak bukit  yang menyiapkan sauh; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini meulaboh. &lt;br /&gt;kota kecil di tepi pantai yang terendam penuh. &lt;br /&gt;oleh bah yang tiba tergesa pagi-pagi lalu kembali setelah jenuh, &lt;br /&gt;melandai pada kaki bukit terjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu apakah negeri di sisi barat ini, juga menampik nuh &lt;br /&gt;tapi sungguh, tak ada lelaki yang bersibuk di bukit, siap berlabuh &lt;br /&gt;dan menawari kami bahtera dan iman nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya izinkan kami istirah pada kakimu.&lt;br /&gt;lelap pada lumpurmu. pada jejakmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(mungkin memang moyang kami putra nuh yang ingkar, lalu kami terus memanggul tulahnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;sebuah sarapan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: fragmen satu babak  di meulaboh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu:&lt;br /&gt;sepotong kue dan perbincangan yang tak pernah cemas.&lt;br /&gt;meski di gunung, paman-kemenakanmu terus berseteru dengan tentara untuk tanah yang  lebih baru. hanya haru-biru menjelang tidur, katamu.&lt;br /&gt;“ibu, ini kota yang diberkati. dengan syair memuji tuhan dan tari seudati,” katamu.&lt;br /&gt;nak, kopimu bahkan belum tandas.&lt;br /&gt;setiap pagi --selalu hanya sisa ampas, kukira engkau selalu gegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak:&lt;br /&gt;kota ini bahkan belum gegas. selalu ramah, ibu. &lt;br /&gt;senyum-bersendawa dengan bau pantai dan harum ganggang. &lt;br /&gt;lihat dekat muara, nelayan tiba dengan senyum terkembang.&lt;br /&gt;ibu ingin membuat ikan-pindang?&lt;br /&gt;jalan belum bising. pagi masih terbilang. jam belum sembilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ombak datang mengetuk pintu. dengan bau pantai dan harum ganggang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi, sebelum jam dinding beku.&lt;br /&gt;di pesisir yang baru terjaga.&lt;br /&gt; 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Rumah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita itu bermula dari serangkum peluk hangat setiap kita pulang. juga sekembang senyum dari keluarga yang menunggu rindu. &lt;br /&gt;tapi ranah itu lebih dari segugus serat yang menjaga sepotong metamorfosa. lebih dari sekedar sesusun kenangan. &lt;br /&gt;rumah tak hanya berisi nafas, keringat, dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari yang terusir; yang hilang bukan hanya setumpuk album foto. atau seikat buku harian. makanya airmata tidak akan pernah cukup jernih mencuci luka. juga tak akan bisa mengajari lupa. barangkali hanya matahari pagi yang berkenan bersaksi untuk pagi yang lebih damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Tamalanrea&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Katamu; Disini seperti negeri ajaib, dan kita alice yang riang bersenandung  mencari kejutan di tiap kemungkinan yang kita temui. &lt;br /&gt;Kita peter pan yang terus bermain, kanak-kanak yang terus tertawa, &lt;br /&gt;tanpa takut harus menjadi dewasa dan tak bahagia. &lt;br /&gt;disinilah, tempat dimana waktu hanya berarti hari yang terus berjalan &lt;br /&gt;tapi tak ada yang beranjak tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tamalanrea. Tempat mimpi  seperti abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5719481401050502425?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5719481401050502425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5719481401050502425&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5719481401050502425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5719481401050502425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/05/beberapa-puisi.html' title='beberapa puisi'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SCWFPLs9VVI/AAAAAAAAAEY/wdZMlxLZlZc/s72-c/PI_-_Book_3-a3fa2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1273160521697046226</id><published>2008-03-31T05:39:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:54.779+08:00</updated><title type='text'>senja, burung layang, dan pulang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R_AI2USDpPI/AAAAAAAAAEM/LlrzUojZDBw/s1600-h/blayang2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R_AI2USDpPI/AAAAAAAAAEM/LlrzUojZDBw/s320/blayang2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183652900353844466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dari jendela maharaja, mampang, 30032008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;hari sudah hampir selesai. langit kemerahan sudah mulai kelabu. dari jendela, kulihat sehimpun burung layang terbangberputar-putar mengitari liang sarang mereka, mencari jejak tempat mereka mula. mencari tempat mereka ingin mendekam melewati malam. berputar lalu satu-satu bersembunyi. gedung-gedung di kejauhan mulai menjelma siluet. sebagian dihiasi lampu satu-satu. di bawah, jajaran rumah yang sesak seperti padang kunang-kunang. (kendaraan di bawah, melintas. tergesa.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku teringat pasarcidu. di atas rumahku, sore yang serupa,  burung layang yang terbang dengan pola yang hampir sama. mengitari jejak mereka tadi pagi, untuk kembali. burung layang, yang pulang setiap senja itu, selalu menjelaskan padaku tentang pulang. kembali, pada tepi. titik kembali dari siklus yang terus berputar. semacam jeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cuma senja rasanya disana masih menyimpan langit ungu kemerahan. setiap tempat, memang punya langitnya masing-masing. lansekap yang serasa hampir lengkap menjelaskan padaku tentang pulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1273160521697046226?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1273160521697046226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1273160521697046226&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1273160521697046226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1273160521697046226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/03/senja-burung-layang-dan-pulang.html' title='senja, burung layang, dan pulang'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R_AI2USDpPI/AAAAAAAAAEM/LlrzUojZDBw/s72-c/blayang2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-4007586466825053817</id><published>2008-03-31T05:30:00.002+08:00</published><updated>2008-03-31T05:39:09.094+08:00</updated><title type='text'>::</title><content type='html'>senja jatuh. kuning menyepuh  pepohonan beton kota yang menjulang. burung layang terbang berputar melintasi udara kelabu. setelah sekian himpun jarak, inilah batasnya jauh. baginya inilah tepi. kembali pada serentang sarang yang merengkuh-lindungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga setelah semua titik yang sempat kurangkai, padamu aku ingin kembali. tapi tanganmu yang mengulur, itukah rentangan yang akan meredam semua luka dan bilur ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;300308&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-4007586466825053817?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/4007586466825053817/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=4007586466825053817&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4007586466825053817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4007586466825053817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/03/blog-post.html' title='::'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-2046119780285963323</id><published>2008-03-28T05:31:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:54.969+08:00</updated><title type='text'>suatu malam</title><content type='html'>::seusai menyusuri sudut-sudut kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R-wUK0SDpNI/AAAAAAAAAD8/mVbtEB6E-fg/s1600-h/bintang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R-wUK0SDpNI/AAAAAAAAAD8/mVbtEB6E-fg/s320/bintang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182539447262225618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;suatu malam, setelah sekian malam lainnya menyusuri jalan ibukota; terkadang terbit juga rasa takjub melihat kota yang sementara terlelap. lampu jalan yang masih benderang, kuning seperti kekunang yang berbaris takzim menunggu datangnya pagi, sebelum mereka padam, lalu hilang dalam terik siang. juga gedung-gedung beton yang tegak seperti raksasa yang termangu menunggu. dan jalan yang lengang-lapang. aspal yang basah setelah dibasuh hujan. pohon-pohon yang menunduk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terakhir aku bertanya, inikah kota yang sama? yang terlihat demikian menyesakkan saat siang meraja? kemana semua pergi? (di beberapa titik jalan tertentu, hanya ada perempuan yang menunggu mereka yang hendak melepas sepinya dengan pergumulan-pergumulan yang sebentar. juga mereka yang melintas menempuh jarak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi malam di kota ini --sebagaimana semua lansekap yang diterangi merkuri,  tetap tak tersedia sebutir pun bintang. di langit, kita tak bisa mengindera legam malam yang seperti telaga yang demikian dalam.  juga tak bisa menunggu meteor yang luluh melintasi rentangan langit malam, mencipta gegaris "bintang jatuh", dan sesekali membuat permohonan. sesuatu yang--kita tahu tak masuk akal, tapi rasanya melegakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah mengapa aku, pada akhirnya aku tak bisa betul-betul menyukai kota.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-2046119780285963323?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/2046119780285963323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=2046119780285963323&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2046119780285963323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2046119780285963323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/03/suatu-malam.html' title='suatu malam'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R-wUK0SDpNI/AAAAAAAAAD8/mVbtEB6E-fg/s72-c/bintang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-869972246593512211</id><published>2008-02-27T00:04:00.002+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:55.164+08:00</updated><title type='text'>lagi, kurusetra universitas hasanuddin</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Q6-un8lSI/AAAAAAAAAD0/JRHUf7Jw2l8/s1600-h/kurusetra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Q6-un8lSI/AAAAAAAAAD0/JRHUf7Jw2l8/s320/kurusetra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171323121470051618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;mahasiswa universitas hasanuddin tawuran lagi. kira-kira selama sejam. beberapa mahasiswa kena timpuk. tempatnya di area terbuka antara fakultas ilmu alam dan ilmu sosial. ratusan generasi penerus bangsa ini, saling menukar lemparan batu. sebagian mengacungkan tangan; menghina. kawasan yang kuanggap identik dengan kurusetra dalam lakon mahabharata. kurusetra mementaskan lakon pandawa-kurawa. serumpun keluarga yang berbunuhan hingga rusak-musnah hanya karena soal sepele. ah, kalau saja kita sadar, betapa kebanggaan seperti itu betap semu, betapa nisbi... ah, kalau saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-869972246593512211?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/869972246593512211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=869972246593512211&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/869972246593512211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/869972246593512211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/02/lagi-kurusetra-universitas-hasanuddin.html' title='lagi, kurusetra universitas hasanuddin'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Q6-un8lSI/AAAAAAAAAD0/JRHUf7Jw2l8/s72-c/kurusetra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-9118506406138268656</id><published>2008-02-23T21:41:00.003+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:55.333+08:00</updated><title type='text'>"nenek, telah setahun"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Aklun8lRI/AAAAAAAAADs/eyVF99QFpWc/s1600-h/nenek1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Aklun8lRI/AAAAAAAAADs/eyVF99QFpWc/s320/nenek1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170172602810668306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setahun yang lalu, nenek berpulang. sekedar mengingat betapa ia membenci kalau aku mulai memanjangkan rambut atau ketahuan menghisap batangan tembakau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk urusan rambut, menurutnya rambut yang terbaik adalah yang pendek-cepak,potongan ala militer. mungkin ia menyaksikan bagaimana BKR (badan keamanan rakyat) atau Tentara Keamanan Rakyat atau mungkin ABRI (angkatan bersenjata republik indonesia) di masa awal indonesia baru merdeka --berjalan memasuki kampung demikian gagah. tentara-tentara negara masuk menumpasi pergerakan DI-TII atau di kampung ku disebut "gerombolang". ia mungkin berpikir, dengan cepak, cucunya akan terlihat gagah. dulu, aku sering dibawanya untuk bercukur pada tukang cukur langganan kakek yang membuka tempat cukur di atas kanal besar yang melewati pasar cidu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;soal tembakau, menurutnya akan lebih bagus kalau uang untuk membeli tembakau itu kubelikan kue atau sesuatu yang mengenyangkan lainnya. pun jika aku merokok karena telah punya uang untuk membeli tembakau, akan lebih baik kalau uang itu kuberikan padanya --meski aku tahu, ia tak lagi betul-betul memerlukan uang. ia tak tahu tentang beraneka jenis kanker yang menumpang di tar dan nikotin yang setiap hari kuhisap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah setahun, masih kuingat bagaimana di hari itu, sebelum ia berpulang, ia kubangunkan dari pembaringannya agar bisa memakan bubur instan yang telah disiapkan untuknya. beberapa waktu sebelum ia benar-benar sakit; lupa telah menyergap ingatannya lebih dulu. ia tak lagi ingat siapa aku sebenarnya. meski ia tahu aku adalah kerabatnya, namun baginya aku adalah orang yang datang dari kampung halaman kami. setiap aku menjenguknya, ia selalu memintaku agar bermalam; dengan pandangan aku sebagai orang yang jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari situ semuanya berjalan, hingga tepat setahun yang lalu, ia akhirnya berpulang. kembali pada Yang meniupkan Roh padanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak yang masih lekat tentangnya, semua masih berdiam di benakku. mungkin hingga kelak, lupa juga menyergap. mencacah ingatanku ini. sebagaimana lupa akan selalu mengintai dan mencabik-cabik ingatan-ingatan kita. kelak, kepadamu semua, aku selalu memohon maafmu, kalau saja aku mulai melupakanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;("nek, kini aku mulai memanjangkan rambut dan terus saja menghisap berbatang-batang rokok setiap hari")&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-9118506406138268656?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/9118506406138268656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=9118506406138268656&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/9118506406138268656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/9118506406138268656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/02/nenek-telah-setahun.html' title='&quot;nenek, telah setahun&quot;'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R8Aklun8lRI/AAAAAAAAADs/eyVF99QFpWc/s72-c/nenek1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3218113929837343469</id><published>2008-02-14T00:29:00.006+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:55.491+08:00</updated><title type='text'>kelapangan hati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R7MlQOn8lQI/AAAAAAAAADk/v6ZM8K6ASQQ/s1600-h/rumh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R7MlQOn8lQI/AAAAAAAAADk/v6ZM8K6ASQQ/s320/rumh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166514158257870082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku belajar tentang kelapangan hati, di suatu hari di patallassang, gowa, sulawesi selatan. namanya daeng ngewa. katanya;"sampaikan pada anakku, agar ia tak perlu bersedih. kita tak boleh menangis untuk yang seperti ini". kata yang satunya, dia dipanggil daeng nyarang, "kita memang tak pantas menangis untuk hal seperti ini". dengan matanya yang mulai kelabu melewati usia, mereka hanya memandang dari jauh juru sita pengadilan yang membongkar rumah dan menebangi pepohonan di bidang ladangnya. ia telah tinggal di petak tanah itu sejak 37 tahun lalu. rumah itu, satu-satunya tempat ia bernaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hujan turun deras. airnya tempias. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun oleh kerabatnya sendiri ia digugat, dan pengadilan hingga mahkamah agung, menyatakan kalau ia tak lagi berhak atas tanah beserta segala isinya. dan oleh itu, maka sepasukan juru sita pengadilan negeri gowa, sulawesi selatan dan dijaga ketat aparat bersenjata, pun harus juga mengosongkan tanah yang tak lagi miliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia hanya duduk di bawah rumah warga, bersama beberapa orang warga lainnya, memandangi orang-orang yang tak dikenalnya sama sekali, mengangkuti bantal, piring-piring, pakaian, juga sisa lauk ikan asin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pallu cella&lt;/span&gt; --sepertinya sisa makanan terakhirnya di rumahnya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan dilapisi kantong plastik lecek, ia masih mengantongi dokumen tanah yang pajaknya ia bayar setiap tahunnya. juga sisa amplop balasan berstempel dari mahkamah agung bertahun 1996 (kita bisa saja menduga, di mahkamah sesibuk itu, siapa yang betul-betul  peduli pada lelaki tua yang kehilangan hak, hanya oleh orang yang bahkan hampir tak pernah menjejakkan kaki di kampung itu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia tahu, ia merasa dizalimi, bahkan oleh kerabat dekatnya sendiri. diusir bahkan saat ia sementara menjalani sisa-sisa usianya hanya bersama satu-satunya cucunya. tapi, ia memilih berkata;"kita tak boleh menangis hanya karena itu," katanya. pun jika terusir dari rumah, tak boleh kita tangisi, lalu apa yang pantas kita tangisi, daeng ngewa? seberapa banyak kerelaan di ruang hati yang kau punya, hingga untuk setitik tangispun, tak kau beri tempat?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3218113929837343469?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3218113929837343469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3218113929837343469&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3218113929837343469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3218113929837343469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/02/kelapangan-hati.html' title='kelapangan hati'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R7MlQOn8lQI/AAAAAAAAADk/v6ZM8K6ASQQ/s72-c/rumh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1711952123025574909</id><published>2008-01-29T11:24:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:55.983+08:00</updated><title type='text'>soeharto dan spongebob</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R57LpthgmpI/AAAAAAAAAC4/R1i7R-zBM0c/s1600-h/soeharto.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R57LpthgmpI/AAAAAAAAAC4/R1i7R-zBM0c/s320/soeharto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160786140468386450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi. pasarcidu baru mulai menggeliat. orang belum ramai lalu lalang. hanya beberapa pedagang yang baru menyiapkan dagangan mereka. sebagian terlihat hati-hati membuka bungkusan dagangan yang mereka kemasi setiap pasar usai. seperti membuka benda yang rapuh.  seperti membuka harapan yang retas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terbangun lebih cepat dan tidak bisa lagi tidur pagi seperti biasanya, maka kunyalakanlah televisi. berharap ada yang menarik yang disajikan kotak ajaib itu pagi ini. aku berharap ada cerita  yang menarik pagi ini --sekedar menemaniku minum kopi hitam dan merokok. namun meski sudah hari kedua berselang, kotak ajaib itu tampaknya hanya menyediakan menu yang itu-itu juga; pemakaman suharto --orang yang pernah paling berkuasa di indonesia. semua tampak dengan hanya sedikit variasi. ada presiden susilo bambang yudhoyono yang membacakan pidato pelepasan jenazah yang sebentar lagi ditimbun tanah. ada yang bercerita tentang masa lalu yang gilang gemilang di bidang pertanian. ada yang bercerita tentag seorang pencopet yang kedapatan hendak mengais rezeki di pemakaman suharto di astana giribangun. ada yang bercerita tentang keputusan suharto yang memutuskan mantan presiden sukarno--pendahulunya dan juga pendiri bangsa ini, agar dimakamkan di blitar, jawa timur. dan bukan di istana batutulis, bogor, sebagaimana yang diwasiatkan. dan banyak lagi.. sebagian besar sepertinya sementara menegaskan kalau mereka masih setia pada bapak pembangunan ini. sebagian bahkan mengiringi dengan lagu-lagu heroik. salah satu kanal bahkan seperti mencoba memaksakan kalau "pak harto" adalah pahlawan yang harus &lt;br /&gt;dipuji -agar kita tak lupa padanya dibandingkan superman ataupun batman. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R56dZ9hgmoI/AAAAAAAAACw/-xMLn6VAdIs/s1600-h/spongebob.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R56dZ9hgmoI/AAAAAAAAACw/-xMLn6VAdIs/s320/spongebob.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5160735292350569090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku seperti disergap jenuh. aku mengganti-ganti kanal dan kutemukan menu yang menurutku lebih menarik;spongebob and squarepants. dan aku seperti hanyut melihat film kartun dengan tokoh berwarna kuning ini (seperti warna dominan partai golkar, partai dominan di masa daripada pak harto berkuasa --namun ini tak membosankan rasanya) semuanya mengalir hingga film kartun ini selesai --musik penutup film kartun ini bahkan sempat membuatku turut bersenandung mengikuti irama yang kupikir seperti melodi petikan gitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bukan apolitis. juga sinis tentang negeri tercinta ini. bukan juga mencoba abai pada apa yang hangat di republik ini. namun gempuran berita sepagi ini rasanya membuatku sedikit muak. apalagi tentang itu-itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat pagi pasarcidu. selamat pagi indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1711952123025574909?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1711952123025574909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1711952123025574909&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1711952123025574909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1711952123025574909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/01/soeharto-dan-spongebob.html' title='soeharto dan spongebob'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R57LpthgmpI/AAAAAAAAAC4/R1i7R-zBM0c/s72-c/soeharto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-7263084009909442041</id><published>2008-01-25T14:11:00.000+08:00</published><updated>2008-01-25T14:19:02.941+08:00</updated><title type='text'>ia akan datang</title><content type='html'>ia mengabari kalau ia akan datang lagi. aku tak tahu; apa aku harus berbicara tentang rindu yang telah kuperam, sejak ia memutuskan pergi. tapi seperti burung-burung layang yang berpindah saat musim dingin menuju daratan yang lebih hangat, suatu waktu akan kembali terbang kembali ke daratan ia berasal...aku tahu, ia suatu waktu pasti akan kembali ke tempat ia berasal; ke kehidupannya yang tentram dan nyaman. lalu hidup kembali seperti biasa. berputar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-7263084009909442041?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/7263084009909442041/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=7263084009909442041&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7263084009909442041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7263084009909442041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/01/ia-akan-datang.html' title='ia akan datang'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1666453579929720367</id><published>2008-01-25T13:41:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:56.151+08:00</updated><title type='text'>satu hujan dan pak tua peramal</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R5l9Y9hgmnI/AAAAAAAAACo/0KM0Cks7NL0/s1600-h/hujan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R5l9Y9hgmnI/AAAAAAAAACo/0KM0Cks7NL0/s320/hujan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159292715915057778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sebuah malam. terjebak hujan. aku ku menepi mencoba berteduh pada sepotong atap kios yang berdiri di dekat rerimbunan pohon. hujan terus turun. lelaki tua yang sudah duduk duluan di sampingku membuka percakapan; perkenalan biasa mulanya. ia berasal dari salah satu kabupaten di bagian selatan propinsi ini. ia datang ke makassar, dan menawari jasa membantu orang yang kesulitan dengan hubungan dan keturunan. setiap malam, ia menumpang tidur di stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tertutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku membakar rokok. menawarinya, ia berterimakasih untuk rokok, yang menurutnya baik di cuaca sedingin hujan malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia sempat menceritakan bagaimana kedua kakinya terputus dihajar granat. juga tangan kirinya yang kini kesulitan mengenakan jam tangan. "aku dulu pejuang," tegasnya. meski dengan pelan --tapi serasa juga dengan sepotong harap, ia masih sementara mengurus uang tunjangannya sebagai veteran pejuang. kini tahun ke-tujuh sudah ia mengurusnya, dan dengan sisa senyumnya; ia masih yakin akan memperolehnya dalam waktu dekat ini. namanya "maling" atau daeng maling (ia sempat menjelaskan, alau nama itu di jawa berarti pencuri --dan aku hanya mengangguk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar masih hujan. tempiasnya mulai mengenaiku. aku kembali membakar rokok. menawarinya sebatang lagi, ia hanya menyimpannya dalam tas; "sebentar baru kubakar, menjelang tidur," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia percaya kalau bisa meramal sepotong kehidupan seseorang dari hanya melihat matanya. ia percaya saya akan memiliki cukup baik kehidupan. saya hanya tersenyum. ia sempat meramal orang yang juga berteduh bersamaku, kalau hubungannya dengan 2 istrinya tak berjalan cukup baik. orang itu mengaku kalau ramalan itu tepat. lalu mereka terus berbincang. sesekali aku tersenyum mendengar mereka berbincang. sempat ia menduga jejak tangan lelaki yang sudah cukup berumur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[kalau saja tampakannya seperti tukang nujum gypsi yang berwajah dingin dan bola kristal,mungkin aku tak terkejut] lalu ia menunjukku; "dari matamu, kulihat kalau kau mata keranjang. kau banyak kekasih,"... hmmm, aku hanya tertawa. bagaimana mungkin? aku lalu pergi menembus hujan yang masih cukup deras. "mata keranjang?," batinku. ah, ada-ada saja...kalau saja iya, tak perlu  aku tersiksa kenangan, seperti biasa jika turun hujan. ada-ada saja pak tua itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1666453579929720367?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1666453579929720367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1666453579929720367&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1666453579929720367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1666453579929720367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/01/satu-hujan-dan-pak-tua-peramal.html' title='satu hujan dan pak tua peramal'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R5l9Y9hgmnI/AAAAAAAAACo/0KM0Cks7NL0/s72-c/hujan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-7204225115989408086</id><published>2008-01-05T16:04:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:56.363+08:00</updated><title type='text'>lorojonggrang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R39qMAHQm4I/AAAAAAAAACc/jkazHMZ6ht8/s1600-h/prambanan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R39qMAHQm4I/AAAAAAAAACc/jkazHMZ6ht8/s320/prambanan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5151953253156559746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;seringkali kubayangkan ia sebagai lorojonggrang. perempuan di masa dinasti syailendra yang meminta dibangunkan candi sebelum disunting sang pangeran. seribu buah candi harus selesai sebelum fajar tiba. ia sebenarnya tak ingin bersama sang pangeran, namun tak mampu menampik maksud sang pangeran, maka ia pun menyusun muslihat agar candi sang pangeran tetap tak lengkap. mitos ini melekat pada candi prambanan yang juga disebut sebagai candi lorojonggrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kubayangkan ia sebagai lorojonggrang, namun aku tentu saja tak bisa membayangkan diri sebagai pangeran yang bisa memerintah sepasukan jin ifrit untuk membantuku mencapai maksudku. aku hanya pejalan yang fakir, yang meniti jalanku sendiri. mungkin kelak, pada akhirnya aku memang harus berdamai dengan kesunyian takdirku..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-7204225115989408086?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/7204225115989408086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=7204225115989408086&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7204225115989408086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7204225115989408086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2008/01/seringkali-kubayangkan-ia-sebagai.html' title='lorojonggrang'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R39qMAHQm4I/AAAAAAAAACc/jkazHMZ6ht8/s72-c/prambanan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-6908594855799457977</id><published>2007-11-30T15:05:00.000+08:00</published><updated>2007-11-30T15:07:27.748+08:00</updated><title type='text'>naga</title><content type='html'>aku membayangkan dia sebagai naga. yang meski ia tak ada, orang menyebut namanya dengan suara yang bergetar gentar. atau ia godfather yang setiap begundal kroco dan orang awam menyebut namanya dengan berbisik takut. ah, terbuat dari apakah ketakutan; hingga bisa demikian kental mengapung di udara dan memenuhi rongga dada?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-6908594855799457977?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/6908594855799457977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=6908594855799457977&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6908594855799457977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6908594855799457977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/11/naga.html' title='naga'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-962406293667731705</id><published>2007-11-30T14:54:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:56.543+08:00</updated><title type='text'>keramahtamahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R0-2B7NDHWI/AAAAAAAAACM/viKsJMdPNu8/s1600-R/tenrate.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R0-2B7NDHWI/AAAAAAAAACM/H3HaoCcRbJU/s320/tenrate.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138525844041571682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bercerita tentang keramahtamahan yang mugkin saja tersisa sedikit sekali di pelosok negeri ini. di satu tengah malam, di kampung tufure, ternate, maluku utara, saat mendengar sayup-sayup suara irama tabuhan gendang dan gesekan alat musik, aku dan teman-teman yang sedang menikmati angin dingin ternate di salah satu dataran tinggi, pun bergegas mencarinya. musik yang diantar angin itu disebut sebagai gala, dengan iringan 4 gendang, dan sebuah fiol (fungsinya seperti biola yang digesek), biasanya ada seruling, tapi malam itu tak ada. &lt;br /&gt;saat itu pentas ditanggap di teras rumah salah seorang penduduk yang sedang menyelenggarakan kenduri untuk anak lelakinya yang akan menikah. seperti lazimnya kenduri di kota yang dikelilingi pantai ini, pentas itu akan berlangsung hingga pagi, tanpa sedikitpun musik boleh berhenti. dan seharusnya semua warga berganti-ganti turut menari sebagai tanda gembira. kami tiba di teras rumah tersebut. &lt;br /&gt;warga pun memanggil kita masuk. kami duduk dan tersenyum riang melihat mereka bersemangat menggebuk gendang dan seorang lainnya menggesek fiol. ada dua orang yang sedang menari berganti-ganti. menari ini disebut "baronggeng"-- mungkin merunut pada sebutan tarian "ronggeng", entahlah. meski mereka semua memegang peran yang berbeda, satu yang sama, sebagian darah mereka sudah diguyur "cap tikus" minuman keras setempat berwarna bening. tuan rumah yang tak mengenal kami, dan sepertinya menduga kami adalah polisi yang menyambangi untuk memeriksa keamanan, mengambil kursi dan tak lama kemudian belasan gelas teh beraroma kayu manis dan pala serta potongan roti tawar dijamu kepada kami..&lt;br /&gt;tak lama kemudian, kamipun turut berjoget atau baronggeng dengan riang bersama mereka..di antaranya ada nenek-nenek yang tak henti mengunyah sirih, juga pak tua yang memakai baju kemeja lengan panjang yang mungkin adalah pakaian terbaiknya, sebab ini kenduri dan semua wajib dengan kostum terbaik mereka...selebihnya adalah anak muda yang rambut depannya hampir membentuk huruf "s"--yang mungkin meniru model rambut "superman". wangi teh rempah kayu manis,asap rokok, udara dingin dan uap "cap tikus" mengambang disela tarian kami.&lt;br /&gt;kami menari, meski mulanya gugup, namun tak lama semua mengalir...kegembiraan seperti memenuhi dadaku. ah keramahtamahan yang tetap membuatku terpesona, sesuatu yang telah mulai hilang dari negeri ini. rasanya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. semoga masih mengizinkan kita semua bertemu dengan keramahatamahan lainnya di negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-962406293667731705?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/962406293667731705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=962406293667731705&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/962406293667731705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/962406293667731705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/11/keramahtamahan.html' title='keramahtamahan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/R0-2B7NDHWI/AAAAAAAAACM/H3HaoCcRbJU/s72-c/tenrate.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3938115405339348277</id><published>2007-11-17T15:57:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:56.900+08:00</updated><title type='text'>pulang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6fv49Ct3I/AAAAAAAAACE/1vSKJ4prB_s/s1600-h/1808287797_e661fd53c4%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6fv49Ct3I/AAAAAAAAACE/1vSKJ4prB_s/s320/1808287797_e661fd53c4%5B1%5D.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133716270340028274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;betapa ingin aku pulang sejenak. membiarkan semua hiruk pikuk dan kerumunan itu. melepaskan pandangku pada dunia yang riuh. menepi dari terang cahaya yang menyilaukan itu. sebentar saja, lalu aku datang lagi.&lt;br /&gt;ah, kalau saja aku tahu kemana harus pulang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3938115405339348277?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3938115405339348277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3938115405339348277&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3938115405339348277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3938115405339348277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/11/pulang.html' title='pulang'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6fv49Ct3I/AAAAAAAAACE/1vSKJ4prB_s/s72-c/1808287797_e661fd53c4%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1424907385859799356</id><published>2007-11-17T15:06:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:57.271+08:00</updated><title type='text'>kenduri pun usai</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6ey49Ct2I/AAAAAAAAAB8/5dvDVmW6tfE/s1600-h/kampanye.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6ey49Ct2I/AAAAAAAAAB8/5dvDVmW6tfE/s320/kampanye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133715222368008034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;seperti kenduri, pemilihan kepala daerah atau gubernur sulawesi selatan akhirnya selesai. setelah berbulan-bulan para peserta beserta sepasukan legiun andalan dan semua sumberdaya yang mereka miliki berusaha membujuk, meyakinkan, bahkan membeli kepercayaan orang-orang sulawesi selatan agar menunjuk mereka sebagai pengurus wilayah yang terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur dan Luas wilayahnya 62.482,54 km² ini. mungkin saja itu menarik, sebab menurut wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan), hingga Juni 2006, ada warga sebanyak 7.520.204 jiwa yang akan mematuhi mereka sebagai paduka raja..&lt;br /&gt;namun setelah sekian lama, pesta pun selesai, dan hanya ada sepsang dari 3 pasang yang berusaha naik ke tahta tertinggi. dan 2 lainnya tentu saja harus maklum bahwa kenduri ini telah usai, dan sudah waktunya mereka kembali ke kehidupan mereka yang biasa. kembali menjadi warga yang baik dan taat, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6eaI9Ct1I/AAAAAAAAAB0/tfLCaZw6bkE/s1600-h/sulsel.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6eaI9Ct1I/AAAAAAAAAB0/tfLCaZw6bkE/s320/sulsel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5133714797166245714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tapi tentu saja, selalu ada yang lain. seperti di masa kanak-kanak dulu, kadang kita tak betul rela jika kalah main kelereng atau berebut layangan putus. kita mungkin saja berusaha merebut kembali kelereng kita. atau yang paling buruk, merobek layangan yang sudah tergenggam di tangan teman kecil kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hampir serupa rasanya, setiap hari, ada saja gerombolan massa dengan suara yang memekakkan datang memprotes, karena merasa dicurangi  oleh wasit yang dianggap berat sebelah dan memihak. mungkin saja ada yang keliru, atau curang tapi aku selalu merasa tak ada yang tak curang dalam permainan ini. dalam politik, kemenangan adalah muara semua yang telah diusahakan --dengan cara apapun. serupa dalam perang, adakah cara yang layak atau tak layak selain memenangkan pertempuran-demi-pertempuran hingga perang selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selesai, dan, seperti kata kawanku, tak ada kehormatan bagi yang kalah. seperti sejarah, ingatan hanya bagi pemenang. yang kalah, suka atau tidak, akan segera dilupakan. speperti mengejar debu, kita tak pernah betul-betul tahu apa yang kita kejar akan kita genggam. betap semua demikian nisbi. politic is the art of possibilities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak tahu, akan kemana semua ini. aku hanya di sini, menunggu hingga debu yang mengepul ke udara, yang disebabkan hiruk-pikuk kenduri demokrasi ini berhenti. aku hanya berharap semua kembali mengendap dan irama hidup kembali seperti lazimnya hari-hari. hingga jenuh. hingga meledak lalu kembali berputar dalam siklus demi siklus...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1424907385859799356?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1424907385859799356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1424907385859799356&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1424907385859799356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1424907385859799356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/11/kenduri-pun-usai.html' title='kenduri pun usai'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rz6ey49Ct2I/AAAAAAAAAB8/5dvDVmW6tfE/s72-c/kampanye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3685605920509825717</id><published>2007-10-12T10:15:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:57.698+08:00</updated><title type='text'>Selamat Lebaran</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rw7ZkyZUekI/AAAAAAAAABs/qztb7qy8LHg/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rw7ZkyZUekI/AAAAAAAAABs/qztb7qy8LHg/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5120269052393323074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat Lebaran..&lt;br /&gt;Hari terus saja berganti, tak terasa kita tiba (lagi) di Hari ini. Mungkin kemarin-kemarin ada saja salah kata, laku atau hal yang tak berkenan di hati Tuan-tuan dan Puan-puan; karenanya Hamba yang alpa ini mohon dimaafkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan kali ini berlalu, semoga kelak kita masih bisa berjumpa Ramadhan lagi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;-AKS-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3685605920509825717?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3685605920509825717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3685605920509825717&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3685605920509825717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3685605920509825717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/10/selamat-lebaran.html' title='Selamat Lebaran'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rw7ZkyZUekI/AAAAAAAAABs/qztb7qy8LHg/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-2672793737621900360</id><published>2007-10-03T17:14:00.000+08:00</published><updated>2007-10-03T17:18:58.545+08:00</updated><title type='text'>::</title><content type='html'>-dfs&lt;br /&gt;entah bagaimana menjelaskan semua ini. aku juga mulai ragu apakah ini rindu atau dendam?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-2672793737621900360?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/2672793737621900360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=2672793737621900360&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2672793737621900360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2672793737621900360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/10/blog-post.html' title='::'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3704072118124484963</id><published>2007-10-03T16:28:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:58.061+08:00</updated><title type='text'>mall baru</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RwNbvSZUejI/AAAAAAAAABk/LzNHwGYoElw/s1600-h/mall2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RwNbvSZUejI/AAAAAAAAABk/LzNHwGYoElw/s320/mall2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117034469573032498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tempat yang banyak dinanti orang--terutama pembelanja, itupun dubuka. tegak kokoh, berdiri dengan kubah dan hiasan beratus lampu seperti istana para sultan dari negeri dongeng. benderang gemerlap, dengan pintu yang membuka lebar menanti. ruang sejuk di dalamnya menunggu setiap pejalan yang singgah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak dibuka, dengan takzim beratus orang berbaris rapi --mungkin dipenuhi rasa takjub dan decak kagum, memadati tempat itu. berjam-jam hingga tempat itu tutup tak putus-putusnya orang datang dan keluar sambil membawa beragam kantoing belanjaan...namun banyak juga yang keluar berjalan kaki tanpa membawa sepotong pun belanjaan. setelah puas melihat-lihat semua selasar  dan etalase yang memajang mimpi mereka, mereka mungkin kembali berjalan kaki pada kehidupan mereka yang rutin dan biasa. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RwNbXSZUeiI/AAAAAAAAABc/x0AmhAyrw1U/s1600-h/mall.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RwNbXSZUeiI/AAAAAAAAABc/x0AmhAyrw1U/s320/mall.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117034057256172066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;mall ataupun pusat perbelanjaan serupa itu, kadang kubayangkan sebagai oase bagi para pembelanja. sebagai sumber air di tengah gurun yang dinaungi pohon pohon kurma yang teduh, tempat para musafir yang melintasi gurun singgah untuk beristirah menghilangkan dahaga dan kemudian mengambil air secukupnya untuk bekal perjalanan melintasi panasnya gurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi kota yang nyaris tak memiliki tempat publik yang cukup representatif bagi warganya, maka mall lah tempat mereka bertemu, duduk-duku sejenak, berjalan-jalan dan melihat-lihat "wajah kota" yang sudah berdandan dan tampak cemerlang. disinilah warga yang letih melintasi kota yang kerontang untuk singgah mengais keteduhan sejenak sebelum kembali ke wajah kota yang sesungguhnya. sekedar mengobati mata yang jenuh. sekedar melegakan hati yang penuh. meski mereka tahu, itu jauh dari wajah kota yang mereka temui sehari-hari, setidaknya mereka melihat apa yang selama ini ingin mereka lihat; kita memang tak selalu harus melihat kenyataan kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba aku teringat gambaran tentang kapal alien di filem. kapal besar berlampu gemerlap yang singgah di sebuah padang yang senyap.  lalu setelah awaknya berhasil membujuk para mahluk bumi, ratusan warga bumi kemudian berbaris diam dan teratur untuk masuk untuk menjalani cuci otak, lalu keluar lagi dengan rupa yang aneh dan ajaib...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3704072118124484963?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3704072118124484963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3704072118124484963&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3704072118124484963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3704072118124484963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/10/mall-baru.html' title='mall baru'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RwNbvSZUejI/AAAAAAAAABk/LzNHwGYoElw/s72-c/mall2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3499014022354134880</id><published>2007-09-18T14:13:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:58.245+08:00</updated><title type='text'>selamat puasa</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Ru9uE9-ifTI/AAAAAAAAABU/_llhhhg4oRo/s1600-h/maaf.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Ru9uE9-ifTI/AAAAAAAAABU/_llhhhg4oRo/s320/maaf.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111425133724204338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;meski waktunya sudah tak tepat lagi; cuma mau mengucapkan selamat berpuasa. semoga bisa mengekang laku dan ucap kita yang mungkin saja sering tak terkendali. maafkan patik juga untuk hal-hal yang tak berkenan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tabik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3499014022354134880?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3499014022354134880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3499014022354134880&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3499014022354134880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3499014022354134880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/09/selamat-puasa.html' title='selamat puasa'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Ru9uE9-ifTI/AAAAAAAAABU/_llhhhg4oRo/s72-c/maaf.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3876996843039769831</id><published>2007-08-05T11:33:00.000+08:00</published><updated>2007-08-05T11:38:58.945+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='8765'/><title type='text'>sedikit de javu</title><content type='html'>menemukan tulisan-tulisan lama yang sempat tersimpan di komputer; seperti menemukan kembali ingatan yang terasa lain. seperti deja vu; tapi menemukan diri yang --juga terasa lain di waktu lampau. terasa agak sulit mengingat bagaimana semua tulisan itu kulahirkan. terasa agak sulit menelisiknya kembali. seperti menyusun kembali serpihan wajahku sendiri. meski berhasil mengingatnya, selalu saja ada yang terasa hilang; selaluada yang terasa tak terpasang dengan benar di tempatnya. tetap serasa ada yangtak lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maafkan ingatan manusia ini. maafkan mahluk yang alpa ini..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3876996843039769831?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3876996843039769831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3876996843039769831&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3876996843039769831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3876996843039769831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/08/sedikit-de-javu.html' title='sedikit de javu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1741518302274053131</id><published>2007-06-13T00:50:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:58.585+08:00</updated><title type='text'>::</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7QdoFO53I/AAAAAAAAABM/jAtLSWGbyVE/s1600-h/daun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7QdoFO53I/AAAAAAAAABM/jAtLSWGbyVE/s320/daun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075223037487277938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku masih selalu bertanya kemana semua ini akan bermuara. maafkan, aku masih selalu berharap bisa tahu tentang sepotong takdir-Mu. aku lancang. padahal tak munngkin aku tahu. yang kutahu, bahwa semua suatu waktu akan berakhir; entah dimana. rupanya aku tak bisa jadi seperti alur sungai yang tenang menuju muara. mungkin aku hanya helai daun yang hanyut pada aliran-Mu. sesekali aku terdampar, selebihnya terseret kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin aku hanya debu. kami hanya debu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1741518302274053131?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1741518302274053131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1741518302274053131&amp;isPopup=true' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1741518302274053131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1741518302274053131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/06/blog-post.html' title='::'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7QdoFO53I/AAAAAAAAABM/jAtLSWGbyVE/s72-c/daun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8508373112414546683</id><published>2007-06-13T00:46:00.000+08:00</published><updated>2007-06-13T00:50:31.664+08:00</updated><title type='text'>sepotong sajak</title><content type='html'>jika kau minta aku membuatkanmu sajak. maafkan aku; rasanya tak bisa kukekalkan semua yang kuindera tentangmu. biar semua alir. ketika sesuara yang lain lebur dan hanya degup jantung yang kudengar; itulah sajak yang terdalam bagiku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8508373112414546683?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8508373112414546683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8508373112414546683&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8508373112414546683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8508373112414546683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/06/sepotong-sajak.html' title='sepotong sajak'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3553685212037293399</id><published>2007-06-13T00:39:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:58.817+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7NToFO52I/AAAAAAAAABE/GJygwn4uILk/s1600-h/doa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7NToFO52I/AAAAAAAAABE/GJygwn4uILk/s320/doa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5075219567153702754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku selalu saja malu berdoa pada-Mu, meski kutahu betapa aku ini hina. aku selalu merasa tak pantas memohon; setelah semua yang telah kulakukan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3553685212037293399?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3553685212037293399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3553685212037293399&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3553685212037293399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3553685212037293399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/06/aku-selalu-saja-malu-berdoa-pada-mu.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rm7NToFO52I/AAAAAAAAABE/GJygwn4uILk/s72-c/doa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1395357455156976197</id><published>2007-05-18T13:04:00.001+08:00</published><updated>2007-05-18T13:42:27.286+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>entah kenapa, selalu kubayangkan sosok itu datang membawa gada berduri. ia lalu mendera punggungku. aku tak mengenali wajahnya; hanya putih. tak jelas; selain gada logam berwarna putih kemilau dan duri-duri yang bergerigi. juga remuk di punggungku yang terasa luka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1395357455156976197?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1395357455156976197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1395357455156976197&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1395357455156976197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1395357455156976197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/05/entah-kenapa-selalu-kubayangkan-sosok.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-4810489154454159430</id><published>2007-05-18T13:04:00.000+08:00</published><updated>2007-05-18T13:38:07.217+08:00</updated><title type='text'>::lupa</title><content type='html'>entah mengapa, belakangan ini rasanya susunan waktu di kepalaku kian tak tertib. selalu saja aku merasa; kejadian yang baru terjadi kemarin, sudah lama sekali. juga sebaliknya, kejadian yang sudah sekian lampau, rasanya baru kemarin. ingatan pada susunan kalender beserta hari, juga tak lagi terlalu rapi di memori-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lupa? kenapa? apakah sel-sel di kepalaku sudah mulai aus tak lagi bisa merekam dengan baik? tapi lupa, rasanya seperti susunan pertahanan terhadap apa yang tak kita ingini sebenarnya? atau mungkin tak banyak lagi kesan yang terlalu dalam, belakangan ini, selain hanya rutinitas? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi terbuat dari apakah "kenangan"? mengapa ia susah lekang dari ingatan meski kita tak ingin ia ada? lalu mengapa kita tak bisa memilih mengenang sesuatu atau melupakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarkan lupa membebaskan kita. semoga ia bisa membebaskan kita...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-4810489154454159430?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/4810489154454159430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=4810489154454159430&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4810489154454159430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4810489154454159430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/05/lupa.html' title='::lupa'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-9093189584664599535</id><published>2007-05-08T00:06:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:59.338+08:00</updated><title type='text'>berburu senja</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rj9akhcmxxI/AAAAAAAAAA8/UqtgJetw5y0/s1600-h/losari2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rj9akhcmxxI/AAAAAAAAAA8/UqtgJetw5y0/s320/losari2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061864089687869202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"senja di pantai itu adalah yang terindah di asia!" kata temanku. " bukan!senja itu adalah yang terindah di dunia" kata temanku yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku pun harus berburu senja. memburu bola merah yang menyala-nyala itu. pernah kubayangkan nyala itu sewarna tembaga yang dipakai raja zulkarnain, untuk memerangkap yajuj-majjuj di kaki langit; agar tak keluar memorandakan bumi ini atau seperti keping uang logam yang digantungkan di dinding langit yang lembayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku berburu. dari salah satu tanah tinggi di timur kota, aku melihatnya di kejauhan. menggantung di atas kota yang dipenuhi gedung dan lalu-lalang kendaraan. tapi ia hanya putih, kuning cahayanya, ditutupi awan yang membiaskan  sinarnya melebar. ah tak cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(aku yakin cuaca bisa saja seperti wanita; tak bisa diduga, tak bisa dipercaya. ia bisa berubah cepat. atau mungkin saja senja kali ini atidak buatku) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu aku mengejarnya ke tepi pantai. di pelataran beton serupa dermaga ini kulihat kuning  bersih menggantung di langit barat. di sekelilingnya; langit serupa sehampar kanvas yang baru saja disiram warna jingga, di bagian tepi  cakrawala, langit gelap warna lembayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini sempurna!! kunanti potong-sepotong tenggelam di laut yang mulai gelap. kutunggu garis jejaknya di atas ombak yang pasti sampai ke pantai. serupa jalan emas. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rj9aKxcmxwI/AAAAAAAAAA0/DHUoqtA8ngk/s1600-h/LOSARI1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rj9aKxcmxwI/AAAAAAAAAA0/DHUoqtA8ngk/s320/LOSARI1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5061863647306237698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu seteguk teh, cepat ia tenggelam. tapi ia tenggelam tepat di balik pulau bongkah pulau yang segera menjelma siluet disorot senja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah senja yang tak sempurna!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu aku memburunya keesokan harinya. dan menjelang sore; hujan turun dengan deras. kota gelap lalu basah. hingga keesokan harinya. senja juga tak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah sekian lama sering berburu senja; senja yang sempurna mungkin saja seperti jodoh. hanya indah,ketika  waktunya tepat. ketika orbit senja yang sempurna, bersinggungan dengan orbit hidupmu. meski kau mengejarnya, dengan hati yang dipenuhi keriangan; ia bisa saja muncul dengan rupa yang tak kau harap, ketika ia tak berpihak padamu. namun jika semuannya tepat bersinggungan dengan tepat; maka ialah keriangan yang serasa lengkap!! hatimu penuh dengan warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mengapa senja indah, karena ia sebentar." kata SGA. hingga kalau saja bisa senja digunting dan ditaruh di selembar kartu pos; agar ia kekal dan bisa ditengok kapanpun kita ingin. senja tak kekal --kecuali di negeri senja-nya SGA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keriangan yang fana, ah senja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kekasihku, kalau saja senja bisa kekal pada matamu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-9093189584664599535?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/9093189584664599535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=9093189584664599535&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/9093189584664599535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/9093189584664599535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/05/berburu-senja.html' title='berburu senja'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rj9akhcmxxI/AAAAAAAAAA8/UqtgJetw5y0/s72-c/losari2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-4683610038505797746</id><published>2007-05-04T23:15:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:48:59.626+08:00</updated><title type='text'>::ritual bugis-tionghoa/ pencampuran dua budaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjtQpBcmxvI/AAAAAAAAAAs/DIHp_jFu5rQ/s1600-h/bissu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjtQpBcmxvI/AAAAAAAAAAs/DIHp_jFu5rQ/s320/bissu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060727271974160114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aksi "bissu" atau pendeta bugis kuno/ yang menikam tubuhnya saat upacara yang mereka adakan mencapai klimaks/ mungkin lazim dalam tradisi bugis// namun jika yang turut melakukannya adalah komunitas tionghoa/ bersama bissu/ menunjukkan pencampuran budaya  yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjelang acara mattemu taung atau upacara penghormatan pada leluhur ini diadakan/ liem keng boe/ atau haji ismail daeng nai atau yang lebih dikenal baba sanro/  sudah turut berdandan bersama 3 orang bissu utama dari segeri/ termasuk bissu saidi yang disebut sebagai puang matoa  bissu/ atau pimpinan dari bissu segeri (orangnya yang kurus kecil)//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seiring tabuhan gendang yang berirama khas/ pelan-pelan para bissu bersama baba sanro berjalan ke depan ruangan tempat arrajang-nge (lafalnya "e" pepet) dipasang// arrajangnge ini adalah benda yang dikeramatkan/ yang dipercaya sebagai tempat ruh leluhur beristirahat// sebelumnya/ di depan arrajangnge telah disiapkan berbagai sesaji dari kue tradisional/ buah/ ayam/ hingga kepala kerbau dan sapi yang merupakan persembahan bagi leluhur// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat upacara mulai/ puluhan kerabat baba sanro sudah datang untuk menyaksikan upacara// sebagian lainnya sudah datang setiap tahunnya sebagai bagian dari acara keluarga besar baba sanro// sedang sebagian lainnya datang untuk mengharap berkah// &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;setelah membakar dupa dan membaca doa dengan khusyuk/ baba sanro bersama ketiga bissu ini mulai menarikan tarian para bissu/ atau disebut "mabbissu" dengan berputar di depan sesaji lainnya yang ditudungi kain khusus// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;irama gendang kian cepat dan satu persatu bissu dan baba sanro mulai menghunus keris keramat yang semula terpasang dipinggang/ kemudian menusukkannya ke tangan/ leher dan perut mereka tanpa terluka sedikitpun// prosesi menusukkan senjata tajam/ yang selalu dilakukan bissu dalam upacara mereka ini/ disebut "maggiri"//  saat upacara ini berlangsung banyak keluarga yang terkejut dengan prosesi maggiri ini//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;acara yang biasanya diadakan saat bulan syafar dalam penanggaalan hijriyah ini/ sudah sejak 40 tahun lalu diadakan oleh keluarga baba sanro/ yang keturunan tionghoa/  memang   menghadirkan  bissu/ atau  komunitas pendeta bugis kuno seperti yang diceritakan dalam epos la-galigo// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;upacara ini menjadi unik karena menunjukkan adanya pencampuran budaya antara tionghoa dan bugis// pencampuran budaya ini berlangsung saat leluhur baba sangro/ keturunan tionghoa yang tiba di tanah luwu/ sulawesi selatan/ dan kemudian menikah dengan keluarga ke-datuan luwu/ salah satu kerajaan besar di tanah bugis//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam keragaman budaya indonesia yang sangat beragam/ akulturasi budaya semacam ini terus berlangsung// saling mewarnai/ saling memperkaya/ tanpa ada benturan  yang berujung pada kekerasan// &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun jika kita tak pandai menghargai keberagaman/ entah sampai kapan upacara yang menghadirkan beragam warna etnik serupa mattemu-taung ini/ tetap mewarnai perjalanan bangsa indonesia///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanggal : 4 mei 2007&lt;br /&gt;====&lt;br /&gt;*ini dari berita untuk stasiun tivi, beberapa tanda baca mungkin tidak familiar. “/” menunjukkan koma “,”. tanda “//” berarti titik “.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-4683610038505797746?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/4683610038505797746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=4683610038505797746&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4683610038505797746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/4683610038505797746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/05/ritual-bugis-tionghoa-pencampuran-dua.html' title='::ritual bugis-tionghoa/ pencampuran dua budaya'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjtQpBcmxvI/AAAAAAAAAAs/DIHp_jFu5rQ/s72-c/bissu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8420330854183082141</id><published>2007-05-01T22:00:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:49:00.005+08:00</updated><title type='text'>selamat hari buruh, Samurai (stringer) !!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjdVKBcmxuI/AAAAAAAAAAk/U-ot-Utx2QQ/s1600-h/samurai2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjdVKBcmxuI/AAAAAAAAAAk/U-ot-Utx2QQ/s320/samurai2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059606337049511650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjdRthcmxtI/AAAAAAAAAAc/Z3lJQo727BQ/s1600-h/samurai.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjdRthcmxtI/AAAAAAAAAAc/Z3lJQo727BQ/s320/samurai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5059602548888356562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kubayangkan mereka sebagai "samurai" yang menjadi barisan terdepan yang menjaga  para "shogun". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meski para shogun, yang menjadi wakil di daerah dari "kekaisaran media" di kantor pusat di ibukota, masih lelap di pagi hari, atau tertidur di rumah mereka yang nyaman di malam hari, para "samurai" inilah yang berjaga, kalau saja ada "liputan"  (bayangkan ini sebagai kekayaan di alam) yang bisa mereka temukan untuk bisa dikirim ke kantor pusat (bayangkan sebagai kekaisaran) agar ditayangkan/dimuat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(nama para samurai ini bahkan kadang tak disebut--hanya nama para shogun). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setiap liputan ini dibayar oleh kantor pusat (kekaisaran), sekian persen buat para samurai ini. meski mereka sebagian besar bukan "samurai terlatih", namun sebagian besar dari samurai ini, tetap berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. mereka biasanya " learning by doing", dengan mengambil pelajaran di lapangan, serta pengalaman dari orang-orang yang lebih tua..sebagian terkadang memilih berpindah dari shogun satu ke shogun lainnya. sebagian lainnya pernah keluar dan menjadi "ronin" atau samurai tanpa tuan, dan bebas menjual apapun yang dimilikinya kepada para shogun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika ada samurai yang terluka atau terbunuh, tentu saja shogun segera mencari ganti. agar roda terus berputar. hampir tak ada sesal, tak ada yang terlalu peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++++&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tadi beberapa koresponden dan kntributor berunjukrasa menuntut perbaikan nasib bagi para "buruh" media. namun saat mereka pulang, aku hanya bisa meringis. aku tahu, tak ada yang membicarakan nasib c****, m****, r****, N**, m*****, i***, dan semua yang hanya sering disebut "stringer" ---bahkan kadang sebagai "stranger"; orang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di beberapa daerah, posisi yang kebanyakan ada di stasiun televisi ini, bahkan disebut "tuyul", karena biasanya tak tercatat dalam redaksi di kantor pusat (kecuali dikenal sebagai "anggota" dari koresponden di daerah), namun mengabdi sebagai pencari berita, atau mungkin mesin uang dari koresponden dan kontributor...biasanya mereka dibayar hanya sepersekian dari rupiah yang dibayarkan ke koresponden dari tiap berita yang dimuat (ditayangkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pernah menjadi "tuyul", "stringer", atau orang asing, meski aku masih tetap merasa beruntung, namun sedikit banyak aku tahu bagaimana rasa berada di posisi itu. &lt;br /&gt;hampir tak ada perjanjian. hanya ada pembayaran setiap akhir bulan. terkadang ada pemberian tertentu dari koresponden/kontributor tempat mereka mengabdi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun satu yang jelas, tak ada batasan hak dan kewajiban!!! tak ada yang menanggung resiko yang mereka hadapi di lapangan! tak ada jaminan ketika mereka terkena batu, pukulan atau luka, saat mereka mencari berita untuk "dijual" kepada  koresponden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--aku teringat seorang kawan yang menolak perintah kantor pusat untuk mencari stringer, karena takut kalau saja stringer tersebut ada apa-apa, terus tidak tahu siapa yang harus menannggung resiko yang terjadi padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++++&lt;br /&gt;mereka para samurai, juga patut diperjuangkan; meski itu agar bisa menjadi shogun  suatu waktu. selamat hari buruh tuan-tuan stringer. selamat hari buruh, para samurai!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8420330854183082141?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8420330854183082141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8420330854183082141&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8420330854183082141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8420330854183082141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/05/selamat-hari-buruh-samurai-stringer.html' title='selamat hari buruh, Samurai (stringer) !!!'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/RjdVKBcmxuI/AAAAAAAAAAk/U-ot-Utx2QQ/s72-c/samurai2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-7501483880610093997</id><published>2007-04-12T01:14:00.000+08:00</published><updated>2007-04-12T01:17:14.202+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>:s&lt;br /&gt;kalau saja kau tahu, betapa binar matamu yang kekanakan itu demikian kurindukan. &lt;br /&gt;mata yang menajamkan bilah-bilah rindu didadaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-7501483880610093997?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/7501483880610093997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=7501483880610093997&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7501483880610093997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/7501483880610093997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/04/s-kalau-saja-kau-tahu-betapa-binar.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-2256087756088449946</id><published>2007-04-12T01:05:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:49:00.169+08:00</updated><title type='text'>adam air</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0WcRoArqI/AAAAAAAAAAM/ZRPdtad_6AU/s1600-h/adam+air.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0WcRoArqI/AAAAAAAAAAM/ZRPdtad_6AU/s320/adam+air.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052219032002932386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kemarin sempat melintas di dekat pantai lojie, barru, sulawesi selatan, tempat serpihan pertama pesawat naas adam air ditemukan. banyak cerita di dalamnya saat turut terlibat dalam pencarian. letih, demam, tawa, dan certa yang diam-diam lindap di kenangan.&lt;br /&gt;namun dimanakah 102 nyawa yang ada di dalam KI-574 itu? (bagaimanakah kini rupa mereka yang hilang itu) kata sebuah kabar, mereka ada di dasar laut perairan mejene-sulawesi barat, kedalaman 2000 meter dan  tertimbun sedimen pasir. mereka dimakamkan oleh laut. dan para kerabat hanya bisa menabur bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, betapa kita semua memang fana...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-2256087756088449946?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/2256087756088449946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=2256087756088449946&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2256087756088449946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2256087756088449946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/04/adam-air.html' title='adam air'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0WcRoArqI/AAAAAAAAAAM/ZRPdtad_6AU/s72-c/adam+air.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5779571021320155203</id><published>2007-04-12T01:01:00.001+08:00</published><updated>2007-04-12T01:01:38.460+08:00</updated><title type='text'>::a morning in pasarcidu</title><content type='html'>Roda-roda becak berputar, memantulkan kilau lampu yang mulai tenggelam ditelan cahaya pagi. Bergerak mengikutri kayuhan pedal sang pengayuh yang mengantar orang-orang mencari hidupnya. Seperti ia yang mengayuh roda rezekinya. Satu satu, kadang sepasang orang lalu-lalang melintasi jalan yang mulai berderak. Hidup mulai berdenyut. Langit mulai terang. Di timur matari mulai terang kemerahan, sinarnya mengintip dari atap-toko dan lorong-lorong di pasar cidu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uap kopi, mengapung di dalam ruang. Meja-meja mulaio diisi orang-orang yang singgah. Lelaki berjaket katun tebal, menaikkan kerah, mencoba melindungi lehernya dari gigitan angin pagi.  Kelompok bapak-bapak berkopiah, seorang menyampirkan sorban di bahunya, menyeruput sisa kopi  kental di gelasnya; membiarkan kafein menyesap di sela-sela sisa  giginya yang telah aus digerus usia. Lainnya berbincang tentang malam, tentang bahagian hidup yang telah usai. Tentang riuh rendah hidup yang masih mengusik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam berdetak pelan.  Di luar lampu mulai satu per satu padam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki lainnya termenung, menghisap rook dengan gerakan tangan yang hampir mekanis, seperti gerakan yang tak disadarinya, tak diingininya. Ia hanya membiarkan asap keluar dari mulutnya. Di depannya, gelas kosong dengan warna kuning telur di dasarnya. Apalagi kalau bukan telur ayam kampung setengah matang, yang dipercaya sebagai makanan penambah gairah hidup. Telur unggas kental, yang kerap dipercaya pengganti tenaga seusai persetubuhan yang melelahkan. Kuning telur yang belum matang betul, seperti akan kembali melumasi sendi yang longgar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai lagi di pasar cidu. Tentu dengan warna yang tak pernah sama. &lt;br /&gt;(suatu pagi, ketika tak bisa lelap hingga malam usai)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5779571021320155203?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5779571021320155203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5779571021320155203&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5779571021320155203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5779571021320155203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/04/morning-in-pasarcidu.html' title='::a morning in pasarcidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8566514353505615979</id><published>2007-04-12T00:58:00.000+08:00</published><updated>2008-12-10T22:49:00.278+08:00</updated><title type='text'>dogtag dan kenangan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0W7BoArrI/AAAAAAAAAAU/6Q6BPIRPvQQ/s1600-h/dogtag.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0W7BoArrI/AAAAAAAAAAU/6Q6BPIRPvQQ/s320/dogtag.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052219560283909810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“saya percaya, setiap peluru, memuat namanya sendiri..”&lt;br /&gt;::ucapan seorang kawan ketika ia bercerita tentang orang-orang yang mati saat menjalankan tugas peliputan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalung dog-tag. Kalung yang liontinnya bertuliskan nama, golongan darah, dan beberapa informasi penting lainnya. Kalung ini banyak digunakan tentara amerika saat Perang Dunia ke-2, sebagai penanda kalau saja pemiliknya ditemukan mati, agar identitas mereka bisa segera dilacak.  Meski jasadnya tak utuh lagi, setidaknya liontin dari logam tipi situ bisa menunjuk nama, kesatuan, ataupun asal jasad itu. Biasanya setiap dog-tag, akan turut dikembalikan kepada keluarga sebagai tanda kalau pemilik kalung tersebut telah dimakamkan di tempat ia berpulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memutuskan memakai ini, aku tersadar kadang benda ini demikian menakutkan. Betapa tidak, Kalung ini memang diharapkan bisa menjelaskan siapa diriku –beserta golongan darah yang kubutuhkan kalau aku terluka parah, dan tak mampu lagi menjelaskan “diriku sendiri”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski di setiap “scene” dari hidup ini, nasib buruk bisa saja selalu menyertai, namun toh jikapun itu terjadi, aku hanya bisa berharap kalau benda ini utuh dan bisa sedikit membantu menjelaskan diri (atau jasadku). Jika aku mati dan hilang di sebuah tempat, kuharap kalung berusaha menjelaskan kepada yang menemukanku, kalau aku memiliki tempat yang kuingin; aku dipulangkan ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin semua yang mengenakan benda sejenis ini, semisal gelang baja, ataupun penanda lainnya, mungkin memiliki harapan yang serupa. Agar jasad ini bisa dikembalikan kepada keluarga, untuk dimakamkan dengan layak. Sebagai tempat berziarah. Tempat orang sesekali dating, dan sedikit mengurai kenangan. Meskipun itu hanyalah harapan dari aku, ataupun mereka yang masih hidup, sebab yang mati, tak lagi berhak berkehendak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8566514353505615979?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8566514353505615979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8566514353505615979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8566514353505615979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8566514353505615979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/04/dogtag-dan-kenangan.html' title='dogtag dan kenangan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/Rh0W7BoArrI/AAAAAAAAAAU/6Q6BPIRPvQQ/s72-c/dogtag.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3543133036911814721</id><published>2007-02-17T21:31:00.000+08:00</published><updated>2007-02-17T21:57:15.776+08:00</updated><title type='text'>telaga matamu</title><content type='html'>::senja&lt;br /&gt;selalu kubayangkan matamu serupa telaga&lt;br /&gt;tempat aku pulang dan bercermin,&lt;br /&gt;mencari kembali wajah ini, setelah didera letih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telaga yang memerangkap kuning matari&lt;br /&gt;menjadikannya senja yang abadi. &lt;br /&gt;riak emas seperti tari hari &lt;br /&gt;yang mengajakku tenggelam pada dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah kau adalah senyapnya rimbun hutan &lt;br /&gt;tempat aku berlindung dari hiruk-pikuk &lt;br /&gt;dari dunia yang terus berderak pekak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah tempat aku diam, seperti malam&lt;br /&gt;dimana aku lelap tenteram.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3543133036911814721?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3543133036911814721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3543133036911814721&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3543133036911814721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3543133036911814721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/02/telaga-matamu.html' title='telaga matamu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-669785786044894263</id><published>2007-01-19T19:06:00.000+08:00</published><updated>2007-01-19T19:12:10.988+08:00</updated><title type='text'>letih</title><content type='html'>belasan hari berada di hiruk pikuk pencarian adam air, rasanya kini hari-hari telah jadi rutin. bangun pagi dengan harapan bangkai logam itu segera ditemukan;dimanapun ia berada beserta 102 jenazah yang telah berbentuk apa. meski telah ditemukan ratusan serpihan pesawat, namun tubuh-tubuh itu dimanakah? jika saja masih terikat di kursi di tubuh pesawat yang masih utuh di sebuah tempat yang entah; sampai kapankah mereka menunggu.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(selalu aku tak bisa membayangkan detik-detik ketika pesawat yang akan mengantar mereka, tiba-tiba bergerak, bergolak, lalu poranda di udara. juga wajah-wajah yang pernah demikian menggoda, serupa apakah kini? para pengantin yang mungkin masih menyimpan impian malam-malam penuh gairah di hidup mereka. para pendeta yang tak membayangkan jalan ke surga terasa demikian menyiksa. ibu. ayah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini hari ke sekian, dan aku rasanya berada di pusaran yang terus bergerak. terasa letih, tapi pusaran terus bergerak. aku tak tahu akan kemana. &lt;br /&gt;sudah lama sekali aku tak bertemu ibu. aku letih sekali tuhan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-669785786044894263?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/669785786044894263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=669785786044894263&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/669785786044894263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/669785786044894263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/01/letih.html' title='letih'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-6494569996707637571</id><published>2007-01-06T02:10:00.000+08:00</published><updated>2007-01-06T02:13:07.589+08:00</updated><title type='text'>hujan</title><content type='html'>aku selalu ingin mengirimimu hujan setiap malam&lt;br /&gt;agar kau lelap mendengar titiknya menari di atap &lt;br /&gt;seperti lulabi dari masa kanakmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu ingin mengirimimu hujan&lt;br /&gt;agar kau tentram dalam peluknya &lt;br /&gt;seperti bocah yang pulas setelah lelah bermain seharian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat tidur&lt;br /&gt;2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-6494569996707637571?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/6494569996707637571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=6494569996707637571&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6494569996707637571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/6494569996707637571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/01/hujan.html' title='hujan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-5626301811248952764</id><published>2007-01-06T01:23:00.000+08:00</published><updated>2007-01-06T01:28:57.131+08:00</updated><title type='text'>tahun kalabendu</title><content type='html'>memasuki usia yang kian tua; tahun ini rasanya aku kian mengerti mengapa hidup sering disebut demikian renta. kata sang sepuh, tahun ini mungkin saja episode kalabendu, dimana semua bala bertemu dan hidup --rasanya seperti menjelma rupa sebagai sesuatu yang sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga harapan tetap hidup di hati kita, meski didera segala coba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat tahun baru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-5626301811248952764?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/5626301811248952764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=5626301811248952764&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5626301811248952764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/5626301811248952764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2007/01/tahun-kalabendu.html' title='tahun kalabendu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-2537289841186043075</id><published>2006-12-14T20:28:00.000+08:00</published><updated>2006-12-14T20:30:03.819+08:00</updated><title type='text'>::seorang nenek di kampung di bukit</title><content type='html'>ini hari ketiga lebaran. &lt;br /&gt;aku telah berpupur. dengan kebaya hadiah cucu-ku, lebaran lalu.&lt;br /&gt;dengan letih dan rematik yang terasa kian sering ini.&lt;br /&gt;aku duduk di beranda. memandang jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin tak ada yang datang di lebaran ini&lt;br /&gt;hanya angin kemarau yang memainkan genta bambu di sudut beranda.&lt;br /&gt;berkelontang, mengetuk-ngetuk ingatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biasanya dari jauh, setelah deru bus menjauh. di lembah kulihat ada saja yang jalan menjinjing bawaan.&lt;br /&gt;kanak yang berlelarian dengan baju baru cerah sambil tertawa-tawa. &lt;br /&gt;sesekali debu terbang dihalau kaki mereka. &lt;br /&gt;tapi kali ini tak ada yang berkunjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin memang tak ada yang datang lebaran ini.&lt;br /&gt;hanya guguran pelepah bambu kering yang jatuh, &lt;br /&gt;ranggas menari  baling-baling.&lt;br /&gt;ah angin yang terasa kian asing.&lt;br /&gt;tapi tak kutahu apa yang sebenarnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---catatan dari lebaran di kampung, camba 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-2537289841186043075?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/2537289841186043075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=2537289841186043075&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2537289841186043075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/2537289841186043075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/12/seorang-nenek-di-kampung-di-bukit.html' title='::seorang nenek di kampung di bukit'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-8815638852738507546</id><published>2006-11-25T23:34:00.000+08:00</published><updated>2006-11-25T23:35:00.290+08:00</updated><title type='text'>welcome statue</title><content type='html'>selamat datang para peziarah. jenguklah terang kota ini. &lt;br /&gt;bawalah  semua mimpi yang kalian punya. mari menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selalu kulihat kalian tiba dengan sayap-sayap yang sukacita. sambil bersenandung, terbang mengitar pada kuning lelampu. berharap menukar resah yang kalian bawa dengan sebatang-dua batang harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat kulihat sebagian jatuh dengan sayap remuk. juga yang mati dalam kuyup hujan. &lt;br /&gt;lalu sebagian terbang menyusuri gulita, ketika lampu kembali padam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maafkan aku tak bisa lagi bersedih. aku hanya beku, dengan tangan membuka dan senyum yang kekal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;datanglah-datang para peziarah, betapa aku merindukanmu selalu. &lt;br /&gt;selamat datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jakarta, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-8815638852738507546?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/8815638852738507546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=8815638852738507546&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8815638852738507546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/8815638852738507546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/11/welcome-statue.html' title='welcome statue'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3508568356165126216</id><published>2006-11-25T23:24:00.000+08:00</published><updated>2006-11-25T23:27:08.481+08:00</updated><title type='text'>Harapan</title><content type='html'>“Terkadang harapan kita, bisa jadi hanya kekosongan. Tapi kita terus memburunya tanpa sadar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggalan kata di atas sebenarnya ingin kukatakan kepada seseorang, tapi kuurungkan hanya karena kutahu mungkin saja saya termasuk di antaranya; mengejar sesuatu yang kukira nyata. Seperti mengejar fatamorgana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pamanku, seorang yang kutemui hanya setiap aku berada di kota ini. Seseorang yang diusianya yang ke-56 masih membujang. Entah sudah berapa lama ia disini, tapi tiap kali bertemu, ia hanya berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya tak kupahami benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali kemarin terakhir aku bertemu, ia hanya bercerita; kalau ia sementara mengurus uang belasan peti dolar brazil dari zaman orde-lama, yang katanya akan dibeli seseorang yang entah. Barang ini, konon dalah hadiah buat Bung Karno (BK), di masa jayanya dulu, dan masih dikejar orang-orang tanpa penjelasan rinci mengapa mata uang lama tersebut masih dikejar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aku hanya teringat Dana Revolusi simpanan BK yang banyak meninabobokan orang-orang yang ingin cepat kaya. Juga teringat orang-orang yang bermimpi akan nasib baik dan cepat kaya yang disediakan kehidupan ini, namun dihempas kenyataan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, setia kali bersua, ia hanya bercerita tentang rencana ataupun proyek yang seperti sedang digelutinya. Tentang mimpi-mimpi bahwa nasib yang akan berubah cepat jika saja waktu berpihak dan ia tak perlu lagi berpindah dari satu tempat kawan ke tempat kawannya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku berbicara tentang pulang, Ia mengelak, seraya menyebut sekian rencana yang akan dilakukannya. Aku selalu bisa menebaknya, selalu berkenaan dengan benda-benda masa lalu, atau kehidupan yang gilang gemilang kalau saja nasib baik itu terjadi. Ia akan selalu menutupnya dengan, “ doakan saja, supaya ini cepat terlaksana..”. aku dengan putus asa, mungkin merapal “amin..”, meski seperti merapal kutukan akan keputus-asaanku sendiri karena tak mampu membujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, kata pamanku itu, meski kudengar suara itu  terdengar letih, ingin kembali ke kampung halaman kami dan menegakkan nama besar Kakek, yang adalah ayahnya –yang dulu adalah salah satu Tuan, dari 3 Tuan dimasanya. Nama besar yang menurutku berarti Kekayaan, Nama yang disebut handai taulan dengan takjub, dan mungkin dengan decak kagum. Dan ia mugnkin baru akan menikah dengan pesta yang meriah dan disesaki semua kerabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kusebutkan tentang kehidupan yang tetap sederhana, tanpa harus dikepung mimpi yang muluk, ia hanya bilang kampung tempatku dan sebagian besar kerabat menetap, tidak menyediakan mimpi yang bisa dengan cepat menyata. Ia bilang; “hanya di kota ini, semua itu mungkin…”&lt;br /&gt;Kalau saja ia tahu berapa ratus ribu harapan yang luluh lantak di kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kupikir ia hanya mengejar labirin ilusi yang menyelubungi dirinya dan membuatnya tetap berputar-putar, tanpa pernah kemana-mana.  Tapi mungkin saja aku atau siapapun bias saja menjadi ia kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampang, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3508568356165126216?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3508568356165126216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3508568356165126216&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3508568356165126216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3508568356165126216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/11/harapan.html' title='Harapan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-1440900018430833078</id><published>2006-11-22T05:33:00.000+08:00</published><updated>2006-11-22T05:34:39.872+08:00</updated><title type='text'>Bush dan Negeriku</title><content type='html'>Dua kali memasuki Kota Bogor, saat kedatangan Bush; seperti melihat kenyataan kalau negeri ini memang memilukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang kedatangan presiden yang senang perang itu, ratusan tentara berseragan loreng menyebar mengelilingi kebun raya. Siaga mengokang senjata. Juga ratusan orang berseragam lainnya parker di sekitar persimpangan jalan yang sebelumnya sudah diblokir dengan kawat duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Kota Hujan, yang biasanya tenang, dipaksa  untuk berhenti melangsungkan kehidupan kota yang biasanya semarak dengan asinan, talas, dan hari yang semarak. Selama 2 hari kehidupan warga berhenti, meski biaya penyambutan yang dirogoh Pemerintah RI 6 miliar, namun kerugian ditaksir hampir mencapai 100 miliar rupiah, ditambah biaya yang tak terhitung lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hampir diseluruh negeri, presiden yang dengan pandir mengaku mengemban titah tuhannya ini untuk meneruskan perang, disambut aksi protes, toh ia datang melenggang, dan ia disambut seperti messiah yang membawa peta jalan terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan hati yang perih, mungkin inilah negeriku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-1440900018430833078?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/1440900018430833078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=1440900018430833078&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1440900018430833078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/1440900018430833078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/11/bush-dan-negeriku.html' title='Bush dan Negeriku'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-3996394519953387052</id><published>2006-10-21T21:23:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T21:50:20.196+08:00</updated><title type='text'>maaf</title><content type='html'>kepada semua yang pernah singgah bertamu, maafkan saya yang mungkin pernah menyinggung ataupun membuat rasa tak nyaman pada anda sekalian.  mohon biarkan saya menjabat hati anda semua melalui surat ini. maafkan saya, agar hati ini terasa lebih lapang menjalani hidup yang sebentar ini. semoga semua kembali suci, terlahir kembali serupa bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;br /&gt;-ahmad k. syamsuddin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-3996394519953387052?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/3996394519953387052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=3996394519953387052&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3996394519953387052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/3996394519953387052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/10/maaf.html' title='maaf'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115701237785284002</id><published>2006-08-31T16:17:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.403+08:00</updated><title type='text'>Senja di Losari</title><content type='html'>---dear tejji kara&lt;br /&gt;Aku rindu senja. &lt;br /&gt;Ketika kau tertegun dan tak ingin ada suara yang menyela bergulirnya bundaran merah cair itu di kaki langit. Kau ingin kita diam, hanya melihat ia hingga hilang menyisakan lembayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Senja pada manik matamu. Seperti bara.tembaga di dasar danau. Kubayangkan yajuj-majuj yang ditawan raja zulkarnain, di kaki langit terjauh, tempat kaldera menyala merah bara yang baka. Dimana ia serupa aku; terpenjara. Dan kekal ia pada matamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu senja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115701237785284002?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115701237785284002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115701237785284002&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701237785284002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701237785284002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/08/senja-di-losari.html' title='Senja di Losari'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115701222458605567</id><published>2006-08-31T16:14:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.345+08:00</updated><title type='text'>sajak kenangan</title><content type='html'>Kau pergi dan mungkin aku akan segera menutup pintu. Mengunci semua jendela dan lubang angin agar tak kuindera lagi suara cuaca dari luar tempat kita pernah bermain dengan salju, matahari dan guguran daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau akan pulang pada rahim tempat kau bermula, katamu. Tempat semua dongeng tentang lampu-lampu yang tak pernah padam, tempat matahari tak pernah benam ditelan musim. Kau ingin kembali pada hari ketika waktu belum terputar dan membawamu pada kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah waktu kalau saja semua baka, dan kita tak perlu menjadi tua. Kita bisa jadi peter pan, yang melintasi angin dan awan tanpa perlu takut terluka”&lt;br /&gt;“Tapi kita bukan peter pan, dan waktu tak mengizinkan kita kekal” Maka kau harus berangkat, mengemasi semua yang sempat tertinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kau berkemas, mengapa tak kau kemasi semua kenangan ini, agar tak mengusik di tiap sunyi malam. Meski telah kukunci semua jendela, lubang angin dan pintu. Mengapa kau biarkan kenangan ini tertinggal; kini menjelma semak yang tumbuh cepat di ingatanku. Dan ia tak juga ranggas meski telah berkali kemarau tiba.  &lt;br /&gt;2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115701222458605567?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115701222458605567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115701222458605567&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701222458605567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701222458605567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/08/sajak-kenangan.html' title='sajak kenangan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115701149055278750</id><published>2006-08-31T16:04:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.284+08:00</updated><title type='text'>::orkestra pasar cidu</title><content type='html'>Pagi. Hari masih terang tanah. Cahaya matahari jauh di timur masih melukis barisan pegunungan bulusaraung. Aku di beranda, menggenggam segelas kopi yang masih panas. Melihat satu persatu mereka tiba. Semuanya berkiblat ke satu hadap. Semuanya menghadap ke jalan. Lalu mulai menyusun harapan mereka untuk hari itu. Suara masih seperti bisik yang mulai agak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu muda mulai mengangkati balok-balok kayu untuk dijadikan tatakan di meja jualannya. Sebelumnya, Ia meletakkan balok perlengkapannya itu di balik meja. Ia menjual kelapa butiran, jadi harus meletakkan balok-tatakan, agar kelapa bundar miliknya tak menggelinding jatuh ke jalan. Satu per satu disusunnya, seperti membingkai tepi meja. Lalu bersama bedak yang baru saja ia pupur di  wajahnya, ia pun tersenyum; dan &lt;br /&gt;Sesekali bersenandung; mungkin membayangkan persetubuhannya semalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang Lelaki bertubuh besar gempal, berkumis lebat menyandarkan kendaraannya. Diturunkannya bakul berisi sayuran gandengannya –bakul ini 2 buah, dipasang bersisian, dalam bahasa Makassar, disebut, Kamboti. Ia datang dari Takalar, sekitar 70 kilometer dari tempat ini. Pelan ia mulai memasang tenda, dinaikinya bangku yang kuragu bisa menopang tubuh raksasanya. Tapi  ia naik. Berjinjit dan satu-satu mengikat tali tenda miliknya. Dari punggungnya, tersingkap sebilah pisau besar-berkilat yang biasa ia gunakan menggurus sayur-sayurnya. Ia sempat tersenyum melihatku di atas beranda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cerita orang-orang, ketika lelaki bertubuh besar ini, pernah tak muncul selama sepekan. Rumahnya, kata orang-orang, baru saja dimasuki kawanan perampok, dan Ia sendirian mengusir kawanan itu, setelah membunuh seorang di antaranya. Dan warga kampungnya ramai-ramai mengaku telah menghakimi perampok yang tewas itu, agar lelaki bertubuh besar ini tak diciduk polisi. Kubayangkan lelaki itu mematahkan batang leher perampok itu, seorang diri. Atau menebas kawanan ini seperti Miyamoto Musashi menebaskan samurainya. Apakah ia tersenyum saat membunuh perampok itu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai terang. Matahari sudah naik. Sinarnya menerpa wajahku. Kuhirup kopiku, masih hangat. Di timur, langit kian terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di persipangan, kulihat penjual ayam menunggui dagangannya; ayam mati yang dihinggapi satu-dua ekor lalat. Wajahnya agak pias Beku tanpa senyum. Hanya duduk melihat orang lalu lalang. Mungkin ia telah tiba pagi-pagi sekali dan membunuhi ayam-ayam putih itu, sebelumnya melemparnya ke dalam air panas. Ia jagal yang berani merenggut kehidupan, tapi ia seperti lelaki kesepian yang duduk menunggui jenazah kerabatnya yang telanjang tanpa kafan yang entah kapan dimakamkan. Meski tak ada temaram lilin, namun wajahnya cukup menegaskan suasana duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang. Penjual rempah bertubuh pendek, mulai menyusun semua dagangannya dengan cepat. Satu persatu dan tergesa. Merica. Ketumbar. Bawang. Pala. Kunyit. Rasanya ia seperti perempuan tukang masak bertubuh tambun di rumah seorang Portugis, yang baru saja merampas rempah-rempah di Maluku atau mungkin dari Malaka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari selatan, terseok-seok becak mengangkut potongan tulang-tulang kerbau, yang masih berwarna merah darah. Paling di atas, tengkorak kepala dengan mata yang masih dalam liangnya. Membelalak. Berkali-kali ia mencoba menghalau penjual yang menghalangi jalannya.  Ia dari rumah jagal dan sepertinya merasa pulang sebagai pahlawan. Atau ia membayangkan isi tubuhnya sendiri. Jika saja ia yang teronggok di becak yang tungganginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu penjual ikan datang. Ia baru saja dari tepi lautan. Mengambil isi perut kapal yang baru saja pulang berlayar bermalam-malam, bersenggama dengan   laut, malam dan cuaca. Dan ikan-ikan itu pun terlahir. Ia segera menjual ikan-ikan yang serupa manekin beku. Telentang dengan mata tanpa kelopak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjual kue memajang kue-kuenya. Gorengan-gorengan yang bernapas seperti potongan-potongan tangan atau kaki, membuat kaca lemari berembun minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara mulai bising, berisi banyak percakapan. Satu persatu mulai memainkan alat musiknya dan jadilah orkestra Pasar Cidu. Matahari mulai meninggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115701149055278750?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115701149055278750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115701149055278750&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701149055278750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115701149055278750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/08/orkestra-pasar-cidu_31.html' title='::orkestra pasar cidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115288994777966472</id><published>2006-07-14T23:10:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.162+08:00</updated><title type='text'>sekolah dan selangkangan</title><content type='html'>tadi petang, dari siaran berita di tivi, seorang siswa smp yang baru saja akan naik kelas 3, sampai harus melacurkan diri di lokalisasi dekat rumahnya, --dan mengaku, untuk bisa bayar tunggakan sekolahnya 100 ribu rupiah. aku terhenyak; sedemkian terdesakkah Arum (namanya tentu saja disamarkan) hingga harus menukar selangkangan dengan janji-janji manis hasil pendidikan yang akan memanusiakan manusia? jika benar; mungkin ia terdesak. tapi dimana semua yang seharusnya meyakinkan anak-anak negeri ini untuk bisa menempuh sekolah tanpa harus menjual semua milik mereka, termasuk selangkangan? (aku tak bisa meneruskan mendengar berita yang demikian merisaukan itu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian buramkah wajah negeri yang gembar-gembor mengalokasikan 20 persen dari anggaran belanja harus untuk pendidikan? &lt;br /&gt;demikian nistakah kita semua. anak negeri harus menjual semua yang mereka miliki hanya untuk tetap bersekolah? masyaallah negeri ini. inilah potret kita. potret negeri yang demikian menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika besok, kau generasi yang tumbuh setelah kami semua musnah; maafkan aku. maafkan kami semua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115288994777966472?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115288994777966472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115288994777966472&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115288994777966472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115288994777966472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/07/sekolah-dan-selangkangan.html' title='sekolah dan selangkangan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115190424008578537</id><published>2006-07-03T13:18:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.097+08:00</updated><title type='text'>Di Pasar Cidu ada pesta.</title><content type='html'>Di pasar cidu ada pesta, pestanya meriah sekali. Datang tak dijemput pulang tak diantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada salah satu warga yang menikah, dan satu-satunya ruas jalan di Pasar Cidu pun ditutup untuk disulap sebagai ruang resepsi (ruang tambahan lainnya, tempat pelaminan dipasang adalah jembatan di atas kanal besar yang menghubungkan rumah dengan jalan). Setelah upacara salam-salaman selesai, pengantin pun masuk ke dalam rumah. Dan pesta sebenarnya baru dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sebenarnya ada bau tuak, entah dari mulut siapa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 buah lampu 100 watt menjadi satu-satunya lighting, yang kuyakin dipasang dengan me-ngelos-kan meteran listrik sementara, agar bisa mengakses ratusan watt tanpa terbaca meteran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu kan elektone? Sejenis organ yang bisa berbagai jenis alat musik. Itulah band pengiringnya. Entah siapa yang memulai, dan Mamanya Andi meraih mic, dan mulai menyanyikan lagu lama berbahasa bugis. Dan kami semua bersorak, bersiul, bertepuk tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menarik menurutku, beberapa anak muda yang dandanannya agak mirip Punk –dengan rambut pirang, dan tindik di beberapa bagian tubuh, malah ikut menari mengikuti irama lagu bugis. Meski kuyakin musik kesukaan mereka adalah lagu-lagu baru yang bernada keras, atau paling tidak bukan yang berbahasa daerah, tapi ternyata mereka menari dan  bertepuk tangan. Meski mereka memilih dandanan yang mereka anggap modern, namun toh yang “lokal” dan “tradisional” rupanya tetap ada diam-diam di sudut ingatan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(penyanyi band-elektone, nampak sibuk memperbaiki dandanannya. Tak terusik.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganti berganti, semua ambil bagian menyanyi. Lalu si Ucuf menyanyi dangdut. Disusul Daeng sido, penjual ikan yang jika berbau arak, itu berarti ikannya tidak laku, dan ia pun menghabiskan sisa ikannya bersama arak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(di kejauhan, bapak tukang pungut retribusi pasar, yang berkumis tebal melintang, duduk di atas meja ikan yang menjadi blokade jalan. Tersenyum-senyum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kursi plastik beraneka model  berwarna merah berjejalan dipenuhi warga. Banyak yang datang dengan sandal seadanya. Beberapa di antaranya masih memakai riasan sisa acara sebelumnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan semuanya menari, menyanyi dan bertepuk tangan –juga si pirang. Semua rasanya menyatu, tertawa, menari, dan bertepuk tangan. Pesta dengan kesederhanaan yang mungkin tak terbayangkan.  Tapi kupikir dengan itulah mereka turut merayakan kebahagiaan warganya,  yang mungkin akan segera dibawa oleh suaminya dan nasib yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan beberapa teman sepermainan yang telah merantau,  yang pulang sekedar untuk menghormati pesta ini. Lalu kami berbincang tentang orang-orang yang kami kenal namun tak bisa datang.  Dengan senyum masih terkembang asap tembakau menari-nari di antara kami. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di pesta di pasar cidu. Semua datang tak diantar, lalu setelah lelah—mungkin ada yang mabuk dengan arak murahan, semuanya pun pulang tanpa diantar.  Setelah pesta hanya bau amis dan bacin khas pasar yang tinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Juni 2006, malam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115190424008578537?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115190424008578537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115190424008578537&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115190424008578537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115190424008578537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/07/di-pasar-cidu-ada-pesta.html' title='Di Pasar Cidu ada pesta.'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115094824343621647</id><published>2006-06-22T11:35:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:34.039+08:00</updated><title type='text'>BANJIR</title><content type='html'>kalau saja kau ada di sini, akan kau lihat sisa jejak Maut yang mengangkut jiwa-jiwa ini. Dengan mengendarai bah, dirangkumnya satu-satu jiwa untuk kembali. Terbacakah tapaknya pada puing? pada sisa air. pada lumpur. pada jasad-jasad yang basah. betapa kehidupan adalah retak sementara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115094824343621647?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115094824343621647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115094824343621647&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115094824343621647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115094824343621647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/06/banjir.html' title='BANJIR'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115062290841104635</id><published>2006-06-18T17:23:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.975+08:00</updated><title type='text'>RUMAH*</title><content type='html'>&lt;a href="&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/rumahkabut.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/rumahkabut.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(pada sebuah rantau yang panjang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi yang dingin, seorang kawan mulai bercerita tentang seseorang yang selalu bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam seminggu, kata kawanku itu, orang itu akan sangat sulit dijumpai berada pada tempat yang sama dengan minggu sebelumnya. Ia selalu berziarah, menjenguk tempat-tempat  yang sarat sejarah dan penuh pesona; entah itu Yunani, Mesir, kota-kota tua di Eropa atau entah belahan mana di bumi ini. Lelaki itu kerap disebut sebagai ”Peziarah Kebudayaan”. Ia Perantau.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin ia tak lagi memerlukan Rumah. Dimanapun ia merasakannya,” ujar kawanku menerawang pada bingkai jendela, pada cuaca luar hujan berangin. Aku berpikir telah berapa banyak kenangan yang telah ia petik? Juga berapa tempat tetirah yang ia jumpai setelah demikian banyak berziarah? Tidakkah ia suatu saat merasa letih dan memutuskan untuk istirahat pada suatu tempat, seperti orang lainnya. Bermukim menikmati kehidupan dengan berdiam, tenang.  Tidak dengan perjalanan yang berganti-ganti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi apakah mungkin ia tak punya kesetiaan. Sebuah akar untuk berpijak. Boleh jadi ia tak punya cinta; sebab ia selalu bergerak dan selalu dalam perjalanan. Berhadapan dan menyesuai pada kenyataan baru yang asing”.  ”Kau harus belajar tentang cinta dan kesetiaan yang lain..” ujar temanku mengutip sepotong sajak entah milik siapa, menuntaskan sarapannya kemudian berangkat menembusi cuaca yang galau dalam lingkung angin. Cuaca yang banyak membuat orang lebih memilih mendekam pada sebuah ruang yang hangat. Berdiam agar terhindar dari dingin yang menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tentu tak sekedar sebentuk ruang tempat berlindung dari cuaca. Rumah boleh jadi adalah tempat menyusun kenangan dan mengindera  perubahan.; meneruskan kehidupan. Namun bagi jiwa-jiwa yang telah bepergian dan bertemu dengan banyak kenyataan, Rumah tentu tak sekedar tempat istirahat bagi tubuh yang lelah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah lebih bagi jiwa, yang juga berarti sebagai sebuah perasaan diterima dalam keadaan patah sekalipun. Tempat dimana seseorang bisa pulang tanpa harus menjelaskan sesuatu. Dimana seseorang diterima dalam segala keadaannya, dan itulah Rumah yang bersedia memeluknya.  Bahkan sebagai yang datang bersama remuknya, dan toh, ia tetap disambut hangat sehangatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah adalah sebuah puisi, sebentuk tulisan yang setiap orang meresapinya dengan kesunyiannya masing-masing. Kesejukan yang diindera sebagai keindahan sendiri-sendiri oleh yang berdiam padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yang hidup adalah perantau yang terus menghadapi sehimpun kenyataan yang berubah-ubah dan tak terduga. Lalu mungkin kita hanya berumah pada kenangan. Berdiam pada sesuatu yang telah jadi masa lampau, sambil bergerak pada kekinian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kita sebagai manusia modern, seperti ”jiwa-jiwa tak berumah”...;”Homeless Mind”, Peter L. Berger pernah berkata, mungkin dengan lirih dan muram. Tentang manusia modern yang sementara bergerak mengindera masa depan, namun di saat bersamaan separuh kakinya masih berpijak pada masa lalu. Tentang mengakar pada tradisi milik nenek moyang,tapi juga dengan kesetiaan yang lain; ”modernitas” –perburuan  kehidupan masa depan yang bergerak cepat tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kepercayaan pada petuah dan benda-benda keramat gaib lainnya dan saat bersamaan juga mengikut pada rutinitas tergesa-gesa pada setiap pagi di jalan kota besar.  Orang yang gegas mencari ”sesuatu”. Mencari yang hilang atau mencari yang belum ditemukan. Seolah  mencari sesuatu pada entah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rumah atau sebentuk yang dianggap  rumah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dimuat pada rubrik CERMIN, penerbitan kampus identitas &lt;br /&gt;Universitas Hasanuddin, No. 591/ Awal April 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115062290841104635?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115062290841104635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115062290841104635&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115062290841104635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115062290841104635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/06/rumah.html' title='RUMAH*'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115017239905861421</id><published>2006-06-13T12:07:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.914+08:00</updated><title type='text'>Piala Dunia dan Nasionalisme di Sebuah Lorong</title><content type='html'>&lt;a href="http://202.158.18.132/assets/product_images/news/287/1_075_28721.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px;" src="http://202.158.18.132/assets/product_images/news/287/1_075_28721.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32 Negara berebut kulit bundar ini dalam Piala Dunia 2006. Ada cerita, di Jalan Titang Makassar. Warga lorong ini, sejak Piala Dunia 1998 lalu, (--meski rumah mereka terlihat sederhana dan tidak makmur) mengibarkan puluhan bendera berukuran besar dari Negara-negara peserta piala dunia sesuai dengan kesukaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lorong sepanjang 4 ratus meter ini, ada Brasil, Jerman, Argentina, Inggris dan Arab Saudi, di depan rumah orang Bugis, Makassar, ataupun Toraja. Seperti kegembiraan yang tak mengenal batas. (--walaupun –entah siapa yang memulai, di lorong ini ada laranagan mengibarkan bendera Amerika Serikat ϑ ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat tim kebanggaan mereka kalah, maka dengan lapang hati mereka, harus menurunkan bendera menjadi setengah tiang.  Kenapa tak dicopot saja sekalian, namun menurut mereka; “ meskipun kalah, kawasan kita bersama harus tetap semarak dengan warna bendera yang kalah dan menang. Semuanya tetap mewarnai lorong ini”. Semuanya bergembira dengan kelapangan hati yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada yang menyayangkan kenapa, tak ada warga yang mengibarkan bendera Indonesia, merah putih, sebagian warga –meski terlihat bimbang, cuma berucap; “ini musim Piala Dunia, bukan soal kemerdekaan…” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antero lain jagat ini tentu saja berlangsung cerita-cerita kecil kenduri tentang akbar olahraga yang bahkan mengalahkan Olimpiade yang memajang beragam cabang olahraga dan peserta dari berbagai Negara di dunia.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala dunia mungkin memang tentang musim yang tak tergantung  pada cuaca. Tentang kegembiraan yang serentak. Mungkin ini tentang global village-nya Marshall Mc Luhan. Tapi yang jelas, tidak tentang nasionalisme…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115017239905861421?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://images.google.co.id/images?q=piala+dunia+2006&amp;hl=id&amp;btnG=Cari+Gambar' title='Piala Dunia dan Nasionalisme di Sebuah Lorong'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115017239905861421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115017239905861421&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115017239905861421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115017239905861421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/06/piala-dunia-dan-nasionalisme-di-sebuah.html' title='Piala Dunia dan Nasionalisme di Sebuah Lorong'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-115017161192015034</id><published>2006-06-13T12:03:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.850+08:00</updated><title type='text'>Bencana dan Hati Kita</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/ar1252-001.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama, Jogja dan jawa tengah diguncang Gempa Tektonik dan membunuh lebih dari 5000 jiwa. –berarti memusnahkan populasi yang sejenis saya atau kau sebanyak kira-kira kalau dikumpul seluas beberapa lapangan sepakbola.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita. Ada yang menolak bantuan Negara asing, sambil berbicara di media kalau mereka bukan bangsa yang pemalas. Namun di saat bersamaan dan media yang sama; bercerita tentang negeri yang tertatih menegosiasi ulang utang luar negerinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada cerita miring tentang dana bantuan dari berbagai uluran tangan. Serta kisah-kisah sedih dan ajaib yang melatari kisah rubuhnya ribuan rumah dan terusirnya ibuan jiwa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat Aceh. Juga ingatan yang hampir sama sarkartiknya. –kecuali bahwa 26 &lt;br /&gt;Desember 2004 adalah hari ulangan tahun-ku yang ke-24, kini Tsunami akan mulai dilupakan. Kecuali kadang-kadang muncul cerita tentang musibah yang melanda sekitar 200 ribu jiwa ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/bc4407-002.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini kehidupan berjalan terus. Mereka mulai menghilang dari porsi pemberitaan di media-media. Setelah semua berangsur pulih, cerita dan juga ingatan mulai dialihkan ke malapetaka terbaru di negeri ini.  Saat para korban kian berkutat dengan kehidupan yang terasa demikian keji, Televisi mulai mencari musibah terbaru untuk dijual kepada kita yang menonton semuanya  sambil makan siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tahu tidak, apa yang dipikirkan sebagian besar kami (--koresponden dan stringer stasiun tv, serta kacung rating lainnya) “ Sialan…Koresponden Jogja kaya lagi.”: Ada juga yang bilang sambil bersalaman : Selamat berpuasa..(--maksudnya liputan mereka di daerah ini akan sulit ditayangkan, karena prioritas bencana besar tersebut; jadi itu disebut “puasa”). Aneh kan cara sebagian wartawan melihat bencana. Mungkin bad news is a worse news..for our own humanity.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang ajaib.  Dan mungkin kita harus sering menghadapi dengan hati yang sarkartis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-115017161192015034?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/115017161192015034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=115017161192015034&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115017161192015034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/115017161192015034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/06/bencana-dan-hati-kita.html' title='Bencana dan Hati Kita'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-114619611072574973</id><published>2006-04-28T11:29:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.787+08:00</updated><title type='text'>Sebuah pagi dan kopi di Pasar Cidu</title><content type='html'>Dengan mata yang masih berat, aku duduk dalam kepungan asap, di sebuah tempat minum kopi, yang terselip di lorong belakang gudang tua --sisa-sisa kejayaan pasarcidu di tahun 60-an. Namanya Warung Kopi Daeng Naba, tapi entah sejak kapan warung ini ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dengan meja-meja yang mulai aus dimakan usia. Juga Dinding-dinding yang hitam, diasapi asap tembakau dan asap tungku kopi, setiap pagi warung ini menerima para lelaki-lelaki pasar cidu, yang datang. Lalu gelas demi gelas kopi-- yang lazim disebut sebagai "Kopi Tipis dan Kopi Tebal" mengalir dan mulai membasahi tenggorokan para pengunjung; ditingkahi obrolan. Hidup mulai dengan kopi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Warung ini hanya berlantai tanah yang sebagian sempat dilapisi semen kasar, berdinding kayu, dengan meja kayu dan kursi plastik yang mungkin akan menakjubkan para eksekutif yang biasa menikmati kafein di Starbuck, Excelso ataupun tempat ngopi lainnya di mall-mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sepertinya dari sinilah sebagian besar lelaki di Pasar Cidu menyegarkan kembali harapannya. Atau menajamkan ingatan tentang kejadian di sekelilingnya, atau mungkin melepaskan  sisa api di dadanya sebelum memulai hari dengan mata yang lebih nyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring matahari yang beranjak naik, seolah menyorot dinding kusam gudang, di belakang Warung kopi milik Daeng Naba ini, para lelaki ini kemudian pulang. Sebuah Pagi dan Kopi.  Seperti merayakan sebuah waktu dengan Dosa yang nikmat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-114619611072574973?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/114619611072574973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=114619611072574973&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114619611072574973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114619611072574973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/04/sebuah-pagi-dan-kopi-di-pasar-cidu.html' title='Sebuah pagi dan kopi di Pasar Cidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-114569346253870231</id><published>2006-04-22T16:07:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.664+08:00</updated><title type='text'>::apa kabar diri sendiri?</title><content type='html'>apa kabar diri sendiri, sore ini?&lt;br /&gt;baik, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mad, apapun yang kau hadapi, seberapa pun beratnya, ingatlah untuk tetap bernafas, dan yakinlah besok; semuanya akan baik-baik saja.. matahari, masih akan ada esok, dan kita masih harus menjalani hidup ini dengan keras kepala yang kita punya"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-114569346253870231?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/114569346253870231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=114569346253870231&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114569346253870231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114569346253870231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/04/apa-kabar-diri-sendiri.html' title='::apa kabar diri sendiri?'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-114387638797307725</id><published>2006-04-01T15:18:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.603+08:00</updated><title type='text'>Karnaval Jalan Kakatua</title><content type='html'>Aku ingin bercerita tentang Jalan Kakatua, di Makassar. Meski tak banyak yang menarik dari jalan ini kecuali setiap menjelang laga sepakbola PSM Makassar di stadion yang salah satu mulut pintu masuknya ada di jalan ini, maka Jalan Kakatua akan penuh dengan supporter yang tumpahruah dengan beraneka kostum , berwarna merah menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para supporter yang sebgaian besar masih belia ini tampak demikian hidup.  Ada yang menggunakan topi bertanduk dan memenuhi wajahnya dengan coretan cat. Ada yang memegang pataka dan bendera berlambang tim sepakbola Makassar sambil bersorak-sorak, dan duduk gagah di sepeda motornya yang meraung-raung. Para supporter ini hampir serupa William Wallace dan pejuang Irlandia lainnya yang memegang tombak panjang dan menunggang kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tak ada yang menggunakan helm. Semuanya mungkin percaya Tuhan akan melindungi kepala mereka dari aspal jalan ini. Yang jelas, polisi lalulintas yang biasanya akan dengan rakus memeras setiap pengendara yang tak memakai helm, kali ini, nampaknya membiarkan mereka menjadi raja barang sehari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan supporter ini kemudian berkumpul di mulut pintu masuk stadion, menunggu mereka diizinkan masuk. Atau menunggu  ada kemungkinan masuk di stadion tanpa harus membeli karcis. Sebagian akan memilih membayar beberapa ribu, dan dizinkan memanjat dari tali yang telah disediakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas semua tumpah ruah, dan jalan ini demikian semarak seperti karnaval yang penuh warna. Setidaknya, para anakmuda yang sebagian berasal dari lorong-lorong sempit kota ini, bisa merasa gembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga merasakan kelapangan jalan yang menerima semua yang ingin berjalan di atasnya…meski ia orang gila dan gembel sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin inilah karnaval Jalan Kakatua, yang selalu ada setiap menjelang adu sepak bola di stadion Andi Mattalatta (dulu namanya Stadion Mattoangin)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-114387638797307725?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/114387638797307725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=114387638797307725&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114387638797307725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114387638797307725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/04/karnaval-jalan-kakatua.html' title='Karnaval Jalan Kakatua'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-114252856097279660</id><published>2006-03-17T00:54:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.536+08:00</updated><title type='text'>Tak pulang ke rumah</title><content type='html'>"when all my work's over. i'll fly home"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mmm, belakangan ini aku jarang pulang ke rumah. Hari terakhir aku pulang, aku segera berbaring di lantai kayu kamar-ku (dan aku yakin, bahkan sebelum terlelap, aku akan segera menghirup habis semua debu yang berada di sekitar hidungku..). Sebelum lelap, hanya ada ibu yang bertanya, "apa kau perlu kasurmu? kasurmu sedang dipakai adikmu,"&lt;br /&gt;aku hanya berkata, "tak perlu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin adik bungsuku mengira aku tak pulang, dan ia lagi enggan berbagi ranjang dengan adikku yang lain..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, rumah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belakangan ini, aku jarang pulang ke rumah. aku seperti pelancong tak beralamat. mencari tempat berteduh, saat kantuk mulai memaksaku untuk berhenti. syukurlah, pekerjaanku tak mengharuskan kau memakai setelan tertentu dan mandi pagi, so dari manapun aku mulai berangkat di pagi hari; hampir tak jadi masalah --dengan atau tanpa mandi pagi; tak ada yang protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu rumah mulai mengabur dalam ingatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ketika semua baru saja kuselesaikan, aku tiba-tiba saja ingin pulang.&lt;br /&gt;mungkin akan ada sebentuk matahari yang cerah, yang akan mengintip dari jendela kamarku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau mungkin tak ada bedanya? dari jendela ruang manapun toh matahari akan selalu serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat malam, semua yang berdiam dalam rumah..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-114252856097279660?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/114252856097279660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=114252856097279660&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114252856097279660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/114252856097279660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2006/03/tak-pulang-ke-rumah.html' title='Tak pulang ke rumah'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-113534291589940204</id><published>2005-12-23T20:38:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.473+08:00</updated><title type='text'>:::Jelang Hari Raya</title><content type='html'>Apa yang menarik setiap menjelang hari raya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin setiap orang, akan membayangkan sesuatu yang membahagiakan, ataupun hal yang menyenangkan lainnya. Menjelang Natal ataupun jelang Lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanak-kanak, mungkin akan membayangkan hadiah yang ditaruh sinterklas di kaus kaki yang mereka gantungkan di dekat perapian. Dalam tidur mereka di malam natal --yang biasanya digambarkan dengan musim dingin yang penuh salju, mungkin mereka bermimpi tentang lelaki tua berjanggut putih dengan kereta yang ditarik oleh barisan rusa kutub dan akan mampir di tiap rumah membagikan hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang jelang lebaran; setiap anak yang akan berlebaran besok,  mungkin akan tidur tak terlalu nyenyak,  membayangkan bahwa mereka besok akan berbaju baru- dan akan makan kue dan bertemu dengan kawan-kawan mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentu saja itu semua mungkin, seperti hal-hal lainnya yang nisbi sebab toh ada wajah lain di malam jelang hari raya.  Bagi setiap yang papa; Natal toh tetaplah bisa jadi sebuah siksaan, sebab meski mereka menganggap kasih yesus kristus sampai pada mereka, namun mereka bisa saja mereka menjalaninya dalam lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi si fakir; lebaran tak sepenuhnya toh membahagiakan, sebab mereka toh akan lebih memilih untuk menjadi pengemis di lapangan tempat para saudara mereka yang berkecukupan usai berhari-raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing adalah bagian hidup, yang entah bagaimana mengurai sebuah penjelasan yang cukup bagi setiap kita; bagi setiap hati yang merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, malam di jelang hari raya dekat-dekat ini; setiap kota waspada pada hantu-hantu teror yang bisa saja mengantar ledakan, ketika kita yang ---mungkin, sedang bergembira. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, entah siapa yang mulai mengajari anak  negeri ini, meledakkan saudaranya untuk memperoleh surga seorang diri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf Tuhan, setiap jelang hari raya; aku sulit bergembira...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-113534291589940204?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113534291589940204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113534291589940204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/12/jelang-hari-raya.html' title=':::Jelang Hari Raya'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-113008957733300520</id><published>2005-10-24T01:12:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.412+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>::insomnia memintaku tak tidur lagi malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 365px; HEIGHT: 104px" height="207" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/ec2214-001.jpg" width="365" /&gt;&lt;br /&gt;nah, cobalah tidur agak larut. lalu dengarlah lagu penutup siaran, dari sebuah stasiun tv dan amati gambar-gambar yang ditayangkannya.&lt;br /&gt;lagu mengalun merdu tentang indonesia (iya, indonesia!!! yang kita cintai atau tidak, tapi karena kita terlahir di sini; maka ini negeri kita)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;amati "indonesia" lewat lagu dan gambar-gambar yang menetramkan itu.&lt;br /&gt;di antar lagu yang syahdu mendayu, dan mengalirlah gambar; mulai dari hamparan hutan, gunung, sawah permai, pantai indah dan masyarakat yang tenang memetik hasil alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar-benar serupa surga; tempat menyenangkan "untuk akhir menutup mata..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar-benar kampung halaman yang dikenalkan sekolah dasar padaku..gemah ripah loh jinawi, tempat --bahkan tongkat pun akan tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, cerita memang terkadang berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah "ini" juga indonesia?&lt;br /&gt;&lt;img height="293" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/JN0003AFG_107-3FIN.jpg" width="339" /&gt;&lt;br /&gt;utang-kita ke negeri lain, membuat pemerintah republik indonesia tak lagi merdeka menentukan kebijakan; menentukan tujuan. dan jadilah rakyat indonesia (yang memetik hasil bumi dengan riang, dalam gambar di stasiun tv itu) menanggung berbagai kebijakan ekonomi yang menyengsarakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satunya, harga minyak naik, dan lihatlah bagaimana pemerintah republik indonesia menanganinya lewat bantuan kompensasi kenaikan bbm--juga di tasiun tv yang sama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berapa banyak yang harus berebut, hingga ada 2 orang tua yang mati karena antri (mungkin ini hanya terjadi di negara komunis beberapa waktu lalu). berapa banyak yang mengamuk dan menjadi anarkis, menjadi wajah-wajah beringas yang mungkin tak kita kenali lagi. berapa banyak warga yang berebut menjadi miskin, menghilangkan kehormatan untuk mendapat 100 ribu rupiah per bulan. itu indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga nelayan dan petani yang lebih banyak kita kenali dari setiap demonstrasi yang mereka gelar. meminta peraturan pemerintah nomor 36 tentang hak pemerintah indonesia untuk 'merampas' tanah untuk publik(?). nelayan yang tak lagi melaut, karena hanya akan menderita kerugian dari hasil melaut mereka yang tak bisa menutup ongkos sekali melaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lainnya, wabah ganti-berganti membunuh anak-anak indonesia, karena pemerintah tak lagi bisa menangani dengan baik, agar anak-anak indonesia bisa tetpa hidup dengan sanitasi dan kesehatan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beribu kayu batang dari hutan indonesia yang dicuri, dan segelintir orang menjadi kaya dari tiap tanah longsor dan banjir yang melanda penduduk di sekitar hutan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak hal yang tak muncul dalam siaran penutup di dinihari itu.&lt;br /&gt;(aku tahu, kepalaku berdenyut pelan, hatiku tak tenang, tapi kita tak bisa memilih untuk terlahir atau tidak di sebuah negeri, memang...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah, insomnia ini memicu kejut tak hanya di kepalaku, tapi juga di hatiku.&lt;br /&gt;selamat malam, bagaimanapun aku tetap orang indonesia. kita masih bisa tetap hidup di satu negeri tanpa harus mencintainya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat malam, sekali lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-113008957733300520?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113008957733300520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113008957733300520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/10/insomnia-memintaku-tak-tidur-lagi.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-113008753792875643</id><published>2005-10-24T00:21:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.348+08:00</updated><title type='text'>satu kehilangan</title><content type='html'>::untuk satu kehilangan&lt;br /&gt;-kematian seseorang adalah tragedi, kematian seribu orang adalah statistik -joseph stalin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi yang dingin, dan kepala yang berdenyut, berbincang pelan tentang kematian yang tak berbilang, di sebuah hari kematian kawan tercinta; "berapa pun yang mati, setiap itu adalah nyawa, maka kita berhak bersedih". namun, saat melihat ribuan jenazah teronggok, juga bau bangkai yang menyeruak, terkadang mulanya hanya sebagai sebuah statistik --seperti kata joseph stalin. setelahnya, barulah kita tersadar, setiap yang mati, kita berhak bersedih; sebab itu adalah nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seseorang meninggalkan kita, terbebas dari dunia yang fana ini; apa yang hilang? sebab semua toh yang hidup akan berangkat menuju-Nya... yang hilang mungkin, adalah tempatnya di hati kita.  ruang yang dipenuhi kenangan atasnya. seseorang, dengan segala warnanya. sebagai yang 'tragis', bukan "statistik", sebab setiap orang adalah kerabat --paling tidak dari seseorang yang lainnya. sebab tak ada yang lahir dari sebatang bambu, ataupun keping batu, dan dibesarkan oleh hewan ajaib, selain dalam dongeng-dongeng yang naif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat tidur. selamat jalan, kawan. kau kami kenang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-113008753792875643?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113008753792875643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/113008753792875643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/10/satu-kehilangan.html' title='satu kehilangan'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112922358437284351</id><published>2005-10-14T01:02:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.287+08:00</updated><title type='text'>tentang perjalanan dan pulang</title><content type='html'>::dengan berterima kasih kepada ochan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"When all my work's over. i'll fly home," sebuah kutipan dari entah siapa, yang ia juga ragu telah mengtipnya darimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin pulang lebih cepat sore ini, agar masih sempat minum teh dengan senja di depan jendela," kutipan tentang betapa telah lama tak menikmati teduh senja di rumah sendiri,  saat lebih sering sibuk berada dalam perjalanan di waktu yang orange itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi selalu kurindu perjalanan. Karena ada yang akan sangat indah setelahnya. Itulah mengapa seseorang harus pergi, apalagi jika dia lelaki, agar bisa menakar dan merasa betapa indahnya pulang --kutipan dari seorang kawan, di halamanrawa.blogspot.com" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, "pulang", menakar perjalanan, menakar arti yang bergerak. menakar tepi. Betapa "ia" serasa menjadi serupa mantra, yang mengingatkanku dalam perjalanan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu bertanya; "kemana kelak hati akan pulang, dan menakar semua perjalanan yang telah kutempuh?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah itu kau?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112922358437284351?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112922358437284351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112922358437284351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/10/tentang-perjalanan-dan-pulang.html' title='tentang perjalanan dan pulang'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112659839159551469</id><published>2005-09-13T15:57:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.227+08:00</updated><title type='text'>::?</title><content type='html'>&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/API.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;api. sebentar lalu semua usai menjadi puing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="WIDTH: 413px; HEIGHT: 320px" height="355" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/faminevictimabouttoreceivewaterinafeedingcenter.jpg" width="385" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu hendak kau sebbut apa mata-mata yang menatapmu diam seperti ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112659839159551469?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112659839159551469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112659839159551469&amp;isPopup=true' title='24 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112659839159551469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112659839159551469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/09/blog-post.html' title='::?'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>24</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112659818354144973</id><published>2005-09-13T15:54:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.155+08:00</updated><title type='text'>menjadi kebal. menjadi bebal</title><content type='html'>Setelah beberapa lama berada di pekerjaan ini; serasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.&lt;br /&gt;Berada di tengah bentrokan yang bergerak riuh dan mengancam.&lt;br /&gt;Berada di depan orang yang menangis setelah rumahnya dibongkar  para petugas bersepatu lars.&lt;br /&gt;Menyaksi ibu yang meratap kehilangan anaknya setelah gubuknya dilalap api.&lt;br /&gt;Mencium bau mayat. Menghirup bau tubuh yang baru saja terbakar..&lt;br /&gt;Melihat wajah yang remuk dan amis darah yang berhamburan.&lt;br /&gt;Mendengar riuh sirene yang berkejaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di tempat yang terus bergerak; mengapa aku serasa kehilangan peka. Menjadi kebal. Menjadi bebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tak bisa terlibat; kita harus bekerja tanpa emosi..,” kata seorang kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi siapa yang menahan airmata dan rasa yang tiba-tiba saja menyesak melihat langsung   semuanya, demikian dekat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112659818354144973?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112659818354144973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112659818354144973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/09/menjadi-kebal-menjadi-bebal.html' title='menjadi kebal. menjadi bebal'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112633556607244044</id><published>2005-09-10T14:53:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.077+08:00</updated><title type='text'>berhala</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 400px; HEIGHT: 288px" height="315" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/india93untouchableworkinginabrickfactory.jpg" width="423" /&gt;&lt;br /&gt;sebut saja di pedalaman amazon tempat suku-suku kanibal, diam-diam akan memanah para antropolog kawan indiana jones, dan menyantapnya. atau suku primitive dalam dongeng the lost world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka selalu punya patung atau berhala lainnya yang disembah, yang bahkan diasupi darah gadis perawan tercantik sebagai sesajen. kemudian takzim berdoa berharap segala keselamatan, kehormatan, dan kebanggaan datang dari dewa-dewi kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu ritual khas suku primitif yang hanya kita temui dari film steven spielberg atau film eksotik hollywood lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun tak perlu jauh, tiap tahun ada puluhan baligo bergambar seram, dan ratusan umbul-umbul serupa panji perang kublhai khan atau alexander the great memenuhi setiap sudut tempat kita memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga sosok patung tengkorak tinggi besar berselubung kain hitam berdiri di tepi persimpangan jalan. matanya merah menyala, memegang sabit, dan bangkai tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu setiap malam, sepasukan manusia dengan wajah tak ramah, memegang tongkat bergiliran menjaga patung terkutuk itu siang dan malam. sebagian bahkan rela tidur dalam kepungan nyamuk dan dingin malam hanya untuk menjaga kalau saja ada pasukan ninja musuh yang datang merobohkan patung terkutuk itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin juga, telah ada yang berdoa dan berharap kehormatan dan kebanggaan dari kaki patung terkutuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(atau apa telah ada darah perawan derdada sentosa yang telah dikorbankan pada patung itu). tapi tetap tak beda rasanya dengan jejeran patung dan berhala lainnya di goa-goa suku primitive&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelahnya, hanya hanya karena ada yang merusak salah satu berhala kebanggaan tersebut; pecahlah perang antar suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersenjata panah, batu, dan kayu, ratusan warga suku bertarung mempertahankan “kehormatan”…mungkin juga berdasar wangsit dari dewa-dewa, bahwa mereka diharuskan berperang…agar tanah kediaman suci kembali dengan darah pihak musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah perang, berhala mereka kemudian kembali dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kita tak di amazon. kita ada di tamalanrea, di tempat pendidikan, tempat –konon peradaban mulai disemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kita yang menyaksikan hanya bisa bersedih diam-diam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112633556607244044?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112633556607244044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112633556607244044&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112633556607244044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112633556607244044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/09/berhala.html' title='berhala'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112403401088630763</id><published>2005-08-14T23:31:00.001+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:33.018+08:00</updated><title type='text'>senyap</title><content type='html'>Kau yang lelap dalam senyap malam; adakah kau tahu malam ini;aku masih terjaga mengindera malam dalam perih?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112403401088630763?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112403401088630763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112403401088630763&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112403401088630763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112403401088630763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/08/senyap.html' title='senyap'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112403381194219393</id><published>2005-08-14T23:31:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.959+08:00</updated><title type='text'>Kehilangan Rumah</title><content type='html'>Sekali lagi, aku harus kehilangan rumah. Tempatku pernah nyaman bernaung. Mungkin aku harus kembali melanjutkan perjalanan. Menempuh jarak menuju "Rumah";Meski hanya menduga jejak. Menuju sesuatu yang berkenan memanggilku singgah, meski kelak suatu waktu, aku harus lagi kehilangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mm, mungkin perjalanan menuju rumah, seperti perjalanan menuju Senja. Menuju sesuatu yang kian dekat, kian tak teraih. Entah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112403381194219393?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112403381194219393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112403381194219393&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112403381194219393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112403381194219393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/08/kehilangan-rumah.html' title='Kehilangan Rumah'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112399653189424745</id><published>2005-08-14T12:56:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.901+08:00</updated><title type='text'>sedikit tentang "merdeka"</title><content type='html'>"merdeka!!!!"&lt;br /&gt;Aku tak hendak berdebat tentang emosi yang meletup ketika para pejuang berteriak merdeka di tiap pertempuran...juga bukan tentang "merdeka" yang diteriakkan dan dicoretkan di gerbong-gerbong kereta selepas proklamasi dibacakan presiden Soekarno,17 agustus 1945 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau "merdeka" yang kian rumit didefinisikan belakangan ini. Merdeka yang kemudian menyebut bebas dari intervensi lembaga asing bentukan Bretton Woods; IMF, atau neo-imprealisme lewat budaya, ekonomi atau apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi warga, menjadi bagian dari bangunan kekerabatan yang besar, tapi imajiner. Rasanya Menjadi anak bangsa, seperti hanya pada sepotong kalimat sinis; bahwa kita hanya menjadi warga Indonesia saat menjelang batas waktu pembayaran Pajak, dan saat menjelang Pemilu. entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin bercerita tentang sekilas perasaan saat menyusuri lorong menuju rumahku di pasar cidu. Sekilas perasaan "sebagai warga sebuah bangsa" saat berjalan menyusur  lorong yang dipenuhi dengan bentangan ratusan bendera kecil yang diuntai dengan tali rafia, lalu diikat di tiang-tiang listrik terpasang di atas jalan, ibarat kanopi. Terlihat cantik disinari lampu merkuri. Namun tetap terasa rawan rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski jauh di dasar hati; serasa ada yang tertusuk, tapi bagiku inilah rasanya menjadi warga sebuah bangsa; ketika diam-diam turut tersenyum melihat bendera kecil menari-nari di bawah lampu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin rasa "merdeka" di dini hari itu; hanya sebagai senyum simpul saat melihat bendera kecil tersebut menari-nari dalam angin dini hari yang dingin, meski sadar, esok ia akan kusam, putus lalu terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, "merdeka" andai saja kata itu tak pernah ada. Atau tak perlu ada?&lt;br /&gt;(Maafkan aku, Bapak Bangsa. Mungkin aku murtad)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112399653189424745?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112399653189424745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112399653189424745&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112399653189424745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112399653189424745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/08/sedikit-tentang-merdeka.html' title='sedikit tentang &quot;merdeka&quot;'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112185173434819298</id><published>2005-07-20T17:27:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.843+08:00</updated><title type='text'>senja</title><content type='html'>selalu kukenang kuning senja yang mengapung di telaga matamu.&lt;br /&gt;juga angin laut yang mengantar harummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti telah kutemu jalan pulang saat mengecup kelopak matamu&lt;br /&gt;diam. tentram bersemayam pada hatimu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112185173434819298?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112185173434819298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112185173434819298&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112185173434819298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112185173434819298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/senja.html' title='senja'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112161375219418067</id><published>2005-07-17T23:11:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.786+08:00</updated><title type='text'>nak...</title><content type='html'>"nak, berbaik-baiklah pada seseorang, dalam tiap pertemuan; sebab hidup ini demikian singkat, bisa saja kita tak akan bertemu lagi dengannya. sementara ingatan akan baqa mengelindan serupa magma yang membakar. sebab ingatan bisa saja kekal dendam dalam ingatan"&lt;br /&gt;--pesan seorang kakek&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112161375219418067?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112161375219418067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112161375219418067&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112161375219418067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112161375219418067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/nak.html' title='nak...'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112109314654394538</id><published>2005-07-11T22:43:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.549+08:00</updated><title type='text'>bening</title><content type='html'>&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/bening.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bening...bening...bening.&lt;br /&gt;dalam hening,&lt;br /&gt;semoga hati ini selalu bening menjalani semua ini hingga tiba hening yang abadi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112109314654394538?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112109314654394538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112109314654394538&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112109314654394538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112109314654394538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/bening.html' title='bening'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112109292255647243</id><published>2005-07-11T22:40:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.488+08:00</updated><title type='text'>maaf</title><content type='html'>"aku minta maaf. banyak hal; tanpa kusadari telah mengiris hatimu"&lt;br /&gt;(suatu waktu, jika kau tiba di persinggahan ini; setidaknya kau tahu aku pernah meminta maafmu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112109292255647243?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112109292255647243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112109292255647243&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112109292255647243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112109292255647243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/maaf_11.html' title='maaf'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112027815592683019</id><published>2005-07-02T12:17:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.366+08:00</updated><title type='text'>kilas-kilas alir</title><content type='html'>&lt;img style="WIDTH: 289px; HEIGHT: 301px" height="529" alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/aliransungai.jpg" width="650" /&gt;&lt;br /&gt;setiap hal yang berlalu, kini kupahami hanya sebagai kilas-kilas yang melintas. serupa melihat wajah seseorang dari jendela bis yang melaju; mengingat sesaat, lalu membiarkannya berlalu; tanpa harus merasa kehilangan, memahaminya hanya sebagai pertemuan yang harus usai. mungkin di suatu waktu, saat kembali melihat wajah itu, mungkin terasa tak lebih serupa de javu;sesuatu yang kutahu, ada di ruang kenangan, tapi tak pasti dimana. sesuatu yang telah jadi demikian sublim. gaib. tapi ia ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang berucap, "mengapa sungai demikian tenang mengalir, sebab ia tahu pasti ia akan ke muara", tapi dimanakah semua ini akan bermuara?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112027815592683019?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112027815592683019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112027815592683019&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112027815592683019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112027815592683019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/kilas-kilas-alir.html' title='kilas-kilas alir'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-112027779127982853</id><published>2005-07-02T11:57:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.299+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/gurun.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;br /&gt;I miss u, home...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini melankolia pejalan? entahlah. tapi hari ini, setelah melalui sekian banyak waktu yang melelahkan; aku demikian merindukan 'rumah'.  tapi, aku masih tak tahu kemana aku harus pulang dan bersemayam hingga jiwa ini pulih.&lt;br /&gt;setiap kita, selalu ingin menemu ruang; tempat pulang tanpa harus  menjelaskan apa pun. tanpa harus takut menjadi apapun. tempat mengindera semua yang sempat dipunguti dari perjalan yang baru saja lewat?&lt;br /&gt;rumah sebagai kenangan.&lt;br /&gt;rumah sebagai rahim.&lt;br /&gt;rumah udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di perjalanan ini, masih kurasa entah; pada tiap yang kutemui..mungkin serupa fatamorgana di kaki langit gurun.&lt;br /&gt;"home, where are u?, I feel so tired.."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-112027779127982853?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/112027779127982853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=112027779127982853&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112027779127982853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/112027779127982853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/07/i-miss-u-home.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111927253322146362</id><published>2005-06-20T20:59:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.233+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;em&gt;kau sebut apa rasa yang menjelma beribu bilah cemas? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku menyebutnya sebagai rindu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tapi toh kurasa itu tak cukup.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111927253322146362?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111927253322146362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111927253322146362&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111927253322146362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111927253322146362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/kau-sebut-apa-rasa-yang-menjelma.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111883687526693426</id><published>2005-06-15T19:51:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.174+08:00</updated><title type='text'>Kanak-kanak dan Waktu di Pasar Cidu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photo.net/photodb/photo?photo_id=3449994"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://photo.net/photodb/photo?photo_id=3449994"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Begitu Senja jatuh, dan malam temaram. Lampu jalan yang redup kekuningan, mulai menerangi jalan seperti sorot lampu yang menyorot panggung. Dan satu lagi kehidupan dimulai. Berputar dalam beratus adegan berwarna buram. Anak-anak di satu jalan di pasar cidu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu lakon; anak-anak di kala senja.&lt;br /&gt;Beberapa anak mulai berkejaran. Dengan baju dekil, dan wajah yang masih meyisakan bedak yang dipupur seadanya setelah mandi sore. Mereka sedang bermain petak umpet sambil mengendap-endap, mereka saling cari-sembunyi. Setelahnya, kemudian mereka tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bocah itu, beberapa tak terasa telah menginjak sekolah dasar, sebagian bahkan sudah hampir tamat. Padahal masih kuingat, di antara mereka, masih sempat kugendong saat suaranya masih serupa mantra-mantra tak jelas. Yang lain, aku bahkan tak lagi mengingat apa ia lahir di pasar ini, atau ia anak salah seorang migran di sini yang tiba beberapa waktu lalu. Entah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat Aco. Anak lelaki, yang masih sekolah dasar. Ia meninggal setelah tertabrak sepeda saat bermain di jalan ini. Dadanya biru-lebam karena terbentur stir sepeda. Ia tak sadarkan diri beberapa saat lalu meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa ada yang menarikku ke masa lampau. Betapa semua demikian singkat. Tak terasa. Di pasar ini, hidup lahir, beranjak, lalu usai. Kadang tak terasa. Betapa semua terkadang terasa demikian nisbi. Dan hidup bergulir dari kanak-kanak ini. Betapa getir. Betapa ringkih serupa pepasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari suatu senja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111883687526693426?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111883687526693426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111883687526693426&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111883687526693426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111883687526693426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/kanak-kanak-dan-waktu-di-pasar-cidu.html' title='Kanak-kanak dan Waktu di Pasar Cidu'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111841427170170379</id><published>2005-06-10T22:21:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.117+08:00</updated><title type='text'>di pintu II</title><content type='html'>hari ini tak banyak rasanya yang terjadi denganku. hari hampir terasa rutin. kecuali tadi melintas di pintu II yang kini lengang; dan serasa ada yang menggores hati...hanya jalan yang diam dan sisa lantai dari 40 kios yang telah rata. lampu merkuri, dan juga luka yang kurasa belum kering benar..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bertemu dengan tukang parkir yang aku  sering bertukar sapa tiap kali melintas di pintu II unhas. aku bercerita betapa sedih saat melihat pintu II musnah ditelan rusuh dan gusur. ia hanya bilang tak ingin ikut, sebab tak bisa berbuat apa-apa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia kini menjadi tukang parkir di tempat sekitar pintu II..ia kulihat masih tersenyum, betapa pun lapangan kerjanya, sempat terampas. aku tersadar, betapa banyak daya hidup yang bisa kupetik dari orang-orang sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu yang jelas, bahwa hidup harus kembali berlanjut...&lt;br /&gt;(namun kemanakah kalian, wahai ibu, wahai bapak yang terampas, akan melanjutkan hidup?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111841427170170379?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111841427170170379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111841427170170379&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111841427170170379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111841427170170379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/di-pintu-ii.html' title='di pintu II'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111790683656216206</id><published>2005-06-05T01:33:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:32.055+08:00</updated><title type='text'>malam</title><content type='html'>malam ini, kepalaku serasa berdenyut. berharap besok hari lebih baik.&lt;br /&gt;aku tak tahu harus pulang kemana malam ini. mungkin mencari rumah teman yang bersedia membiarkanku terlelap malam ini di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"when all my work's over. i'll fly home"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111790683656216206?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111790683656216206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111790683656216206&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111790683656216206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111790683656216206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/malam.html' title='malam'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111776586697094489</id><published>2005-06-03T10:23:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:31.994+08:00</updated><title type='text'>di satu pagi</title><content type='html'>di suatu pagi. di pasar cidu. kehidupan mulai berdenyut. pelan, lalu kian cepat.&lt;br /&gt;di timur, sinar matari bersinar lembut, singgah pada atap-atap tenda oranye milik para penjual...&lt;br /&gt;sebentar kemudian sekian suara meningkahi hari yang terus berjalan. lalu semua aduk-bercampur.&lt;br /&gt;ada penjual ikan. penjual sayur. penjual baju bekas. pengemis. penjual rempah. toko yang riuh dengan percakapan. sekian banyak orang dan kehidupannya bertemu di pasar ini.&lt;br /&gt;inilah hari.&lt;br /&gt;inilah hidup yang mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suatu waktu,  entah kapan; akau bertanya "bagaimana jika ini punah?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111776586697094489?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111776586697094489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111776586697094489&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111776586697094489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111776586697094489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/di-satu-pagi.html' title='di satu pagi'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111763547456063955</id><published>2005-06-01T22:08:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:31.934+08:00</updated><title type='text'>Jelang penggusuran</title><content type='html'>Hari ini sekali lagi, betapa gigih orang mempertahankan rumahnya. Di Jalan Pattimura Makassar. Mereka sampai bersedia gugur untuk melawan orang-orang yang akan mengeksekusi rumah tempat mereka membangun kehidupan sejak tahun 1962 lalu. Menurut mereka, di Rumah itu, pernah Kolonel Soeharto melakukan rapat rahasia dalam upaya pembebasan Irian Barat (sekarang Papua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memasang barikade di depan pagar, sambil berseru menantang. Salah seorang dengan galak menantang siapa pun yang akan datang, dan berjanji akan me-Rusuh-kan Makassar jika tempat itu direbut..…lelaki yang berteriak itu; trambut kuncir, perawakannya tambun, dengan baret berwarna merah dan jaket berwarna hijau-army, kaca-mata, ia menenteng megafon dan berteriak-teriak lantang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..Rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111763547456063955?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111763547456063955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111763547456063955&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111763547456063955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111763547456063955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/06/jelang-penggusuran.html' title='Jelang penggusuran'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111743663636098635</id><published>2005-05-30T14:50:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:31.875+08:00</updated><title type='text'>selepas bentrokan itu....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;setelah baru saja berita kubuat dan terkirim, aku diminta mengirim lagi "follow-up" perkembangan terbaru..&lt;/p&gt; dan inilah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;(***VO***)&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;SETELAH BENTROKAN USAI/ APARAT GABUNGAN KINI MEMBONGKAR SEKITAR 40 KIOS PK-5 DI PINTU 2 UNHAS// BELASAN PELAKU DITANGKAP OLEH APARAT POLRESTA MAKASSAR TIMUR// BEBERAPA KORBAN YANG LUKA KINI DIRAWAT DI RUMAH SAKIT WAHIDIN SUDITOHUSODO/ MAKASSAR//&lt;/p&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(***ROLL***)&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;SETELAH UNIT PERINTIS MENGAMANKAN LOKASI BENTROKAN DI KAWASAN PINTU 2 KAMPUS UNHAS/ MAKASSAR/ BELASAN ORANG YANG DIDUGA PELAKU DITRANGKAP DAN DIGELDANDANG KE MAPOLRESTA MAKASSAR TIMUR// SEDANG BEBERAPA ORANG KORBAN KINI DIRAWAT DI RUMAH SAKIT WAHIDIN SUDIROHUSODO/ MAKASSAR//&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;(WWC I/ AJUN KOMISARIS/ ANDI PATAWARI/ KAPOLRESTA &lt;st1:place&gt;MAKASSAR&lt;/st1:place&gt; TIMUR// KITA MENANGKAP BEBERAPA PELAKU UNTUK MENJALANI PEMERIKSAAN LANJUTAN// JIKA TERBUKTI/ PROSES HUKUM AKAN DITERUSKAN// JIKA TIDAK/ MEREKA AKAN KITA LEPASKAN//)&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;SEMENTARA/ APARAT GABUNGAN DARI SATPAM KAMPUS DAN SATPOL PP PEMERINTAH KOTA MAKASSAR LANGSUNG MEMBONGKAR SEKITAR 40 KIOS PK-5 DI KEDUA SISI JALAN PINTU 2 KAMPUS UNHAS// MENURUT PIHAK UNHAS/ PEMBONGKARAN INI DILAKUKAN/ KARENA SEBELUMNYA PK-5 SUDAH DIPERINGATI BERKALI-KALI//&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;(WWC II/ RISMA/ SALAH SEORANG PEDAGANG/ / YANG MEMBONGKAR ITU &lt;st1:place&gt;PARA&lt;/st1:place&gt; PREMAN/ KAMI MAU MENUNTUT//)&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;SEMENTARA ITU/ POLISI KINI MASIH BERJAGA-JAGA// PK-5 JUGA MULAI MENGEMASI BARANG-BARANG MEREKA YANG MASIH TERSISA DARI PEMBONGKARAN//&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p style="font-style: italic;"&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(***END***)....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;hanya itu reportase yang bisa kutulis dari sekian banyak yang telah terjadi di jejeran kios pk-5 di kampus unhas.  gambar sudah ditayangkan setelah 'dilempar' via satelit ke stasiun tv di Jakarta.. demikian cepat semua 'rekaman kenyataan' itu bergerak lalu tiba.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Adakah kecemasan, haru, dan perih  yang kurasakan juga sampai ke tiap mata yang melihat tayangannya. .&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah jejeran kios itu rata dengan tanah; puluhan bapak-bapak, anak-anak, ibu tua yang masih terlihat sisa tangis dari matanya mengemasi sisa 'rumah' mereka. mereka mulai mengemasi harapan. Seorang ibu, sambil mengemasi tangisnya; "begini ternyata pemerintah..."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ada beberapa anak yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Mereka  yang baru saja tiba sekolah --mungkin tak menyangka; kalau  tempat ibunya mencari uang sekolahnya kini telah rata dengan tanah. Harapannya mungkin turut musnah.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;ah..kenangan-ku selama bertahun-tahun melewati malam yang demikian hidup di kios-kios di pintu II itu mungkin harus pula kukemasi. Sarabba, Ubi goreng, juga puisi cinta yang pernah kutulis dari tempat itu..kini hanya sekedar ingatan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semua yang pernah melewati malam di pintu 2 unhas, akan mengenang hari ini. 30 mei 2005.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111743663636098635?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111743663636098635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111743663636098635&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111743663636098635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111743663636098635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/05/selepas-bentrokan-itu.html' title='selepas bentrokan itu....'/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-12883998.post-111742848541808854</id><published>2005-05-30T12:44:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T00:51:31.811+08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>......&lt;br /&gt;(***PKG***)&lt;br /&gt;PETUGAS KEAMANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN/ATAU  (UNHAS)/ MAKASSAR/ SULAWESI-SELATAN/  BERSAMA TRAMTIB PEMERINTAH KOTA MAKASSAR TERLIBAT BENTROK DI KAWASAN PINTU 2 UNHAS KAMPUS TAMALANREA/ SAAT AKAN MENGGUSUR KIOS PK-5 DI KAWASAN PINTU 2 UNHAS//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(***ROLL***)&lt;br /&gt;BETROKAN TERJADI SAAT SATPAM UNHAS/ BERSAMA PAMONGPRAJA DARI PEMERINTAH KOTA MAKASSAR/ AKAN MENGGUSUR KIOS PEDAGANG K-5 YANG BERJUALAN DI SEPANJANG SISI MASUK JALAN PINTU 2 UNHAS//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN PENGAMAN TERLIBAT SALING LEMPAR DENGAN PARA PK-5/ SELAMA  2 JAM LEBIH// MASSA SALING MELEMPAR DENGAN BATU/ BOTOL/ DAN POTONGAN KAYU// TERJADI KEMACETAN PANJANG DI JALAN PERINTIS KEMERDEKAAN/ TAMALANREA/ MAKASSAR//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASUKAN PENGENDALI HURU-HARA DARI POLRESTA MAKASSAR TIMUR/ BERJAGA DI JALAN PINTU 2 UNHAS MENAHAN LEMPARAN DARI  PARA PK-5/ YANG BERADA DI DEPAN JALAN PERINTIS KEMERDEKAAN/ MAKASAR//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA PEDAGANG K-5/ DAN SATPAM TERLUKA TERKENA LEMPARAN BATU//  KACA DEPAN SATU UNIT MOBIL PEMADAM KEBAKARAN UNHAS PECAH TERKENA LEMPARAN BATU//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KERUSUHAN DAPAT TERATASI SETELAH UNIT PERINTIS DARI POLRESTA MAKASSAR TIMUR MENGAMANKAN LOKASI KEJADIAN// 7 ORANG YANG DIDUGA TERLIBAT SEBAGAI PROVOKATOR DIAMANKAN OLEH POLISI//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH TERATASI/ SATPAM UNHAS DAN  TRAMTIB PAMONGPRAJA PEMERINTAH KOTA MAKASSAR/ LANGSUNG MEMBONGKAR KIOS-KIOS PK-5//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMENTARA PASUKAN PENGENDALI HURU-HARA MENJAGA KEADAAN//&lt;br /&gt;(***END***)&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ini yang bisa kutulis setelah menyaksikan bagaimana bentrok yang terjadi di Pintu II Unhas baru-baru saja.  Hampir menangis rasanya, tapi aku harus berdiri, melihat kayu, botol dan batu-batu berterbangan. Aku  menghitung korban, lalu menulis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali tangis, banyak yang terluka. Juga hati ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;sebuah rumah. tempat pulang.
&lt;img src="http://i6.photobucket.com/albums/y237/pasarcidu/davinci.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/12883998-111742848541808854?l=pasarcidu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pasarcidu.blogspot.com/feeds/111742848541808854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=12883998&amp;postID=111742848541808854&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111742848541808854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/12883998/posts/default/111742848541808854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pasarcidu.blogspot.com/2005/05/blog-post.html' title=''/><author><name>pasarcidu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03933383297878805452</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_wVUq19zxUag/SsnwtHRPoyI/AAAAAAAAAI0/H9tzkHr6cWo/S220/DSCF1122.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
